facebooklikebutton.co

Kematian Isa

Yahudi mempercayai Nabi Isa a.s. sebagai manusia biasa, sementara umat Kristiani menuhankannya. Umat Muslim menerima beliau sebagai salah satu di antara para nabiyullah lainnya. Qur’an Suci membuktikan Nabi Isa a.s. telah wafat dalam keadaan ketiga posisi tersebut.

Oleh: Erwan Hamdani | AMAI Jakarta

death of jesusPerbedaan pertama antara kaum Ahmadi dengan kaum muslimin pada umumnya sehubungan dengan kematian Nabi Isa a.s . adalah: Rata-rata kaum muslimin percaya bahwa Nabi Isa a.s. masih hidup di langit dengan badan jasmannya, namun para anggota Ahmadiyyah dan juga para Ulama intelektual yang menelaah percaya bahwa – seperti para nabi lainnya – Nabi Isa a.s. telah wafat.

Bukti dari Qur’an Suci

Qur’an Suci jelas sekali membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat seperti manusia lainnya dan tidak hidup lagi di manapun. Jelas sekali dinyatakan bahwa Nabi Isa a.s. hanyalah memiliki sifat-sifat kemanusiaan, dan tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan, beliau hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Karena itu sejak lahir hingga wafat, dia tunduk pada keterbatasan fisik dan biologi yang telah ditentukan Tuhan untuk manusia.

BUKTI PERTAMA: Semua manusia hidup dan mati di bumi ini.

Semua Nabi adalah manusia biasa, oleh karena itu mereka tunduk kepada undang-undang Ilahi yang tak berubah-ubah, bahwa manusia hidup dan mati di bumi ini. Qur’an Suci munyatakan:

  1. “Ia berfirman: Di sana (yakni di bumi) kamu hidup dan di sana kamu meninggal dan dari sana kamu akan dibangkitkan” (7:25)
  2. “Dan bagi kamu adalah tempat tinggal di bumi dan perlengkapan untuk sementara waktu” (7:24)
  3. “Bukankah Kami jadikan bumi sebagai daya tarik, yang hidup dan mati” (77:25,26)
  4. “Dan dari (bumi) itu Kami menciptakan kamu dan kesitu juga Kami kembalikan kamu. Dan dari bumi itu Kami mengeluarkan kamu untuk kedua kali.” (20:55)

BUKTI KEDUA : Kehidupan jasmani tergantung pada makanan dan minuman

Tuhan telah menjelaskan bahwa undang-undang-Nya berlaku bukan hanya untuk orang biasa saja namun juga untuk para Nabi, bahwa hidup itu sangat bergantung pada makanan dan minuman:

  1. “Kami tidak mengutus sebelum engkau (wahai Muhammad) setiap Rasul kecuali mereka itu makan-makanan.” (25:20)
  2. “Dan Kami tak membuat mereka (yakni para Nabi) tubuh yang tak makan-makanan.” (21:8)

Mengenai Nabi Isa a.s. dan ibunya yang tulus dinyatakan :”Dua-duanya makan, makanan” (5:75). Maka jika Nabi Isa a.s. tidak makan-makanan – segenap kaum Muslimin berpendapat bahwa Nabi Isa a.s. tidak makan-makanan lagi di langit – beliau tak akan bisa, dengan hukum Ilahi yang dinyatakan di atas, hidup dengan badan jasmaninya. Jasmani itu membutuhkan makanan jadi Nabi Isa a.s. yang tak makan-makanan lagi pasti sudah mati.

BUKTI KETIGA: Jasmani manusia bisa rusak termakan waktu.

Tak ada satu badan jasmani manusia pun di bumi ini yang tidak mengalami perubahan. Kehidupan jasmani pasti menglami perubahan seiring dengan perubahan waktu. Qur’an Suci menyatakan:

  1. “Dan tiada Kami menciptakan manusia sebelum engkau (hai Muhammad) itu kekal (Khuld). Apakah jika engkau mati, mereka itu kekal (Khalidun)” ? (21:34)
  2. “Mereka (yakni para Nabi) itu tidak hidup kekal (Khalidin)” (21:8)

Mengenai arti kata Khulud (yang diterjemahakan di atas dengan kekal selama-lamanya), kamus Qur’an yang terkenal dari Imam Raghib menjelaskan:

“Khulud” artinya ialah sesuatu yang kebal dari kerusakan, dan tahan terhadap perubahan kondisi. Bangsa Arab menyebut sesuatu dengan kata Khulud….. yakni terus menerus dalam suatu keadaan dan tidak berubah (hal 153-154).

Karena itu menurut pengertian bahasa Arab, pengertian Khulud menunjukan tetapnya suatu keadaan yang tidak mengalami perubahan atau mengalami kerusakan. Di dalam ayat-ayat tersebut di atas, hukum Ilahi telah menjelaskan secara jelas bahwa dalam keadaan seperti itu setiap orang akan menglami perubahan dengan berlalunya waktu. Dia pertama-tama menjadi anak, kemudian dewasa, kemudian tua dan akhrinya mati ini diperkuat oleh banyak ayat-ayat lainnya, contohnya

  1. “Allah ialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, lalu Ia memberi kekuatan setelah lemah, lalu membuat kelemahan dan ubanan setelah keadaan kuat.” (30:54)
  2. “Dan diantara kamu ada pula yang dikembalikan menjadi pikun (jompo), sehingga ia tak tahu apa-apa setelah ia tahu.” (22:5)
  3. “Dan barang siapa Kami beri umur panjang, niscaya Kami kembalikan kepada keadaan kejadian yang hina (buruk). Apakah mereka tak mengerti?.” (36:58)

Secara umum undang-undang Ilahi telah dijelaskan seterang-terangnya di sini, dan tidak ada pengecualian bagi seorang manusia pun. Sejak dari anak seseorang berkembang secara fisik untuk mencapai perkembangan yang sepenuhnya setelah itu dia mulai lemah dan akhirnya sampailah kepada kekanak-kanakan yang kedua kalinya tatkala dia kehilangan masa-masa yang pernah dicapainya.

Jika demi kepentingan argumentasi itu, Nabi Isa a.s. akan kembali kedunia ini, dia harus berusia 2000 tahun, dan dari sinilah,menurut hukum Ilahi di atas beliau sudah terlalu tua untuk berbuat sesuatu. Pada kenyataanya, sungguh dibawah undang-undang ini Nabi Isa a.s. sudah wafat sejak dahulu.

BUKTI KEEMPAT: Wafatnya Para Nabi

  1. “Almasih, ‘Isa bin Maryam, hanyalah seorang Rasul: sungguh telah berlalu para utusan sebelum dia “. (5:75)
  2. “Dan Muhammad itu tiada lain hanyalah utusan; sebelum dia telah berlalu para utusan. Jika ia mati atau dibunuh, apakah kamu akan berbalik atas tumit kamu?.” (3:143)

Ayat yang kedua di sini memperjelas ayat yang pertama. Kedua ayat itu sama-sama memperingatkan, yang pertama terhadap Nabi Isa a.s. , yang kedua terhadap Nabi Suci Muhammad. Penjelasan ayat Qur’an Suci di sini sangat jelas sekali bagi si pencari kebenaran. Ayat pertama jelas sekali mengatakan bahwa semua Nabi sebelum Nabi Isa a.s. telah wafat – segenap kaum Muslimin menerima ini. Dalam ayat yang kedua, kata-kata yang sama digunakan untuk memperjelas bahwa semua Nabi sebelum Nabi Muhammad saw. telah wafat, dan karena tak ada Nabi yang dibangkitkan antara Nabi Isa a.s. dan Nabi Suci, ayat yang kedua pasti diturunkan khusunya untuk menunjukan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat. Karya-karya klasik tata bahasa Arab menjelaskan kepada kita bahwa, dengan menggunakan awalan al pada kata para utusan (al-rusul, lit “para-utusan) di dua ayat tersebut di atas jelas-jelas memberi arti seluruh utusan (lih bahr al-Muhit, vol 3, hal 68).

Arti dari Khala

Haruslah diingat bahwa kata khala (yang diterjemahkan di atas dengan “belalu”) dalam bentuk kata lampau tanpa kata sandang, ketika ditujukan kepada manusia, bermakna kematian mereka. (lih Lisan al-Arab dan Aqrab al-Mawarad), juga di dalam Qur’an Suci, mana kala kata qad khalat tanpa partikel ila digunakan untuk orang, maksudnya adalah mereka telah berlalu dan meninggal, dan tak akan kembali lagi. Sebagai contoh:

  1. “Itulah umat yang sudah berlalu (qad khalat).” (2:134)
  2. “…Yang sebelumnya telah banyak umat yang berlalu (qad khalat).” (13:30)
  3. “….dikalangan umat yang telah berlalu (qad khalat).”(46:18)
  4. “itulah tata cara Allah terhadap orang-orang yang sebelumnya telah berlalu (khalat).” (33:38)

Dalam penafsiran dua ayat tentang seluruh Nabi sebelum Nabi Isa a.s. dan Nabi Suci saw. telah berlalu, para mufasir umunya mengambil arti yang sama:

“Nabi Suci telah meninggal dunia sebagaimana yang telah terjadi pada Nabi-Nabi sebelumnya, dengan cara kematian yang alami atau dibunuh” (Qanwa ‘ata Baidawi, vol.3 hal 124).

