<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahmadiyah</title>
	<atom:link href="http://ahmadiyah.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahmadiyah.org</link>
	<description>Kebenaran, Keadilan, Kebijaksanaan, Keindahan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Oct 2011 06:25:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Kemenangan Islam</title>
		<link>http://ahmadiyah.org/2011/10/kemenangan-islam/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kemenangan-islam</link>
		<comments>http://ahmadiyah.org/2011/10/kemenangan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 03:05:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadiyah.org/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[oleh Mulyono Turunnya Surat Al-Fath, surat ke-48 dalam mushkhaf Al-Qur&#8217;an, yang artinya Kemenangan, agaknya lebih dimaksudkan sebagai jawaban atas keragu-raguan para sahabat terhadap sikap Nabi Suci saw. yang bersedia menerima perjanjian damai dengan pihak kaum kafir Quraisy di Hudaibiyah, yang oleh para sahabat dipandang telah merendahkan martabat kaum Muslimin dan Nabi Suci saw. Pasalnya, perjalanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">oleh Mulyono</p>
<p align="justify">Turunnya Surat Al-Fath, surat ke-48 dalam mushkhaf Al-Qur&#8217;an, yang artinya <em>Kemenangan</em>, agaknya lebih dimaksudkan sebagai jawaban atas keragu-raguan para sahabat terhadap sikap Nabi Suci saw. yang bersedia menerima perjanjian damai dengan pihak kaum kafir Quraisy di Hudaibiyah, yang oleh para sahabat dipandang telah merendahkan martabat kaum Muslimin dan Nabi Suci saw. Pasalnya, perjalanan ibadah haji yang pertama kali akan dilakukan oleh kaum Muslimin selama periode Madinah itu telah diisaratkan melalui impian Nabi Suci saw. sendiri, sebagaimana dinyatakan dalam ayat 28 surat itu. Oleh karena itu demi terpenuhinya impian tersebut para sahabat bersedia mengambil risiko apa pun, dan untuk itu pula mereka melakukan bai&#8217;at, bersumpah setia kepada Nabi Suci saw., yang dikenal dengan bai&#8217;atu-r ridhwan, atau Qur&#8217;an menyebut bai&#8217;atu-s sajaroh (bai&#8217;at di bawah pohon, karena memang dilakukan ketika Nabi Suci saw. tengah duduk dibawah pohon).</p>
<p align="justify">Isi perjanjian damai itu yang terpenting: (1) Nabi Suci saw. bersama para sahabat harus pulang ke Madinah dan tidak meneruskan perjalanan menuju Makkah untuk berhaji; (2) orang-orang Makkah yang lari dari Makkah dan berlindung kepada Nabi Suci saw. harus dikembalikan ke Makkah; (3) Sedangkan  orang-orang Islam yang lari dari Madinah dan bergabung dengan kaum kafir Makkah, tidak harus dikembalikan kepada Nabi Suci saw. Selain itu, kaum kafir Makkah juga tidak mengakui Muhammad sebagai utusan Allah dan oleh karena itu dalam penandatanganan akta perjanjian itu Muhammad &#8216;hanya&#8217; dalam kapasitas sebagai anak laki-laki Abdullah. Inilah yang memicu kemarahan para sahabat Nabi.</p>
<p align="justify">Tetapi, rupa-rupanya, Nabi Suci saw. memiliki pertimbangan lain, tentu atas Petunjuk dari Allah, bahwa saat itu kondisi damai amat diperlukan, sehingga orang-orang kafir memiliki ruang yang cukup untuk berpikir dengan tenang, mempertimbangkan kebenaran ajaran Islam. Selama itu, hati mereka selalu dibakar oleh emosi untuk menyerang dan mengalahkan kaum Muslimin. Di sisi lain, agaknya, orang-orang Islam yang berada di dalam kota Makkah pun terlepas dari kecurigaan orang-orang kafir, sehingga dengan begitu lebih leluasa untuk menampilkan nilai-nilai ajaran Islam.</p>
<p align="justify">Akhirnya memang terbukti, bahwa perjanjian damai itu membawa kemenangan yang luar biasa di pihak kaum Muslimin, dengan penaklukkan secara damai seluruh kota Mekah, yang beberapa tahun sebelumnya tampak mustahil.</p>
<p align="justify">Belajar dari kasus Hudaibiyah tersebut, nempaknya kaum Muslimin zaman sekarang, suka atau tidak suka, harus berperan aktif dalam menciptakan kondisi damai, yang memang Islam berarti dan mengajarkan demikian, jika ingin menang. Tindak kekerasan, misalnya dengan meledakkan bom, apa pun alasannya, sekarang ini tidak ada relevansinya, jika dimaksudkan untuk membela, apa lagi menyiarkan Islam. Musuh-musuh kebenaran tahu benar bahwa Islam mustahil bisa dikalahkan dengan perang fisik. Baghdad boleh hancur oleh serangan Amerka Serikat dan sekutu-sekutunya, tetapi Islam tidak akan hancur bersamaan dengan hancurnya Baghdad. Suatu kenyataan, banyak tentara sekutu AS yang masuk Islam. Sama dengan ketika Uni Sovyet menyerang Afganistan, banyak juga prajuritnya yang masuk Islam. Ini tidak jauh beda dengan ketika Baghdad dihancurkan oleh Hulagu Khan pada tahun 1258, yang juga diikuti dengan masuk Islamnya prajurit dan orang-orang Mongolia itu secara besar-besaran.</p>
<p align="justify">Islam adalah agama fitrah, yang kebenarannya selaras dengan kodrat manusia. Kalau kita perhatikan, nilai-nilai Islam telah banyak atau bahkan sudah menjadi budaya orang-orang Eropa dan Amerika. Kejujuran, Kedisiplinan, kepedulian sosial, cinta ilmu, dan sebagainya, adalah nilai-nilai Islam yang sangat penting. mereka tidak menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah nilai-nilai Islam. Tetapi karena nilai-nilai Islam itu adalah nilai-nilai kebenaran universal, maka siapa pun berhak melakukan dan/atau ada kesadaran untuk melakukan, meskipun secara formal mereka bukan Muslim. Salah satu nilai Islam telah ditunjukkan oleh orang terkaya di Amerika Serikat, Bill and Melinda Gate, yang, konon, menyedekahkan uangnya ratusan triliyun rupiyah untuk pendidikan dan kesehatan. Alasannya sangat sederhana, yakni, antara lain, ia tidak ingin anak-anaknya tidak mau bangun pagi karena sudah berkecukupan.</p>
<p align="justify">Jadi, orang-orang Eropa dan Amerika, tampaknya tinggal selangkah lagi untuk menjadi Muslimin. Tidak mustahil, kiranya, generasi-generasi sesudah ini, di Eropa dan Amerika akan menjadi Muslimin yang baik. Pasalnya, bagi mereka Islam (paling tidak sebagai nilai) sudah tidak asing lagi. Apakah ini yang diisyaratkan oleh Nabi Suci saw. yang mengatakan bahwa pada zaman akhir matahari akan terbit di barat? Kalau yang dimaksud oleh Hadits tersebut adalah matahari kebenaran Islam akhirnya akan bersinar di Dunia Barat, nampaknya tidak mengada-ada. sebab, beliau sendiri juga dikatakan sebagai &#8220;mata hari yang menerangi&#8221; (siroojam muniiroo). Atau, boleh jadi, Cahaya Kebenaran yang dipancarkan oleh Nabi Suci saw. akhirnya akan diterima oleh orang-orang Barat.</p>
<p align="justify">Kini sudah saatnya bagi kaum Muslimin untuk merepresentasikan ajaran Islam itu melalui dialog-dialog sosial (praktik hidup keseharian) yang damai, agar orang lain melihat, merasakan dan akhirnya mempertimbangkan. Fitrah manusia pasti tertarik pada kebenaran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadiyah.org/2011/10/kemenangan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kematian Nabi Isa</title>
		<link>http://ahmadiyah.org/2011/10/kematian-nabi-isa/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kematian-nabi-isa</link>
		<comments>http://ahmadiyah.org/2011/10/kematian-nabi-isa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 03:04:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadiyah.org/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[oleh Erwan Hamdani Bukti dari Qur&#8217;an Suci                Perbedaan pertama antara kaum Ahmadi dengan kaum muslimin pada umumnya adalah sehubungan dengan kematian Nabi Isa a.s . Rata-rata kaum muslimin percaya bahwa Nabi Isa a.s. masih hidup di langit dengan badan jasmannya, namun para anggota Ahmadiyyah dan juga para Ulama intelektual yang menelaah percaya bahwa – seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Erwan Hamdani</p>
<p><strong><span style="font-size: small;">Bukti dari Qur&#8217;an Suci</span></strong><span style="font-size: small;">                </span></p>
<p><span style="font-size: small;">Perbedaan pertama antara kaum Ahmadi dengan kaum muslimin pada umumnya adalah sehubungan dengan kematian Nabi Isa a.s . Rata-rata kaum muslimin percaya bahwa Nabi Isa a.s. masih hidup di langit dengan badan jasmannya, namun para anggota Ahmadiyyah dan juga para Ulama intelektual yang menelaah percaya bahwa – seperti para nabi lainnya – Nabi Isa a.s. telah wafat.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">                Qur&#8217;an Suci jelas sekali membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat seperti manusia lainnya dan tidak hidup lagi di manapun. Jelas sekali dinyatakan bahwa Nabi Isa a.s. hanyalah memiliki sifat-sifat kemanusiaan, dan tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan, beliau hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Karena itu sejak lahir hingga wafat, dia tunduk pada keterbatasan fisik dan biologi yang telah ditentukan Tuhan untuk manusia.</span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;">BUKTI PERTAMA: Semua manusia hidup dan mati di bumi ini.</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">                Semua Nabi adalah manusia biasa, oleh karena itu mereka tunduk kepada undang-undang Ilahi yang tak berubah-ubah, bahwa manusia hidup dan mati di bumi ini. Qur&#8217;an Suci munyatakan:</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">1.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Ia berfirman: Di sana (yakni di bumi) kamu hidup dan di sana kamu meninggal dan dari sana kamu akan dibangkitkan&#8221; (7:25)</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">2.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Dan bagi kamu adalah tempat tinggal di bumi dan perlengkapan untuk sementara waktu&#8221; (7:24)</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">3.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Bukankah Kami jadikan bumi sebagai daya tarik, yang hidup dan mati&#8221; (77:25,26)</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">4.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Dan dari (bumi) itu Kami menciptakan kamu dan kesitu juga Kami kembalikan kamu. Dan dari bumi itu Kami mengeluarkan kamu untuk kedua kali.&#8221; (20:55)</span></p>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;">BUKTI KEDUA :  Kehidupan jasmani tergantung pada makanan dan minuman.</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">                Tuhan telah menjelaskan bahwa undang-undang-Nya berlaku bukan hanya untuk orang biasa saja namun juga untuk para Nabi, bahwa hidup itu sangat bergantung pada makanan dan minuman:</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">1.