facebooklikebutton.co

Membangun Kesadaran Kolektif

Manusia adalah makhluk yang memiliki harapan dan keyakinan. Tanpa keduanya, manusia tak lebih dari sekedar mamalia yang berjalan di atas muka bumi dengan kedua kakinya.

Oleh: Jumanto | GAI Yogyakarta

Harapan adalah lantunan senandung do’a yang akan terus menggema, masuk merasuk ke dalam relung hati setiap pelantunnya. Harapan bukanlah utopia, yang begitu saja sirna seiring berlalunya waktu. Harapan adalah wirid syair para pujangga, yang terus menerus dibisikkan oleh para penegak kebenaran.

Harapan adalah satu di antara banyak aspek khas yang membedakan manusia dengan makhluk Allah lainnya di semesta raya. Harapan adalah karunia pemberian Allah bagi manusia untuk merancang dan mendesain kehidupannya dari waktu ke waktu. Dengan bertumpu pada harapan, yang disertai dengan keyakinan, manusia merencanakan masa depan kehidupannya.

Dalam upaya mewujudkan harapan dan impiannya, manusia tentu tak bisa berjuang sendiri. Meski ia makhluk berdikari, yang dituntut untuk bersikap mandiri dalam menjalani kehidupan, tetapi ia tak luput dari ketergantungannya terhadap sesama makhluk lainnya. Manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa melakukan segala sesuatu sendiri, tanpa ada peran yang lain. Itulah keniscayaan Tuhan menciptakan para makhluk dalam keunikannya masing-masing, yakni untuk bahu membahu satu sama lain dalam membangun kehidupan secara bersama-sama, dan untuk kepentingan bersama juga.

Indahnya kebersaman

Kebersamaan, atau jama’ah, adalah keniscayaan bagi manusia dalam membangun indahnya kehidupan. Allah dan Rasulnya memberikan anjuran agar kita “pandai” berjama’ah. Ada cukup banyak ayat Allah yang mengisyaratkan betapa penting dan utamanya kebersamaan.

Lihatlah ayat Allah di semesta raya. DiciptakanNya pelangi, sebagai kaca benggala (ibrah) bagi manusia tentang harmoni sebuah pesona yang terdiri dari susunan aneka warna. Ragam warnanya meniscayakan keindahan tiada tara. Pelangi menghadirkan cerita tentang kesatuan yang dibangun dalam kebinekaan.

Lihatlah pula kitab suci yang menyatakan bahwa kita, manusia, diciptakan sebagai umat yang satu, meski dalam rupa yang berbeda dan bentuk yang berlainan. Manusia diciptakan dalam keragaman bangsa, suku, bahasa dan lainnya, untuk saling berta’aruf satu sama lain. Ta’aruf tentu saja harus dimaknai tidak hanya sekedar saling mengenali dan memahami, tetapi juga saling bahu membahu, saling dukung, dan bekerja sama satu sama lain.

Kebersamaan akan melahirkan energi dahsyat. Energi yang mendorong spirit dan semangat berlomba menciptakan dan menumbuhkembangkan kebaikan (istabiq al-khairat). Kebersamaan melahirkan rasa “kebermaknaan” dalam hidup, yang meneguhkan kesadaran sepenuh hati bahwa seorang manusia tak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran manusia lainnya.

Kebersamaan tumbuh dari perasaaan yang juga harus sama, perasaan senasib sepenanggungan, sehingga yang ringan bisa sama dijinjing dan yang berat bisa sama dipikul. Inilah yang saya sebut sebagai “kesadaran kolektif” yang harus dibangun itu. Dan untuk menghadirkannya, ada modal dasar bersama yang diperlukan, antara lain VISI, NIAT, SA’I, dan GOAL yang sama.

Visi bisa dibaca sebagai cita-cita, kiblat atau arah pandang, yang kepadanya manusia menggantungkan harapan idealnya. Niat adalah kehendak hati untuk meneguhkan diri dalam menggapai cita ideal yang diharapkannya. Sa’i adalah metoda, tirakat atau jalan yang dilalui dalam mendekati apa yang diidealkan, sehingga tujuan hasil (goal) yang dikehendaki dapat diraih dengan sempurna.

Karena itulah, dalam memuluskan dan melancarkan jalan menuju capaian tujuan, tentu saja modal dasar itu harus juga dibarengi dengan strategi, kiat-kiat, dan jurus-jurus yang tepat. Dengan begitu, energi yang tercurahkan tidaklah sia-sia dan tepat guna.

Kesadaran eksistensial

Manusia diutus ke dunia sebagai khalifah Tuhan untuk menyelenggarakan drama kehidupan di muka bumi. Manusia adalah agen Allah untuk mendistribusikan dan merubah energi (baca: seluruh potensi) menjadi manfaat untuk kehidupan dan sebanyak-banyaknya makhluk. Untuk kepentingan itulah ia diciptakan Tuhan dalam desain terbaik di alam raya (ahsani taqwim).