Sebenarnya ayat-ayat tersebut di atas mengenai Nabi Suci (3:143) itu sendiri telah menjelaskan makna dari khalat (telah berlalu seluruh Nabi sebelumnya) dengan menggunakan kata-kata “bila dia meninggal atau dibunuh” atas dirinya. Jelaslah, kalimat “telah berlalu para Nabi sebelumnya “berarti salah satu dari mati alami atau dibunuh

BUKTI KELIMA: Semua yang dituhankan itu mati

Semua yang dianggap tuhan selain Allah , dijelaskan oleh Qur’an Suci itu “mati”:

“Adapun orang-orang yang mereka seru selain Allah, mereka tak dapat menciptakan apa-apa malahan mereka itu diciptakan. (mereka) mati tak hidup. Dan mereka tak tahu kapan mereka dibangkitkan.” (16:20-21)

Begitu pula Nabi Isa a.s. yang dianggap tuhan, Qur’an Suci itu sendiri berkata: “Sungguh kafir orang –orang yang berkata: “Allah ialah Masih bin Maryam.” (5:72)

Ayat-ayat ini menjadi bukti secara lengkap bahwa Nabi Isa a.s. yang dianggap tuhan oleh sebagian besar oleh manusia dan dipanggil “Tuhan Jesus”, pasti sudah mati ketika ayat ini diwahyukan. Jika tidak, pengecualian itu pasti disebutkan di sini.

Setelah amwaat (mereka itu mati), kata ghairu ahyaa’u (“tidak hidup”) menjelaskan masalah tersebut lebih mantap, dan kembali menguatkan tentang kematian terhadap “tuhan-tuhan” tersebut.

BUKTI KEENAM: Kedatangan Nabi Isa a.s. yang kedua bertentangan dengan Khataman-nabiyyin.

Kedatangan Nabi Isa a.s. lagi ke dunia ini akan menyalahi prinsip Khataman Nabiyyin karena Nabi Suci saw. adalah Nabi penutup dan Nabi yang terakhir menurut prinsip tersebut. Qur’an Suci menjelaskan: “Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari kamu, melainkan dia itu Utusan Allah dan segel (penutup) para Nabi. (33:40)

Nabi Suci menjadi Nabi yang terakhir (Khataman-Nabiyyin) memastikan bahwa setelah beliau tidak akan muncul lagi Nabi yang lain, baik Nabi baru maupun Nabi lama. Seperti halnya kedatangan nabi baru akan merusak Khataman-Nabiyyin begitu pula kehadiran Nabi lama, karena Khataman-Nabiyyin berarti Nabi yang muncul setelah munculnya seluruh Nabi. Seandainya Nabi Isa a.s. datang sesudah Nabi Suci dia (Nabi Isa a.s. ) pasti akan menjadi Nabi yang terakhir, Khataman-Nabiyyin.

Salah sekali jika untuk berdalih bahwa menurut perkiraannya kedatangannya yang kedua kali, Nabi Isa a.s. tak akan menjadi Nabi. Karena Qur’an Suci mengatakan: “Ia (Nabi Isa a.s. ) berkata: “sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Ia telah memberikan kepadaku kitab, dan membuat aku seorang Nabi. Dan ia membuat aku seorang yang diberkahi di manapun aku berada.” (19:30-31). Jadi manakala dia kembali ke dunia ini dia harus tetap Nabi. Kedatangannya lagi tanpa kenabian akan menjadi tak berarti, karena tugas kepemimpinan umat Muslim (imam) dan keKhalifahan Nabi Suci harus dilaksanakan oleh umat Muslim itu sendiri. Di sini membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat, sebagaimana para Nabi lainnya dan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah Nabi yang terakhir.

BUKTI KETUJUH: Qur’an Suci secara khusus menjelaskan kematian Nabi Isa a.s.

Menjelaskan berbagai macam pengertian umum dalam hal hidup dan mati, adalah tak perlu bila Qur’an Suci itu sendiri telah menjelaskan secara khusus tentang kematian Nabi Isa a.s. Tuhan Yang Maha Kuasa telah menjelaskan secara khusus tentang kematian Nabi Isa a.s. di dalam Qur’an Suci. Ketika Yahudi berhasil dalam rencananya menggantungkan Nabi Isa a.s. di tiang salib, Nabi Isa a.s. berdo’a agar diselamatkan dari penderitaan ini, dan dijawab oleh-Nya sebagai berikut:

“Wahai Isa, Aku akan mematikan engkau dan meninggikan engkau di hadapanKu dan membersihkan engkau dari orang-orang kafir dan membuat orang-orang yang mengikuti engkau di atas orang-orang kafir sampai hari kiamat.” (3:54)

Di sini Tuhan telah membuat 4 perjanjian dengan Nabi Isa a.s.

  1. “mematikan engkau” (tawaffa) yakni, Nabi Isa a.s. tak akan dibunuh oleh kaum Yahudi, melainkan beliau akan meninggak secara wajar
  2. “meninggikan engkau dihadapanKu” (raf’a) yakni, dia tidak mati disalib, yang mana Yahudi mencoba membuktikan dia itu terkutuk (ul 21:23), melainkan dia akan menerima kedekatan Ilahi.
  3. “membersihkan engkau dari orang-orang kafir” (tathir) yakni, dia akan dibersihkan dari semua tuduhan Yahudi, yang mana hal ini telah dilakukan oleh Nabi Suci saw.
  4. “membuat orang-orang yang mengikuti engkau di atas orang-orang kafir sampai hari kiamat”, yakni pengikutnya akan berada di atas para pembangkangnya.

Ayat di atas membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah mati, karena raf’a (pengangkatan ke hadirat Ilahi) hanya bisa dicapai setelah mati, setelah semua selubung jasmani disingkirkan. Setiap orang tulus akan dianugrahi raf’a dihadapanTuhan setelah kematiannya. Nabi Suci bersabda:”ketika orang beriman mendekati kematiannay, para malaikat datang kepadanya. Jadi, bila orang tulus, mereka berkata:

“wahai ruh yang suci! Keluarlah kau dari jasad yang suci, maka keluarlah ruh yang suci tersebut, lalu mereka membawanya ke surga dan dibukakanlah gerbang-gerbang surga itu untuknya” (Miskhat).

Karenanya, sewaktu-waktu orang tulus meninggal, para Malaikat membawa ruhnya ke seruga. Begitu pula halnya yang terjadi dengan Nabi Isa a.s. , setelah kematianya, ruhnya diangkat ke surga dan dia bergabung di antara barisan orang-orang tulus yang telah mati.

Dengan demikian Tuhan telah memenuhi semua janji-janji di atas dengan urutan: Dia menyelamatkan Nabi Isa a.s. dari tangan-tangan Yahudi, dan kemudian mewafatkannya dengan wajar, setelah kematiannya Tuhan memuliakan ruhnya dengan kedekatan Ilahi; Dia membersihkan segala tuduhan Yahudi melalui Nabi Suci saw. dan memberikan pengikutnya berada di atas kaum kafir.

BUKTI KEDELAPAN: Umat kristiani tersesat setelah Nabi Isa a.s. wafat.

Pernyataan Nabi Isa a.s. pada hari kiamat, bahwa umatnya akan menuhankan dia setelah kematiannya, demikianlah yang tertulis di Qur’an Suci .

“Dan tatkala Allah berfirman: Wahai Isa Bin Maryam, apakah engkau berkata kepada manusia: ambillah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah. Dia menjawab: Maha Suci Engkau! Tak pantas bagiku mengtakan apa yang aku tak berhak mengatakannya. Jika aku mengatakan itu, Engkau pasti mengetahui. Engkau tahu apa yang ada dalam batinku, dan aku tak tahu apa yang ada dalam batin Engkau. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Tahu barang-barang gaib. Aku tak berkata apa-apa kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku yaitu: Mengabdilah kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu; dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka, tetapi setelah engkau mematikan aku, Engkaulah Yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Yang Maha menyaksikan segala sesuatu” (5-116-117)

Inti bukti ini sebagai berikut:

  1. Nabi Isa a.s. akan menyangkal telah mengajarkan doktrin kristen yang sesat tentang ketuhannya
  2. Dia akan menegaskan ajaran dia yang sebenarnya yang telah ia berikan kepada umatnya.
  3. Selama Nabi Isa a.s. berada di tengah-tengah mereka, pengikutnya memegang ajaran yang benar;
  4. Setelah Nabi Isa a.s. tawaffa (diterjemahkan di atas dengan “Kau menyebabkan aku mati”) keyakinan mereka menjadi rusak.

Arti dari Tawaffa

Kamus-kamus bahasa Arab memberitahukan pada kita bahwa tawaffa allahu fallanun, yakni Tuhan telah melakukan tawaffa kepada seseorang artinya Tuhan mencabut nyawanya dan menyebabkan dia mati. Arti inilah yang diberikan oleh Taj al-Urus, Al-Qamus, Surah, Asas Al-Balaghah, Al-Sihah, dan Kalyat abi-l-Baqa.

Dalam ayat di atas, Nabi Isa a.s. berkata dalam dua periode yang berbeda, yang pertama menjelaskan kata-kata “selama aku berada di tengah-tengah mereka”, dan yang kedua tatkala hanya “Engkaulah yang mengawasi mereka”, mereka itu adalah umat Nabi Isa a.s. , Kristen. Dan periode kedua (hanya Tuhan saja yakni bukan Nabi Isa a.s. yang mengawasi mereka) dikarenakan tawaffaitani atau ketika Engkau mematikan aku (Nabi Isa a.s. )

Sekarang menurut ayat di atas, umat Kristen memgang keyakinan yang benar dalam perode yang pertama, dan berpandangan sesat pada periode kedua. Sebagaimana Qur’an Suci memberitahukan kepada kita berulang-ulang dan seluruh umat Muslimpun meyakini, bahwa ajaran Kristen telah menjadi sesat (atau dengan kata lain periode kedua telah dimulai) dengan ditandainya kedatangan Nabi Suci. jadi Nabi Isa a.s. telah wafat dengan dimulainya periode yang kedua yang telah datang setelah tawaffaitani atau kematian Nabi Isa a.s.

Ringkasan

Menurut Qur’an Suci, Nabi Isa a.s. memegang tidak lebih dari ketiga posisi berikut ini:

  1. Beliau hanyalah manusia biasa diantara manusia biasa lainnya
  2. Beliau adalah Nabiyullah diantara para Nabi lainnya; dan
  3. Beliau adalah di antara mereka yang dituhankan manusia

Yahudi mempercayai Nabi Isa a.s. sebagai manusia biasa, sementara umat Kristiani menuhankannya. Umat Muslim menerima beliau sebagai salah satu di antara para nabiyullah lainnya. Qur’an Suci membuktikan Nabi Isa a.s. telah wafat dalam keadaan ketiga posisi tersebut.