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Kami tidak mengutus sebelum engkau (wahai Muhammad) setiap Rasul kecuali mereka itu makan-makanan.&#8221; (25:20)</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">2.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Dan Kami tak membuat mereka (yakni para Nabi) tubuh yang tak makan-makanan.&#8221; (21:8)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Mengenai Nabi Isa a.s. dan ibunya yang tulus dinyatakan :&#8221;Dua-duanya makan, makanan&#8221; (5:75). Maka jika Nabi Isa a.s. tidak makan-makanan – segenap kaum Muslimin berpendapat bahwa Nabi Isa a.s. tidak makan-makanan lagi di langit – beliau tak akan bisa, dengan hukum Ilahi yang dinyatakan di atas, hidup dengan badan jasmaninya. Jasmani itu membutuhkan makanan jadi Nabi Isa a.s. yang tak makan-makanan lagi pasti sudah mati.</span></p>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;">BUKTI KETIGA: Jasmani manusia bisa rusak termakan waktu.</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Tak ada satu badan jasmani manusia pun di bumi ini yang tidak mengalami perubahan. Kehidupan jasmani pasti menglami perubahan seiring dengan perubahan waktu. Qur&#8217;an Suci menyatakan:</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">1.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Dan tiada Kami menciptakan manusia sebelum engkau (hai Muhammad) itu kekal (Khuld). Apakah jika engkau mati, mereka itu kekal (<em>Khalidun</em>)&#8221; ? (21:34)</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">2.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Mereka (yakni para Nabi) itu tidak hidup kekal (<em>Khalidin</em>)&#8221; (21:8)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Mengenai arti kata <em>Khulud</em> (yang diterjemahakan di atas dengan <em>kekal selama-lamanya</em>), kamus Qur&#8217;an yang terkenal dari Imam Raghib menjelaskan:</span></p>
<p><span style="font-size: small;">&#8220;<em>Khulud</em>&#8221; artinya ialah sesuatu yang kebal dari kerusakan, dan tahan terhadap perubahan kondisi. Bangsa Arab menyebut sesuatu dengan kata Khulud….. yakni terus menerus dalam suatu keadaan dan tidak berubah (hal 153-154).</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Karena itu menurut pengertian bahasa Arab, pengertian <em>Khulud</em> menunjukan tetapnya suatu keadaan yang tidak mengalami perubahan atau mengalami kerusakan. Di dalam ayat-ayat tersebut di atas, hukum Ilahi telah menjelaskan secara jelas bahwa dalam keadaan seperti itu setiap orang akan menglami perubahan dengan berlalunya waktu. Dia pertama-tama menjadi anak, kemudian dewasa, kemudian tua dan akhrinya mati ini diperkuat oleh banyak ayat-ayat lainnya, contohnya</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">1.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Allah ialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, lalu Ia memberi kekuatan setelah lemah, lalu membuat kelemahan dan ubanan setelah keadaan kuat.&#8221; (30:54)</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">2.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Dan diantara kamu ada pula yang dikembalikan menjadi pikun (jompo), sehingga ia tak tahu apa-apa setelah ia tahu.&#8221; (22:5)</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">3.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Dan barang siapa Kami beri umur panjang, niscaya Kami kembalikan kepada keadaan kejadian yang hina (buruk). Apakah mereka tak mengerti?.&#8221; (36:58)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Secara umum undang-undang Ilahi telah dijelaskan seterang-terangnya di sini, dan tidak ada pengecualian bagi seorang manusia pun.  Sejak dari anak seseorang berkembang secara fisik untuk mencapai perkembangan yang sepenuhnya setelah itu dia mulai lemah dan akhirnya sampailah kepada kekanak-kanakan  yang kedua kalinya tatkala dia kehilangan masa-masa yang pernah dicapainya.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">        Jika demi kepentingan argumentasi itu, Nabi Isa a.s. akan kembali kedunia ini, dia harus berusia 2000 tahun, dan dari sinilah,menurut hukum Ilahi di atas beliau sudah terlalu tua untuk berbuat sesuatu. Pada kenyataanya, sungguh dibawah undang-undang ini Nabi Isa a.s. sudah wafat sejak dahulu.</span></p>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;">BUKTI KEEMPAT: Wafatnya Para Nabi</span></span></strong></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">1.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Almasih, &#8216;Isa bin Maryam, hanyalah seorang Rasul: sungguh telah berlalu para utusan sebelum dia &#8220;. (5:75)</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">2.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Dan Muhammad itu tiada lain hanyalah utusan; sebelum dia telah berlalu para utusan. Jika ia mati atau dibunuh, apakah kamu akan berbalik atas tumit kamu?.&#8221; (3:143)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Ayat yang kedua di sini memperjelas ayat yang pertama. Kedua ayat itu sama-sama memperingatkan, yang pertama terhadap Nabi Isa a.s. , yang kedua terhadap Nabi Suci Muhammad. Penjelasan ayat Qur&#8217;an Suci di sini sangat jelas sekali bagi si pencari kebenaran. Ayat pertama jelas sekali mengatakan bahwa semua Nabi sebelum Nabi Isa a.s. telah wafat – segenap kaum Muslimin menerima ini. Dalam ayat yang kedua, kata-kata yang sama digunakan untuk memperjelas bahwa semua Nabi sebelum Nabi Muhammad saw. telah wafat, dan karena tak ada Nabi yang dibangkitkan antara Nabi Isa a.s. dan Nabi Suci, ayat yang kedua pasti diturunkan khusunya untuk menunjukan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat. Karya-karya klasik tata bahasa Arab menjelaskan kepada kita bahwa, dengan menggunakan awalan <em>al</em> pada kata para utusan (<em>al-rusul,</em> lit &#8220;para-utusan) di dua ayat tersebut di atas jelas-jelas memberi arti seluruh <em>utusan</em> (lih <em>bahr al-Muhit,</em> vol 3, hal 68).</span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;">Arti dari Khala</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">                Haruslah diingat bahwa kata <em>khala</em> (yang diterjemahkan di atas dengan &#8220;belalu&#8221;) dalam bentuk kata lampau tanpa kata sandang, ketika ditujukan kepada manusia, bermakna kematian mereka. (lih <em> Lisan al-Arab dan Aqrab al-Mawarad</em>), juga di dalam Qur&#8217;an Suci, mana kala kata <em>qad khalat</em> tanpa partikel <em>ila</em> digunakan untuk orang, maksudnya adalah mereka telah berlalu dan meninggal, dan tak akan kembali lagi. Sebagai contoh:</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">1.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;Itulah umat yang sudah berlalu (<em>qad khalat</em>).&#8221; (2:134)</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">2.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;…Yang sebelumnya telah banyak umat yang berlalu (<em>qad khalat</em>).&#8221;  (13:30)</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">3.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;….dikalangan umat yang telah berlalu (<em>qad khalat</em>).&#8221;(46:18)</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">4.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;itulah tata cara Allah terhadap orang-orang yang sebelumnya telah berlalu (<em>khalat</em>).&#8221; (33:38) </span></p>
<p><span style="font-size: small;">Dalam penafsiran dua ayat tentang seluruh Nabi sebelum Nabi Isa a.s. dan Nabi Suci saw. telah berlalu, para mufasir umunya mengambil arti yang sama:</span></p>
<p><span style="font-size: small;">&#8220;Nabi Suci telah meninggal dunia sebagaimana yang telah terjadi pada Nabi-Nabi sebelumnya, dengan cara kematian yang alami atau dibunuh&#8221; (<em>Qanwa &#8216;ata Baidawi,</em> vol.3 hal 124).</span></p>
<p><span style="font-size: small;">                Sebenarnya ayat-ayat tersebut di atas mengenai Nabi Suci (3:143) itu sendiri telah menjelaskan makna dari <em>khalat</em> (telah berlalu seluruh Nabi sebelumnya) dengan menggunakan kata-kata &#8220;bila dia meninggal atau dibunuh&#8221; atas dirinya. Jelaslah, kalimat &#8220;telah berlalu para Nabi sebelumnya &#8220;berarti salah satu dari mati alami atau dibunuh</span></p>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;">BUKTI KELIMA: Semua yang dituhankan itu mati</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">                Semua yang dianggap tuhan selain Allah , dijelaskan oleh Qur&#8217;an Suci itu &#8220;mati&#8221;:</span></p>
<p><span style="font-size: small;">&#8220;Adapun orang-orang yang mereka seru selain Allah, mereka tak dapat menciptakan apa-apa malahan mereka itu diciptakan. (mereka) mati tak hidup. Dan mereka tak tahu kapan mereka dibangkitkan.&#8221; (16:20-21)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Begitu pula Nabi Isa a.s. yang dianggap tuhan, Qur&#8217;an Suci itu sendiri berkata: &#8220;Sungguh kafir orang –orang yang berkata: &#8220;Allah ialah Masih bin Maryam.&#8221; (5:72) </span></p>
