Artikel

Memaknai Arti Kemenangan Dalam Islam

steps leading to the dome of the rock old city of jerusalem

Dalam Al-Quran, tema tentang kemenangan (al-Fath), antara lain terdapat di Surat An-Nashr, Surat urutan ke-110 dalam mushaf Al-Qur’an. Selengkapnya surat tersebut adalah sebagai berikut:

“Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau melihat manusia berduyun-duyun masuk ke dalam agama Allah. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohonlah ampun kepadaNya. Sungguh, Ia maha menerima taubat hambaNya.”

Kemenangan Islam yang dituju dalam ayat Al-Quran Surat 110 di atas, bukanlah kemenangan orang per orang atau individu, bukan pula kemenangan suatu ras atau etnis tertentu. Dalam ayat tersebut, kemenangan yang dimaksud adalah kemenangan kemanusiaan, yang ditandai dengan “berduyun-duyunnya umat manusia menuju hidayah Allah.”

Karena itu, tujuan kemenangan Islam sejalan dengan tujuan perjuangan dakwah para Nabi dan Rasul-Nya, yakni agar umat manusia memperoleh nikmat Allah yang tertinggi atau terbesar, yang tidak akan pernah dapat diberikan oleh siapa pun selain hanya Allah semata, yakni hidayah.

Lantas, siapakah penentu satu-satunya kemenangan menurut Islam?

Allah Ta’ala berfirman, sebagaimana terdokumentasikan dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 160, artinya sebagai berikut:  “Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu. Tetapi jika Allah meninggalkanmu, maka siapakah yang dapat menolongmu sesudah itu? Sebab itu, hendaklah kepada Allah saja, orang-orang yang beriman itu bertawakal.”

Dalam ayat ini Allah secara jelas, dengan gaya bahasa dialog dan retoris, menyatakan bahwa Dia adalah satu-satunya fihak yang dapat memberikan dan menentukan kemenangan bagi umat manusia.

Lantas, konsep apa yang diinginkan dan diajarkan oleh Sang Penentu mengenai kemenangan Islam? Apakah kita umat Islam saat ini, sudah layak dimenangkan atas lawan-lawan kita?

Selain konsep Islam, ada pula konsep kemenangan di luar konsep Islam, maka pertanyaannya adalah: kita sebagai muslim mau pilih konsep yang mana?

Al-Quran Surat Ali Imran ayat 185 berbicara tentang orang yang beruntung (faaz), “Dan barangsiapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia memperoleh kemenangan (faaz).”

Hakekat, motivasi serta tujuan yang sebenarnya dari kemenangan Islam, tidak sekedar tidak difahami oleh orang-orang non muslim. Misalnya saja orang-orang Barat, yang menyangka bahwa kemenangan Islam itu adalah hanya sekedar peperangan dalam arti pertempuran yang satu ke pertempuran lainnya, semata hanya dalam arti fisik.

Mereka menuding kemenangan Islam sebatas sebagai gerakan untuk mengangkat senjata atau  pedang, migrasi besar besaran  sebagian manusia ke wilayah-wilayah taklukan atau jajahan untuk dikuasai dan dijarah semua apa yang ada padanya, termasuk tawanan-tawanan wanitanya untuk dijadikan hamba sahaya (malakat aimanakum), dan kemajuan fisik duniawi yang dimotivasi semata-mata oleh jiwa haus dan rakus akan pangkat, jabatan dan kekuasaan.

Sayangnya, pemahaman semacam itu bahkan juga diamini oleh sebagian besar kaum Muslimin. Mereka menganggap bahwa ekspansi wilayah atau perluasan daerah kekuasaan itu  adalah kemenangan yang hakiki dalam Islam. Dan hal ini dianggap sebagai suatu tindakan yang penuh jasa bagi para mujahid-mujahid Islam di sepanjang masa.

Orang-orang non Muslim atau orang-orang Barat dan orang Islam yang beranggapan  sedemikan berpersepsi yang sama dalam hal ini mengenai arti yang hakiki dari kemenangan Islam. Mereka dalam hal ini memiliki pendirian yang sama jauhnya dari penjelasan yang  sesumgguhnya dari Allah tentang hakekat kemenangan Islam.

