facebooklikebutton.co
ARTIKEL

Islam Yang Kita Bela (1)

Pada saat ini Pancasila telah ditetapkan sebagai satu-satunya azas bagi organisasi sosial politik dan sosial kemasyarakatan di Indonesia. Insya Allah penetapan Pancasila sebagai satu-satunya azas bagi orpol dan ormas ini dapat menjadi benteng bagi negara, sehingga negara kita merupakan negara yang kuat dan tidak akan terjadi lagi peperangan ideologi.

Agama Islam itu sebenarnya merupakan salah satu penangkal yang kuat bagi perkembangan ideologi-ideologi yang akan merongrong pancasila. Kalau kita dapat memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam, maka ideologi Pancasila itu akan bertambah kuat dan kokoh.

Artikel “Islam yang kita Bela” ini berisikan pelajaran dan semangat Islam. Artikel ini ditulis oleh Soedewo PK pada tahun 1965, beberapa bulan sebelum pemberontakan G30S-PKI. Pada saat itu bangsa Indonesia sedang mengalami tekanan berat dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Orang Islam pun, terutama mereka yang belum memahami agama Islam, sempat menjadi bingung dan ragu-ragu akan kebenaran Islam.

Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi generasi muda untuk mensukseskan Pembangunan Nasional sebagai pengamalan Pancasila.

[Redaksi Buletin AMAL, 1985]

——————————-

Sekalipun apa yang akan kami kemukakan di bawah ini tidak merupakan hal yang baru bagi saudara-saudara muslimin, namun kami merasa perlu juga mengutarakannya kembali dan memberi perumusan yang lebih tajam daripada yang sudah lazim diketahui orang, tentang hal-hal yang bersangkut paut dengan tugas kewajiban dan tanggung jawab kita bersama, sebab:

Pertama, sebagai seorang muslim, kami anggap sebagai kewajiban yang tak terelakkan untuk mengemukakannya, mengingat akan adanya sejak zaman kolonial bermacam—acam teori, ideologi dan sistem hidup, yang berasal dari Eropa dan Amerika, dan yang diusahakan sekeras-kerasnya agar menguasai jiwa manusia Indonesia, sehingga ikut menentukan nasibnya, yaitu teori-teori, ideologi-ideologi dan sistem-sistem hidup, yang menurut kenyataan yang seterang-terangnya di negeri-negeri asalnya sendiri tak pernah berhasil mendatangkan ketenteraman hati (peace of mind) pada warganya masing-masing dan persaudaraan serta damai antara bangsa-bangsa mereka; tak pernah berhasil memerdekakan mereka dari perbudakan kepada kehidupan secara mesin sebagai thinking economic animals belaka; tak dapat memelihara kehidupan lahir (duniawi) dan kehidupan batin, keseimbangan antara kekuasaan manusia atas dirinya sendiri dan kekuasaannya atas tenaga-tenaga alam, keseimbangan antara kemajuan di lapangan akhlak (moril) dan kekuasaan teknis yang kian bertambah besar dan hingga kini tak berhasil pula menghilangkan, bahkan justru memperbesar ketegangan-ketegangan dan kegelisahan-kegelisahan batin mereka, yang sekali-kali – bila sudah mencapai puncaknya – meletus dan menelurkan peperangan yang kian bertambah dahsyat, sehingga pada waktu ini seluruh umat manusia hidup di bawah ancaman pemusnahan secara total dan simultan.

“Kami (Allah) bangkitkan permusuhan di antara mereka hingga hari Kiamat” QS 5:14)

Kedua, kewajiban suci yang dibebankan Allah di atas bahu kita (lihat ayat-ayat Qur’an Suci yang di atas ini) dan karenanya tanggung jawab atas nasib sesama manusia dan sesama bangsa Indonesia minta dari kita ketegasan dan kesatuan sikap dan tekad yang sebulat-bulatnya.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati suatu golongan daripada orang-orang yang telah diberi kitab (pemeluk-pemeluk agama yang diwahyukan sebelum islam), mereka akan memalingkan kamu menjadi orang-orang yang tak beriman setelah iman kamu. Dan bagaimana kamu dapat tak beriman, sedangkan kepada kamu dibacakan amanat-amanat Allah dan di antara kamu ada RasulNya? Dan barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, sesungguhnyalah dia terpimpin pada jalan yang benar. Wahai orang-orang yang beriman, tunaikanlah kewajiban kamu kepada Allah, sebagaimana itu wajib ditunaikan, dan janganlah kamu sekalian mati jika tidak sebagai orang-orang muslim. Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada perjanjian Allah (kepada Qur’an Suci) dan janganlah berpecah belah… (QS 3:99-102)