I. Nabi Isa a.s. sebagai manusia biasa:

Qur’an Suci menyatakan: “Dan tiada Kami menciptakan manusia sebelum engkau (hai Muhammad) itu kekal, apakah jika engkau mati, mereka itu kekal?.” (21:34). Ayat ini menunjukan bahwa tubuh manusia itu tak pernah kebal dari perubahan waktu, dan bahwa tubuh manusia itu harus hidup dan mati di bumi ini. Sebagaimana Nabi Isa a.s. itu menusia biasa – dia juga harus tunduk kepada sunatullah yang telah ditentukan kepada manusia karena menurut ketentuan Qur’an Suci “setiap jiwa harus merasakan mati” – Nabi Isa a.s.telah wafat.

II. Nabi Isa a.s. sebagai seorang Nabi:

“Dan Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang utusan; sebelum dia telah berlalu para utusan.” (3:143). Ayat ini membuktikan kematian seluruh Nabi yang lalu pada waktu diturunkannya wahyu tersebut, dengan demikian Nabi Isa a.s. telah wafat pada waktu itu.

III. Nabi Isa a.s. sebagai yang dianggap tuhan:

Dalam hal semua yang dianggap tuhan selain Allah, Qur’an Suci memberitahukan kepada kita”mereka mati tidak hidup, dan mereka tak tahu kapan dibangkitkan.” (16:21). Ini telah diketahui secara universal , dan ditegaskan oleh Qur’an Suci bahwa umat Kristiani meyakini Nabi Isa a.s. sebagai tuhan dan menyerunya di dalam sembahyang mereka. Jadi menurut ayat di atas, Nabi Isa a.s. telah meninggal; dan “tak akan pernah menjawab do’a mereka hingga hari kiamat”.

Karena itu secara lengkap dan tuntas terbukti bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat lama sekali, dan kepercayaan terhadap kelangsungan hidupnya adalah bertentangan dengan ajaran Qur’an Suci yang terang benderang.

Bukti dari Hadits

Telah kami tunjukan bukti-bukti dari ayat Al-Qur’an ayng menyatakan bahwa Nabi Isa a.s. tidak hidup di langit melainkan beliau telah wafat di zamannya sebagaimana para nabi lainnya yang juga telah wafat. Oleh karena itu seharusnya tidak ada lagi keraguan sedikitpun di benak para orang bijak dan para pecinta kebenaran tentang masalah ini. Namun untuk lebih memuaskan para pencari kebenaran, kami akan menghadirkan beberapa hadits dari Nabi Suci saw., orang yang menerima wahyu Al-Qur,an, dan sebagai orang yang paling benar dalam penafsiran Qur’an Suci , untuk masalah ini seharusnya setiap dan segenap Umat Muslim tunduk sepenuhnya terhadap penafsiran dan keputusan Nabi Suci saw.

Hadits Pertama: arti dari Tawaffa.

“Diriwayatkan oleh Ibn Abbas bahwa Nabi Suci saw. Bersabda dalam suatu khotbahnya: Wahai saudara-ssaudara sekalian! Kalian akan dikumpulkan oleh Tuhanmu (pada hari kiamat)…. Dan beberapa orang dari umatku akan diambil dan dilemparkan ke neraka. Aku akan berkata ‘Oh Tuhan, tapi mereka adalah dari umatku’ Akan dijawab:’ Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan setelah kepergianmu”. Lalu aku akan berkata sebagaimana perkataan hamba Allah yang tulus (yakni Nabi Isa a.s. ): “Aku akan menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka, tetapi setelah Engkau mematikan aku (tawaffaitani). Engkaulah yang mengawasi mereka”….. (Bukhari, Kitab al-Tafsir, dibawah Surat Al-Maidah)

kalimat terakhir dari sabda Nabi Suci saw. (‘aku menjadi saksi atas mereka…) diambil dari ayat Qur’an Suci yang mana telah dijawab oleh Nabi Isa a.s. sebagai suatu sangkalan pada hari kiamat. Adalah disetujui oleh seluruh umat Muslim, ketika kalimat ini digunakan oleh Nabi Suci saw. Pada hadits di atas, arti dari tawaffaitani adalah ‘engkau mematikan aku’ jadi jelaslah kalimat tersebut mempunyai arti yang sama ketika digunakan oleh Nabi Isa a.s. yakni ketika Nabi Isa a.s. diambil dari umatnya oleh kematiannya bukan diangkat hidup-hidup ke langit.

Hadits kedua: Semua Nabi pasti mati.

Pada saat menjelang ajalnya, Nabi Suci saw.. masuk ke mesjid dengan dibantu oleh dua orang untuk mengatakan hal ini:

“Wahai saudara-saudara sekalian!. Aku mendengar bahwa kalian takut akan kematian Nabimu. Apakah para Nabi sebelumku itu ada yang mampu mempertahankan hidupnya sehingga aku masih punya harapan untuk bersamamu lagi?. Dengarlah! Sebentar lagi aku akan menemui Tuhanku, begitu juga dengan kalian. Jadi aku meminta pada kelian untuk memperlakukan kaum muhajir dengan baik” (Al-anwar ul-Muhammadiyya min al-Muwahib lil-dinnyya, Egypt, hal 317)

hadits ini diakhirai dengan mengutip tiga ayat Qur’an Suci: “Muhammad itu tiada lain hanyalah utusan; sebelum dia, telah berlalu banyak utusan” (3:143)

“dan tiada kami menciptakan manusia sebelum engkau itu kekal” (21:34); dan Dan Kami tak membuat mereka (para Nabi) tubuh yang tak makan-makanan, dan tak pula mereka kekal” (21:8). Bila seandainya ada beberapa nabi yang masih hidup, pastilah Nabi Suci. tak dapat berkata seperti hadits di atas. Jadi jelaslah bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat pada waktu itu.

Hadits Ketiga: Wafat sebelum Usia 100 tahun

  1. “Tak ada seorangpun yang hidup hingga kini melainkan akan wafat sebelum seratus tahun berlalu” (Muslim. Kunz al-ummal, vol.7.170)
  2. “Nabi Suci saw. Bersabda: ‘Allah mengirimkan angin setiap seratus tahun untuk mengambil tiap-tiap jiwa orang Mu’min” (Mustadrak, vol.4, p. 475)

hadits-hadits tersebut menunjukan bahwa setiap orang yang masih hidup di masa Nabi Suci saw. Akan wafat sebelum seratus tahun berlalu, bila Nabi Isa a.s. masih hidup ( di langit sebagaimana yang dikira orang) dia pasti telah wafat dalam perode tersebut.

Hadits keempat: Nabi Isa a.s. berusia 120 tahun

Aishah a.s. berkata bahwa, pada saat menjelang kematiannya, Nabi Suci saw. Bersabda :’ setiap tahun Jibril biasanya mengulangi pembacaan Qur’an Suci denganku sekali, namun pada tahun ini dia melakukan hal tersebut dua kali, dia memberitahukan padaku bahwa tak ada nabi melainkan hidup selama separuh dari usia nabi yang terdahulunya. Dan dia juga berkata padaku bahwa Nabi Isa a.s. hidup selama seratus dua puluh, dan aku menyadari bahwa aku akan meninggalkan dunia ini diawal usia enam puluhan” (Hajaj at-Kiramah, p. 428: Kanz al-Ummal, vol. 6, p. 160, dari Hadrat Fatima; dan Mawahib al-Ladinya, vol. 1, p.42).

Tabrani berkata tentang hadits ini: Hadits nya sangatlah dapat di percaya , dan dirawikan dengan beberapa versi:. Hadits tersebut tak ada keraguannya sedikitpun yang bukan hanya mengumumkan kematiannya Nabi Isa a.s. malainkan menyatakan usianya yakni 120 tahun. Dan diriwayatkan paling tidak melalui tiga jalur: Dari Aishah, ibn Umar dan Fatima. Karena itu Hadits tersebut sangatlah jelas membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat.

Hadits Kelima: Nabi Isa a.s. telah wafat seperti Musa.

  1. Nabi Suci saw. Bersabda: “seandainya Musa atau Isa masih hidup, mereka pasti mengikutiku (Al-Yawaqit wal-Jawahir, hal. 240; Fath al-Bayan, vol. 2 hal 246; tafsir Ibn Kathir, dibawah ayat 81, surat Ali-Imran)
  2. “Seandainya Isa masih hidup dia pasti mengikutiku” (Shrah Fiqh Akbar, Egyptian ad., hal 99)
  3. “Bila Musa dan Isa masih hidup, mereka pasti mengikutiku” (Al-Islam, dipublikasikan oleh The Fiji Muslim Youth Organization, vol.4 oct 1974)

Hadits-hadits tersebut di atas jelas menunjukan bahwa baik Musa maupun Isa dianggap telah wafat Oleh Nabi Suci saw.

Hadits Keenam: Makam Nabi Isa a.s.

Nabi Suci saw. Bersabda:” semoga Allah melaknat Yahudi dan Kristiani yang membuat kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah”. (Bukhari, Kitab as-Salat, hal 296).

Nabi Suci saw. Bersabda seperti demikian di atas dikarenakan beliau sangat khawatir bahwa umat Muslim yang seharusnya terhindar dari kesalahan dengan membuat makam dari nabi mereka menjadi tempat ibadah seperti yang telah dilakukan oleh Yahudi dan Kristiani terhadap makam nabi-nabi mereka. Yahudi mempunyai banyak nabi namun nabi yang sangat dikenal oleh umat Kristiani hanyalah satu – Nabi Isa a.s. .hadits ini menunjukan keyakinan Nabi Suci saw. terhadap makamnya Nabi Isa a.s. dan sebenarnya tempat inilah (makam tersebut ) dimana Nabi Isa a.s. bersembunyi setelah diturunkan dari salib ( hingga beliau sembuh dari luka-lukanya), yang mana umat Kristiani memujanya dengan berlebih-lebihan. Jelaslah menurut hadits ini, Nabi Isa a.s. tidak diangkat ke langit.

