facebooklikebutton.co
KLIPING

Mangayubagyo Usia 50 Tahun GAI oleh R. Kaelan

 

Alhamdulillah. Telah digerakkan hati kita untuk menjadi anggota GAI. Gerakan ruhani pilihan Tuhan yang tujuannya mengabdi kepada Tuhan, membawa damai dan mengadakan damai. Pengertian damai harus berkobar di dalam hati kita.

Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia telah berusia lima puluh tahun. Tidak sedikit sumbangan ruhani yang diberikan oleh GAI kepada Indonesia, yang sedang dilanda oleh materialisme, agnostisme dan apati terhadap agama Islam.

Kami, anggota GAI harus mempunyai keyakinan, bahwa GAI adalah satu-satunya gerakan yang didirikan oleh Mujaddid Hazrat Mirza Ghulam Ahmad atas perintah Tuhan, dan satu-satunya gerakan yang bisa menyelamatkan agama Islam.

Oleh karena itu, menjadi kewajiban kaum Ahmadi untuk merapatkan barisan menunggalkan tekad, merapikan organisasi dan berkurban, berdoa dan mujahadah. Mudah-mudahan yang Rahman dan Rahim memberikan karunia dan petunjuk.

Sejarah Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia dapat dibagi empat periode. Periode pertama bentuk embrio dari tahun 1924–1928/29, periode kedua dari tahun 1929–1945, periode ketiga dari tahun 1945–1950, dan periode keempat dari tahun 1950–1979.

Periode pertama berupa bentuk embrio, karena terkumpul di dalam periode ini putra-putra Islam yang dipersiapkan secara kebetulan, untuk di kemudian hari mau tidak mau mendirikan GAI. Tokoh utama, di dalam bentuk embrio ini adalah Bapak Mirza Wali Ahmad Baig, seorang missionaris dari Ahmadiyah Anjuman Ishaati Islam di Lahore. Beliau datang di Yogyakarta pada tahun 1924 dengan tugas membela dan menyiarkan Islam, tidak untuk mendirikan cabang Anjuman.

Beliau diterima baik oleh masyarakat Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta. Oleh karena itu, beberapa pemuda Muhammadiyah dikirim ke Lahore untuk belajar. Salah seorang dari mereka itu adlaah putra Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Bapak Mirza membawa angin segar yang dengan senang diterima oleh para intelektuil dan pemuda. Angin segar yang dibawa oleh Bapak Mirza itu ialah ajaran Islam yang sudah diperbaharui oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Mujaddid dari abad 14 Hijrah.

Yang dengan gembira menerima ajaran Ahmadiyah itu antara lain tokoh-tokoh Muhammadiyah, Bapak Djojosoegito, Muh. Husni dan Muh. Singgih; dari golongan pemuda Muh. Koesban, Pringgonoto, Soedewo dan lain-lain, semuanya guru-guru sekolah Muhammadiyah dan dari Kweekschool Muhammadiyah: Muh. Irshad, Muh. Mufti Sharif dan lain-lainnya. Mereka itu mengadakan kelompok, yang diberi nama “Muslim Broederschap”, dipimpin oleh Bapak Djojosoegito dan Muh. Husni, dan mengeluarkan majalah bernama “Correspondentie Blad”. Staf redaksi dipimpin oleh Soedewo.

Isi Correspondentie Blad seratus persen dari ajaran Mujaddid. Kemudian timbullah reaksi anti Ahmadiyah dan dikeluarkan pengumuman oleh PB Muhammadiyah bahwa ajaran Ahmadiyah tidak boleh diterima di kalangan Muhammadiyah. Kelompok Muslim Broederschap, yang hampir semuanya anggota Muhammadiyah, kehilangan tempat untuk berteduh.

Cabang Purwokerto sangat prihatin memikirkan Muslim Broederschap, dengan adanya pengumuman dari PB Muhammadiyah itu. Untuk meneruskan ajaran Islam yang telah diperbaharui oleh Mujaddid, didirikan Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia dengan pimpinan Bapak Djojosoegito sebagai Ketua Umum. Peristiwa penting ini terjadi pada tahun 1928 dan diakui oleh Pemerintah pada tahun 1929. Periode embrio berakhir.

Periode kedua tahun 1929-1945. Periode ini sangat gemilang dan produktif, walaupun anggota GAI tidak banyak jumlahnya. Periode yang ditandai dengan hidup prihatin dan pengorbanan, dengan berdoa dan mujahadah.

Kekompakan dan eratnya persaudaraan antar anggota terasa benar. Sangat gembira dapat bertemu satu sama lain. Gembira terasa di hati. Tiap tahun mengadakan kongres. Lain daripada itu, mengadakan rapat-rapat umum dan pengajian secara tetap. Banyak usaha karena Allah dapat diselesaikan seperti mendirikan masjid, langgar, mengeluarkan buku-buku besar dan kecil, majalah dan selebaran-selebaran tanpa pertolongan orang lain. Semuanya dikerjakan sendiri oleh GAI.

Untuk semuanya itu diperlukan uang, dirogoh dari saku para anggota dan diberikan dengan sukarela. Buku-buku besar, kecil, majalah dan selebaran itu sangat bermanfaat khususnya bagi angkatan muda dan para intelektual yang pada waktu itu memegang peranan penting dalam masyarakat Indonesia.

Menilik GAI yang kecil dapat mengeluarkan buku-buku yang banyak macam dan jumlahnya adalah suatu prestasi yang luar biasa. Ini dapat diperoleh hanya karena kemurahan Tuhan dan pemberian Tuhan.