<p><span style="font-size: small;">                Ayat-ayat ini menjadi bukti secara lengkap bahwa Nabi Isa a.s. yang dianggap tuhan oleh sebagian besar oleh manusia dan dipanggil &#8220;Tuhan Jesus&#8221;, pasti sudah mati ketika ayat ini diwahyukan. Jika tidak, pengecualian itu pasti disebutkan di sini.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">                Setelah <em>amwaat</em> (mereka itu mati), kata <em> ghairu ahyaa&#8217;u</em> (&#8220;tidak hidup&#8221;) menjelaskan masalah tersebut lebih mantap, dan kembali menguatkan tentang kematian terhadap &#8220;tuhan-tuhan&#8221; tersebut.</span></p>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;">BUKTI KEENAM: Kedatangan Nabi Isa a.s. yang kedua bertentangan dengan Khataman-nabiyyin.</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">                Kedatangan Nabi Isa a.s. lagi ke dunia ini akan menyalahi prinsip Khataman Nabiyyin karena Nabi Suci saw. adalah Nabi penutup dan Nabi yang terakhir menurut prinsip tersebut. Qur&#8217;an Suci menjelaskan: &#8220;Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari kamu, melainkan dia itu Utusan Allah dan segel (penutup) para Nabi. (33:40)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">                Nabi Suci menjadi Nabi yang terakhir (<em>Khataman-Nabiyyin</em>) memastikan bahwa setelah beliau tidak akan muncul lagi Nabi yang lain, baik Nabi baru maupun Nabi lama. Seperti halnya kedatangan nabi baru akan merusak Khataman-Nabiyyin begitu pula kehadiran Nabi lama, karena Khataman-Nabiyyin berarti Nabi yang muncul setelah munculnya seluruh Nabi. Seandainya Nabi Isa a.s. datang sesudah Nabi Suci dia (Nabi Isa a.s. ) pasti akan menjadi Nabi yang terakhir, <em>Khataman-Nabiyyin</em>.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">                Salah sekali jika untuk berdalih bahwa menurut perkiraannya kedatangannya yang kedua kali, Nabi Isa a.s. tak akan menjadi Nabi. Karena Qur&#8217;an Suci mengatakan: &#8220;Ia (Nabi Isa a.s. ) berkata: &#8220;sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Ia telah memberikan kepadaku kitab, dan membuat aku seorang Nabi. Dan ia membuat aku seorang yang diberkahi  di manapun aku berada.&#8221; (19:30-31). Jadi manakala dia kembali ke dunia ini dia harus tetap Nabi. Kedatangannya lagi tanpa kenabian akan menjadi tak berarti, karena tugas kepemimpinan umat Muslim (<em>imam</em>) dan keKhalifahan Nabi Suci harus dilaksanakan oleh umat Muslim itu sendiri. Di sini membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat, sebagaimana para Nabi lainnya dan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah Nabi yang terakhir.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">  </span></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;">BUKTI KETUJUH: Qur&#8217;an Suci secara khusus menjelaskan kematian Nabi Isa a.s. </span> </span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">                Menjelaskan berbagai macam pengertian umum dalam hal hidup dan mati, adalah tak perlu bila Qur&#8217;an Suci itu sendiri telah menjelaskan secara khusus tentang kematian Nabi Isa a.s. Tuhan Yang Maha Kuasa telah menjelaskan secara khusus tentang kematian Nabi Isa a.s. di dalam Qur&#8217;an Suci. Ketika Yahudi berhasil dalam rencananya menggantungkan Nabi Isa a.s. di tiang salib, Nabi Isa a.s. berdo&#8217;a agar diselamatkan dari penderitaan ini, dan dijawab oleh-Nya sebagai berikut:</span></p>
<p><span style="font-size: small;">&#8220;Wahai Isa, Aku akan mematikan engkau dan meninggikan engkau di hadapanKu dan membersihkan engkau dari orang-orang kafir dan membuat orang-orang  yang mengikuti engkau di atas orang-orang kafir sampai hari kiamat.&#8221; (3:54)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">            Di sini Tuhan telah membuat 4 perjanjian dengan Nabi Isa a.s. </span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">i.</span><span style="font-size: small;">                    </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">&#8220;mematikan engkau&#8221; (<em>tawaffa</em>) yakni, Nabi Isa a.s. tak akan dibunuh oleh kaum Yahudi, melainkan beliau akan meninggak secara wajar</span></p>
<p><em> <span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">ii.</span><span style="font-size: small;">                  </span></em> <span style="font-size: small;">&#8220;meninggikan engkau dihadapanKu&#8221; (<em>raf&#8217;a</em>) yakni, dia tidak mati disalib, yang mana Yahudi mencoba membuktikan dia itu terkutuk (ul 21:23), melainkan dia akan menerima kedekatan Ilahi.</span></p>
<p><em> <span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">iii.</span><span style="font-size: small;">                </span></em> <span style="font-size: small;">&#8220;membersihkan engkau dari orang-orang kafir&#8221; (<em>tathir</em>) yakni, dia akan dibersihkan dari semua tuduhan Yahudi, yang mana hal ini telah dilakukan oleh Nabi Suci saw.</span></p>
<p><em> <span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">iv.</span><span style="font-size: small;">                 </span></em> <span style="font-size: small;">&#8220;membuat orang-orang yang mengikuti engkau di atas orang-orang kafir sampai hari kiamat&#8221;, yakni pengikutnya akan berada di atas para pembangkangnya.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Ayat di atas membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah mati, karena <em>raf&#8217;a </em>(pengangkatan ke hadirat Ilahi) hanya bisa dicapai setelah mati, setelah semua selubung jasmani disingkirkan. Setiap orang tulus akan dianugrahi <em>raf&#8217;a </em> dihadapanTuhan setelah kematiannya. Nabi Suci bersabda:&#8221;ketika orang beriman mendekati kematiannay, para malaikat datang kepadanya. Jadi, bila orang tulus, mereka berkata:&#8221;wahai ruh yang suci! Keluarlah kau dari jasad yang suci, maka keluarlah ruh yang suci tersebut, lalu mereka membawanya ke surga dan dibukakanlah gerbang-gerbang surga itu untuknya&#8221; (Miskhat). </span></p>
<p><span style="font-size: small;">               Karenanya, sewaktu-waktu orang tulus meninggal, para Malaikat membawa <em>ruh</em>nya ke seruga. Begitu pula halnya yang terjadi dengan Nabi Isa a.s. , setelah kematianya, <em>ruh</em>nya diangkat ke surga dan dia bergabung di antara barisan orang-orang tulus yang telah mati.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">               Dengan demikian Tuhan telah memenuhi semua janji-janji  di atas dengan urutan: Dia menyelamatkan Nabi Isa a.s. dari tangan-tangan Yahudi, dan kemudian mewafatkannya dengan wajar, setelah kematiannya Tuhan memuliakan ruhnya dengan kedekatan Ilahi; Dia membersihkan segala tuduhan Yahudi melalui Nabi Suci saw. dan memberikan pengikutnya berada di atas kaum kafir.</span></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;">BUKTI KEDELAPAN: Umat kristiani tersesat setelah Nabi Isa a.s. wafat.</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">               Pernyataan Nabi Isa a.s. pada hari kiamat, bahwa umatnya akan menuhankan dia <em>setelah</em> kematiannya, demikianlah yang tertulis di Qur&#8217;an Suci .</span></p>
<p><span style="font-size: small;">&#8220;Da0n tatkala Allah berfirman: Wahai Isa Bin Maryam, apakah engkau berkata kepada manusia: ambillah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah. Dia menjawab: Maha Suci Engkau! Tak pantas bagiku mengtakan apa yang aku tak berhak mengatakannya. Jika aku mengatakan itu, Engkau pasti mengetahui. Engkau tahu apa yang ada dalam batinku, dan aku tak tahu apa yang ada dalam batin Engkau. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Tahu barang-barang gaib. Aku tak berkata apa-apa kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku yaitu: Mengabdilah kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu; <em>dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka, tetapi setelah engkau mematikan aku, Engkaulah Yang mengawasi mereka. Dan Engkau </em> <em>adalah Yang Maha menyaksikan segala sesuatu</em>&#8221; (5-116-117)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">               Inti bukti ini sebagai berikut:</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">i.</span><span style="font-size: small;">                    </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Nabi Isa a.s. akan menyangkal telah mengajarkan doktrin kristen yang sesat tentang ketuhannya</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">ii.</span><span style="font-size: small;">                  </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Dia akan menegaskan ajaran dia yang sebenarnya yang telah ia berikan kepada umatnya.</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">iii.</span><span style="font-size: small;">                </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Selama Nabi Isa a.s. berada di tengah-tengah mereka, pengikutnya memegang ajaran yang benar;</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">iv.</span><span style="font-size: small;">                 </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Setelah Nabi Isa a.s. <em>tawaffa</em> (diterjemahkan di atas dengan &#8220;Kau menyebabkan aku mati&#8221;) keyakinan mereka menjadi rusak.</span></p>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;">Arti dari Tawaffa</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">               Kamus-kamus bahasa Arab memberitahukan pada kita bahwa <em>tawaffa allahu fallanun</em>, yakni Tuhan telah melakukan <em> tawaffa</em> kepada seseorang artinya Tuhan mencabut nyawanya dan menyebabkan dia mati. Arti inilah yang diberikan oleh <em>Taj al-Urus, Al-Qamus, Surah, Asas Al-Balaghah, Al-Sihah,</em> dan <em>Kalyat abi-l-Baqa</em>.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">               Dalam ayat di atas, Nabi Isa a.s. berkata dalam dua periode yang berbeda, yang pertama menjelaskan kata-kata &#8220;selama aku berada di tengah-tengah mereka&#8221;, dan yang kedua tatkala hanya &#8220;Engkaulah yang mengawasi mereka&#8221;, mereka itu adalah umat Nabi Isa a.s. , Kristen. Dan periode kedua (hanya Tuhan saja yakni bukan Nabi Isa a.s. yang mengawasi mereka) dikarenakan <em>tawaffaitani</em> atau ketika Engkau mematikan aku (Nabi Isa a.s. )</span></p>
<p><span style="font-size: small;">               Sekarang menurut ayat di atas, umat Kristen memgang keyakinan yang benar dalam perode yang pertama, dan berpandangan sesat pada periode kedua. Sebagaimana Qur&#8217;an Suci memberitahukan kepada kita berulang-ulang dan seluruh umat Muslimpun meyakini, bahwa ajaran Kristen telah menjadi sesat (atau dengan kata lain periode kedua telah dimulai) dengan ditandainya kedatangan Nabi Suci. jadi Nabi Isa a.s. telah wafat dengan dimulainya periode yang kedua yang telah datang setelah <em> tawaffaitani </em> atau kematian Nabi Isa a.s. </span></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;">Ringkasan</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">               Menurut Qur&#8217;an Suci, Nabi Isa a.s. memegang tidak lebih dari ketiga posisi berikut ini:</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">i.</span><span style="font-size: small;">                    </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Beliau hanyalah manusia biasa diantara manusia biasa lainnya</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">ii.</span><span style="font-size: small;">                  </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Beliau adalah Nabiyullah diantara para Nabi lainnya; dan</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">iii.</span><span style="font-size: small;">                </span><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">Beliau adalah di antara mereka yang dituhankan manusia</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Yahudi mempercayai Nabi Isa a.s. sebagai manusia biasa, sementara umat Kristiani menuhankannya. Umat Muslim menerima beliau sebagai salah satu di antara para nabiyullah lainnya. Qur&#8217;an Suci membuktikan Nabi Isa a.s. telah wafat dalam keadaan ketiga posisi tersebut.</span></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;"> </span></strong></p>
