facebooklikebutton.co

Erfan Ahmad Dahlan (1905 – 1967)

Irfan Dahlan (atas) dan A. Karim Masoedi (bawah). (sumber: worldwire religious revolution, AAIIL, 1932)

Erfan Ahmad Dahlan adalah anak keempat dari K.H. Ahmad Dahlan (w. 1923), Pendiri Muhammadiyah, dari istri pertamanya, Siti Walidah. Lahir tahun 1905 dengan nama asli Joemhan. Berganti nama menjadi Erfan Ahmad Dahlan atas keinginannya sendiri saat bertinggal di Lahore, India.

Pada Juni 1924, Joemhan bersama tiga orang alumni Kweekschool Islam yang lain, yakni Sabitoen bin Abdoel Wahab, Joendab bin Moechtar, dan Ma’soem bin Abdul Hamid, dikirim oleh Persyarikatan Muhammadiyah untuk belajar Islam di Ishaat Islam College yang didirikan oleh Ahmadiyya Anjuman Isha’ati Islam Lahore (AAIIL) di Lahore, India. Mereka berangkat atas biaya dari Fonds Dahlan, yang kala itu dipimpin oleh Haji Fachroedin. (Madjalah Soeara Moehammadijah nomor 7/th 5/1924, hal. 105-106).

Hal itu terjadi sesudah kedatangan missionaris Ahmadiyah di Yogyakarta, yakni Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad, yang memberikan Pidato Keagamaan pada Kongres Muhammadiyah ke-13 di Yogyakarta.

Gambar di atas adalah foto bersama antara Staf Pengajar dan Siswa Isha‘at Islam College, Lahore, pada tahun 1927. Perguruan ini didirikan oleh Ahmadiyya Anjuman Isha‘at Islam Lahore dan berlangsung hingga tahun 1928. Para guru yang duduk di kursi dari kiri ke kanan adalah Maulana Abdul Haq Vidyarthi, Maulana Sadruddin, dan Maulana Abdus Sattar. Siswa berjas putih yang bersimpuh di tanah adalah Erfan Dahlan (lihat juga di sini).

Tahun 1930, Erfan Dahlan pulang ke Yogyakarta untuk bertemu sanak saudaranya. Di samping itu, ia datang dalam rangka mengikuti Kongres Gerakan Ahmadiyah-Lahore Indonesia di Purwokerto, yang diselenggarakan pada 25-26 Juni 1930. Dalam kongres itu, Erfan Dahlan menyampaikan pidato dan memberikan semangat juang kepada anggota kongres.

“Ook Erfan Ahmad Dahlan hield een rede met propagandistische strekking; hij wees op den slechten toestand, waarin de Islam verkeert: de Moslimsche geest is verdwenen; hierin wil Ahmadyah verandering brengen. Het Christendom vreest Ahmadyah, zeide spreker.” — Erfan Ahmad Dahlan juga menyampaikan pidato dengan nada propaganda. Ia menunjuk pada negara yang buruk di mana Islam ditemukan: pikiran kaum muslim hilang. Di sini, Ahmadiyah akan membawa perubahan. Kaum Kristen takut akan Ahmadiyah, kata pembicara. [“Ahmadyah” in John Theodor Petrus Blumberger. 1931. De nationalistische beweging in Nederlandsch-Indie?. Haarlem: H.D. Tjeenk Willink & Zoon. pp. 101-105 and 348-50).

Kongres I GAI 1930

Erfan Dahlan (berjas abu-abu berdiri di antara Djojosoegito dan Mirza Wali Ahmad Baig) dalam Kongres I GAI di Purwokerto tahun 1930.

Pada bulan Oktober tahun yang sama, Erfan Dahlan kemudian berangkat ke Siam (Thailand) untuk membantu misi dakwah Islam di Patani, yang dipimpin oleh Dr. A. W. Khan. Dalam majalah Pandji Poestaka yang terbit tahun 1930, ada tertulis demikian:

Toean Erfaan A. Dahlan ke Siam. Dari Poerwokerto orang menoelis: Pada tanggal 15 Oct. jl. T. Erfaan A. Dahlan, pembangoen pergerakan Moehamadijjah Indonesia telah berangkat dari Djokja dalam perdjalanannja ke Siam. Tg. 18 Oct. Beliau berangkat dari Tg. Priok. Berangkatnja t. Erfaan A. Dahlan ke Siam itoe ialah sebagai Moeballigh Islam dari Gerakan Ahmadijah Lahore, jang bermaksoed akan mengembangkan ke-Islaman dan persaudaraan internasional di Siam. Beliau ialah poetera Indonesia jang pertama kali jang berangkat mengembangkaan persaudaraan Islam ke negeri Asing. Beliau telah tammat peladjarannja disekolah Ishaat Islam College Lahore, jaïtoe salah satoenja sekolah Ahmadijjah disana dengan peladjaran Theology (Islam, Kristen, Hindoe dan Boedha) dan mengetahoei bahasa Inggeris, ‘Arab, Parsi, Urdu dan Sanskrit. Toean Erfaan telah 6 boelan ada di Hindia oentoek bertemoe dengan sanak-saudaranja.” (Pandji Poestaka, No. 84, Tahoen VIII, 21 October 1930, hlm. 1340).