Periode ketiga dalam tahun 1945-1950. Ini adalah periode mandek. GAI tidak dapat bergerak. Banyak anggota meninggalkan Gerakan, atau tinggal diam, karena tidak dapat berbuat apa-apa.

Periode keempat tahun 1950-1979. Periode yang menegangkan dan memilukan hati. Jumlah anggota yang tinggal sedikit ini berusaha merehabilitir diri. Mula-mula berhasil sehingga dapat mengadakan kongres dengan malam resepsi di Gedung Negara Yogyakarta dan penginapan di asrama SGA Jetisharjo, Yogyakarta. Akan tetapi semangat surut kembali.

Detik-detik yang memilukan ialah masa yang menggambarkan jurang perpisahan batin antar anggota. Benar-benar merupakan suatu kontras keadaan batin antar anggota dari periode pertama dan kedua. Kekompakan menipis. Pertemuan cabang kurang sekali mendapat perhatian, dan kerap kali kosong. Iri hati dihembuskan oleh syaitan. Usaha karena Allah dari yang satu kurang mendapat perhatian dari yang lain.

Alhamdulillah, suasana yang buruk itu mereda dan akhirnya sirna. GAI dapat bergerak lagi. Cabang Yogyakarta rajin mengadakan rapat anggota pada tiap-tiap bulan dengan pengajian yang teratur. GAI mengeluarkan buku-buku besar seperti Quran jarwa Jawi, Islamologi dan buku-buku kecil seperti Dajjal dan Ya’juj wa Ma’juj, Rahasia Hidup, Fathi Islam, Women in Islam, Ekonomi Islam dan cetak ulang Islam is Modern, Filsafat dan Perbandingan Agama. Dan mulai dicetak Quran Suci jarwa Indonesia.

Pesan kepada Generasi Yang Akan Datang

Saudara-saudara dan ananda sekalian. Di pundak saudara-saudara dan ananda sekalian diletakkan tugas pembinaan Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia, yang telah dirintis oleh angkatan GAI selama 50 tahun ini.

Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah lalu, maka kami berpesan:

  1. Sebelum menyatakan baiat, hendaknya saudara mengetahui terlebih dulu apakah GAI itu, apakah tujuan dan cita-citanya.
  2. Setelah menyatakan baiat, berbuat dan hiduplah menurut apa yang saudara-saudara janjikan itu, yang disaksikan oleh Allah sendiri. Memang ini adalah berat, tetapi membawa nikmat.
  3. Dalam langkah-langkah selanjutnya pada pengabdian kepada GAI, usahakanlah supaya mempunyai tempat sendiri untuk bermusyawarah, salat berjamaah, menuntut pelajaran, membaca Quran Suci dan kegiatan lain-lainnya. Yang utama tempat itu adalah milik sendiri.
  4. Usahakanlah jangan sampai ada perpecahan batin di kalangan kita sendiri dan janganlah bersikap masa bodoh atau acuh tak acuh di antara yang satu dengan yang lainnya. Perpecahan batin di antara sesama Ahmadi sama sekali tidak menguntungkan.
  5. Jangan hendaknya merasa yang paling top sendiri, dan merasa tidak bisa diganti dalam suatu tugas atau kepemimpinan.
  6. Usahakanlah kerja sama di antara Ahmadi yang serasi dan bermanfaat.
  7. Pergunakanlah waktu setepat mungkin dengan membaca Quran Suci sebanyak-banyaknya. Kitab Suci ini sumber kebahagiaan dan penawar segala penyakit keruhanian.
  8. Saudara-saudara dan ananda sekalian, jadilah pembela dan penyiar Islam yang utama. Sekarang ini adalah waktunya penerangan Islam sangat-sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia pada khususnya.
  9. Pelajarilah buku-buku GAI dengan sungguh-sungguh sebagai bekal dalam menunaikan tugas mengabdi kepada Tuhan yang sekaligus melayani GAI
  10. Tanamkanlah di dalam hati, tugas GAI adalah membela dan menyiarkan Islam. Mengadakan literatur sebanyak-banyaknya, majalah dan selebaran dan tabligh. Janganlah GAI dibebani dengan pendirian badan-badan sosial.
  11. Syarat untuk menegakkan kedaulatan Ilahi, yang menjadi tugas GAI harus memohon pertolongan kepada Ilahi dengan salat, berdoa dan mujahadah. Inilah jalan yang tepat. Jangan minta pertolongan kepada orang atau pihak lain.
  12. Ikutilah jejak orang-orang suci, orang-orang sidik dan saleh. Salah satu, misalnya: Almarhum Yang Mulia Maulvi Maulana Muhammad Ali, M.A., LL.B., seorang Mujtahid Kabir pada zaman ini. Rahasia dari suksesnya terletak pada iman kepada Allah yang tidak tergoyahkan, yang dijaganya dengan mempelajari Quran Suci secara ajeg (terus menerus) mempelajari Hadits dan kata-kata yang memberikan semangat dari pendiri Ahmadiyah dan yang terakhir, akan tetapi bukannya yang kurang penting, yaitu salat dengan khusyuk.

Ya Tuhan, tolonglah mereka yang menolong agama Muhammad saw., dan jadikanlah kami dari antara mereka. Ya Tuhan, tinggalkanlah mereka yang meninggalkan agama Muhammad saw., dan janganlah jadikan kami dari antara mereka. Amin.

 

Yogyakarta, 28 September 1979 | R Kaelan

Sumber: “Buku Kenang-kenangan GAI usia 50 Tahun (Golden Jubilee)”, 1979, hlm. 31-34

Comment here