Hadits ketujuh: Nabi Isa a.s. dalam jamaah orang yang telah wafat.

Dalam berbagai hadits tentang Mi’rajnya Nabi Suci saw. Diriwayatkan:

i. “Adam di langit pertama…Yusuf di langit kedua, dan sepupunya Yahya (sipembaptis) dan Isa sendiri dilangit ketiga, dan Idris dilangit keempat” (Kanz al-Ummal. Vol.VI, hal. 120)

Nabi Suci saw. melihat Nabi Yahya a.s. dan Nabi Isa a.s. berada ditempat yang sama; dan sebagaimana setiap para nabi yang terdahulu terlihat dalam Mi’raj telah wafat, maka pasti Nabi Isa a.s. pun telah wafat.

ii. Hadits di atas dikuatkan dengan hadits lainnya yang mengatakan bahwa dalam Mi’rajnya, Nabi Suci saw. menjumpai ruh para nabi (tafsir ibn Kathir, Urdu ed. Diterbitkan di Karachi. Vol III. Hal. 28).

Hadits kedelapan: “Turunya” Nabi Isa a.s. di malam Mi’raj.

Sebuah hadits tentang Mi’raj mengisahkan:

“lalu Nabi Suci saw. turun di Yerusalem bersama-sama dengan seluruh nabi. Pada saat sembahyang beliau mengimami mereka semua dalam sembahyang” (tafsir ibn Kathir, Urdu ed, vol LII hal. 23).

Diantara “seluruh” nabi adalah termasuk Nabi Isa a.s. . Seandainya dia, berbeda dengan nabi-nabi lainnya, masih hidup dengan badan wadagnya di langit, maka “turunya” beliau di Yerusalem pasti dengan badan wadagnya pula. Dalam hal ini, beliau harus diangkat kelangit dua kali dengan badan wadagnya pula, namun Qur’an Suci menerangkan hanya sekali raf’ nya(“pengangkatan” yang disalah mengertikan sebagai pengangkatan secara wadag ke langit”) Nabi Isa a.s. !

Kesulitan ini tak akan timbul bila kita meyakini, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam berbagai hadits tentang Mi’raj, bahwa Nabi Isa a.s. berada dalam keadaan yang sama (yakni wafat) dengan para nabi lainnya yang dilihat Nabi Suci saw. dalam ru’yahnya.

Hadits Kesembiilan: Diskusinya Nabi Suci saw. dengan utusan Kristen.

“ketika enam puluh orang utusan (kristen) dari Najran mendatangi, kepala pendeta mereka mendiskusikan dengan beliau mengenai kedudukan Nabi Isa a.s. dan menanyakan kepada beliau prihal ayahnya Nabi Isa a.s. Nabi Suci saw. bersabda: ‘tidakkah engkau tahu bahwa seorang anak menyerupai ayahnya? Mereka menjawab ‘benar’. Sabdanya lagi:

A lastum ta’ lamuna anna rabbana layatu wa anna ‘Tsa ata’alaihi-fana’ (Tidakkah engkau mengetahuinya bahwa Tuhan kita kekal sedangkan Isa binasa) (Asbab an-nuzul oleh Imam Abu-l0hasan Ali bin Ahmad al-wahide dari Neshapur, di terbitkan di Mesir, hal 53).

Betapa jelasnya pernyataan tersebut bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat dan tak lebih dari apa yang disabdakan oleh Nabi Suci saw. tersebut.[]

 

Komentar

komentar

16 comments

  1. Assalamualaikum wbt..Ahmadiyah wa al-jahmiyah wa jabariyah..disini kamu mengikuti ajaran syiah yg sesat,fahaman kamu tidak percaya bahawa nabi isa as masih hidup hingga ke hari nie,dan dangan izin Allah taala akan di perintahkan akan turun ke dunia dan membunuh raja dajjal sebagaimana Dalil-dalil turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam di dalam al-Qur-an al-Karim.
    1). Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

    ?????? ????? ???????? ??????? ????? ???????? ?????? ?????????? ??? ???? ????? ????????? ???????? ???????????

    Dan tatkala putera Maryam (‘Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Sampai dengan firman-Nya: Dan sesungguhnya ‘Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari Kiamat…” [Az-Zukhruf: 57-61]

  2. Assalamualaikum. wr. wb

    Saudara Alatif, lalu apa batasan sebuah hadist itu benar dan palsu…?

    Dan apakah anda yakin akan mukjizat Nabi Isa bahwa beliau bisa membangkitkan orang mati (mati dalam artian mati yg sebenarnya/meninggal dunia)?

  3. Edwin Agustian

    Penyaliban, apapun hasilnya (hidup atau mati), adalah hukuman yang hina. Dan hukuman seperti ini bagi Allah layak diterapkan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan rasulNya (baca Al-Maa’idah ayat 33). Orang-orang Yahudi di zaman ‘Isa (‘alayhis salaam) tahu betul bahwa hukuman jenis ini — penyaliban — merupakan hukuman yang hina. Dan karenanya, sebagai bentuk ejekan mereka terhadap Allah dan utusanNya, maka mereka hendak menimpakan kehinaan ini pada ‘Isa (‘alayhis salaam).

    Apakah anda sepakat bahwa ' Isa (‘alayhis salaam) telah mendapat penghinaan ini?

    Wallaah, Allah tidak akan membiarkan utusanNya mengalami ini. Dan justru sebaliknya; kemungkinan penentang atau orang yang memerangi ‘Isa (‘alayhis salaam) itulah yang disalibkan.

    Ada banyak hadits shahih mutawattir mengenai belum wafatnya ‘Isa (‘alayhis salaam) dan turunnya beliau ke bumi kelak. Sebagai manusia, beliau pasti akan menemui ajalnya. Hanya saja ajal beliau ditangguhkan. Beliau turun kembali ke bumi kelak bukanlah sebagai Nabi terakhir, karena sesungguhnya sudah jelas bagi kita bahwa Nabi penutup adalah Muhammad (Shalallaahu ‘alayhi wa sallam).

    Kita tidak perlu ragu mengenai ‘Isa (‘alayhis salaam) yang tidak makan dan minum hingga masa turunnya kelak. Ashabul Kahfi pun tidak makan dan minum selama 300 tahun jikalau Allah menghendakinya demikian.

    Sekedar mengingatkan, bahwa meskipun hasil analsia kita terhadap Bible berkesimpulan bahwa ‘Isa (‘alayhi sallam) sesungguhnya belum wafat usai menjalani peyaliban dan terus hidup; namun ini tidak dapat dijadikan hujjah. Sebab, Rasulullah (Shalallahu ‘alayhi wa sallam) melarang kita membenarkan kabar ahlul kitaab meskipun di sisi lain beliau membolehkan kita untuk sekedar mengutipnya.

    Jadikanlah ayat Al-Qur’an itu sendiri sebagai penafsir ayat yang belum jelas. Dan jikalau tidak ada, rujuklah kepada hadits-hadits shahih.

  4. Antique Gunmen

    Dalam surat An Nisa ayat 8, Allah SWT berfirman, yang artinya kurang lebih:
    “Tidak Aku ciptakan seorang manusiapun sebelum engkau (Muhammad) hidup abadi, maka ketika engkau mati apakah mereka akan hidup kekal?”
    Surat An Nisa ayat 8 adalah “skat mat” dari Allah SWT terhadap semua argumen tentang kedatangan Nabi Isa A.S bani Israil kembali ke muka bumi ini. Nabi Isa A.S telah wafat. Beliau tidak akan turun dari langit.Titik.
    Kemunculan kembali Isa bin Maryam (tepatnya seseorang seperti Isa bin Maryam) di akhir zaman yang dijanjikan oleh Allah dalam Al quran adalah benar dan wajib kita imani. Tugas kita adalah dengan mencari siapakah sebenarnya Beliau ini? Apakah Beliau itu juga promise Messiah dalam Injil atau Mahdi dalam Alquran? Sedikit petunjuk dari hadist Nabi Muhammad SAW :” Mahdi itu musuhnya ulama”

  5. Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman

    Apakah Nabi Isa Telah Tiada?
    Mengenai masalah ini, marilah kita simak bersama firman Allah Ta’ala berikut.
    ???????????? ?????? ????????? ?????????? ?????? ????? ???????? ??????? ??????? ????? ????????? ????? ????????? ???????? ??????? ?????? ??????? ????????? ??????????? ????? ????? ????? ?????? ??? ?????? ???? ???? ?????? ?????? ????????? ???????? ????? ????????? ???????? (157) ???? ???????? ??????? ???????? ??????? ??????? ???????? ???????? (158)
    “Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ” (QS. An Nisa’: 157-159)
    Allah Ta’ala juga berfirman,
    ???? ????? ??????? ??? ?????? ?????? ???????????? ??????????? ???????
    “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku.” (QS. Ali Imran: 55)
    Dalam ayat di atas diceritakan oleh Allah bahwa Nabi ‘Isa tidaklah dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Orang Yahudi mengklaim telah membunuhnya dan hal ini pun dibenarkan oleh orang Nashrani. Namun yang sebenarnya dibunuh adalah orang yang diserupakan dengannya. Sedangkan Isa sendiri diangkat oleh Allah ke langit.
    Syaikh As Sa’di ketika menjelaskan surat Ali Imran ayat 55, beliau mengatakan, “Allah mengangkat hamba dan Rasul-Nya yaitu ‘Isa ‘alaihis salam kepada-Nya. Kemudian Allah menyerupakan ‘Isa dengan yang lainnya. Kemudian orang yang diserupakan dengan Nabi ‘Isa ditangkap, dibunuh dan disalib. Mereka pun terjerumus dalam dosa karena niat mereka adalah membunuh utusan Allah.”1
    Nabi ‘Isa belumlah mati sebagaimana hal ini dikuatkan lagi dengan ayat-ayat dan hadits yang menceritakan bahwa beliau akan turun di akhir zaman sebagaimana nanti akan kami sebutkan.
    Ringkasnya, Isa bin Maryam belum mati. Namun beliau diangkat ke langit dan akan turun di akhir zaman sebagai tanda datangnya kiamat kubro (kiamat besar).