<p><strong> <span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">I.</span><span style="font-size: small;">                   </span><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;">Nabi Isa a.s. sebagai manusia biasa:</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Qur&#8217;an Suci menyatakan: &#8220;Dan tiada Kami menciptakan manusia sebelum engkau (hai Muhammad) itu kekal, apakah jika engkau mati, mereka itu kekal?.&#8221; (21:34)<strong>. </strong>Ayat ini menunjukan bahwa tubuh manusia itu tak pernah kebal dari perubahan waktu, dan bahwa tubuh manusia itu harus hidup dan mati di bumi ini. Sebagaimana Nabi Isa a.s. itu menusia biasa – dia juga harus tunduk kepada sunatullah yang telah ditentukan kepada manusia karena menurut ketentuan Qur&#8217;an Suci &#8220;setiap jiwa harus merasakan mati&#8221; – Nabi Isa a.s.telah wafat. </span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">II.</span><span style="font-size: small;">                 </span><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;">Nabi Isa a.s. sebagai seorang Nabi:</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;">&#8220;Dan Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang utusan; sebelum dia telah berlalu para utusan.&#8221; (3:143). Ayat ini membuktikan kematian <em>seluruh </em>Nabi yang lalu pada waktu diturunkannya wahyu tersebut, dengan demikian Nabi Isa a.s. telah wafat pada waktu itu.</span></p>
<p><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;">III.</span><span style="font-size: small;">               </span><span style="text-decoration: underline;"> <span style="font-size: small;">Nabi Isa a.s. sebagai yang dianggap tuhan:</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;">Dalam hal semua yang dianggap tuhan selain Allah, Qur&#8217;an Suci memberitahukan kepada kita&#8221;mereka mati tidak hidup, dan mereka tak tahu kapan dibangkitkan.&#8221; (16:21). Ini telah diketahui secara universal <strong>, </strong>dan ditegaskan oleh Qur&#8217;an Suci bahwa umat Kristiani meyakini Nabi Isa a.s. sebagai tuhan dan menyerunya di dalam sembahyang mereka. Jadi menurut ayat di atas, Nabi Isa a.s. telah meninggal; dan &#8220;tak akan pernah menjawab do&#8217;a mereka hingga hari kiamat&#8221;.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">                Karena itu secara lengkap dan tuntas terbukti bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat lama sekali, dan kepercayaan terhadap kelangsungan hidupnya adalah bertentangan dengan ajaran Qur&#8217;an Suci yang terang benderang.</span></p>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<h1><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-size: small;"> Bukti dari Hadits</span></span></h1>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p><span style="font-size: small;">Telah kami tunjukan bukti-bukti dari ayat Al-Qur’an ayng menyatakan bahwa Nabi Isa a.s. tidak hidup di langit melainkan beliau telah wafat di zamannya sebagaimana para nabi lainnya yang juga telah wafat. Oleh karena itu   seharusnya tidak ada lagi keraguan sedikitpun di benak para orang bijak dan para pecinta kebenaran tentang masalah ini. Namun untuk lebih memuaskan para pencari kebenaran, kami akan menghadirkan beberapa hadits dari Nabi Suci saw., orang yang menerima wahyu Al-Qur,an, dan sebagai orang yang paling benar dalam penafsiran Qur&#8217;an Suci , untuk masalah ini seharusnya setiap dan segenap Umat Muslim tunduk sepenuhnya terhadap penafsiran dan keputusan Nabi Suci saw. </span></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;"> </span></strong></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;">Hadits Pertama: a</span><span style="font-size: small;">rti dari Tawaffa</span></strong><span style="font-size: small;">.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">“Diriwayatkan oleh Ibn Abbas bahwa Nabi Suci saw. Bersabda dalam suatu khotbahnya: Wahai saudara-ssaudara sekalian! Kalian akan dikumpulkan oleh Tuhanmu (pada hari kiamat)…. Dan beberapa orang dari umatku akan diambil dan dilemparkan ke neraka. Aku akan berkata ‘Oh Tuhan, tapi mereka adalah dari umatku’ Akan dijawab:’ Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan setelah kepergianmu”. Lalu aku akan berkata sebagaimana perkataan hamba Allah yang tulus (yakni Nabi Isa a.s. ): “<em>Aku akan menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka, tetapi setelah Engkau mematikan aku (tawaffaitani). Engkaulah yang mengawasi mereka</em>”…..</span></p>
<p><span style="font-size: small;">(<em>Bukhari</em>, <em>Kitab al-Tafsir</em>, <em>dibawah Surat Al-Maidah</em>)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">kalimat terakhir dari sabda Nabi Suci saw. (‘aku menjadi saksi atas mereka…) diambil dari ayat Qur&#8217;an Suci yang mana telah dijawab oleh Nabi Isa a.s. sebagai suatu sangkalan pada hari kiamat. Adalah disetujui oleh seluruh umat Muslim, ketika kalimat ini digunakan oleh Nabi Suci saw. Pada hadits di atas, arti dari <em>tawaffaitani </em> adalah ‘engkau mematikan aku’ jadi jelaslah kalimat tersebut mempunyai arti yang sama ketika digunakan oleh Nabi Isa a.s. yakni ketika Nabi Isa a.s. diambil dari umatnya oleh kematiannya bukan diangkat hidup-hidup ke langit.</span></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;"> </span></strong></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;">Hadits kedua: S</span><span style="font-size: small;">emua Nabi pasti mati</span></strong><span style="font-size: small;">.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Pada saat menjelang ajalnya, Nabi Suci saw.. masuk ke mesjid dengan dibantu oleh dua orang untuk mengatakan hal ini:</span></p>
<p><span style="font-size: small;">“Wahai saudara-saudara sekalian!. Aku mendengar bahwa kalian takut akan kematian Nabimu. Apakah para Nabi sebelumku itu ada yang mampu mempertahankan hidupnya sehingga aku masih punya harapan untuk bersamamu lagi?. Dengarlah! Sebentar lagi aku akan menemui Tuhanku, begitu juga dengan kalian. Jadi aku meminta pada kelian untuk memperlakukan  kaum muhajir dengan baik”</span></p>
<p><span style="font-size: small;">(<em>Al-anwar ul-Muhammadiyya min al-Muwahib lil-dinnyya, Egypt, hal 317</em>)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">hadits ini diakhirai dengan mengutip tiga ayat Qur&#8217;an Suci: “<em>Muhammad itu tiada lain hanyalah utusan; sebelum dia, telah berlalu banyak utusan</em>” (3:143)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">“<em>dan tiada kami menciptakan manusia sebelum engkau itu kekal</em>” (21:34); dan <em>Dan Kami tak membuat mereka (para Nabi) tubuh yang tak makan-makanan, dan tak pula mereka kekal</em>” (21:8). Bila seandainya ada beberapa nabi yang masih hidup, pastilah Nabi Suci. tak dapat berkata seperti hadits di atas. Jadi jelaslah bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat pada waktu itu.</span></p>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;">Hadits Ketiga</span></strong><span style="font-size: small;">: </span><strong> <span style="font-size: small;">Wafat sebelum Usia 100 tahun</span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">1.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-size: small;">“Tak ada seorangpun yang hidup hingga kini melainkan akan wafat sebelum seratus tahun berlalu” (<em>Muslim. Kunz al-ummal</em>, vol.7.170)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">2.</span><span style="font-size: small;">       </span><span style="font-size: small;">“Nabi Suci saw. Bersabda: ‘Allah mengirimkan angin setiap seratus tahun untuk mengambil tiap-tiap jiwa orang Mu’min” (<em>Mustadrak</em>, vol.4, p. 475)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">hadits-hadits tersebut menunjukan bahwa setiap orang  yang masih hidup di masa Nabi Suci saw. Akan wafat sebelum seratus tahun berlalu, bila Nabi Isa a.s. masih hidup ( di langit sebagaimana yang dikira orang) dia pasti telah wafat dalam perode tersebut.</span></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;"> </span></strong></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;">Hadits keempat</span><span style="font-size: small;">: Nabi Isa a.s. berusia 120 tahun</span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Aishah a.s. berkata bahwa, pada saat menjelang kematiannya, Nabi Suci saw. Bersabda :’ setiap tahun Jibril biasanya mengulangi pembacaan Qur&#8217;an Suci denganku sekali, namun pada tahun ini dia melakukan hal tersebut dua kali, dia memberitahukan padaku bahwa tak ada nabi melainkan hidup selama separuh dari usia nabi yang terdahulunya. Dan dia juga berkata padaku bahwa Nabi Isa a.s. hidup selama seratus dua puluh, dan aku menyadari bahwa aku akan meninggalkan dunia ini diawal usia enam puluhan” (<em>Hajaj at-Kiramah</em>, p. 428:<em> Kanz al-Ummal</em>, vol. 6, p. 160, dari Hadrat Fatima; dan <em>Mawahib al-Ladinya</em>, vol. 1, p.42).</span></p>