Atas dasar itulah, manusia dianjurkan oleh Allah dan RasulNya untuk membaca “basmalah” dalam mengawali setiap aktivitasnya. Bismillah, selain dalam arti konvensional yang umum kita pahami sebagai “dengan menyebut nama Allah”, juga berarti “atas nama Allah”. Dengan demikian, anjuran Allah dan RasulNya itu tidak semata dalam pengertian ucapan lafdziyah, atau “hanya di bibir” saja. Bismillah kita dengungkan dalam awal aktivitas adalah untuk mencetuskan kesadaran di dalam pikiran dan hati kita, bahwa pertama, perbuatan itu kita lakukan atas nama Tuhan, karena kita adalah perwakilannya; dan kedua, perbuatan atau aktivitas itu dapat terselenggara  hanya atas perkenan Allah.

Kesadaran atas eksistensi diri ini penting, karena hal itu menjadi filosofi dasar manusia dalam menyelenggarakan segenap amal perbuatannya. Di samping itu, manusia juga harus sadar betul akan hukum universal kehidupan yang berlaku di alam semesta, yang dengan itu mekanisme kehidupan berjalan sebagaimana mestinya.

Hukum Universal

Hukum universal kehidupan, atau dalam bahasa yang lebih familier kita kenal dengan sebutan sunnatullah, adalah aturan alam semesta, yang diberlakukan oleh Tuhan secara tetap dan pasti. Dengan mengenal dan memahami hukum universal, manusia dapat membangun siasat dan strategi yang tepat bagi kesejahteraan hidupnya.

Setidaknya ada tiga hukum universal yang perlu dikenali. Pertama, hukum tarik-menarik. Prinsip hukum ini adalah hal yang positif menarik yang positif, hal yang negatif juga akan menarik yang negatif. Sehingga, pada dasarnya apapun yang menghampiri kita hakikatnya “ditarik” oleh getaran energi yang kita pancarkan (QS 2:286). Hukum ini tidak pandang bulu dan mengikat siapapun. Oleh karena itu, pada hakikatnya kita sendirilah yang harus bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi pada diri kita, dan tidak perlu mencari kesalahan di luar diri kita.

Kedua, hukum kesesuaian. Prinsip hukum ini adalah bahwa apa saja yang terjadi di luar diri kita pasti sesuai benar dengan yang terjadi di dalam diri. Segala keadaan adalah cerminan dari apa yang ada di dalam diri manusia. Dalam salah sebuah hadits, Rasulullah menyatakan bahwa di dalam diri manusia ada segumpal daging, yakni hati, yang jika ia baik maka semuanya akan baik dan begitu pula sebaliknya. Keadaan di dalam hati kita pada akhirnya akan memancar keluar dalam bentuk ucapan, sikap, tindakan, yang ujungnya membentuk karakter atau akhlak kepribadian.

Ketiga, hukum sebab-akibat. Tidak ada yang bernama “kebetulan” di semesta ini. Semuanya terikat oleh hukum sebab-akibat. Tugas manusia adalah mencipta “sebab”, sementara sang “akibat” akan bergulir dengan sendirinya dalam rangkaian ruang dan waktu. Zona manusia terletak pada proses dan upaya, sementara capaian hasil berupa kesuksesan, kekayaan, kesehatan, dan lain-lain, semua itu adalah zona di luar kuasa dan kewenangannya.

Belajarlah untuk “memberi” agar  engkau layak “menerima”, karena memberi adalah  rahasia kehidupan. Memberi adalah aktifitas membuat “sebab” yang akan memancarkan energi positif. Energi itu akan berubah dan berbalik kepada sang pemberi itu sendiri. Oleh karena sebab kebaikan yang kita tanam, maka Allah berkenan memberi akibat kebaikan yang berlipat. Seorang petani tidak perlu menanam benih padi seberat satu kwintal agar ia bisa memanen padi seberat satu kwintal.

Catatan akhir

Energi potensial yang kita keluarkan dalam bentuk perasaan, fikiran, sikap, dan apa-lagi tindakan, tidak akan menguap begitu saja, tetapi akan membentuk realitas di sekitar kita. Saat kita berfikir dan merasa mengenai suatu hal yang positif, maka kita akan memancarkan frekuensi positif dari energi  fikiran dan perasaan itu, yang akan menarik energi yang sama ke hadapan kita.

Satu energi positif yang kita pancarkan akan menarik energi positif lainnya yang akan mengitari kita. Kini, bayangkan jika energi yang terpancar itu berasal dari banyak orang yang berperasaan, berfikir, bersikap, dan bertindak yang sama. Maka

Di situlah letak pentingnya kita menyelenggarakan upaya “membangun kesadaran kolektif” itu. Kekuatan kesadaran kolektif itu akan menghasilkan energi teramat dahsyat yang akan mengubah keadaan kehidupan sebagaimana yang kita harapkan bersama.

Bersama kita bisa!***

 

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*