    Siapakah yang Diserupakan dengan Nabi Isa?
    Yang sebenarnya diserupakan dengan Nabi Isa adalah murid beliau yang masih berusia muda dan setia padanya. Bukti dari hal ini adalah sebuah cerita yang dibawakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.2 Beliau mengatakan,
    “Ketika Allah ingin mengangkat Isa -‘alaihis salam- ke langit, beliau pun keluar menuju para sahabatnya dan ketika itu dalam rumah terdapat 12 orang sahabat al Hawariyyun. Beliau keluar menuju mereka dan kepala beliau terus meneteskan air. Lalu Isa mengatakan, “Sesungguhnya di antara kalian ada yang mengkufuriku sebanyak 12 kali setelah ia beriman padaku.” Kemudian Isa berkata lagi, “Ada di antara kalian yang akan diserupakan denganku. Ia akan dibunuh karena kedudukanku. Dia pun akan menjadi teman dekatku.” Kemudian di antara para sahabat beliau tadi yang masih muda berdiri, lantas Isa mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa kembali lagi pada mereka, pemuda tadi pun berdiri kembali. Isa pun mengatakan, “Duduklah engkau.” Kemudian Isa datang lagi ketiga kalinya dan pemuda tadi masih tetap berdiri dan ia mengatakan, “Aku, wahai Isa.” “Betulkah engkau yang ingin diserupakan denganku?” ujar Nabi Isa. Kemudian pemuda tadi diserupakan dengan Nabi Isa. Isa pun diangkat melalui lobang tembok di rumah tersebut menuju langit. Kemudian datanglah rombongan orang Yahudi. Kemudian mereka membawa pemuda yang diserupakan dengan Nabi Isa tadi. Mereka membunuhnya dan mensalibnya. Sebagian mereka pun mengkufuri Isa sebanyak 12 kali setelah sebelumnya mereka beriman padanya. Mereka pun terpecah menjadi tiga golongan. Kelompok pertama mengatakan, “Allah berada di tengah-tengah kita sesuai kehendak-Nya kemudian Dia naik ke langit.” Mereka inilah Ya’qubiyah. Kelompok kedua mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada anak Allah sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Mereka inilah Nasthuriyah. Kelompok ketiga mengatakan, “Di tengah-tengah kita ada hamba Allah dan Rasul-Nya sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.” Merekalah kaum muslimin.
    Kelompok pertama dan kedua yang kafir akan mengalahkan kelompok ketika yang muslim. Kelompok yang muslim itu pun sirna, sampai Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
    Ibnu Katsir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih sampai Ibnu ‘Abbas. An Nasa-i meriwayatkan hadits ini dari Abu Kuraib dan dari Abu Mu’awiyah serta semisalnya.3

    Dari riwayat ini ada beberapa faedah yang dapat kita petik:
    1. Setelah Isa diangkat ke langit, ada sebagian murid Isa (al Hawariyyun) yang beriman dan sebagian lainnya kufur pada beliau.
    2. Nabi Isa tidak mati dan tidak disalib, namun beliau diangkat ke langit. Yang mati dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan beliau.
    3. Yang dibunuh dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa, yaitu murid beliau yang setia pada beliau dan bukan murid Isa yang pengkhianat. Namun yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin bahwa yang diserupakan dengan Isa adalah muridnya yang pengkhianat. Kami tidak mengetahui manakah dalil yang menunjukkan hal ini. Riwayat di atas jelas-jelas berkata lain.
    4. Murid-murid Isa terpecah menjadi tiga golongan. Satu golongan beriman yaitu meyakini bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah. Sedangkan dua golongan lain kufur. Sebagian meyakini bahwa Isa adalah Allah. Dan sebagian lainnya meyakini bahwa Isa adalah anak Allah. Yang menang ketika itu adalah dua golongan yang kafir sedangkan golongan yang beriman musnah sampai diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Al Qur’an Berbicara Tentang Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman

    Ayat pertama: Allah Ta’ala berfirman,
    ????????? ???????? ???????????
    “Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat.” (QS. Az Zukhruf: 61)
    Para ulama berselisih pendapat mengenai makna dhomir (kata ganti) haa’ dalam kalimat (?????????). Sebagian ulama mengatakan bahwa kata ganti haa’ di situ adalah ‘Isa bin Maryam. Sehingga makna kalimat, “Sesungguhnya ‘Isa di antara tanda datangnya hari kiamat”. Karena turunnya kembali Isa ke dunia adalah tanda akan fananya dunia dan akan datangnya kehidupan akhirat. Demikian penjelasan dari Ibnu Jarir Ath Thobari4. Kemudian setelah itu Ibnu Jarir membawakan beberapa perkataan ulama pakar tafsir tentang tafsiran ayat di atas.
    Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam.
    Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud ayat tersebut yaitu di antara tanda datangnya hari kiamat adalah turunnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat.
    Qotadah mengatakan tentang maksud ayat tersebut adalah turunnya Isa bin Maryam merupakan di antara tanda hari kiamat.
    As Sudi, Adh Dhohak, dan Ibnu Zaid mengatakan perkataan yang serupa.5

    Ayat kedua: Firman Allah Ta’ala,
    ?????? ???? ?????? ?????????? ?????? ????????????? ???? ?????? ???????? ???????? ???????????? ??????? ?????????? ????????
    “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’: 159)
    Mengenai ayat di atas terdapat dua tafsiran di kalangan pakar tafsir.
    Tafsiran pertama: “… kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya”, yang dimaksud sebelum kematiannya adalah sebelum kematian Isa. Maksudnya adalah sebagaimana penjelasan Ibnu Jarir Ath Thobari, “Mereka seluruhnya akan membenarkan Nabi Isa ketika ia turun ke dunia untuk membunuh Dajjal. Sehingga ketika itu agama hanya ada satu yaitu agama Islam yang lurus, agama Ibrahim.”6
    Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah sebelum kematian Isa bin Maryam.
    Abu Malik mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ketika Isa bin Maryam turun, yaitu tidak ada satu pun ahli kitab yang tersisa kecuali mereka akan beriman pada Nabi Isa.
    Al Hasan mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah sebelum kematian Isa dan -demi Allah- Isa saat ini masih hidup, berada di sisi Allah. Ketika beliau turun lagi ke bumi, semua pasti akan mengimani beliau.
    Qotadah mengatakan maksud ayat ini adalah sebelum kematian Isa dan jika beliau turun ke muka bumi, semua agama akan beriman pada beliau.
    Ibnu Zaid mengatakan bahwa ketika Isa bin Maryam turun lagi ke bumi, ia akan membunuh Dajjal. Lalu tidak akan tersisa lagi seorang pun Yahudi kecuali akan beriman padanya.
    Ath Thobari mengatakan, “Jika Isa turun ke muka bumi, maka orang Yahudi akan beriman padanya.”
    Tafsiran kedua: “… kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya”, yang dimaksud adalah sebelum kematian ahli kitab tersebut.
    Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan, “Setiap orang yang didatangi maut (kematian), jiwanya tidak akan lepas sampai jelas padanya kebenaran dari kebatilan yang ada dalam agamanya.”
    Ibnu ‘Abbas mengatakan tentang maksud ayat di atas bahwa tidaklah seorang Yahudi itu mati kecuali mereka akan beriman kepada Isa.
    Ibnu ‘Abbas juga mengatakan bahwa tidaklah seorang Yahudi itu mati kecuali ia akan bersaksi bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah, walaupun ia dalam keadaan diancam dengan pedang.
    Mujahid mengatakan tentang maksud ayat di atas bahwa setiap ahli kitab akan beriman kepada Isa sebelum kematian ahli kitab tersebut.7
    Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan bahwa menurut tafsiran ini, setiap ahli kitab yang akan didatangi maut (kematian), ia telah jelas kebenaran sebenarnya. Ia pun akan beriman pada Isa ‘alaihis salam, akan tetapi iman ketika itu tidaklah manfaat karena itu hanyalah iman karena terpaksa. Maka maksud ayat ini adalah sebagai ancaman bagi ahli kitab bahwa mereka akan menyesal sebelum kematian mereka. Bagaimanakah lagi nasib mereka pada saat dibangkitkan pada hari kiamat nanti?!8
    Di antara dua tafsiran di atas yang lebih tepat adalah tafsiran pertama. Ibnu Katsirrahimahullah mengatakan,
    “Tidak ragu lagi bahwa pendapat (tafsiran pertama) itulah yang lebih tepat. Karena tafsiran ini adalah maksud dari konteks ayat sebelumnya yang membicarakan mengenai keyakinan Yahudi bahwa mereka telah membunuh Isa dan menyalibnya. Orang-orang Nashrani yang jahil pun membenarkan hal ini. Lalu Allah memberitahukan bahwa keadaan senyatanya adalah tidak demikian. Sesungguhnya yang dibunuh adalah yang diserupakan dengan Isa dan mereka tidak mengetahui hal ini. Allah mengabarkan bahwa Isa akan diangkat ke langit, beliau masih hidup dan akan turun sebelum hari kiamat sebagaimana diceritakan dalam banyak hadits (hadits mutawatir).”9
    Ayat ketiga: Firman Allah Ta’ala,
    ??????? ????????? ????????? ???????? ???????? ?????????? ?????? ????? ????????????????? ????????? ?????????? ???????? ?????? ?????? ???????? ??????? ?????? ?????? ????????? ???????????? ?????? ?????? ??????? ??????? ??????????? ???????? ???????? ?????????? ?????????? ???????? ??????????? ???????? ??? ??????? ??????? ?????? ??????? ?????????????
    “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. ” (QS. Muhammad: 4)
    Al Baghowi menjelaskan salah satu tafsiran ayat di atas, “Mereka mengalahkan orang-orang musyrik dengan membunuh dan memenjara mereka sampai seluruh agama yang ada memeluk Islam. Seluruh agama akhirnya milik Allah. Dan setelah itu tidak ada lagi jihad dan tidak ada lagi peperangan. Hal ini terjadi ketika turunnya Isa bin Maryam (di akhir zaman).”10

