facebooklikebutton.co
SENTUHAN RUHANI

Hikmah di Balik Wabah

Wabah adalah azab yang sangat berbahaya. Tidak hanya istri/suami dan anak-anak yang mengalami kebinasaan, bahkan kadang-kadang sampai begitu banyak orang yang mati. Sampai-sampai tidak mungkin rasanya semua jenazah bisa diurus dan dirawat dengan baik.

Banyak orang mati, sementara kerabat dekat mereka yang masih hidup kehilangan akal sehat dan seperti ikut sekarat.

Ada pula kejadian, karena keluarga tak mungkin bisa merawat jenazah, maka mayat kerabat mereka dibuang hingga dimakan anjing serta binatang liar lainnya, kemudian para binatang itu pun terkena wabah dan ikut mati.

Pelayanan pada orang sakit yang terkena penyakit berbahaya itu pun tak bisa dilakukan dengan baik. Para perawat orang sakit itu sendiri diliputi rasa takut dan jijik.

Pada sementara itu, Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: Tuhanku tidak memedulikan kamu sedikit pun, sekiranya bukan karena doa (ibadah) kamu.” (Al-Furqan, 25:77).

Maksudnya, sebagaimana kamu mengabaikan kewajiban dan pengabdian kepada Allah, maka Allah pun tidak akan peduli sedikit pun kepadamu.

Wabah, di lain sisi, juga merupakan suatu hal yang baik. Karena ia menjadi sarana untuk menyadarkan manusia dari sikap lalainya dan menjadikannya waspada. Seandainya perkara itu tak terjadi, barangkali tidak akan ada lagi orang yang ingat dan takut akan kematian sekarang ini.

Orang-orang yang bersifat sangat menyusahkan dan merugikan sekali pun, saat menyaksikan tempat menyebarnya kolera dengan cepat, darahnya seakan-akan mengering karena rasa ngerinya. Di tempatnya masing-masing, mereka diliputi ketakutan.

Orang-orang bijak mengatakan, hendaklah ada penggerak untuk perbuatan baik, sebab orang-orang yang keras kepala tetap tak akan mau meninggalkan keburukan.

Dunia ini ada akhirnya, alam akhirat pasti adanya, dan merupakan alam kehidupan yang abadi. Bila orang datang di dunia ini, lalu membuka mata dan lantas mempertunjukkan jejak serta pengaruh buruk, maka di hari kemudian dia tentu akan menghadapi kesulitan.

Wabah telah menyerang negeri ini. Dengan wabah itu, sikap lalai kebanyakan manusia akan terjauhkan. Maka jadilah itu rahmat Allah. Tatkala hati manusia menjadi keras, azab semacam itu diturunkan. Demikian itulah sunatullah.

Orang tidak lagi takut dengan kematian dalam cara yang biasa. Tetapi dengan adanya wabah ini, seorang anak muda menganggap kematiannya sudah begitu dekat, sebagaimana anggapan seorang tua yang sudah merasa dekat dengan liang kuburnya.

Manusia tak mengambil pelajaran dari cara kematian yang biasa oleh sebab lalai dan mabuk syahwat. Maka kepada mereka wabah diturunkan, sebagai azab yang membinasakan ribuan manusia.

 

(Disarikan dari Malfuzat Ahmadiyyah, jld. 5, hlm. 280-282)

Comment here