<p><em> <span style="font-size: small;">Tabrani</span></em><span style="font-size: small;"> berkata tentang hadits ini: Hadits nya sangatlah dapat di percaya , dan dirawikan dengan beberapa versi:. Hadits tersebut tak ada keraguannya sedikitpun yang bukan hanya mengumumkan kematiannya Nabi Isa a.s. malainkan menyatakan usianya yakni 120 tahun. Dan diriwayatkan paling tidak melalui tiga jalur: Dari Aishah, ibn Umar dan Fatima. Karena itu Hadits tersebut sangatlah jelas membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat.</span></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;"> </span></strong></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;">Hadits Kelima</span><span style="font-size: small;">: Nabi Isa a.s. telah wafat seperti Musa</span></strong><span style="font-size: small;">.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">i.</span><span style="font-size: small;">                    </span><span style="font-size: small;">Nabi Suci saw. Bersabda: “seandainya Musa atau Isa masih hidup, mereka pasti mengikutiku (<em>Al-Yawaqit wal-Jawahir</em>, hal. 240; <em>Fath al-Bayan</em>, vol. 2 hal 246; <em>tafsir Ibn Kathir</em>, dibawah ayat 81, <em>surat Ali-Imran</em>)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">ii.</span><span style="font-size: small;">                  </span><span style="font-size: small;">“Seandainya Isa masih hidup dia pasti mengikutiku” (<em>Shrah Fiqh Akbar</em>, Egyptian ad., hal 99)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">iii.</span><span style="font-size: small;">                </span><span style="font-size: small;">“Bila  Musa dan Isa masih hidup, mereka pasti mengikutiku” (<em>Al-Islam</em>, dipublikasikan oleh The Fiji Muslim Youth Organization, vol.4 oct 1974)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Hadits-hadits tersebut di atas jelas menunjukan bahwa baik Musa maupun Isa dianggap telah wafat Oleh Nabi Suci saw. </span></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;"> </span></strong></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;">Hadits Keenam</span><span style="font-size: small;">: Makam Nabi Isa a.s. </span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Nabi Suci saw. Bersabda:” semoga Allah melaknat Yahudi dan Kristiani yang membuat kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah”. (<em>Bukhari, Kitab as-Salat</em>, hal 296).</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Nabi Suci saw. Bersabda seperti demikian di atas dikarenakan beliau sangat khawatir bahwa umat Muslim yang seharusnya terhindar dari kesalahan dengan membuat makam dari nabi mereka menjadi tempat ibadah seperti yang telah dilakukan oleh Yahudi dan Kristiani terhadap makam nabi-nabi mereka. <em>Yahudi </em>mempunyai banyak nabi namun nabi yang sangat dikenal oleh umat Kristiani hanyalah satu – Nabi Isa a.s. .hadits ini menunjukan keyakinan Nabi Suci saw. terhadap makamnya Nabi Isa a.s.  dan sebenarnya tempat inilah (makam tersebut ) dimana Nabi Isa a.s. bersembunyi setelah diturunkan dari salib ( hingga beliau sembuh dari luka-lukanya),  yang mana umat Kristiani memujanya dengan berlebih-lebihan. Jelaslah menurut hadits ini, Nabi Isa a.s. tidak diangkat ke langit.</span></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;"> </span></strong></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;">Hadits ketujuh</span><span style="font-size: small;">: Nabi Isa a.s. dalam jamaah orang yang telah wafat.</span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Dalam berbagai hadits tentang Mi’rajnya Nabi Suci saw. Diriwayatkan:</span></p>
<p><span style="font-size: small;">i. “Adam di langit pertama…Yusuf di langit kedua, dan sepupunya Yahya (sipembaptis) dan Isa sendiri dilangit ketiga, dan Idris dilangit keempat” (Kanz al-Ummal. Vol.VI, hal. 120)</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Nabi Suci saw. melihat Nabi Yahya a.s. dan Nabi Isa a.s. <em> berada ditempat yang sama</em>; dan sebagaimana setiap para nabi yang terdahulu terlihat dalam Mi’raj telah wafat, maka  pasti Nabi Isa a.s. pun telah wafat. </span></p>
<p><span style="font-size: small;">ii. Hadits di atas dikuatkan dengan hadits lainnya yang mengatakan bahwa dalam Mi’rajnya, Nabi Suci saw. menjumpai ruh para nabi (<em>tafsir ibn Kathir</em>, Urdu ed. Diterbitkan  di Karachi. Vol III. Hal. 28).</span></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;"> </span></strong></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;">Hadits kedelapan</span><span style="font-size: small;">: “Turunya” Nabi Isa a.s. di malam Mi’raj.</span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">Sebuah hadits tentang <em>Mi’raj </em>mengisahkan:</span></p>
<p><span style="font-size: small;">“lalu Nabi Suci saw. turun di Yerusalem bersama-sama dengan seluruh nabi. Pada saat sembahyang beliau mengimami mereka semua dalam sembahyang” (<em>tafsir ibn Kathir</em>, Urdu ed, vol LII hal. 23).</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Diantara “seluruh” nabi adalah termasuk Nabi Isa a.s. . Seandainya dia, berbeda dengan nabi-nabi lainnya, masih hidup dengan badan wadagnya di langit, maka “turunya” beliau di Yerusalem pasti dengan badan wadagnya pula. Dalam hal ini, beliau harus diangkat kelangit dua kali dengan badan wadagnya pula, namun Qur&#8217;an Suci menerangkan hanya sekali <em>raf’ </em> nya(“pengangkatan” yang disalah mengertikan sebagai pengangkatan secara wadag ke langit”) Nabi Isa a.s. !</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Kesulitan ini tak akan timbul bila kita meyakini, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam berbagai hadits tentang <em> Mi&#8217;raj</em>, bahwa Nabi Isa a.s. berada dalam keadaan yang sama (yakni wafat) dengan para nabi lainnya yang dilihat Nabi Suci saw. dalam ru&#8217;yahnya.</span></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;"> </span></strong></p>
<p><strong> <span style="font-size: small;">Hadits Kesembiilan: </span><span style="font-size: small;">Diskusinya Nabi Suci saw. dengan utusan Kristen.</span></strong></p>
<p><span style="font-size: small;">“ketika enam puluh orang utusan (kristen) dari  Najran mendatangi, kepala pendeta mereka mendiskusikan dengan beliau mengenai kedudukan Nabi Isa a.s. dan menanyakan kepada beliau prihal ayahnya Nabi Isa a.s. Nabi Suci saw. bersabda: ‘tidakkah engkau tahu bahwa seorang anak menyerupai ayahnya? Mereka menjawab ‘benar’. Sabdanya lagi:</span></p>
<p><em> <span style="font-size: small;">A lastum ta’ lamuna anna rabbana layatu wa anna ‘Tsa ata’alaihi-fana’</span></em></p>
<p><span style="font-size: small;">Artinya</span><em><span style="font-size: small;">:”Tidakkah engkau mengetahuinya bahwa Tuhan kita kekal sedangkan Isa binasa”</span></em></p>
<p><span style="font-size: small;">(<em>Abab an-nuzul </em>oleh Imam Abu-l0hasan Ali bin Ahmad al-wahide dari Neshapur, di terbitkan di Mesir, hal 53).</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Betapa jelasnya pernyataan tersebut bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat dan tak lebih dari apa yang disabdakan oleh Nabi Suci saw. tersebut.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadiyah.org/2011/10/kematian-nabi-isa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A H M A D I Y A H</title>
		<link>http://ahmadiyah.org/2011/10/a-h-m-a-d-i-y-a-h/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=a-h-m-a-d-i-y-a-h</link>
		<comments>http://ahmadiyah.org/2011/10/a-h-m-a-d-i-y-a-h/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 03:03:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadiyah.org/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[&#160; oleh: Mardiyono Ada hadis Nabi SAW “Sungguh Allah SWT akan mendatangkan pada setiap awal seratus tahun seorang yang akan memperbarui agamanya”  (Abu Daud 36:1). Pembaharu agama dinamakan mujaddid atau Imam Zaman. Tugas khususnya adalah menuntun umat untuk “Kembali pada Qur’an dan Sunah Rasul”. Untuk abad ke XIV Hijriyah Imam Zamannya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p align="center">oleh<strong>: Mardiyono</strong></p>
<p align="center">
<p>Ada hadis Nabi SAW <strong>“Sungguh Allah SWT akan mendatangkan pada setiap awal seratus tahun seorang yang akan memperbarui agamanya” </strong> (Abu Daud 36:1). Pembaharu agama dinamakan mujaddid atau Imam Zaman. Tugas khususnya adalah menuntun umat untuk <strong>“Kembali pada Qur’an dan Sunah Rasul”. </strong>Untuk abad ke XIV Hijriyah Imam Zamannya<strong> Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (HMGA). </strong>Beliau memproklamirkan diri dalam tulisannya Khamamatul Busyro hlm 354: <strong>“Demi Allah, benarlah bahwa aku adalah pengikut Nabi Muhammad SAW. Dan demi Allah, benarlah bahwa aku datang daripada-Nya sebagai mujaddid” </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Memproklamirkan diri itu perlu sekali. Nabi Besar dahulu memproklamirkan diri: <strong>“Sungguh aku adalah rasul Allah untuk kamu semua”</strong> (QS 7:158). Oleh proklamasi diri sebagai seorang utusan Allah umat akan segera terpisah menjadi golongan-golongan yang menerima dan yang menolak. Tetapi juga ada mereka yang ragu dan yang munafiq.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain sebagai mujaddid Imam HMGA juga memproklamirkan diri dalam Khutbah Ilhamiyah hlm 4 sebagai <strong>Imam Mahdi</strong> dan <strong>Masih Mau’ud</strong> <strong>“Sungguh aku adalah Al Mahdi, juga bernama Al Masih yang kedatangannya ditunggu-tunggu”.</strong> Menurut hadis memang haruslah Imam Mahdi dan Masih Ma’ud  satu orang.<strong> “Tidak ada Mahdi kecuali Isa”</strong> (Ibnu Majah) dan tokoh Masih Mau’ud haruslah  Islam (Bukhori, Muslim).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Imam HMGA mendirikan gerakan yang dinamakan AHMADIYAH, diambil dari AHMAD, yang adalah nama  Nabi Besar SAW (QS 6:16) yang mempunyai aspek <strong>jamali,</strong> yaitu KEINDAHAN. Maka nama Ahmadiyah sepertinya memberi indikasi, bahwa Kemenangan Islam yang bakal datang haruslah dimulai dengan manifestasi <strong>KEINDAHAN ISLAM.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada karakteristik-karakteristik Ahmadiyah,</p>
<p><strong> Pertama:</strong> Ahmadiyah didirikan oleh seorang mujaddid yang bergelar Masih Mau’ud dan Imam Mahdi. Pemuka agama-agama lain dan gerakan-gerakan Kebatinan sedunia, demikian juga pemuka Islam menunggu-nunggu datangnya Imam Mahdi, umpama dengan nama “World-teacher” dan Masih Mau’ud, umpama dengan nama “The Promised Messiah”. Tetapi sama dengan semua Nabi dan semua Mujaddid, begitu yang ditunggu-tunggu datang, ada dari umat yang segera menerimanya, dan ada yang menolaknya hingga sekarang, sisanya ragu, munafiq atau memang tidak tahu. Memang <strong>kebenaran membuktikan diri dengan ada dari umat yang menolak, bahkan memfitnah dan menentang, tetapi tetap eksis, bahkan pengaruhnya makin meluas.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Karakteristik lain ialah bahwa Ahmadiyah telah membuka banyak sekali misi Islam di Barat, yaitu Eropa dan Amerika dengan hasil yang nyata. Satiris dan humoris termashur Bernard Shaw menulis pada awal abad yang lalu dalam Getting Merried (1929): <strong>“Bahkan dewasa ini banyak dari bangsaku (Inggris) dan dari Eropa yang sudah melimpah ke agama Muhammad. Dan dapat dikatakan bahwa Islamasisasi Eropa sudah dimulai”.</strong> Nabi Besar SAW meramalkan; <strong>‘Matahari akan terbit di Barat”,</strong> yaitu matahari Islam, sehingga kebesaran Islam akan dimulai dari Barat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Karakteristik Ahmadiyah yang lain: Imam HMGA datang untuk menegakkan<strong> FATHI ISLAM atau Kemenangan Islam. </strong> Beliau meramalkan: “Islam akan lahir kembali dengan pembaharuan kekuatan dan keindahan sebagaimana yang dialami dahulu. Matahari Islam akan naik ke langit dengan kemegahannya seperti pada zaman dahulu”, yaitu selama beberapa abad setelah datangnya Nabi Besar SAW.