Jika anggapan mereka benar, maka penjelasan Allah dalam Al-Quran yang termaktub pada surat An-Nashr tentu bukan berbunyi “Dan kamu lihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah,” melainkan berubah menjadi “Dan kamu lihat wilayah wilayah yang ditaklukan menjadi semakin besarnya.”

Jika kita mau sedikit berfikir yaitu dengan menanyakan: mengapa kemenangan menurut konsepnya Allah berbeda dengan konsepnya  manusia? Jawabnya tentunya adalah jika kita bandingkan konsep orang tua dengan anaknya yang belum dewasa saja sudah berbeda seperti misalnya : Sang Anak merasa menang bahagia jika dia dibebaskan dari tugas dari sekolah, belajar mengaji, rajin mengerjakan tugas atau PR atau tugas lainnya di sekolah. dDia akan bahagia dan merasa mendapat kemenangan hakiki jika dapat mengalahkan kemauan orang tuanya untuk harus bersekolah dan dibiarkan bermain sepuasnya.

Mengapa Kemenangan Islam Diartikan Dengan Turunnya Hidayah Atas ummat Manusia?

Kembali ke pertanyaan mengapa Allah artikan kemenangan dalam bentuk berbondong-bondongnya manusia masuk agama Allah? Mengapa bukan dengan bertambah luasnya wilayah yang berada di bawah kekuasaan Islam. Atau bertambah kayanya kaum muslimin dengan bertambah  banyaknya hamba-sahaya hamba sahaya non muslim yang ditawan yang pada gilirannya, dapat diperjualbelikan di pasar budak dengan harga yang sangat  tinggi?

Tetapi mengapa kemenangan menurut Allah itu seakan dibukakan pintu hidayah sehingga manusia berduyun-duyun memperoleh hidayah sehingga mereka dapat berbondong-bondong menikmati hidayah dengan memasuki agama Islam dengan penuh kesukarelaan tanpa paksaan? Padahal kita tahu, Allah SWT berfirman:

“Tidak boleh ada paksaan dalam agama, yang benar itu telah jelas berbeda dari yang tidak benar.” (QS. Al-Baqarah [2] : 256).

Jika dicoba dicari hikmahnya yaitu Allah berikan hidayah karena hidayah adalah suatu bentuk pemberian tertinggi yang dapat diberikan Allah  kepada hambanya, bukan harta benda, wilayah, pangkat, jabatan atau kedudukan, atau yang lain sebagainya. Bukankah kita sering mengulang-ulang ucapan bahwa kita patut bersyukur atas nikmat terbesar dari Allah SWT yaitu adalah nikmat iman dan Islam.

Coba bayangkan semua dapat diwariskan atau diberikan dari makhluk ke makhluk seperti kekuasaan, harta benda, wilayah dlsb. Namun iman atau hidayah hanya Allah sebagai satu-satunya Zat Yang mampu memberikan, bukan yang lain bahkan Nabi saw  sekalipun tidak akan pernah mampu untuk memilki kewenangan untuk itu (lihat kasus paman beliau Abu Tholib sampai sampai Allah sendiri yang menjelaskan mengenai perihal paman beliau sendiri).

Jadi menangnya Ummat Islam menurut Allah yaitu merupakan perwujudan dari pemberian hadiah terbesar dari Allah SWT buat ummat manusia sesuai tujuan azasi atau tujuan hakiki perjuangan Nabi-nabi yaitu terselamatnya manusia secara berduyun-duyun dari ancaman nerakaNya Allah menuju SurgaNya Allah SWT. Fathul Mekkah dan kemenangan yang Allah sebutkan dalam surat An Nashr bukan sesuatu yang ujug ujug turun begitu saja tetapi hal ini merupakan suatu rangkaian panjang sejak perjuangan yang dilakukan oleh Nabi saw dari mulai beliau diutus terus selama 13 tahun perjuangan di bawah penindasan oleh kafir kafir Qurais, kemudian digenapi selama 10 tahun di Madinah Al Munawarah.