“Dan engkau akan melihat tiap-tiap bangsa berlutut. Tiap-tiap bangsa akan dipanggil kepada kitabnya (diadili menurut perbuatan-perbuatannya) (QS 45:28)

“Tiada suatu bangsa pun dapat mempercepat ajalnya (waktu bangsa itu dibinasakan atau dihukum karena perbuatan-perbuatan jahatnya) dan tiada pula dapat mereka itu mengundurkan(nya)” (QS 15:5, 7:34, 10:49)

 

Garis Besar Ideologi Islam

Sebenarnya bagi kita, ideologi atau sistem pandangan dan pengertian-pengertian Islam itu sudah cukup jelas dari surat Al-Fatihah atau ummul-kitab, yakni suatu surat yang merupakan saripati Al-Qur’an Al-Karim. Sudah pada awal surat itu kita diingatkan kepada Allah, Dzat Yang Maha Ghaib (ghair maddi, immaterial, onstoffelijk).

Asal alam semesta sekalian (QS 13:16, 39:62), baik yang dapat ditangkap oleh panca indera maupun yang tidak (QS 16:8) – semuanya ada padaNya (QS 15:21, 63:7). Oleh karena segala sesuatu tidak diciptakan Allah dalam keadaan sudah jadi, dengan bentuk, rupa dan sifat-sifat seperti yang kita lihat sekarang ini, melainkan menurut jalan evolusi (QS 1:1), berangsur-angsur dari keadaan ‘tersembunyi’ (niskala) ke keadaan nyata, melalui tingkat-tingkat perkembangan yang lebih tinggi, “ciptaan demi ciptaan” (QS 39:6).

Oleh karena Allah untuk menciptakan semesta alam itu tidak memerlukan bahan yang mana jua pun, tidak bergantung kepada adanya benda (maddah materi) dan jiwa terlebih dahulu, dan Allah itu Al-Awwal sehingga sebelum dan di luar Allah tak ada sesuatu dan Al-Akhir sehingga sesudah Allah tak ada sesuatu, Azh-Zhahir (yang nyata) dan Al-Bathin (yang tersembunyi) (QS 57:3), kekal selama-lamanya (QS 2:255, 55:27) dan ada di mana-mana (QS 2:115), maka nyatalah kepada kita bahwa yang hakiki itu hanyalah Allah saja dan bahwa semesta alam itu pada hakekatnya ghair maddi (immaterial, onstoffelijk).[1] Laa wujuuda bil-haqqin illallaah. Tiada wujud yang hakiki selain daripada Allah.

Dalam hubungan ini baiklah kita renungkan apa yang dikatakan Waliy Bayazid Bisthami kepada seorang muridnya, yang berkata kepadanya, “Zaman dahulu kala ada suatu masa, ketika hanya Allah sajalah yang ada, lain daripadaNya suatu pun tak ada yang nyata.” Jawab Bayazid, “Sekarang pun begitu juga halnya, seperti zaman dahulu.”

Semesta alam merupakan kesatuan organis dengan Tuhan. Pada tauhid atau wahdaniyah (keesaan) Ilahi itulah seluruh ideologi, tempat kedudukan manusia di semesta alam dan sistem hidup Islam didasarkan.

Sudah barang tentu seorang muslim yang berusaha sekuat tenaganya agar umat manusia di Indonesia mengakui dan menjunjung setinggi-tingginya kedaulatan Ilahi Rabbi, dan mengatur hidupnya sesuai dengan ideologi dan sistem hidup Ilahiyah itu. Bukan saja tak dapat menerima, bahkan wajib pula membetulkan dan menyempurnakan dengan cara-cara yang telah ditetapkan Allah dalam Qur’an Karim, segala ideologi dan sistem hidup yang bertentangan dengan Islam atau yang menentangnya dan ingin melenyapkannya dari muka bumi (QS 9:32), dan berusaha sekeras-kerasnya menggantikannya dengan ajaran-ajaran Qur’an Suci (QS 25:52).

