facebooklikebutton.co

Hijrah

Secara harfiah hijrah berarti berpindah, berpaling, meninggalkan atau menarik diri, bermigrasi, eksodus; kemudian istilah hijrah digunakan untuk mengidentifikasi :

  1. Berpindahnya Nabi Suci dan para sahabat dari Mekah ke Thaif dan Yatsrib, hijrah semacam ini yang dilakukan oleh para Nabi lainnya, seperti: Ibrahim (37:99), Hud (11;69-83), Musa (20:40;5:20-21), dan lain-lain.
  2. Religius, hijrah berarti perjalanan religius, menuju era baru yang lebih religius. Oleh karena itu dalam Quran Suci dinyatakan bahwa orang yang mendambakan rahmat Allah itu ialah orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah (2:218).
  3. Kalender Arab-Islam yang dilembagakan oleh Umar bin Khathab, Khalifah kedua (634-644) pada tahun 637.

Hijrah Nabi
Secara historis, pada zaman Nabi Suci terjadi beberapa kali hijrah karena iman, yaitu:

  1. Hijrah ke Habsyi pada tahun 614 sebelas sahabat meninggalkan Mekah menuju ke Habsyi, antara lain Utsman bin Affan dan istrinya, Ruqayah, dan Ja’far bin Abi Thalib yang menjelaskan kepada Raja Najasi, bahwa mereka hijrah karena dianiaya dan ditindas, bahkan banyak yang dibunuh secara kejam dan sadis oleh saudara sebangsanya sendiri kaum kafir Quraisy.
  2. Pada tahun berikutnya (6:5), sebanyak 101 sahabat menyusul ke Habsyi, karena mendengar berita bahwa di sana mereka mendapat perlindungan seperti yang dijelaskan oleh Nabi Suci bahwa Habsyi adalah “sebuah negri yang aman sekali, tak ada penganiayaan dan negri yang adil”.
  3. Pada tahun 616 kaum kafir Quraisy menjatuhkan sanksi berat terhadap Bani Hasyim yang memneri perlindungan kepada Nabi Suci, berupa embargo ekonomi. Embargo berlangsung selama tiga tahun, karena Surat Embargo yang digantungkan di Kakbah telah dimakan anai-anai. Setelah embargo berakhir Bani Hasyim kembali ke Mekah, namun baru beberapa minggu di Mekah Nabi Suci kehilangan pelindung duniawinya Abu Thalib wafat, disusul Siti Khadijah, istri Nabi Suci. Nabi Suci amat sedih, maka tahun ini disebut ‘Amul-Huzni artinya Tahun Berdukacita. Dengan wafatnya kedua tokoh ini ruang gerak Nabi Suci semakin sempit, maka dari itu beliau dengan ditemani anak angkatnya, Zaid, hijrah ke Thaif 65 km dari Mekah.
  4. Pada tahun 620, enam orang Yatsrib masuk Islam, berarti Islam mulai tersiar di Madinah. Musim haji tahun berikutnya, 621 dua belas orang Yatsrib menunaikan ibadah haji dan menemui Nabi Suci di Bukit Aqabah untuk menyatakan beat, yang kemudian dikenal sebagai Baiat Aqabah pertama. Ketika mereka pulang, Nabi Suci mengutus Mus’ab bin Umar menyertai mereka dengan tugas membimbing dan berdakwah kepada penduduk Yatsrib. Hasilnya memuaskan, tahun berikutnya (622) 75 rang Yatsrib maenunaikan ibadah haji ke Mekah dan menemui Nabi Suci di Bukit Aqabah untuk menyatakan beat, yang kemudian dikenal sebagai Baiat Aqabah kedua. Dalam beat ini ada perjanjian pentingnya jidad dan melindungi Nabi Suci dengan segala kemampuan serta keinginan mereka agar Nabi Suci berkenan hijrah ke Yatsrib. Sesudah itu secara bergelombang dan sembunyi-sembunyi para sahabat hijrah ke Yatsrib, sehingga pada awal tahun ke 11 kenabian (622) di Mekah tak ada lagi umat Islam, kecuali Nabi Suci, Ali Abu Bakar dan beberapa budak.

Kaum kafir Mekah sadar, bahwa Nabi Sucipun akan segera  meninggalkan Mekah, oleh karena itu mereka mengadakan sidang di Gedung Pertemuan Darun Nadwah, yang memutuskan semua kabilah harus mengirimkan wakil untuk bersama-sama membunuh Nabi Suci, dengan cara ini Bani Hasyim tak akan menuntutnya. Setelah malam tiba, mereka telah mengepung rumah Nabi Suci dan menunggu beliau keluar. Pada malam itu pula Ali bin Abi Thalib tidur di tempat tidur Nabi Suci, sehingga mereka mengira bahwa yang tidur adalah Nabi Suci. Dengan kodrat dan iradat Allah, Nabi Suci dengan tenang keluar rumah menuju ke rumah Abu Bakar dengan melewati para musuh yang harus darah.