    Hadits yang Berbicara Tentang Turunnya Isa bin Maryam
    Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir, hadits yang membicarakan mengenai turunnya Nabi Isa di akhir zaman adalah hadits yang mutawatir (mutawatir makna) yaitu terdiri dari banyak hadits dan membicarakan satu maksud yaitu bahwa Nabi Isa akan turun menjelang hari kiamat.11
    Dalam kesempatan yang lain, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Hadits-hadits tersebut (yang membicarakan turunnya Isa di akhir zaman, pen) adalah hadits yang mutawatir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari riwayat Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, Utsman bin Abil ‘Ash, Abu Umamah, An Nawas bin Sam’an, Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Mujammi’ bin Jariyah, Abu Sarihah, dan Hudzaifah bin Usaid.”12
    Di antara bukti dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dari Abu Hurairah, beliau bersabda,
    « ????????? ??????? ???????? ? ???????????? ???? ???????? ??????? ????? ???????? ??????? ??????? ? ?????????? ?????????? ? ?????????? ???????????? ? ???????? ??????????? ? ????????? ???????? ?????? ??? ?????????? ?????? ? ?????? ??????? ??????????? ???????????? ??????? ???? ?????????? ????? ?????? » .????? ??????? ????? ?????????? ??????????? ???? ???????? ( ?????? ???? ?????? ?????????? ?????? ????????????? ???? ?????? ???????? ???????? ???????????? ??????? ?????????? ???????? )
    “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Sebentar lagi Isa bin Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil. Beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti)13, harta semakin banyak dan semakin berkah sampai seseorang tidak ada yang menerima harta itu lagi (sebagai sedekah, pen), dan sujud seseorang lebih disukai daripada dunia dan seisinya.” Abu Hurairah lalu mengatakan, “Bacalah jika kalian suka:
    ?????? ???? ?????? ?????????? ?????? ????????????? ???? ?????? ???????? ???????? ???????????? ??????? ?????????? ????????
    “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’: 159)”14

    Dari Jabir bin ‘Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    ??? ??????? ????????? ???? ???????? ???????????? ????? ???????? ?????????? ????? ?????? ???????????? – ????? – ?????????? ?????? ????? ???????? -??? ???? ???? ????- ????????? ??????????? ??????? ????? ?????. ????????? ???. ????? ?????????? ????? ?????? ?????????. ?????????? ??????? ?????? ?????????
    “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang memperjuangkan kebenaran dan meraih kemenangan hingga hari kiamat.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Kemudia Isa bin Maryam turun ke muka bumi. Lalu pemimpin mereka-mereka tadi mengatakan pada Isa, “Jadilah imam shalat bersama kami.” “Tidak. Sesungguhnya di antara kalian sudah menjadi pemimpin bagi yang lain. Allah betul-betul telah memuliakan umat ini”, jawab Isa.”15
    Dan masih banyak sekali hadits-hadits yang membicarakan mengenai hal ini, bahkan sampai derajat mutawatir (jalur yang sangat banyak).

    Berita Turunnya Isa di Akhir Zaman Menjadi Konsensus Para Ulama
    Di samping beberapa ayat Al Qur’an dan hadits membenarkan bahwa Isa bin Maryam akan turun di akhir zaman, turunnya beliau ke muka bumi juga didasari pada ijma’ (konsensus atau kesepakatan) ulama. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah orang yang “nyleneh” perkataannya dan tidak perlu dianggap.
    As Safarini mengatakan, “Umat Islam telah sepakat bahwa Isa betul-betul akan turun kembali dan tidak ada satu pun yang menyelisihi pendapat ini. Yang mengingkari hal ini hanyalah para filosof dan kelompok yang menyimpang. Mereka-mereka ini sebenarnya tidak perlu dianggap perkataannya. Para ulama telah menyepakati hal ini dan mereka yakini bahwa Isa akan berhukum dengan syariat Muhammad dan bukan membawa ajaran baru yang berdiri sendiri ketika ia turun dari langit.”16
    Setelah pemaparan berbagai dalil tadi, maka hal ini menunjukkan bahwa turunnya Nabi Isa ke muka bumi setelah sebelumnya diangkat ke langit adalah suatu keniscayaan. Sehingga orang-orang yang menafikan dan tidak meyakini hal ini sangat jauh dari kebenaran.

    Semoga Allah memudahkan hal ini. Semoga Allah memberikan pemahaman dan keyakinan yang mantap untuk menyongsong hari kiamat yang semakin dekat menghampiri kita.
    Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

    Referensi:
    1. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots.
    2. Al Yaumull Akhir (1) – Al Qiyamatush Shugro wal ‘Alamatu Qiyamatul Qubro, Dr. ‘Umar Sulaiman Al Asyqor, Darun Nafais.
    3. Asyrotus Saa’ah, ‘Abdullah bin Sulaiman Al Ghofili, Mawqi’ Al Islam.
    4. Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Musthofa bin Al ‘Adawi, Darul Fawa-id & Darul Ibni Rojab, cetakan pertama, tahun 1427 H.
    5. Jaami’ Al Bayan fii Ta’wilil Qur’an (Tafsir Ath Thobari), Ibnu Jarir Ath Thobari, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H.
    6. Ma’alimut Tanzil (Tafsir Al Baghowi), Al Husain bin Mas’ud Al Baghowi, Dar Thoyibah, 1409 H.
    7. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Darul Qurthubah.
    8. Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H.

  6. DALIL-DALIL TENTANG TURUNNYA ISA ‘ALAIHISSALAM

    Oleh
    Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA

    [1]. Allah berfirman:

    “Artinya : Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata, “Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?” Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.

    Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil.

    Dan kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi, malaikat-malaikat yang turun-temurun.

    Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu; dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” [Az- Zukhruf: 57-61]

    Ayat-ayat di atas membicarakan Isa ‘Alaihissalam, dan pada ayat terakhir (Az- Zukhruf: 61) disebutkan wainnahuu ‘a ‘ilmun lissaa ‘ah (Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat), yakni turunnya Isa ‘alaihissalam ke bumi sebelum datangnya hari kiamat merupakan pertanda telah dekatnya hari kiamat. Dan hal ini juga ditunjuki oleh qiroah (bacaan) lain terhadap ayat itu, yakni wa innahuu la ‘ilmun lis-saa ‘ah ( ) dengan memberi harakat fathah pada huruf ‘ain dan lam, yang berarti ‘alaamah (alamat) dan amaaroh (tanda) telah dekatnya hari kiamat. Bacaan ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan lain-lain Imam tafsir. [Tafsir Al-Qurthubi 16: 105, dan Tafsir Ath-Thabari 25:90-91].

    Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas ra mengenai penafsiran ayat ini:

    Bahwa yang dimaksud ialah keluarnya Isa ‘alaihissalam sebelum terjadinya hari kiamat. [Musnad Ahmad 4: 329 hadits nomor 21921 dengan tahqiq Ahmad Syakir yang mengatakan, “Isnadnya shahih.”].

    Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Yang benar bahwa dhamir atau kata ganti pada lafal (innahu/sesungguhnya dia) itu kembali kepada Isa, sebab konteks pembicaraan ayat ini mengenai Isa.” [Tafsir Ibnu Katsir 7: 222].

    Dan beliau (Ibnu Katsir) menganggap jauh (penafsiran yang terlalu jauh) kalau ayat ini diartikan dengan: Apa-apa (mukjizat) yang menyertai Isa seperti menghidupkan orang yang telah mati, menyembuhkan orang yang berpenyakit tuna netra dan belang, dan penyakit-penyakit lainnya. Dan lebih jauh lagi apa yang diriwayatkan dari sebagian ulama bahwa dhamir pada lafal ” ” (innahu) itu kembali kepada Al-Qur’anul Karim. [Tafsir Ibnu Katsir 7: 223].

    [2]. Firman Allah:

    “Artinya : Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, ” padahal mereka tiada membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu kecuali hanya mengikuti persangkaan belaka; dan mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. ”

    “Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ”

    “Tidak ada seorang pun dari ahli kitab kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan pada hari kiamat nanti Isa akan menjadi saksi terhadap mereka. ” [An-Nisa’: 157-159].

    Ayat-ayat di atas di samping menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi tidak membunuh dan tidak menyalib Isa, tetapi Allah yang mengangkatnya ke langit sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 55:

    “Artinya : Ingatlah ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa, Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku. ..'”

    Maka ayat-ayat tersebut juga menunjukkan bahwa di antara ahli kitab kelak akan ada orang yang beriman kepada Isa ‘alaihissalampada akhir zaman, ketika ia turun (secara hakiki)[1] ke bumi dan sebelum wafatnya sebagaimana diberitakan oleh hadits-hadits yang shahih dan mutawatir.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ketika ditanya tentang masalah wafat dan diangkatnya Nabi Isa ‘alaihissalam, beliau berkata, “Segala puji kepunyaan Allah. Isa ‘alaihissalam masih hidup. Dan disebutkan di dalam hadits shahih bahwa Nabi saw bersabda:

    “Ibnu Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim dan pemimpin yang adil, lalu menghancurkan salib, membunuh babi, membebaskan pajak. ” [Vide: Perkataan Syekh Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar 3:317].

    Selanjutnya Syaikhul Islam mengatakan, “Dan disebutkan pula dalam hadits shahih bahwa Isa akan turun di menara putih sebelah timur Damsyiq dan akan membunuh Dajjal. Maka barangsiapa yang ruhnya telah berpisah dari tubuhnya, tidaklah tubuhnya akan turun dari langit; dan jika ia dihidupkan kembali, maka ia akan bangkit dari kuburnya.

