facebooklikebutton.co

Islam dan Kemerdekaan Jiwa

Di dalam peningkatan kualitas kejiwaan manusia, Islam lebih menitikberatkan kepada masalah Kemerdekaan Jiwa. Artinya, Islam membebaskan manusia untuk hidup bebas dengan segala kekuatan yang dimilikinya. Namun dalam kaitannya dengan hal itu, manusia dianjurkan agar dapat membentengi dirinya agar tidak diperbudak oleh kekuatan yang ada pada dirinya sendiri.

Selain itu, Islam menginginkan manusia dapat hidup dinamis. Tidak statis atau jalan di tempat. Karena Islam telah menanamkan segala rambu-rambu aturan hidup, baik yang menyangkut gerak langkahnya secara individu atau hubungannya dengan manusia lain dan lingkungannya serta hubungan dan kaitannya dengan Tuhan, sebagaimana yang dicontohkan Nabiyulah Rasululah Muhammad SAW dalam “memindahkan pengertian” kandungan isi Al-Qur’an ke dalam alam fikir khalayak ramai dan sebagai contoh melalui kehidupan beliau sehari-hari yang lebih kita maknai sebagai Sunnah Rasul atau Sunnah Nabi.

Sebenarnya titik pangkal daripada kemerdekaan jiwa itu tergantung pada perasaan yang sangat halus dalam batin manusia itu sendiri. Dan adanya gerak langkah yang dinamis tersebut akan menciptakan tali penghubung antara batin di satu sisi dengan aktivitas lahiriah di sisi yang lain.

Di sini Islam menjaga agar manusia dengan segenap kerealaan dan kesadaran mau menyerahkan suara batinnya terhadap aktivitas lahir yang dijalankannya, sebagaimana makna dari keikhlasan hati. Seorang tokoh sufi, Syeikh Djalaludin Ar-Rumi mengatakan, bahwa Sufi adalah seorang lelaki atau perempuan yang telah patah hati dengan dunia.

Sementara penganut agama lain mengatakan, bahwa kepuasan jiwa atau kemerdekaan jiwa itu akan tercapai apabila segala nikmat hidup itu ditolak dan hanya difokuskan untuk mempersatukan dirinya dengan Tuhan Yang Maha Tinggi.

Sebagaimana diketahui, bahwa di alam semesta ini akan terjadi berbagai peristiwa atau kejadian dengan silih berganti, dimana manusia tidak akan dapat terhindar dari fenomena tersebut, sehingga manusia harus bergerak, harus berkonfrontasi, meski Al-Quran sendiri mewanti-wanti agar manusia tetap membentengi dirinya jangan sampai diperbudak olehnya.

Dalam kaitannya dengan hal itu, sesuai dengan fitrah manusia, bahwa Tuhan menganugerahi Akal dan Hati, agar manusia dapat  meraih nilai yang tinggi dan menghasilkan buah yang banyak, sehingga dia harus bergerak secara dinamis agar dapat meraih nilai yang lebih tinggi dan menghasilkan buah yang lebih banyak lagi.

Meski kemerdekaan jiwa menjadi tujuan utama Islam dalam segala hal, dan kedinamisan harus ada pada diri manusia. Sehingga, dalam kaitannya dengan hal itu, harus ada intensitas batasan perintah yang keluar dari diri manusia itu, agar manusia tidak diperbudak oleh dirinya sendiri. Itulah yang diinginkan Islam.

Dengan demikian, segala undang-undang yang ada di dalam Islam ditujukan untuk seluruh manusia, bagi siapa saja, agar mereka tidak saling merusak. Di sini dituntut persyaratan, adanya kepercayaan bahwa Allah Maha Kuasa, Maha Esa, Maha Kuat, dan tidak ada yang menandingi-Nya.

Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran Surat Al-Ikhlas bahwa manusia dituntut memiliki satu keyakinan, “Katakanlah Dia, Allah adalah Esa – Allah ialah yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya – Ia tak berputra dan tidak diputrakan dan tidak ada satupun yang menyerupai Dia.” Dengan demikian, tidak ada lagi yang perlu ditakuti lagi  kecuali Allah.

Di sini manusia telah meletakkan hatinya untuk benar-benar tunduk kepada Allah, bahkan Allah telah memperingatkan Nabi suci, bahwasanya Nabi Suci sendiri tidak lebih dari seorang hamba Allah. Sebagaimana tersurat dalam Al-Quran Surat Adz-Dzariyat (51:56) “Wa maa kholaqtul-jinna wal insa illaa liya’buduun“-Dan tiada Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mengabdi kepada-Ku.

Adanya kesadaran itu, artinya jiwa manusia tersebut telah lepas dari pengaruh lain. Dan tidak ada keinginan lain kecuali hasratnya hanya untuk beribadah dan mensucikan Tuhan. Manusia seperti itu, tidak merasa terkejar-kejar oleh  rasa takut. Di sini, manusia telah menyadari adanya rasa persamaan, rasa kemanusiaan, rasa kebersamaan, bahkan terbangunnya kesadaran terhadap rasa kesatuan  dan rasa gotong royong.  Walahualam bishawab. [Fathurrahman Irshad]

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*