Hakikat Kemenangan Yang Diberikan Allah SWT

Kemenangan yang Allah berikan kepada Nabi kita dan Ummat Islam pada waktu itu khas tiada duanya maksudnya yaitu tidak sama dengan yang Allah beri kepada Nabi-nabi yang lain. Kemenangan yang ada di AlQuran buat Baginda Nabi saw adalah kemenangan hakiki dengan tersebarnya hidayah, bahkan hidayah juga tersebar ke lubuk lubuk hati yang telah begitu benci akan Islam seperti: Hidun, Abu Sofyan, Ikrimah bin Abi Jahal, Sofwan bin Umayah, Suheil bin Amr, dllnya.

Mungkin perlu diluruskan sedikit image Islam khususnya image tentang arti kemenangan Islam yang telah dikaburkan atau dirusak, dan hal ini tidak saja menyangkut tentang kemenangan-kemenangan Islam itu semata, tetapi juga mengenai pemikiran Islam itu sendiri. Kemenangan Islam adalah kemenangan agama Islam karena dengan terbukanya hidayah dari Allah SWT, maka terbuka pula lubuk-lubuk hati manusia untuk menerima Islam sebagai satu-satunya sistem kehidupan bagi seluruh ummat manusia yang terhidayah.

Allah SWT berfirman: “Hai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling berkenalan.” (QS. Al-Hujurat [49] : 13)

Bahkan di jaman Nabi saw sendiri juga sudah beranekaragam motif dan tujuan orang-orang dalam suatu perjuangan bahkan dalam hal ini boleh jadi mereka juga ikut berjuang bersama Nabi saw juga, sehingga suatu ketika Rasulullah SAW pernah ditanya seseorang:

“Orang yang berjuang untuk mencari harta rampasan, orang yang berjuang untuk mencari keharuman nama, orang yang berjuang agar dikagumi orang, manakah di antara mereka yang berjuang di jalan Allah?”

Beliau SAW menegaskan:“Siapa yang berjuang untuk menegakkan kalimat Allah yang tinggi, Ia berjuang di jalan Allah.” (HR. Bukhari)

Disini Al-Qur’an dan Hadis Nabi menegaskan kepada kita hakekat dan tujuan  peperangan dalam Islam dan hakekat  dan tujuan kemenangan Islam secara jelas.

Coba bandingkan dengan peperangan yang dilakukan oleh tentara salib pada waktu Perang Salib-nya yang terkenal itu, bukan saja dalam penindasan yang dilakukan orang  Spanyol terhadap orang-orang Islam di Andalusia, tetapi juga terjadi di Yerusalem ketika tentara salib menginvasi kota banyak bayi mati dibanting dengan kejam ke lantai atau ke tanah, banyak wanita diperkosa, dan pembantaian terjadi dimana-mana (sumber dari National geographic).

Islam sekali-kali tidak pernah mengajarkan bahwa peperangan dilancarkan, atau kemenangan dicapai, dengan maksud agar suatu bangsa atau rupa bentuk manusia berkuasa. AlQuran menyatakan bahwa manusia telah dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal, bukan untuk saling berbunuhan, bukan untuk saling menguasai (QS. Al-Hujurat [49] : 13).

Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan segala macam peperangan dan kemenangan yang ditimbulkan atas dasar fanatisme kebangsaan, warna kulit atau bahasa, seperti yang diajarkan oleh Adolf Hitler. Saat ini bangsa Yahudi yang telah pernah dijadikan proyek percontohan peperangan gaya Adolf Hitler malah mempraktekkan hal sama kepada bangsa Palestina.

Islam juga tidak mengajarkan peperangan dilakukan, atau kemenangan diraih, dengan tujuan semata untuk memperoleh ghonimah atau untuk mencari keuntungan materi. Oleh sebab itu Islam tidak mengajarkan praktek kolonialisme, Islam tidak pernah melakukan okupasi (pendudukan), tetapi Nabi saw dan para shahabatnya datang untuk melakukan pembebasan (liberation).