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Karakteristik Ahmadiyah yang lain: Menurut hadis Rasul mereka yang tidak menerima Imam zamannya akan mati jahiliyah. <strong> “Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa mati sedang ia tidak mengenal Imam Zamannya, akan mati dengan kematian jahiliyah” </strong>(Musnad Ahmad IV/94). Juga <strong> “Barangsiapa tidak mengenal Imam Zamannya akan mati dengan kematian jahiliyah” </strong>(Abu Daud dan Kanzul Umal III/200). Mati jahiliyah ialah matinya penyembah berhala pada zamannya Nabi Besar SAW. Tanpa disadari kini berhalanya ialah Keduniaan dan “Kebodohan”  yang membuat umat Islam  “underdog”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Imam HMGA bergelar Imam Zaman, Imam Mahdi dan Masih Mau’ud. Sebagai <strong>Imam Zaman</strong> beliau adalah Reformis mengajak umat Islam untuk mengatasi krisis-krisis yang melanda umat, mengangkat umat dari keadaan “underdog” dengan menuntun umat  untuk berhasil dalam “Kembali pada Qur’an dan Sunah Rasul”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai<strong> Imam Mahdi</strong> beliau adalah pelopornya dalam menegakkan Fathi Islam, yaitu hegemoni dunia yang berada di tangan umat Islam, terulangnya kembali zaman keemasan umat Islam selama beberapa abad setelah datangnya Nabi Besar SAW dengan umat Islam menjadi mercu suar untuk bangsa-bangsa lain dalam ilmu pengetahuan, pemerintahan, kesejahteraan, peradaban, kebudayaan, akhlakul karimah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai <strong>Masih Mau’ud</strong> (Bukhori 60:57) HMGA bertugas untuk <strong>“mematahkan salib”</strong> (Bukhori 4:356 dan Muslim 2:189), yaitu mematahkan pengaruh Gereja dengan <strong>argumentasi</strong> <strong>atau dalil-dalil </strong>(Kanzul Umal VII/2076), dan inilah yang sedang dikerjakan di Barat oleh misi-misi Islam yang Ahmadiyah. Qur’an diterjemahkan kedalam bahasa-bahasa Barat, disebarluaskan di antara masyarakat Barat yang memang sedang haus akan kebenaran. Juga buku-buku Islam yang lain. Nabi SAW bersabda <strong> “Tiada fitnah yang melebihi fitnah Dajjal sejak terciptanya Adam sampai akhir zaman”. </strong>Imam HMGA menunjukkan, bahwa Dajjal adalah Gereja yang kini sedang sibuk dengan Kristenisasinya diantara umat-umat yang Islam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sangat dapat dirasa, bahwa dewasa ini sedang berkecamuk <strong>Perang Salib yang kedua. </strong>Perang Salib pertama berlangsung dengan senjata pedang dan dimenangkan oleh umat Islam. Perang Salib yang sekarang tentu akan dimenangkan lagi oleh umat Islam, sebab senjatanya adalah argumen-argumen atau dalil-dalil. Senjata-dalil umat Islam teramat kuat, sedang senjata dalil Gereja sama sekali tak berarti. Maka dari itu Gereja selalu menghindari “perang dalil”. Sebaliknya Gereja menggembleng diri dengan senjata fitnah Dajjal. Islam difitnah habis-habisan. Disebar luaskan, bahwa umat Islam “underdog”, karena agamanya tidak benar, Nabinya palsu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadiyah.org/2011/10/a-h-m-a-d-i-y-a-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sistem Hidup Islam</title>
		<link>http://ahmadiyah.org/2011/10/sistem-hidup-islam/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=sistem-hidup-islam</link>
		<comments>http://ahmadiyah.org/2011/10/sistem-hidup-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 03:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadiyah.org/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Islam bukan hanya sebuah sistem ritual, melainkan juga sebuah sistem hidup. Sistem ritual yang kami maksud adalah serangkaian praktik peribadatan atau cara-cara menyembah Allah. Di sebagian masyarakat Jawa, misalnya, hingga saat ini masih ada tradisi-tradisi yang harus dilakukan sebagai sesuatu yang dianggap wajib, misalnya: kenduri, membuat sesaji, dan lain-lain. Orang akan merasa berdosa jika tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial;">Islam bukan hanya sebuah <em>sistem ritual</em>, melainkan juga sebuah sistem hidup. Sistem ritual yang kami maksud adalah serangkaian praktik peribadatan atau cara-cara menyembah Allah. Di sebagian masyarakat Jawa, misalnya, hingga saat ini masih ada tradisi-tradisi yang harus dilakukan sebagai sesuatu yang dianggap wajib, misalnya: kenduri, membuat sesaji, dan lain-lain. Orang akan merasa berdosa jika tidak melakukan itu. Tetapi dalam banyak kasus, mereka melakukan itu tanpa mengerti maksud dan tujuannya, kecuali sekedar tradisi yang harus dilakukan. Orang sudah merasa tenteram hatinya jika sudah melakukan tradisi-tradisi itu.</span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial;"> Islam tentu bukan sekedar tradisi, atau istilah kami &#8220;sistem ritual&#8221; seperti itu. Artinya, setiap bentuk peribadatan memiliki tujuan yang amat sangat dalam, terutama pada aspek rohani, meskipun memiliki juga dampak pada aspek-aspek fisik, misalnya terhadap kesehatan, aspek sosial, dll. Semua praktik peribadatan dalam Islam, sebenarnya semacam pintu gerbang untuk memasuki suatu sistem hidup yang spesifik, yang seharusnya berbeda dengan sistem hidup-sistem hidup lain. Kita mengenal berbagai sistem hidup itu, misalnya sistem hidup kapitalis, sistem hidup sosialis, dll.</span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial;"> Sistem hidup yang dikembangkan oleh Islam adalah sistem hidup dan seluruhnya mengacu kepada sifat-sifat Allah. Allah adalah <em>rabbu-l &#8216;alamin</em>, misalnya. Kata<em> Rabb</em>, dalam pengertian ini adalah &#8216;Yang menciptakan lalu menyempurnakan&#8221; (lihat Q.s. Al-A&#8217;laa [87]: 2). Secara singkat, maksudnya adalah bahwa Allah selalu berbuat kebaikan atau demi kebaikan dan terus berupaya meningkatkan kebaikan itu sampai tingkat yang sempurna. Allah adalah pemilik <em>asma&#8217;ul khusna</em> (nama-nama [dalam pengertian sifat] yang terbaik), yang jumlahnya tidak terhingga, sama tak terhingganya Dzat Allah itu sendiri, yang merupakan satu kesatuan yang utuh (esa). Sehingga, semua praktik peribadatan dalam Islam berorientasi ke sana.</span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial;"> Secara sederhana, beberapa contoh dapat dikemukakan di sini,</span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial; font-size: medium;">(1) Ibadah Shalat. </span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial;"> Ibadah ini dimaksudkan untuk membentuk sikap selalu mengagungkan kebesaran Allah, yang berarti, yang memiliki kebesaran itu sesungguhnya hanya Allah. Kalau manusia bisa hebat itu sungguh-sungguh karena kehebatan Allah semata (<em>laa khaula wa laa quwwata illa billaah</em>), dan oleh karena itu orang &#8216;diwajibkan&#8217; untuk mengawali setiap aktivitasnya dengan ucapan <em>Bismillaahirrahmaanirrahiim</em>. Kecuali itu shalat juga membentuk sikap rendah hati. Shalat juga mengajarkan kesetaraan. Tidak ada orang yang merasa lebih baik, lebih hebat, dst., karena yang paling baik, paling hebat hanyalah Allah. Jika shalat berjamaah memiliki nilai pahala yang lebih tinggi, maka dalam praktik hidup berjamaah (net work) akan memiliki peluang keberhasilan lebih tinggi juga, sepanjang tidak ada yang merasa lebih hebat dari yang lain: pemilik modal tidak merasa lebih penting dari pekerja, pimpinan tidak merasa lebih penting dari bawahan. Birokrat tidak merasa lebih hebat dari rakyat. Ayah tidak merasa lebih penting dari ibu. Guru tidak merasa lebih penting dari murid, dst. Keberhasilan hanya akan terwujud jika ada kesetaraan. Dalam shalat berjamaah, imam dan makmum sama-sama pentingnya, pahalanya juga sama. Imam tidak mendapat bonus pahala tersendiri dari Allah. Adanya kesetaraan yang diajarkan oleh shalat juga akan menuntun kita dalam praktik hidup lainnya, misalnya dalam hal perniagaan. Pembeli tidak merasa lebih tinggi dari penjual, dan sebaliknya. Pembeli tertolong oleh penjual, dan penjual juga tertolong oleh pembeli. Penjual tidak akan merugikan pembeli, sebaliknya pembeli juga tidak mau kalau penjual rugi. Bahkan nonton konser musik atau pertunjukan sepak bola, kalau memang harus bayar, tentu tidak mau gratis.</span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial; font-size: medium;">(2) Puasa. </span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial;">Ibadah ini akan menumbuhkan sikap simpati dan empati atas penderitaan orang lain. Sikap ini tentu akan melahirkan suka menolong orang lain. Dia mampu melakukan puasa karena kekuatan yang diberikan oleh Allah, maka dia menolong orang lain juga bukan semata-mata karena dia sendiri, tetapi yang menolong adalah Allah, meskipun melalui tangan, kaki, atau pikirannya. Allah menolong dia tanpa pamrih, maka dia juga akan menolong orang lain tanpa pamrih.</span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial; font-size: medium;">(3). Zakat. </span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial;">Ibadah ini memiliki banyak aspek. Aspek sosial dan aspek ruhani, paling tidak. Secara sosial sudah sangat jelas. Dalam hal ini yang penting adalah sikap batin. Ketika seseorang mengeluarkan zakat, bukan berarti dia lebih hebat ketimbang penerima zakat. Sikap batinnya adalah: dia mendapatkan harta yang banyak itu karena bantuan Allah semata. Kalau dia harus bekerja keras untuk mendapatkan harta, kemampuan kerja keras itu karena bantuan Allah. Orang lain, mungkin bekerja lebih keras dari dia, tetapi tidak mendapatkan hasil yang banyak. Ibarat orang menggali sumur, ada yang baru lima-enam meter dalamnya, airnya sudah melimpah. Sementara orang lain, menggali hingga puluhan meter belum juga menemukan sumber air. Yang tersebut belakangan ini tentu bekerja lebih keras dan lebih lama, tapi hasilnya nihil. Maka berzakat sesungguhnya hanyalah memindahkan milik Allah kepada orang lain, melalui tangan kita. Aturan 2,5% adalah batas minimal. Di luar itu harus diupayakan dan terus ditingkatkan.</span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial;">Secara ruhaniah, zakat memiliki nilai yang sangat tinggi. Kalau zakat diartikan &#8220;menumbuhkan&#8221; atau &#8220;menyucikan&#8221;, pengertiannya luas sekali. &#8220;Menumbuhkan&#8221; bisa berarti mengembangkan manfaat dari harta itu. Menyimpan kelebihan uang kebutuhan belanja di brankas, di almari atau di bank, berarti tidak bermanfaat. Apakah menyimpan uang di bank ada jaminan keamanan? Ternyata tidak juga. Kalau kita sakit dan harus rawat inap di rumah sakit, tabungan kita di bank terpaksa kita ambil (catatan: tetapi sama sekali tidak boleh mengatakan bahwa orang yang sakit berarti tidak berzakat. Sakit, bagi manusia juga sangat penting, sama pentingnya dengan sehat). Qur&#8217;an Suci melarang sifat &#8220;musrifin&#8221; yang arti harfiahnya &#8220;berlebihan&#8221;. Istilah itu juga mengandung isyarat bahwa kita tidak boleh menguasai/menyimpan barang, yang sebenarnya tidak kita perlukan, sementara orang lain sangat memerlukan (istilah dalam bahasa Jawa:muspro). Dalam kisah kaum sufi, konon mereka tidak akan menyimpan bahan makan lebih dari kebutuhan sehari, kalau tetangganya masih ada yang tidak bisa makan.