    Adapun mengenai firman Allah:

    “Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir. ”

    Maka ayat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan sinyalemen di atas bukanlah kematian (al-maut), sebab jika yang dimaksud adalah kematian, maka Isa sama dengan orang-orang Mukmin lainnya, yaitu mengambil ruh mereka lalu membawanya ke langit. Kalau demikian, maka tidak ada keistimewaan Isa dibandingkan dengan orang lain. Begitu pula dengan firman-Nya:

    “Dan membersihkan kamu dari orang-orang kafir. ”

    Kalau yang dimaksud adalah ruhnya berpisah dari tubuhnya, maka tubuhnya itu masih berada di bumi sebagaimana halnya tubuh para Nabi atau lainnya. Dalam ayat lain Allah berfirman:

    “Mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu kecuali hanya mengikuti persangkaan belaka; dan mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada- Nya…. ” [An-Nisa’: 157-158].

    Firman Allah:,

    “Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. ”

    Memberikan penjelasan bahwa Allah mengangkat tubuh dan ruhnya sebagaimana halnya ia (Isa) akan turun dengan tubuh dan ruhnya seperti disebutkan dalam hadits yang shahih. Karena kalau yang dimaksud adalah ” mematikannya” niscaya Dia berfirman: “Mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi dia meninggal dunia. . . ” (Wa maa qotaluuhu wa maa shilabuuhu bal maata. . .). Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lafal mutawaffiika ialah qoobidhuka, yakni memegang ruh dan tubuhmu. Dan lafal at-tawaffii tidak menghendaki atau tidak menetapkan tawaffii ruh tanpa tubuh dan tidak pula tawaffi terhadap keduanya kecuali dengan adanya qarinah (indikasi / alasan) tersendiri.

    Dan kadang-kadang yang dimaksud ialah memegang ruh ketika tidur, seperti firman Allah:

    “Artinya : Allah memegang jiwa orang ketika matinya dan memegang jiwa orang yang belum mati pada waktu tidurnya. ” [Az-Zumar: 42]

    “Artinya : Dan Dia-lah yang mentawaffikan (menidurkan) kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apayang kamu kerjakanpada siang hari. ” [Al-An’am: 60].

    Dan di antara firman-Nya lagi yang berkaitan dengan lafal tawaffi atau wafat ialah yang tertera dalam surat Al-An’am: 61:

    “Artinya : … sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami. ” [Majmu’ Al-Fatawa 4: 322-323].

    Pembicaraan dalam pembahasan ini bukanlah tentang pengangkatan Isa ‘alaihissalam, tetapi untuk menjelaskan bahwa dia diangkat dengan tubuh dan ruhnya. Sekarang Nabi Isa as masih hidup di langit kelak akan turun pada akhir zaman serta di Imani oleh orang-orang ahli kitab yang hidup pada waktu itu, sebagaimana firman-Nya:

    “Tidak ada seorang pun dari ahli kitab kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.”. [An-Nisa’: 159].

    Ibnu Jarir berkata: “Telah diceritakan kepada kami oleh Basyar, dia berkata: Telah diceritakan kepada kami oleh Suryan dari Abu Hushain dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas mengenai ayat:

    “Tidak ada seorang pun dari ahli kitab kecuali akan beriman kepada Isa sebelum kematiannya,”

    dia berkata, “Sebelum kematian Isa bin Maryam.” [Tafsir Ath-Thabari 6: 18].

    Ibnu Katsir berkata, Ini adalah isnad yang shahih.” [An-Nihayah Fil Fitan wal Malahim 10: 136. Atsar Ibnu Abbas ini juga dishahkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul-Bari 6: 492].

    Selanjutnya, setelah mengemukakan berbagai pendapat mengenai makna ayat ini, Ibnu Jarir berkata, “Dan pendapat yang paling shahih ialah pendapat orang yang mengatakan bahwa takwil ayat itu ialah tidak ada seorang pun dari ahli kitab kecuali akan beriman kepada Isa sebelum Isa meninggal dunia.” [Tafsir Ath-Thabari 6: 21].

    Dan beliau (Ibnu Jarir Ath-Thabari) meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-Hasan Al-Bishri bahwa beliau berkata, “…. Sebelum kematian Isa. Demi Allah, sesungguhnya beliau sekarang masih hidup di sisi Allah. Tetapi apabila beliau nanti telah turun, maka semua orang beriman kepada beliau.” [Ibid, halaman 18].

    Ibnu Katsir berkata, “Dan tidak diragukan lagi bahwa apa yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir inilah pendapat yang benar, karena ini merupakan maksud dari konteks ayat-ayat yang menetapkan batalnya pengakuan orang-orang Yahudi bahwa mereka telah membunuh Isa, menyalibnya, dan menyerahkannya kepada orang-orang Nasrani yang bodoh dan tidak mengerti masalah itu. Lalu Allah memberitahukan bahwa perkaranya tidak demikian, tetapi ada seseorang yang diserupakan oleh Allah dengan Isa, lantas mereka bunuh orang yang diserupakan itu sedang mereka tidak mengetahui dengan jelas tentang hal itu. Kemudian Allah mengangkat Isa kepada-Nya, dan dia (Isa) masih hidup dan kelak akan turun ke bumi sebelum datangnya hari kiamat sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits mutawatir.” [Tafsir Ibnu Katsir 2: 405].

    Ibnu Katsir juga menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas dan lainnya bahwa Ibnu Abbas mengulangi dhamir pada lafal qobla mautihi untuk ahli kitab. Hal ini, kalau shahih riwayatnya, tidaklah menafikan pendapat pertama. Tetapi yang sudah jelas shahih makna dan isnadnya ialah yang telah kami sebutkan terdahulu. [An-Nihayah Fil Fitan wal-Malahim 1: 137].

    [Disalin dari kitab Asyratus Sa’ah edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat, Penulis Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabl MA, Penerjemah Drs As’ad Yasin, Penerbit CV Pustaka Mantiq]
    _________
    Foote Note
    [1]. Turunnya ini adalah secara hakiki (sebenarnya). Turunnya kembali ke bumi dan penegakkan terhadap hukum di muka bumi pada akhir zaman bukanlah kiasan tentang menyebarkan semangatnya atau ruhnya dan rahasia risalahnya kepada manusia yang berisi perintah untuk berkasih sayang, mencintai, dan berdamai dengan orang lain serta mengambil maksud-maksud syari’ah tanpa menghiraukan zhahirnya. Karena semua itu bertentangan dengan hadits-hadits mutawatir yang menerangkan akan turunnya kembali ke bumi dengan ruh dan jasadnya sebagaimana beliau telah diangkat dengan ruh dan jasadnya ke langit.

  7. Endang Yatim Funk

    Bismillahirrahmanirrahim.

    Alquran tidak kering. Betapapun orang membahasnay,setiap saat dia memberikan yang baru.
    Begitu juga ketika ia mempelajari Alquran.Dia bisa menemukan makna baru,rahasia baru yang belum ditemukan oleh orang sebelumnya karena dia bersumber dari Tuhan.
    Maha suci ALLAH yang MAHA SEMPURNA.
    Penjelasan bapak Prof.Dr.HM Quraish Shihab sangat jelas dan bersumber dari ALquran.
    Semoga ALLAH memberikan kita ilmu yang benar dan bermanfaat untuk orang banyak. AMIIIIN

  8. Asadi Alfatah

    saya seuju dg dalil yang anda jelaskan disini dan masih banyak lagi ayat2 Quran lainnya yg belum dipahami jadi argumentasi anda belum lengkap

  9. Wooooow, rupanya orang kacau-balau yang pemikirannya salah-kaprah juga aktif di sini. Menurut Al Quran, Nabi Isa Al Masih ibnu Maryam as sudah wafat, dan yang akan datang lagi adalah perumpamaan Ibnu Maryam yakni HMGA. SETUJU?

  10. Issue Kematian nabi Jesus atau Isa as.

    Di jelaskan di kitab2 ALLAH baik Bible maupun Al Quran bahwa;

    1.dalam ala quran dijelaskan bahwa Jesus tidak mati,tapi di angkat kelangit.. artinya adalah Rohnya tidak mati seperti manusia biasa, tapi seperti muslim mati dlm tahid dlm peperangan membela Islam.

    Sedangkan tubuhnya kembali ke tanah seperti manusia biasa.

    Nabi2, muslim bertaqwa, muslim mati sahid, dan pedagang2 jujur ROHnya tidaklah mati,lansung diangkat ke Syurga disisi ALLAH…sedangkan tubuhnya kembali ketanah..dan dibangkitkan kembali di hari kiamat.

    Demikian issue kematian Nabi Jesus.

    With Love

  11. ini ahmadiyah yg mana ya? saya pernah baca di pameran buku, kalo tidak salah intinya malah nabi isa itu menurut ahmadiyah memang tidak meninggal dan bukan orang yang disalib itu, tapi beliau hijrah sampai ke india dan jadi mirza ghulam ahmad itu

    • Assalamu ‘alaikum
      yang anda tulis itu menurut Ahmadiyah Qadian. Saya cuma ingin membenarkan, menurut kami, Ahmadiyah Qadian, Nabi Isa itu tidak pernah berubah menjadi Mirza Ghulam Ahmad. Anda keliru karena kami tidak pernah menulis seperti itu.

  12. Yth. Abu Zalfa. Assalamu’alaikum.
    Tugas antara Abu Bakar dan Mirza Ghulam Ahmad beda, karena zamannya beda. Maka fasilitas (mungkin semacam perangkat-lah) yang diberikan oleh Allah pun musti beda juga. Relevan dengan kebutuhannya.