Sebagai contoh dapat saya ambil Komunisme, yaitu suatu aliran sosialisme yang paling tegas dan yang paling teguh memegang materialisme (kebendaan)-nya. Dasar pokok Komunisme ialah falsafah kebendaan (materialism filosofis) Karl Marx, pencipta “sosialisme ilmiah atau materialisme modern” (komunisme). Menurut Karl Marx, “Alam kebendaan yang dapat ditangkap dengan panca indera dan yang termasuk ke dalamnya kita sendiri ialah satu-satunya kebenaran (reality, haqiqah).[2]

“Jika alam yang dapat ditangkap dengan panca indera ialah kebenaran objektif, maka pintu tertutup bagi tiap-tiap ‘kebenaran’ atau kuasi kebenaran lain… di luar alam ‘fisik’ dan lahir yang diketahui tiap-tiap orang, tak dapat ada sesuatu.”[3]

“Kita sudah barang tentu tidak percaya kepada Tuhan.”[4]

Dari kutipan-kutipan ini nyatalah bahwa menurut falsafah Karl Marx dan anggapan Lenin, tak ada kebenaran (reality, haqiqah) lain daripada alam kebendaan. Kalau orang tak mau mengakui kebenaran tentang adanya Allah karena sumber pengetahuannya dibatasi hanyalah kepada pengalaman yang diperolehnya dengan alat-alat inderanya saja, maka dia tak boleh tidak harus menciptakan tuhan yang lain, baik berupa ‘materi’ maupun ‘hidup’ (la vie, Bergson), dan sebagainya.

Akan tetapi janganlah hendaknya kita lupakan juga bahwa pada hakikatnya oleh segala aliran materialisme, baik yang berbentuk kapitalisme maupun yang berbentuk sosialisme yang bersifat atheistik dan tak berdasarkan atas Keesaan Ilahi, Tuhan prakis tidak diakui adanya. Kalaupun mesti diakui juga, maka tempatnya di bawah sekali, sehingga dalam prakteknya agama diperkuda. Yang sudah terang ialah semuanya tidak berdasarkan filsafat, ideologi dan sistem hidupnya pada tauhid. Dengan perkataan lain, Allah Ta’ala tidak diakui keberadaannya (QS 6:57, 12:40 & 67).

Kemudian kita baca dalam surat Al-Fatihah empat buah sifat Ilahi yang utama, yang menyimpulkan segala sifat-sifat lainnya, yaitu Rabb, Rahman, Rahim dan Malik. Sekurang-kurangnya 30 kali setiap hari kita peringatkan diri kita sendiri akan kekuasaan atau daya Ilahi yang tak terbatas, yang tersimpul dalam sifat-sifat itu dan yang karenanya tiap-tiap sesuatu yang dijadikan Allah, apa pun juga, berwujud, hidup, terpelihara dan terus menerus berkembang maju, hingga mencapai kesempurnaannya. Kita peringatkan diri kita akan kewajiban kita mengatur hidup kita selaras dengan sifat-sifat itu.

Di antara keempat sifat itu, yang terutama ialah Rabb. Sifat Rububiyah ini menyatakan kekuasaan Tuhan “memelihara barang sesautu dengan jalan demikian rupa sehingga mencapaikannya keadaan yang lain hingga ia mencapai batas (tujuan) kesempurnaannya”.[5] Jadi, Rabbul ‘Alamin adalah Tuhan yang memberi kemampuan-kemampuan kepada segala sesautu yang ada di alam semesta ini dan yang mengurus, mengatur, memimpin dan menyempurnakannya melalui berbagai-bagai tingkat pertumbuhan, dari yang serendah-rendahnya hingga kepada yang setinggi-tingginya.

Kekuasaan Tuhan yang dinyatakan dengan kata Rabb itu diterangkan lebih lanjut oleh Qur’an Karim sendiri dalam surat al-A’la ayat 1-3: “Muliakanlah nama Rabb kamu, Yang Maha Tinggi, Yang Menjadikan, kemudian menyempurnakan, yang membuat (tiap-tiap sesuatu) menurut ukuran, kemudian memimpin(nya ke kesempurannya).”

Kedua perbuatan Tuhan yang pertama, yaitu khalq dan taswiyah, menyatakan kepada kita bahwa menurut rencana Ilahi Rabbi tiap-tiap sesuatu dijadikan Allah Ta’ala, termasuk manusia, harus berangsur-angsur maju hingga mencapai kesempurnaannya (evolusi). Dan kedua perbuatan Ilahi yang terakhir, yaitu taqdir dan hidayah, menyatakan bagaimana kesempurnaan itu tercapai tiap-tiap sesuatu (begitu pula manusia) diberi suatu lingkungan kemampuan-kemampuan, hukum-hukum perkembangan yang tertanam (inhaerent) di dalamnya dan petunjuk tentang jalan yang harus ditempuh masing-masing supaya tercapailah tujuan benda itu dijadikan.