</span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial;">Kata &#8220;menumbuhkan&#8221; juga berarti bertambah banyak. Ini janji Allah, bahwa orang yang bersedekah dengan ikhlas itu ibarat menanam biji yang tumbuh menjadi tujuh cabang, yang masing-masing terdapat 100 biji. Jadi, kalau kita mendapat harta, sebenarnya karena Allah itu Arrahiim, melipatgandakan kebaikan dari kebaikan yang kita lakukan. Kalau kita menanam sebutir biji mangga, hasilnya bisa ribuan mangga. Itu Rahimiyah Allah. Zakat bisa berarti &#8220;membersihkan&#8221;. Pertama, membersihkan harta yang kita kuasai. Mungkin, harta perolehan kita, meskipun kita sudah hati-hati, masih ada juga yang sesungguhnya bukan hak kita. Kedua, membersihkan atau menghilangkan prasangka buruk orang lain. Berprasangka buruk itu dalam banyak hal dosa (Q.s. Al-Hujurat [49]: 12). Kalau kita kaya, biasanya ada orang yang kasak-kusuk bahwa kekayaan kita itu hasil korupsi, dapat warisan, dll. Dengan zakat, sedekah, dll. prasangka buruk itu, insya Allah, tidak akan muncul.</span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial; font-size: medium;">(4) Haji </span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial;">Ibadah ini sungguh istimewa. Boleh dibilang sebagai puncaknya ibadah. Kalau disebut puncak, bukan berarti orang bisa secara tiba-tiba berada di puncak. Artinya, puncak itu harus didaki dari bawah. Beribadah haji itu praktis mengorbankan segala-galanya: harta, tenaga, waktu, dll. Pendek kata, segala yang bersifat jasmani/materi dikorbankan. Dia menjadi manusia yang terputus sama sekali dengan urusan duniawi. Jika ibadah haji bisa dihayati sampai tingkat seperti itu, maka pertemuan dengan Allah bukan lagi teori, tetapi sunguh-sungguh riil. Jika orang lain menyaksikan kebesaran Allah baru pada tingkat &#8220;ilmu&#8221;, dia sudah menjadi realita. Tak ada lagi tabir antara dia dengan Allah.</span></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><span style="font-family: Arial;">Kita tentu bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila semua jamaah haji kita, sepulang dari Tanah Suci, tetap membawa semangat (ruh) ibadah haji. Berkorban sehebat-hebatnya dengan harta, tenaga, waktu dll. demi kesejahteraan orang lain. (wallahu a&#8217;lam bish-showab) [MYN]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadiyah.org/2011/10/sistem-hidup-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapakah yang Disebut Muslim?</title>
		<link>http://ahmadiyah.org/2011/10/siapakah-yang-disebut-muslim/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=siapakah-yang-disebut-muslim</link>
		<comments>http://ahmadiyah.org/2011/10/siapakah-yang-disebut-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 03:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadiyah.org/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Seseorang disebut Muslim kalau ia penganut agama Islam. Kata Islam berasal dari salm atau silm yang kedua-duanya berarti damai. Jadi kata Islam artinya masuk dalam perdamaian. Dengan demikian seorang Muslim adalah orang yang telah memasuki perdamaian. Jika kata salm digubah menjadi aslama, misalnya seperti digunakan dalam Q.s. 2 : 112, maka berarti orang yang berserah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span style="font-family: Arial;">Seseorang disebut <em>Muslim </em>kalau ia penganut agama Islam. Kata <em>Islam</em> berasal dari <em>salm</em> atau <em>silm</em> yang kedua-duanya berarti <em>damai</em>. Jadi kata <em>Islam</em> artinya <em>masuk dalam perdamaian</em>. Dengan demikian seorang Muslim adalah orang yang telah memasuki perdamaian. Jika kata <em>salm</em> digubah menjadi <em>aslama</em>, misalnya seperti digunakan dalam Q.s. 2 : 112, maka berarti orang yang berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Oleh karena itu seorang Muslim adalah seseorang yang damai dengan Allah dan damai dengan orang lain. Damai dengan Allah berarti berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah, sedangkan damai dengan sesama, bukan saja dalam arti menjauhi berbuat jahat dan sewenang-wenang kepada orang lain, melainkan juga berbuat baik atau demi kebaikan orang lain. Dalam Q.s. 2 : 112 Allah Swt. menyatakan :&#8221;Ya, barangsiapa berserah diri sepenuhnya kepada Allah (aslama) dan berbuat baik kepada orang lain, ia memperoleh pahala dari Rabb mereka, dan tiada ketakutan akan menimpa mereka dan mereka tak akan susah.&#8221;</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Arial;">Kendati secara syar&#8217;i keislaman didasarkan pada lima hal, yakni : mengucapkan dua kalimat syahadat, mengerjakan shalat, membayar zakat, berpuasa setiap bulan Ramadhan dan naik haji ke Makkah, tetapi dalam praktik pengakuan kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang pantas disembah dan Muhammad sebagai Utusan-Nya (yang terformulasi dalam Dua Kalimat Syahadat: Asyhadu allaa ilaaha illa-llooh wa asyhadu anna Muhammada-rrosuulu-llooh), dianggap sebagai garis pemisah antara Muslim dan non-Muslim, bahkan meskipun pengakuan itu tidak lebih dari ucapan kosong. Dalam kenyataan di masyarakat hingga saat ini masih banyak yang bahkan mengucapkan dua kalimat syahadat pun tidak fasih, atau hanya mengucapkan kalimat syahadat pada waktu nikah, tetapi tetap diakui sebagai seorang Muslim, karena di KTP-nya tertulis beragama Islam.</span></p>
<p align="justify"><span style="text-decoration: underline;"><em><strong><span style="font-family: Arial;">Orang Islam tidak boleh disebut kafir</span></strong></em></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Arial;">Kafir atau kufur berarti mengingkari atau menolak kebenaran. Dalam terminologi Islam, orang non-Islam disebut kafir, karena ia mengingkari atau menolak kebenaran Islam.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Arial;">Dalam kitab <em>Nihayah</em>, Ibnu Atsir menerangkan bahwa kafir atau kufur ada dua macam, pertama, mendustakan iman, dan ini adalah lawannya kata iman, dan kedua, mendustakan sebuah far&#8217; (cabang) dari furu&#8217;il-Islam (cabang-cabang Islam). Jadi menurut keterangan ini, meskipun seseorang (Muslim) telah berbuat kufur (dalam arti tidak mengerjakan suatu peraturan dalam Islam, misalnya tidak shalat, tidak puasa, dll.), tidak boleh disebut kafir atau non-Islam sepanjang ia tidak melepaskan syahadatnya secara terang-terangan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Arial;">Sejumlah Hadits Nabi Muhammad saw. memberi petunjuk bahwa ke Islaman seseorang tidak harus dibuktikan terlebih dulu dengan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip keimanan dalam Islam, melainkan dengan sekedar ucapan lisan dua kalimah syahadat pun sudah cukup untuk diakui sebagai seorang Muslim. Dalam hal ini, Qur&#8217;an Suci sendiri bahkan menyatakan bahwa orang yang mengucapkan salam (secara Islam) kepada orang Islam tidak boleh diakatan sebagai bukan mukmin: <em>&#8220;Lasta mukmina&#8221;</em> (Q.s. 4 : 94). Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa orang Islam tidak boleh gegabah menyebut orang lain sebagai bukan mukmin atau kafir, sebelum dilakukan penyelidikan terlebih dulu.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Arial;">Nabi Suci Muhammad saw. bersabda : &#8220;Tiga hal yang menjadi landasan iman ialah : (1) menjauhkan sesuatu dari orang yang mengucapkan kalimat <em>laa ilaaha illa-llooh</em>, janganlah kamu menyebut dia kafir karena suatu perbuatan dosa, atau mengeluarkan dia dari Islam karena melakukan perbuatan &#8230;.&#8221; (Abu Daud). Sabda beliau yang lain: &#8220;Barangsiapa menyebut kafir kepada ahli laa ilaaha illa-llooh, maka ia sendiri lebih dekat kepada kufur.&#8221;</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Arial;">Jika orang yang sekedar mengucapkan kalimat syahadat saja tidak boleh disebut kafir, lebih-lebih kepada orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip keimanan dalam Islam, misalnya shalat, zakat, puasa, haji, dll. Dalam hal ini Nabi saw. bersabda :&#8221;Barangsiapa menjalankan shalat seperti kita dan menghadap kiblat kita dan makan daging binatang yang kita sembelih, ia adalah orang Islam yang menikmati perjanjian Allah dan Rasulnya; maka janganlah kamu melanggar perjanjian itu.&#8221; (Bukhari). Kebanyakan ulama dan ahli fiqih pun sepakat bahwa kaum ahli kiblat (orang yang mengakui Ka&#8217;bah di Makkah sebagai kiblat shalatnya) tidak boleh disebut kafir. Abu Hasan Al-Asy&#8217;ari, misalnya. Dalam buku <em>Maqalatul Islamiyyin wa Ikhtilafatul Mushallin</em>, menyatakan: &#8220;Setelah Nabi Suci meninggal, timbullah perpecahan di kalangan kaum Muslimin tentang banyak hal; sebagian mereka menyebut sebagian yang lain dlall (menyimpang dari jalan benar), dan sebagian lagi menjauhkan diri dari sebagian yang lain, sehingga mereka menjadi golongan (firqah) yang terpisah satu sama lain, dan menjadi golongan yang berserakan, namun demikian Islam menghimpun mereka dan melingkupi mereka dalam suasana Islam.&#8221; Imam Thahawi juga berkata : &#8220;Tiada hal yang dapat mengeluarkan seseorang dari iman, kecuali mengingkari apa yang membuat dia masuk dalam (iman) itu.&#8221; Bahkan Imam Ahmad bin Mustafa mengecam orang yang menyebut kafir kepada orang Islam lainnya, dengan mengatakan : &#8220;Hanya orang sinting sajalah orang yang menyebut orang lain: kafir, karena para imam yang dapat dipercaya dari madzhab Hanafi, Syafi&#8217;i, Maliki, Hambali dan Asy&#8217;ari, semuanya berpendapat bahwa kaum ahli kiblat tak dapat disebut kafir.&#8221;</span></p>