  13. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sering mendapat ru’ya shalihah (mimpi yang benar) yang telah sempurna dengan jelas pada waktunya, dan disaksikan pula oleh orang-orang Sikh dan Hindu yang sebagian masih hidup sampai sekarang. Tetapi sebagai ilham, inilah ilham yang pertama beliau terima , dan dengan perantaraan ilham ini Allah Ta’ala dengan cinta-Nya seolah-olah menyatakan behwa : ayahmu di dunia ini akan wafat sekarang, dan mulai hari ini Aku dari Langit akan menjadi ayah bagimu.

    Dalam masa itu Allah Ta’ala menerangkan kepada beliau bahwa untuk mendapatkan nikmat-nikmat Ilahi perlu melakukan mujahidah juga. Yakni beliau harus berpuasa. Menurut perintah Ilahi ini beliau berpuasa berturut-turut 6 bulan lamanya. Acapkali makanan yang dikirim untuk beliau telah beliau bagikan kepada fakir miskin. Setelah berbuka puasa, bila beliau meminta makanan dari rumah, sering ditolak. Karena itu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. mencukupkan hanya dengan sedikit air, atau barang lain semacam itu, dan esok harinya berpuasa terus tanpa makan sahur lebih dahulu.

    Pertanyaan: seberapa bagus kualitas Mirza Ghulam dengan Sahabat Sekaliber Abu Bakar Ash Shidiq(yg didoakan Rasul langsung sebagai penduduk surga)??? mengapa Abu Bakar radhiallahuanhum saja tidak pernah mendapat perintah langsung dari Allah puasa berturut-turut hingga 6 bulan (puasa tanpa putus biasanya memang dikerjakan para Rasul bukan oleh ummatnya, nah lalu apa kedudukan Mirza jika demikian??? pastilah diposisikan setara dengan Nabi???) Apalagi mendapat ilham dari mimpi atau ilham dari manapun…??? Wallahu a’lam, semoga Allah membukakan pintu hidayah kepada jamaah Ahmadiyyah agar kembali kepada millah yang hanif, yaitu millah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.
    (dikutip dari http://www.ahmadiyya.or.id)

  14. Prof Dr HM Quraish Shihab,ahli tafsir terkenal di Indonesia berkata;

    ”Alquran tidak kering. Betapa pun orang membahasnya, setiap saat dia memberikan hal yang baru,”

    Begitu juga ketika ia mempelajari Alquran. Dia bisa menemukan makna baru, rahasia baru yang belum ditemukan oleh orang sebelumnya karena dia bersumber dari Tuhan.”

    Assalamu’alaikum wrwb.
    Bismilahirahmanirrahiim.

    Maaf ,kalau boleh saya memberikan bantahan di halaman commnet yang disediakan ini.Maksud dan niat saya adalah untuk saling ingat mengingatkan, siapa tahu ada manfaatnya.

    Difinisi mati;
    Manusia terdiri dari 2 bagian yaitu; tubuh dan roh.

    Manusia berasal dari tanah dan akan kembali ketanah. Artinya tubuh akan kembali bersenyawa dgn zat2 masing2.

    Sedangkan roh datang dari ALLAH dan akan kembali kepada ALLAH.

    Manusia disebut sudah mati,kalai roh dan tubuhnya sudah terpisah.

    Pertanyaan kemana Roh akan kembali? ada 2 tempat.

    1. Roh manusia biasa akan disimpan ditempat yang sudah ditentukan oleh ALLAH, dalam ilmu scinece disebut di frozen,sampai dibangkitkan kembali.

    2. Roh nabi2, orang2 mati sahid, dan muslim tingkat taqwa, dan pedagang2 yang jujur, rohnya tidak mati atau tidak frozen, tapi sudah berada di syurga bersama ALLAH. Mereka hidup di syurga dan diberi rezeki dan makanan sebagaimana di dunia dulu,malah lebih baik.

    DALILNYA;

    [QS 2:154] Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu h idup, tetapi kamu tidak menyadarinya.

    [154] And say not of those who are slain in the way of Allah: “They are dead.” Nay, they are living, though ye perceive (it) not.

    [qs 3:169]Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup [2] di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki, (169)

    Think not of those, who are slain in the way of Allah, as dead. Nay, they are living. With their Lord they have provision. (169)

    TENTANG NABI ISA AS,

    NABI JESUS HIDUP DI SYURGA SAMPAI HARI INI.

    Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, ’Isa putera Maryam, Rasul Allah” [2], padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak [pula] menyalibnya, tetapi [yang mereka bunuh ialah] orang yang diserupakan dengan ’Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang [pembunuhan] ’Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak [pula] yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ’Isa. (157)

    Tetapi [yang sebenarnya], Allah telah mengangkat ’Isa kepada-Nya [3]. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS4:(158).

    Dari ayat pertama jelas yang terbunuh / tersalip bukanlah Nabi Isa as, tapi orang lain. Jadi nabi Isa as tidak mati.

    Ayat kedua dijelaskan oleh ALLAH bahwa nabi Isa diangkat keatas.artinya kesisi ALLAH.
    Apakah waktu peristiwa penyalipan, atau beberapa waktu sesuadh itu.

    Kalau kita baca Bible, nabi Isa as masih hidup
    kemudian di angkat keatas.

    JADI ada persamaan antara wahyu ALLAH dlm al quran dan Bible.Yaitu diangkat keatas pada beberapa hari peristiwa penyalipan itu.

    Saya menyimpulkan dengan wahyu2 ALLAH itu bahwa
    secara fisik,tubuh nabi Isa sudah mati, tapi rohnya di angkat ke syurga,dan masih hidup.

    KESIMPULAN;

    Jadi nabi2 masih hidup rohnya,dan tidak mati…dan nabi2 di berikan rezeki dan makanan di syurga.

    Kita perhatikan bahwa nabi Adam dan hawa juga berasal dari syurga,kemudian turun ke Bumi.

    Jadi syurga ALLAH itu sudah ada, disanalah nabi2 hidup menunggu hari pengadilan manusia.

    Pertanyaan;
    Apakah nabi Isa as itu akan turun kembali ke bumi?

    Menurut Bible, yaa, nabi Isa akan turun kembali ke Bumi untuk memperbaiki agama Islam yang sudah rusak.

    Saya berkeyakinan, karena disebut dlm kitab Bible, yang dimaksud nabi Isa turun kembali ke bumi untuk memperbaiki agama Islam adalah nabi Muhammad saw itu sendiri setelah 600 tahun waftanya Nabi Isa as.

    Nabi muhammadlah seorang nabi yang diutus oleh ALLAH untuk menyempurnakan agama ALLAH dari nabi2 sebelumnya yaitu agama Islam.

    Nabi Muhammadlah nabi terakir yang menyempurnakan / memperbaiki agama Islam…agama ALLAH yang mulai turun dgn kitab pertama yaitu Taurat–zabur–injil–dan terakit al Quran.

    Nama “Ahmad” dlm al Quran itu adalah nabi Muhammad saw.

    Nabi Isa as yang ditunggu tunggu oleh umat kristen itu sudah turun untuk menyempurnakan Islam adalah nabi Muhammad saw yang turun 600 setelah wafat nabi Isa as.

    Nabi atau imam Mahdi yang ditunggu tunggu oleh umat Islam itu tidak ada lagi.

    Berkenaan dgn keyakinan ahmadiyah bahwa akan datang seorang imam Mahdi bernama Ahmad di India, berdasarkan Hadist seperi dibawah ini;

    “Apabila kalian melihatnya (Imam Mahdi), maka baiatlah kepadanya, walaupun harus merangkak di atas salju, karena dia adalah Khalifatullah, Al Mahdi.” (HR Sunan Ibnu Majah/Sunan Abu Daud).

    Akan datang satu golongan pejuang Islam dari wilayah India yang dipimpin Imam Mahdi yang namanya Ahmad.(HR Bukhari dalam Tarikhnya).

    Hadist ini tidak bisa lagi dibuktikan bahwa itu adalah ucapan dari Rasulullah saw.

    Dan juga Nabi Muhamad saw tidak bisa beramal untuk masa datang sebagaimana ayat ALLAH dibawah ini;

    Mereka mengatakan: \”Bilakah [datangnya] ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?\” (48)

    Katakanlah: \”Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak [pula] kemanfaâ??atan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.\”

    Tiap-tiap umat mempunyai ajal [4]. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak [pula] mendahulukan [nya]. QS 10:(49) .

    Dan mereka berkata: \”Mengapa tidak diturunkan kepadanya [Muhammad] suatu keterangan [muâ??jizat] dari Tuhannya?\” Maka katakanlah: \” Sesungguhnya yang ghaib itu [8] kepunyaan Allah; sebab itu tunggu [sajalah] olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu termasuk orang-orang yang menunggu. QS 10:(20)

    SDR KU SS YTH.

    Jadi dengan dalil Al quran itu terbantahlah bahwa Hadist itu bukanlah ramalan atau ucapan Nabi Muhammad saw,dan bukan pula hasil pemeriksaan imam Muslim dan bukhari. Tapi Hadist itu adalah rekayasa manusia yang ingin merusak Islam.

    Dengan Dalil dalam Al quran itu terbantahlah bahwa hadist2 itu bukanlah ucapan rasulullah saw ,tapi bersumber dari ulama2 terdahulu yang mengatasnamakan ucapan Nabi.

    Kalau Hadist itu terbukti bukan ucapan Rasul atau tidak bisa membuktikan bahwa itu adalah ucapan Rasulullah saw, maka siapa2 yang menyebarkan Hadist2 palsu adalah menyebarkan kebohongan.Kebohongan adalah perbuatan Syaitan yg dikutuk oleh ALLAH swt.

    Demikianlah penemuan2 rahasia2 ALLAH dalam Al Quran, semoga bantahan saya ini dapat direnungkan dan dipelajari kembali dengan sebaik baiknya.semoga ALLAH memberikan kita ilmu yang benar dan bermanfaat utk orang banyak.amin.

    Sekali lagi,niat hanya semata mata saling ingat mengingatkan saja.Bagi yang membaca bantahan saya ini ,saya ucapkan termakasih banyak2 atas waktunya yang berharga.

    Wassalamu’alaikum wrwb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*