Bersama Abu Bakar beliau meninggalkan Mekah menuju Gua Tsur sekitar tiga mil dari Mekah. Selama tiga hari tiga malam mereka tinggal di dalam Gua. Sementara itu pada hari kedua atau ketiga para penyelidik sempat mendekati dan melewati mulut Gua, sehingga Abu Bakar ketakutan tatkala mendengar langkah dan melihat kaki-kaki dan ujung-ujung pedang terhunus para musuh lewat di depan hidungnya. Dalam keadaan sangat krusial ini, Nabi Suci menenteramkan hatinya seraya berbisik “ Janganlah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah beserta kita (9:40). Bisikan ini menggenapi proferik Nabi Yesaya yang diucapkan duanbelas abad sebelumnya.

Pada malam keempat mereka keluar dari Gua di puncak Jabal Tsur, lalu meneruskan perjalanan hijrah ke Madinah dengan penunjuk jalan serang kafir yang dapat dipercaya, Abdulah bin Uraiqit, kaum kafir telah berputus asa, menghentikan penyisiran. Namun mengumumkan hadiah 100 unta bagi barangsiapa yang dapat menangkap Nabi Suci dan menyerahkan kepada kaum kafir dalam keadaan hidup atau mati.

Keberangkatan mereka didengar oleh Suraqah bin Malik, seorang pemuda pemimpin Badwi yang perkasa. Tergiur hadiah 100 unta, ia memacu kudanya mengejar mereka. Ia merasa puas karena hampir bisa menyusul Nabi Suci. Dengan penuh semangat ia akan melepaskan anak panahnya namun tiba-tiba kudanya jatuh, ia terpelanting ke tanah. Ia bangkit, memacu kudanya mengejar Nabi Suci lagi, setelah dekat ia akan melepaskan anak panahnya, tetapi sekali lagi tiba-tiba kudanya terjatuh dan ia terpelanting ke tanah lagi. Namun demikian ia belum berputus asa, gengsi dan hadiah seratus unta mendorong ia nekat, meski nyalinya telah mengecil. Baru setelah peristiwa semacam itu terjadi yang ketiga kalinya, ia menyadari bahwa orang yang dikejarnya bukan orang sembarangan dan dilindungi oleh Allah, karenanya ia berseru-seru memanggil Nabi Suci dan meminta maaf. Nabipun memaafkan nya lalu bernubuat tentang kejayaan Islam dan kehancuran KekaisaranPersia.

Peristiwa inilah yang disebut Hijrah Nabi. Beliau berangkat dari Mekah pada hariu Kamis, 1 Rabiul-Awal 1 H/13 September 622 M, tiba di MAdinah, tepatnya di Quba pada hari Senin, 12 Rabiul-Awal 1 H/24 September 622 M.

Hijrah Religius
Hijrah itu syariat. Oleh karena itu perintah hijrah, implementasinya secara religius tidak harus berpindah dari satu tempat tertentu ke tempat lain yang lebih baik demi keselamatan jiwa dan agama (3;195; 4:100; 9:20; 16:41, dan lain-lain), melainkan iman dan keyakinannya yang berpindah (dari musyrik ke mukmin) atau orientasi keagamaannya (dari ananiyah ke ijtima’iyah), atau fiqihnya (dari yang bersifat sunnah Azab ke sunnah Allah atau sunnah Rasul), atau religiusitasnya (dari dinuth-thaghut ke dinullah) dan sebagainya.

Secara fisik kaum muhajirin tetap bergaul hidup bersama di tempat yang sama pada waktu yang sama dengan mereka yang belum atau tidak hijrah. Kaum muhajirin sadar bahwa manusia meski berbeda-beda warna kulitnya, bahasanya, kebangsaannya dan agamanya, tetapi satu umat, yang hidup di muka bumi yang satu di bawah satu atap, yang hidup di muka bumi yang satu di bawah satu atap, langit; oleh karena itu bagi mereka beda pendapat adalah kawan berfikir, beda akidah kawan dialog dan beda ibadah adalah kawan fastaabiqul-khairat (berlomba dalam berbuat kebaikan). Berfikir, berdialog dan berlomba berbuat kebaikan mengundang rahmat dan menjauhkan laknat, maka dari itu Nabi Suci bersabda “perbedaan di antara umatku adalah rahmat, ikhtilafu ummati rahmat”. Untuk mendapatkan rahmat (dari perbedaan) itulah manusia diciptakan (11:118-119).

Dalam wacana politik umat Islam pada zaman akhir ini hijrah digunakan oleh gerakan politik keagamaan umat Islam untuk menentang kaum imperialis dan kolonialis Barat di benua Asia dan Afrika, misalnya: Ikhwanul-Muslimin di Afrika Utara dan Barat, di India dan Pakistan; di Saudi Arabia digunakan untuk memukimkan suku-suku Badui guna mencapai tujuan ekspausi teritorial dan konsolidasi kekuasaan. Mandudi (1903-1979) dari Jama’ati Islami Paksitan dan Sayid Quthb (11906-1966) dari Ikhwanul-Muslimin Mesir mengidentifikasi hijrah sebagai menarik diri Jahiliah baru, yang mereka identifikasi sebagai kebijakan sekularisme, kapilatisme, sosialisme dan modernisasi/westernisasi Negara-negara muslim.

