facebooklikebutton.co
SENTUHAN RUHANI

Islam dan Keselamatan

Keselamatan bagi manusia tidak diperoleh dari usahanya, melainkan tergantung pada karunia Allah Ta’ala. Untuk mendapatkan karunia itu, Allah Ta’ala telah membuat sebuah  peraturan, sebagaimana Dia telah menetapkan peraturan untuk perkara lain. Sebuah peraturan itu adalah Islam, atau dengan kata lain ittiba’ (mengikuti) dengan tulus Nabi Muhammad saw. Sebagaimana difirmankan oleh Allah:

“Jika kamu cinta kepada Allah, ikutilah aku (Muhammad saw.); Allah akan mencintai kamu.” (Ali ‘Imran, 3:30).

Di tempat lain difirmankan oleh Allah:

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidaklah akan diterima darinya.” (Ali ‘Imran, 3:85).

Jadi dalam Islamlah ada keselamatan, dan ini dapat diperoleh dengan ittiba’ atau mengikuti teladan Rasulullah Muhammad saw.

Hendaklah diingat bahwa keselamatan bukanlah sesuatu yang diperoleh setelah mati. Keyakinan kami, keselamatan itu dimulai dari dunia ini. Berserah diri kepada Allah dan berkah serta buahnya dimulai di dunia ini. Penganut agama lain tidak mendapat berkah itu. Apabila ada yang mengecam bahwa tidak ditemukan tanda-tanda keselamatan pada sebagian umat Islam zaman sekarang, jawabannya, itu benar. Tetapi itu kemalangan umat Islam, karena mereka berpaling dari Islam. Keadaan mereka seperti orang sakit yang mempunyai obat, tetapi dia tidak menggunakan obat itu. Begitu pula, umat Islam mempunyai sarana untuk keselamatan yaitu Quran Karim, tetapi bila mereka meninggalkannya, tidak mengamalkannya, bagaimana mungkin mereka bisa memperoleh keselamatan? Sesungguhnya, tidak akan ditemukan hakikat Islam pada orang Islam (muslim) yang hanya sebutannya, tetapi dia tidak mengamalkan Islam.

Menurut Quran Karim, mukmin hakiki adalah orang yang tidak menentang Quran Karim dari segi teksnya maupun maknanya. Malahan dia memikirkan dan mengamalkannya. Dengan rahmat Allah, dia pasti mendapatkan keselamatan.

Dalam Quran Syarif terdapat perintah:

“Wahai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan sertailah orang-orang yang tulus.” (At Taubah/Al Bara’ah, 9:119).

Pergaulan dan kebersamaan seseorang dengan orang-orang tulus, pengaruhnya turun di hati. Pengaruh itu menyucikan, dan mengantarkan sampai sumber keselamatan. Daya tarik orang-orang tulus bisa mempengaruhi seseorang. Ini merupakan kaidah (hukum) yang sudah berjalan sejak awal dunia.

Nabi Muhammad saw. datang, dari pergaulan dan kebersamaan dengan beliau para sahabat nabi memperoleh berkah. Berkah ini terus bertambah hingga menjangkau jutaan manusia. Demikian juga sekarang pun rangkaian berkah itu tetap ada dan menjadi sarana untuk memperoleh karunia keselamatan. Bagaimana mungkin orang yang keluar dari hukum Allah dan meninggalkannya bisa memperoleh berkah itu?

(Disarikan dari Malfuzat Ahmadiyyah, jld. 7, hlm. 487-488).

Comment here