Islam diperjuangkan dan dimenangkan berdasarkan niat suci untuk mencari keridhoan Allah SWT.

“Siapa yang berjuang untuk ketinggian kalimat Tuhan yang tinggi, ialah yang berjuang di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi sangat jelas sudah hakekat kemenangan Islam  adalah sangat jauh berbeda antara kemenangan Islam itu dan kemenangan-kemenangan militer lain. Allah SWT berfirman:“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali-Imran [3]:19)

Adapun yang dimaksud dengan menjadikan kalimat Allah tinggi mengandungi arti menjadikan Islam itu kepunyaan Allah, yaitu agama seluruh umat manusia, tanpa mengenal batas kebangsaan, ras, etnis, kesukuan dlsb. Islam bagi Allah saja (mukhlishiina lahuddiin) secara mutlak berarti mengikhlaskan hati untuk Allah saja, bukan untuk yang lain. Allah memerintahkan kita dalam berdakwah:

“Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nahl [16]:125)

Hampir dapat dipastikan bahwa pemimpin muslim dalam peperangan-peperangannya yang pertama, juga dalam kebanyakan peperangan yang terjadi kemudian, mempunyai tujuan hanya semata-mata untuk menegakkan kalimat Allah, dan agar Islam itu menjadi  satu-satunya sistem kehidupan seluruh umat manusia, bukan dengan melalui paksaan, tetapi dengan melalui da’wah yang mencontoh dakwahnya Nabi saw.

Allah SWT berfirman: “Hai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Tuhan adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al-Hujurat [49] : 13)

Ciri utama sistem Islam adalah sistem yang adil yang menjamin hak-hak yang sama untuk setiap muslim. Pemimpin yang berkuasa beserta setiap anggota keluarganya, atau suatu kelompok tertentu dalam masyarakat, tidak diberi privilege apa pun, melebihi hak-hak setiap orang yang menjadi rakyat jelata. Sistem Islam memberi jaminan keadilan mutlak dalam hubungan antara golongan dan antara bangsa. Islam menjamin keadilan antara bangsa apa pun di dunia ini.

“Dan janganlah sampai kebencian suatu kaum terhadapmu menjadikan kamu bertindak tidak adil. Selalulah bertindak adil, karena hal itu lebih mendekati ketaqwaan.” (QS. Al-Maidah [5] : 8)

“Kalau kamu berkata maka berkatalah dengan adil walaupun mengenai kaum kerabat sendiri” (QS. Al-An’am [6] : 152)

Kesimpulan yang dapat diambil adalah terwujudnya syariah Islam di muka bumi dan hanya kalimat Allah itu menjadi yang tertinggi.

Allah Berfirman: “Berlaku adillah kamu, sesungguhnya Allah suka kepada orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Hujurat [49] : 9)

“Mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah, dan untuk kepentingan orang yang tertindas, laki-laki, wanita dan anak-anak yang berkata, ‘Hai Tuhan kami! Keluarkanlah kami dari negara yang penduduknya aniaya ini. Jadikanlah bagi kami seorang pemimpin dari sisi-Mu. Jadikanlah bagi kami seorang penolong dari sisi-Mu’.” (QS. An-Nisa’ [4] : 75)

Kesimpulan

Kesimpulan dari seluruh pembahasan singkat ini adalah bahwa peperangan dalam Islam dan kemenangan dalam Islam dapat diwujudkan sampai terwujudnya kebebasan da’wah dan kebebasan beragama, juga keadilan mutlak untuk seluruh manusia.

Jadi kemenangan Islam itu adalah kemenangan yang berlaku bagi seluruh umat manusia, yang belum pernah ada baik sebelumnya maupun setelah fathul Mekkah. Kemenangan Islam bukanlah kemenangan menguasai suatu wilayah ataupun harta benda, tetapi merupakan kemenangan atas setiap hati nurani ummat manusia di tempat mana pun di muka bumi ini.[]

  • Penulis: Mulyono | Sekretaris PB GAI
Yuk Bagikan Artikel Ini!

Comment here