Menurut HM Ghulam Ahmad, hijrah merupakan tahapan penting dalam perjalanan seseorang menuju kepada kesempurnaan dirinya. Dalam bukunya Falsafah Islamiyah dijelaskan adanya tiga derajat kemanusiaa, yaitu : Kondisi jasmani, disebut Nafsu Ammarah (12:23). Segala tingkah laku dan perbuatan manusia bersumber pada kepentingan jasmani seperti halnya binatang yang hanya demi makan-minum, tidur-bangun, syahwat dan amarah, maka kecenderungannya kepada kejahatan dan bertentangan dengan akhlak dan kesempurnaan adab dan sopan santun dalam hal makan-minum, kawin, pakaian dan lain-lain yang berhubungan dengan peradaban manusia. Lalu diajarkan budi pekerti dan akhlak, yang terakhir adalah makrifat akan Allah.

Dengan cara itu seseorang dapat berhijrah ke derajat yang lebih tinggi, kondisi akhlak, disebut Nafsu Lauwamah (75:2), nafsu yang menyesali dirinya sendiri jika ia terlanjur berbuat jahat. Ia berniat dan bertekad untuk berbuat baik dan terus berbuat baik. Ia telah berakhlak, karena apa yang diperbuat sesuai dengan pertimbangan akal, kemampuan, situasi dan kondisinya, bukan karena dorongan alami, naluri dan pembawaan belaka. Dalam kondisi apa yang dilakukan oleh seseorang dapat mencegah orang lain berbuat kejahatan, misalnya ihshan, amanah, hudnah (rendah hati), rifqun (sopan-santun), qaulu hasan (tutur yang baik), thaalaqah (air mata yang jernih), dan lain-lain atau mendorong orang lain berbuat kebaikan, misalnya pemaaf, kebaikan, keberanian, ketulusan, sabar, setia kawan, dan lain-lain.

Dari derajat ini seseorang akan berhijrah ke derajat tertinggi, kondisi rohani yang disebut Nafsu Muthmainnah, nafsu yang tenang (89:27-30). Akhlaknya merupakan pengejawantahan sifat-sifat Allah, kehendaknya telah manunggaal dengan Kehendak Allah, hidupnya “bersama” dengan Allah kehidupannya sorgawi. Konumikasi dengan Dia dawam, karena ia telah bertemu dengan Allah, liqa’ullah. Demikianla shirathal-mustaqim menuju Dia yang menjadi asal dan tujuan manusai diciptakan. Untuk menempuh jalan itu setiap muslim  harus hijrah dengan cara mengucapkan beat dan janji sepuluh yang implementasinya merupakan jihad akbar masa kini.

Kalender Hijrah
Di lembagakan oleh Umar bin Khathab, khalifah kedua (63-644) pada tahun 637 atau 17 tahun setelah hijrah. Perhitungannya didasarkan atas orbit-orbit bulan keliling bumi dan orbit bumi keliling matahari. Orbit bumi keliling matahari dinamakan sanah atau tahun, sedang orbit bulan keliling bumi disebut syahr atau bulan. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan sebagaimana dinyatakan Ilahi dalam Quran Suci:

“Sesungguhnya hitungan bulan menurut Allah ialah dua belas bulan dalam undang-undang Allah, sejak Dia menciptakan langit dan bumi –di antaranya ada empat yang suci. Inilah agama yang benar, maka janganlah berbuat lalim terhadap diri kamu dalam (bulan suci) itu”. (9:36).

Yang dimaksud dua belas bulan itu ialah bukan Qamariah (lunar-month) yaitu : Muharram, Shafar, Rabi-ul Awwal, Ssya’ban, Ramadhan, Syawwal, Dzul-Qa’dah dan Dzul-Hijjah, karena dalam ayat 9:36 ini “Ada empat (bulan) yang suci” yaitu: Muharram, Ramadhan, Dzul-Qadah dan Dzul-Hijjah. Dalam bulan suci setiap muslim dilarang berperang, kecuali diserang. Oleh karena itu dalam bulan suci inilah ibadah Haji dilaksanakan (2:217).

Digunakannya bulan Qamariah (lunar-month) –bukan bulan Syamsiah (solar-month)– banyak membawa rahmat bagi manusia antara lain:

  1. Sesuai dengan realitas maksudnya setiap hari tanggalnya dapat diketahui di angkasa, tanggal muda bulannya juga muda
  2. Penanggalan sifatnya tetap, tanpa perubahan di bumi
  3. Lebih serasi dengan ajaran Islam yang universal, karena segala bangsa mempunyai pembagian untung rugi yang sama.[]

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*