Nyatalah bahwa menurut penerangan yang kita peroleh dari Khaliq (pencipta) kita. kehendakNya ialah, “tiap-tiap sesuatu dan seluruh alam, baik alam kebendaan maupun alam rohani, harus bergerak maju dan berkembang berangsur-angsur menurut hukum-hukum dan jalan-jalan yang tertentu dari tingkat-tingkat yang rendah ke tingkat-tingkat yang lebih tinggi, hingga sampai kepada tingkat kesempurnaannya.” ‘Berkembang’ dalam arti berubah keadaan aslinya demikian rupa sehingga berturut-turut mencapai keadaan-keadaan baru yang kian lama kian tinggi derajatnya.

Itulah sebabnya maka pada tiap-tiap detik di seluruh alam semesta terjadi kejadian-kejadian baru dengan tiada berkeputusan (QS 55:29). Tiap-tiap sesuatu mempunyai kemampuan memilih bahan-bahan dengan ukuran kuantitas dan kualitas yang betul-betul cukup dan tidak kebanyakan, ditujukan kepada terjadinya benda-benda yang lebih tingg tingkatnya, sehingga menimbulkan perubahan-perubahan yang tak terhingga banyaknya pada sekalian makhluk yang ‘mati’ (anorganis) dan yang hidup (organis) – kesemuanya itu menyatakan adanya aturan-aturan hukum-hukum (sunnatullah) yang menguasai seluruh alam dan adanya hukum-hukum menunjukkan adanya hikmah (wisdom) yang tak berhingga, yang berkehendak, yang mengatur dan memimpin, yang sadar dan yang berbuat dengan tujuan tertentu dalam segala sesuatu. Dengan perkataan lain, daya cipta Ilahi nyata ada (inhaerent) dan bergerak dalam tiap-tiap bagian benda dan mengadakan perubahan-perubahan organis maupun non organis, dengan tiada berkesudahan.

Manusia sebagai bagian daripada alam ciptaan Allah, harus pula menaati pimpinan yang dianugerahkan Allah kepadanya dengan perantaraan para nabiNya, dan dengan jalan demikian bekerja sama dengan penciptanya dalam menyampaikan rencanaNya (QS 22:40, 47:7).

Kaum materialis menolak ajaran pokok dari Islam itu, sebab mereka beranggapan, “Kesadaran dan pikiran kita, bersifat rohaniah (suprasensuous) bagaimana pun juga tampaknya, adalah hasil dari suatu anggota badani yang kebendaan, yaitu otak. Benda (maddah, materi) bukanlah hasil kesadaran, tetapi kesadaran sendiri tiada lain melainkan hasil yang setinggi-tingginya daripada benda.”[6] Dengan perkataan lain, di samping anggapan bahwa yang satu-satunya kebenaran (reality) ialah alam kebendaan, maka sebagai konsekuensi yang logis, marxisme (sosialisme) berpendirian bahwa jiwa dan kesadaran manusia adalah hasil daripada atau dijadikan oleh benda (materi), jadi sekunder bukan primer.

Herankah kita, kalau ‘dasar filosofis dari Marxisme, sebagai berulang-ulang dinyatakan oleh Marx dan Engels, ialah materialis dialektis … suatu materialisme yang sama sekali (absolutely) atheistis dan dengan kebulatan hati (resolutely) memusuhi segala agama … memusuhi agama dengan tiada menaruh belas kasihan (relentlessly) … kita harus memerangi (combat) agama … kita harus tahu bagaimana memerangi agama.[7]

Lain daripada itu, Qur’an Karim tentang evolusi (perkembangan berangsur-angsur yang tak berhingga) bukanlah pengertian kaum materialis. Bagi mereka evolusi memuncak dengan terjadinya manusia dan berakhir dengan matinya, sebab yang asali, tak bermula, kekal, tidak dijadikan dan ada sendirinya itu bukan Tuhan, melainkan alam kebendaan.[8] Dengan perkataan lain, bagi mereka, alam akhirat dan pertanggungan jawab atas perbuatan-perbuatan manusia selama hidupnya di dunia tak ada.

Jelaslah kiranya bahwa Allah dan yaumul-akhir, yang merupakan prinsip-prinsip azazi Islam dan di dalam Al-Qur’anul-Karim acapkali disebut untuk menyatakan sekalian prinsip azazi Islam sama sekali diingkari oleh materialisme, sehingga tidak merupakan pedoman hidup atau dasar untuk menguasai dan mengemudikan perbuatan-perbuatan manusia dalam lapangan mana pun juga.