Dalam booklet World-Wide Religious Revolution yang diterbitkan oleh AAIIL pada Desember 1932, terdapat berbagai berita perkembangan dakwah Islam di berbagai penjuru dunia. Salah satunya memuat berita perkembangan di Thailand (p. 18-19), yang tertulis demikian:
“Dr. A. W. Khan, a very sincere and quiet worker for the propagation of Islam, established an Islamic Mission at Pattani (South Siam) in memory of his revered father about five years ago. He was striving hard to expand the work when he came in touch with our Society and from that time he has been trying to fulfil his dream of the propagation of Islam among the Siamese. He attended our anniversary along with his wife in 1530, but before he left Siam, he had obtained from our Society the services of Mr. Erfan Dahlan, a young Javanese and a student of our Ishaat Islam College.
Mr. Erfan Dahlan joined Pattani Mission in October 1930. A little later he was sent to Bangkok, the capital of Siam, to learn the Siamese language where he was cordially received by Maulana A. Karim Masoodee, Imam of the Royal Mosque, who is helping him in every way. They are now both carrying on the Islamic propaganda in Siam.” (Worldwide Religious Revolution, AAIIL, 1932, p. 18)

Pada tanggal 23 Juni 1958, Erfan Dahlan bertemu kembali dengan guru kesayangannya, Maulana Abdul Haq Vidyarthi, yang bersinggah  di Bangkok, saat melakukan perjalanan dari Lahore menuju Kepulauan Fiji. Hal ini tertulis dalam surat Abdul Haq Vidyarthi yang dimuat dalam Majalah Ruh-e-Islam, Oktober-November 1958).

The portrait sketch below was hand-drawn in June 1961 by Erfan Dahlan, who had been a student at the Lahore Ahmadiyya Anjuman’s Isha‘at Islam College in 1927 where Maulana Abdul Haq Vidyarthi was a teacher.

Tahun 1961, Erfan Dahlan melukis wajah sang guru, Maulana Abdul Haq Vidyarthi, dalam bayang-bayang Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Di bawah lukisan itu, beliau mencantumkan sebaris puisi karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (lihat juga di sini).

Erfan Dahlan mengajarkan Islam di Thailand dengan cara baru. Saat itu muslim di Thailand mempelajari Islam hanya dengan membaca Al Quran tanpa memahami apapun artinya. Karena tidak ada satupun terjemahan Al-Quran dalam bahasa Thailand. Erfan yang dikenal cerdas sejak masih belia dan menguasai 9 bahasa dengan lancar (Bahasa Indonesia, Jawa, Belanda, Inggris, India, Urdu , Arab, Thailand dan  Jepang) mulai menerjemahkan dan mengajarkan isi Al Quran dalam bahasa Thailand kepada murid-muridnya.

Ia juga berdakwah tentang ajaran Islam dengan konsep baru dan mengajarkan gaya hidup seorang muslim yang penuh kasih sayang. Konsep berdakwah Erfan Dahlan berbeda dengan konsep dakwah pendahulunya yang membawa ajaran Islam ke Thailand. Karena itu pula, murid Erfan Dahlan kian hari bertambah banyak. Baik dari pendatang maupun penduduk lokal.

Berhadapan dengan penganut Islam bercampur kepercayaan seperti di kampung Jawa, bukan berarti Erfan Dahlan menyerah begitu saja. Ia tetap mendakwahkan Islam dengan berpedoman pada ajaran Al-Quran dan Hadist di pemukiman ini. Pada tahun 1932, Erfan Dahlan bertemu dengan Zahrah yang dikenal dengan nama Thailand, Yupha. Ia merupakan anak Imam Masjid Jawa, Sukaimi, seorang pedagang asal Kendal, Jawa Tengah yang kemudian menetap di Thailand. Zahrah juga cucu dari pimpinan orang Jawa di Thailand, Haji Mohamad Soleh, yang mewakafkan tanahnya untuk pembangunan Masjid Jawa.

KELUARGA DAHLAN. Dari kiri: Dahlan Ahmad Dahlan (anak nomor 4), Rambhai Dahlan (anak nomor 1), Amphorn Sanafi atau Mina (anak nomor 6), Adnan Dahlan (anak nomor 7), Dr Winai Dahlan (anak nomor 5), Phaiboon atau Ismael Dahlan (anak nomor 2) dan Phairat Dahlan alias Pairat (anak nomor 3) bersama dengan kedua orang tua mereka, Irfan Dahlan dan Zahrah. Foto: Istimewa Keluarga. Sumber: http:/muhammadiyahstudies.blogspot.com

Setelah menikah, Erfan kemudian pindah ke kampung Jawa. Mereka memiliki 10 orang anak, 7 laki-laki dan 3 perempuan. Usai menikah, Erfan Dahlan tercatat pernah bekerja di Kedutaan Besar Pakistan di Bangkok. Namun aktifitas dakwahnya tak pernah berhenti. Bersama temannya, ia memiliki perusahaan percetakan buku-buku Islam seperti ajaran sholat dan doa yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Thailand.

Bersama sang istri, Erfan juga membantu pendidikan anak-anak yatim. Suami istri ini pun menjadi aktivitas muslim yang menyiarkan Islam di Thailand. Andil keduanya mendakwahkan ajaran Islam begitu terasa. Zahrah bahkan tercatat sebagai salah satu pendiri Muslim Women Association of Thailand (Assosiasi Perempuan Muslim Thailand) yang khusus memberikan bantuan pendidikan kepada anak yatim. Organisasi tersebut masih eksis hingga saat ini dan telah diakui keberadaannya oleh pemerintah Thailand. Tahun 1967, Erfan Dahlan wafat. Ia meninggalkan sepuluh orang anak dari hasil perkawinannya dengan Zahrah (w. 1992).[]

Beberapa Sumber tulisan:
1. The Rupture between Ahmadiyya and Muhammadiyah
2. The Biography of Maulana Abdul Haq Vidyarthi
3. Jejak keluarga Ahmad Dahlan di Thailand
4. Winai Dahlan: Direktur The Halal Science Center, Bangkok
5. Menengok Masjid Jawa di Bangkok

Komentar

komentar

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*