facebooklikebutton.co
KLIPINGKOLOM

Islam Mulai Pesat Berkembang di Eropa

Ketika baru beberapa hari berada di Berlin Barat, seorang teman wartawan dari surat kabar pagi “Berliner Morgenpost” bertanya, apakah saya menaruh perhatian pada perkembangan Agama Islam di Kota Metropolitan ini.

Terang saja sangat tertarik, kata saya. Sebab pada waktu hendak berangkat pun, seorang Dosen IKIP Bandung yang pernah mampir di Kota Berlin juga pernah mengatakan bahwa Berlin Barat adalah sebuah kota yang terhitung banyak juga pemeluk agama Islamnya.

Maka pada suatu malam Minggu, saya telah berada di sebuah kereta api bawah tanah (metro) dari tempat hotel saya di Muller Strasse menuju ke suatu tempat di bagian Fahrberliner. Dengan karcis seharga 40 pfening (sen Mark) saya sampai di tempat itu. dan mesjid Islam itu berdiri dengan megahnya di Brienner Strasse No. 7-8, kira-kira 15 menit dari stasiun kereta api bawah tanah tersebut.

Mengapa saya memilih kunjungan ke mesjid tersebut pada malam Minggu? Pertama, karena di mesjid tersebut setiap malam Minggu banyak berkumpul orang-orang Muslim dan Muslimat, untuk berdiskusi dan terutama menafsirkan Al-Qur’an. Dan kedua, karena malam Minggulah satu-satunya waktu yang lowong dan tersedia bagi saya untuk ‘melancong’ setelah seminggu lamanya disibuki oleh pekerjaan di kantor surat kabar dan menghadiri seminar-seminar jurnalistik.

Kedatangan saya ke mesjid itu diterima dengan ramah oleh Imam Masjid, seorang pemimpin missionary Islam dari Pakistan, Mohammad Yahya Butt namanya. Saya datang agak terlalu cepat, jam baru menunjukkan pukul 19.00, dan pertemuan baru akan dimulai pada pukul 20.00. Dan waktu yang lowong itu saya isi dengan ngobrol-ngobrol dengan Imam.

Ia telah menjadi pemimpin kaum Muslimin di sini lebih dari 20 tahun, sebagai salah seorang petugas dari sekte Ahmadiyah. Ia benar-benar seorang intelektuil dan menguasai empat bahasa asing, yaitu Arab, Inggris, Perancis dan Jerman, disamping menguasai bahasanya sendiri, yaitu Bahasa Urdu.

Menurut keterangannya, Agama Islam di Eropa kini pesat sekali, satu dan lain karena orang-orang Eropa banyak yang telah mulai berkembang dengan tidak menemui kepuasan batin dengan agama yang dianutnya sekarang, yang terlalu banyak memberikan kebebasan kepada manusia untuk melakukan hal-hal yang sesungguhnya bertentangan dengan hati nurani, misalnya minum-minuman keras, pergaulan terlalu bebas antara laki-laki dan wanita, dsb.

Di Berlin ini, terdapat ribuan kaum Muslimin dan Muslimat, sebagian besar terdiri dari kaum pendatang dari Asia, Afrika dan Timur Tengah; dan sebagian kecil orang-orang Eropa sendiri yang telah berpindah agama, dari Kristen menjadi Islam.

“Dan tugas saya di sini, adalah mengadakan hubungan antara kaum Muslimin agar kontak tidak terputus, agar tali batin mereka dengan agamanya tidak bercerai berai. Maka bekerjalah saya di sini sebagai Imam Masjid, sebagai penerbit stensilan-stensilan keagama-Islaman, sebagai pendakwah, sebagai guru, dan sebagai penghulu perkawinan,” kata Imam Mohammad Yahya Butt.

Mengenai jumlah orang-orang yang masuk agama Islam dikatakannya bahwa setiap tahun rata-rata ia menerima empat sampai lima orang yang masuk Islam di masjidnya, dan upacaranya dilakukan secara sederhana dengan disaksikan oleh sejumlah kaum Muslimin.

Acara-acara tetap di masjid terbatas pada acara sembahyang Jumat, belajar membaca Quran setiap malam Sabtu, menafsirkan Quran pada malam Minggu, sembahyang tarawihan pada malam bulan Puasa, sembahyang lebaran Idul Adha dan Lebaran Idul Fitri serta rapat-rapat “Dewan Keluarga Masjid”.

Begitulah, setiap malam Minggu saya selalu datang menghadiri acara penafsiran Quran. Pengunjung tetapnya dapat dihitung dengan jari, misalnya seorang ahli hukum, dua orang wanita, seorang pemuda pekerja Toko Serba Ada, kesemuanya berkebangsaan Jerman. Tiga pemuda yang berasal dari Yordania, sebuah keluarga Pakistan, tiga orang insinyur berasal dari Mesir, dan beberapa pelajar yang tampaknya berasal dari Afrika.
Ditulis oleh Ahmad Saelan, Wartawan Senior Harian Pikiran Rakyat, ditulis pada era 1960-an

Sumber: “Buku Kenang-kenangan GAI usia 50 tahun (Golden Jubilee)”, 1979, hlm. 171-173

 

 

 

Comment here