Sebagaimana kita telah maklum semuanya, memuncaknya perkembangan kebendaan dengan terjadinya manusia berarti majunya perkembangan dzat ghair maddi (onstoffelijk) ke tingkat yang lebih tinggi daripada tingkat kebinatangan. Peristiwa itu dinyatakan dalam Qur’an Karim dengan kata-kata, “Kemudian disempurnakanlah dia dan ditiupkanNya ke dalamnya dari ruhNya, dan dianugerahkanNya kepada kamu sekalian telinga dan mata dan hati, sedikitlah kamu berterima kasih” (QS 32:9).

Ruh yang ditiupkan Allah itulah yang membedakan manusia dengan binatang dan karena kemampuan baru dan jauh lebih tinggi daripada hawa nafsu (yang dimiliki juga oleh hewan) itulah maka manusia dapat menguasai alam dan bertemu dengan Allah (liqa’ullah). Kepada perkembangan fungsi baru, yang disebut ruh itu, pemeliharaan segala fungsi rohaniah yang lainnya dan fungsi-fungsi jasmaniah harus diperhambakan. Sebab itu, berlawanan dengan segala aliran materialisme sekalian urusan duniawi (makan, minum, pakaian, rumah, harta benda (QS 20:118-119)) yang baginya primair, adalah secundair bagi Islam, karena tujuannya tak lebih tinggi dari memenuhi kebutuhan-kebutuhan kehidupan kebinantangan belaka. Urusan-urusan duniawi itu merupakan alat untuk perkembangan ruh tadi, alat penyata kepribadian diri sendiri, alat pencipta dan penyempurna diri sendiri.

Karena ruh yang ditiupkan Allah Ta’ala ke dalam manusia itu pulalah, maka tiap-tiap manusia – masuk bangsa mana pun juga, beragama atau tidak, theis atau atheis, memusuhi agama atau toleran (membiarkan agama) – dapat berbuat baik. Islam tak dapat disebut agama dunia (cosmopolitis), kalau memungkiri kebenaran itu; “Dan kebajikan apa pun jua mereka perbuat, takkan dimungkiri kepada mereka. Dan Allah tahu akan mereka yang menunaikan kewajiban mereka” (3:114).

Akan tetapi bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup kekeluargaan, hidup kemasyarakatan, hidup nasional dan internasional soalnya bukanlah: apakah manusia itu dapat berbuat baik, melainkan apakah manusia itu benar-benar berbuat baik dan berbuat baik pada tingkat yang setinggi-tingginya. Untuk itu ia harus dapat membeda-bedakan baik dengan buruk, tahu akan jalannya mencapai kebaikan pada tingkat kesempurnaan itu dan suka menempuhnya. Untuk itulah Allah Ta’ala mengutus Rasul-rasulNya dengan petunjuk-petunjuk dan agamaNya (QS 2:38, 62, 112; 20:123).[]

(Ditulis Ulang dari Buletin AMAL, Edisi Khusus Jalsah GAI ke XXVI/1985 | Bagian 1)

 

[1] 1300 tahun yang lampau Tuhan telah memberitahukan kepada umat manusia bahwa di alam semesta ada dzat-dzat yang disebut dzarrah (atom), dzat-dzat yang besar daripada dzarrah (molekul) dan dzat-dzat yang lebih kecil daripada dzarrah (elektron, proton, neutron) (lihat QS 10:61, 34:3 dan 22). Seorang pun tak ada di antara kaum sarjana, yang pernah melihat atom apalagi bagian-bagiannya, dan seorang pun tak ada yang mengetahui apakah hakekat atom dan tenaga listrik, yang menurut teori menjadi muatan bagian-bagian itu selain daripada Allah (QS 6:59 & 74, 9:78, 27:65)

[2] K. Marx and F. Engels, Selected Works, Vol. II, Moscow 1955, hlm. 371

[3] V. I. Lenin, Materialism and Empirio-Criticism, Moscow 1952, hlm. 359-360

[4] V.I. Lenin dalam pidatonya di depan All-Russian Congress yang kedua daripada Liga Pemuda-pemuda Komunis, Oktober 1920 (V. I. Lenin, Marx – Engels – Marxism, Moscow 1953, hlm 586)

[5] Al-Mufradat fi Gharibil-Qur’an, Syaikh Abu al-Qasimi al-Husaini ar-Raghibi al-Isfahani

[6] Karl Marx, Selected Works, Russ. Ed., vol. I hlm 332, dikutip dalam History of the Communist Party of the Soviet Union I Bolsheviks, Moscow 1951 hlm 176-177

[7] V.I. Lenin, Marx-Engels-Marxism, Moscow 1953, hlm. 301-305

[8] Lenin, Philosophical Notebooks, Russ. Ed., hlm. 318

Comment here