<p align="justify"><span style="text-decoration: underline;"><em><strong><span style="font-family: Arial;">Bahayanya takfirul Muslimin (mengafirkan orang Islam)</span></strong></em></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Arial;">Menyebut kafir kepada sesama orang Islam adalah perbuatan keji yang akibatnya sangat mengerikan, karena perbuatan seperti ini akan menghancurkan persaudaraan Islam. Dalam Q.s. 49:10 Allah menyatakan bahwa semua kaum Mukmin adalah Saudara dan hendaklah semua orang Islam berdamai. Kekafiran adalah perbuatan yang sangat dikutuk oleh Allah, sehingga semua orang Islam sangat membenci kekafiran itu. Kalau perbuatan saling mengafirkan terus dilestarikan, maka tidak akan pernah tercipta perdamaian di kalangan kaum Muslimin, yang pada gilirannya akan memperlemah kekuatan Islam sendiri.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Arial;">Perbedaan pendapat atau paham keagamaan dalam islam, pada umumnya hanya menyangkut masalah-masalah <em> furu&#8217;iyyah</em> (cabang atau detail) bukan masalah pokok asasi agama (ushulu-ddiinn). Dan hal seperti ini sudah terjadi sejak zaman dulu. Oleh karena itu tidak perlu dibesar-besarkan, karena betapa pun banyaknya perbedaan yang terjadi di kalangan umat Islam, dapat dipastikan, persamaannya masih jauh lebih banyak. Justru dengan adanya perbedaan itu akan mendorong orang untuk terus-menerus berpikir dan berusaha. Jadi, perbedaan pendapat justru menjadi sumber kemajuan. Itulah makanya, Rasulullah Muhammad saw. mengatakan bahwa perbedaan pendapat di kalangan umat beliau merupakan sumber rahmat. Lawan pendapat, kawan berpikir.</span></p>
<p align="justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong><em><span style="font-family: Arial;">Gerakan Ahmadiyah (Ahmadiyah Lahore) adalah  golongan di dalam Islam</span></em></strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Arial;">Jika keislaman seseorang didasarkan pada lima hal,. yakni : mengucapkan dua kalimat syahadat, menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa wajib di bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji ke Makkah, maka Gerakan Ahmadiyah (Ahmadiyah Lahore) pun tidak kurang dan juga tidak lebih dari itu. Kalimat syahadat yang diucapkan dan diyakini dalam hati oleh kaum Ahmadi tidak berbeda dengan umat Islam pada umumnya, yakni : asyhadu allaa illaaha illa-llooh wa asyhadi anna Muhammada-rrosuulullooh (Aku berdiri saksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang pantas disembah kecuali Allah dan aku berdiri saksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Utusan Allah). Demikian juga dalam hal tata cara dan waktu-waktu shalat, berpuasa Ramadhan, membayar zakat dan ibadah haji.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Arial;">Jika kaum Muslimin umumnya merumuskan aqidahnya dalam Rukun Iman yang enam, maka kaum Ahmadi pun demikian, yakni: beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab suci-Nya, utusan-utusan-Nya, adanya Hari Akhir, dan beriman kepada qadla dan qadar Allah. Pendek kata, baik secara aqidah maupun syari&#8217;ah, Gerakan Ahmadiyah (Ahmadiyah Lahore) tidak ada perbedaan sedikit pun dengan kaum Muslimin pada umumnya. Kalaupun ada perbedaan, pasti hanya masalah-masalah furu&#8217;iyyah atau detailnya agama. Sebagai misal, kaum Ahmadi meyakini bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid (reformer) yang juga bergelar Masih dan Mahdi. Keyakinan ini bukan bagian dari Rukun Iman, dan oleh karena itu bersifat mana-suka. Sama dengan, misalnya seseorang atau sekelompok orang meyakini Syeh Abdul Qadir Jailani sebagai washilah antara dia dan Rasulullah saw. atau bahkan ada juga sekelompok orang Islam yang meyakini seseorang sebagai perantara antara mereka dan Allah. (<em>wallahu a&#8217;lam bi-sh shawab</em>). [MYN]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadiyah.org/2011/10/siapakah-yang-disebut-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepemimpinan Rabbani</title>
		<link>http://ahmadiyah.org/2009/02/kepemimpinan-rabbani/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kepemimpinan-rabbani</link>
		<comments>http://ahmadiyah.org/2009/02/kepemimpinan-rabbani/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 05:48:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadiyah.org/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[oleh S. Ali Yasir, 22/02/2009 Sebagai bangsa yang berketuhanan Yang Maha Esa sudah barang tentu yang kita cari adalah pola kepemimpinan yang rabbani atau teosentris, yaitu pola kepemimpinan yang berpusat kepada Tuhan. Dengan demikian seorang pemimpin tak berorientasi kepada kuasa atau kedudukan tetapi kepada pelayanan. Kehadiran seorang pemimpin bukanlah untuk dilayani melainkan untuk melayani, bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh S. Ali Yasir, 22/02/2009</p>
<p>Sebagai bangsa yang berketuhanan Yang Maha Esa sudah barang tentu yang kita cari adalah pola kepemimpinan yang rabbani atau teosentris, yaitu pola kepemimpinan yang berpusat kepada Tuhan. Dengan demikian seorang pemimpin tak berorientasi kepada kuasa atau kedudukan tetapi kepada pelayanan.</p>
<p>Kehadiran seorang pemimpin bukanlah untuk dilayani melainkan untuk melayani, bahkan jika perlu menyerahkan nyawanya demi kesejahteraan bangsa-nya, sebagaimana diajarkan oleh Almasih (Yesus Kristus): “Kamu tahu bahwa pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikan di antara kamu. Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah menjadi pelayanmu dan barang siapa ingin terkemuka di antara kamu hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20: 25-28).</p>
<p>Pola ideal kepemimpinan rabbani yang diper-sonifikasikan sebagai <em>Anak Manusia</em> itu adalah Nabi Muhammad saw. dari tanah Arab, karena ungkapan itu digunakan untuk seorang tokoh yang dinubuatkan (diramalkan) oleh Nabi Daniel yang hidup sekitar tahun 600 sebelum tarikh Masehi. Tentang Anak Manusia ini “diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tiada akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah” (Daniel 7: 14).</p>
<p>Gambaran tersebut sangat cocok dengan diri pribadi Nabi Muhammad saw. yang sampai hari ini wilayah kekuasaan beliau dapat disaksikan dengan mata kepala dunia, yakni kawasan Timur Tengah – yang berdasar nubuat Daniel pula – dahulu dikuasai oleh Babilonia lalu secara beruntun yang memerintah adalah Persia, Makedonia, Romawi dan terakhir adalah Islam yang dilambangkan sebagai Batu Gunung.</p>
<p>Di samping itu beliau sendiri menyatakan bahwa kehadirannya untuk menggenapi nubuat para nabi sebelumnya, seperti Daniel dan Yesus Kristus. Oleh karena kekuasaan Ilahi yang dikaruniakan kepada beliau itu amat luas, tidak hanya secara pilitik saja, maka beliau menjadi <em>uswatun hasanah</em>, teladan yang baik dalam segala aspek kehidupan dan keadaan. Sekiranya beliau tak memimpin pasukan, niscaya beliau tak dapat menjadi contoh bagi seorang jendral yang memimpin pasukan dalam pertempuran; sekiranya beliau tak menjalankan perang, niscaya beliau tak dapat menjadi contoh bagi seorang prajurit yang menyabung nyawanya untuk membela kebenaran, keadilan dan kemerdekaan; sekiranya beliau tak membuat undang-undang sebagai petunjuk bagi para pengikut beliau, niscaya beliau tak dapat menjadi contoh sebagai anggota legislatif; sekiranya beliau tak memutuskan perkara, niscaya beliau tak dapat menjadi pelita bagi hakim dan jaksa; sekiranya beliau tak kawin, niscaya beliau membiarkan orang-orang tanpa petunjuk dalam mengerjakan sebagian tugas manusia sehari-hari, dan tak dapat memperlihatkan bagaimana seorang suami harus bersikap manis dan kasih sayang kepada istri, dan bagaimana seorang ayah harus mencintai anak-anaknya; sekiranya beliau tak membalas kaum lalim akan kekejaman mereka terhadap orang-orang yang tak bersalah, dan sekiranya beliau tak dapat mengalahkan musuh yang aniaya, dan sekiranya beliau tak meng-ampuni mereka, dan sekiranya beliau tak melalaikan kesalahan mereka yang dekat kepada beliau, niscaya beliau tak dapat menjadi teladan yang baik dan contoh yang mulia.</p>
<p>Atas dasar berbagai ayat dan hadits ajaran beliau tentang kepemimpinan, intinya adalah sebagai berikut: <em><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span></em>, kepemimpinan dasarnya bukanlah keturunan, bukan pula kekayaan ataupun banyaknya pengikut, dan bukan pula jenis kelamin, dasarnya adalah kemampuan, yang dipilih secara demokratis dan musyawarah. Kemampuan adalah syarat utama karena jabatan itu amanah yang harus dipertanggungjawabkan. <em><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span></em>, bertaqwa, sebab seorang pemimpin tidak hanya bertanggungjawab terhadap rakyat yang telah memilih tetapi juga harus bertanggungjawab terhadap Allah SWT. <em><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span></em>, seorang pemimpin itu mendapat gaji dari negara, maka tak boleh menerima hadiah dari rakyat. <em><span style="text-decoration: underline;">Keempat</span></em>, pemimpin itu harus hidup sederhana, tak boleh menumpuk harta kekayaan, harus berakhlak karimah.</p>
<p>Dengan pola kepemimpinan rabbani inilah insyaallah masyarakat madani dapat diwujudkan dalam memasuki millenium ketiga ini.</p>
<p align="right">H. S. Ali Yasir</p>
<p align="right"><em> Ketua Kelompok Pemikir PB GAI</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadiyah.org/2009/02/kepemimpinan-rabbani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemenangan Hakiki</title>
		<link>http://ahmadiyah.org/2009/02/kemenangan-hakiki/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kemenangan-hakiki</link>
		<comments>http://ahmadiyah.org/2009/02/kemenangan-hakiki/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 04:30:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadiyah.org/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[oleh S. Ali Yasir “Tatkala datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk dalam agama Allah dengan berbondong-bondong, maka mahasucikanlah dengan me-muji Tuhan dikau, dan mohonlah perlindungan-Nya. Sesungguhnya Ia senantiasa kembali kasih-sayang-Nya.” (QS An-Nashr 110: 1-3) Menang tanpa ngasorake Yang dimaksud kemenangan (al-fath) dalam ayat pertama adalah kemenangan hakiki, bukan kemenangan duniawi. Kemenangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh S. Ali Yasir</p>
<p align="left"><em> “Tatkala datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk dalam agama Allah dengan berbondong-bondong, maka mahasucikanlah dengan me-muji Tuhan dikau, dan mohonlah perlindungan-Nya. Sesungguhnya Ia senantiasa kembali kasih-sayang-Nya.” </em> (QS An-Nashr 110: 1-3)</p>
<p align="left"><strong><em> Menang tanpa ngasorake</em></strong></p>
<p align="left">Yang dimaksud kemenangan (<em>al-fath</em>) dalam ayat pertama adalah kemenangan hakiki, bukan kemenangan duniawi.</p>
<p align="left">Kemenangan hakiki berbeda dengan kemenangan duniawi. Perbedaannya, kemenangan duniawi berarti menguasai suatu tempat, daerah atau wilayah, negara, bangsa atau orang. Bahasa Jawanya: <em>menang tanpa ngasoraké. </em>Menurut ayat suci di atas, kemenangan hakiki ditandai dengan <em>yadkhulûna fî dînillâhi afwâjâ</em>, masuk dalam agama Allah dengan berbondong-bondong. <em>Yadkhulûna fî dînillâh</em> itu tanpa paksaan sedikitpun, sebab dalam Islam berlaku kaidah <em>lâ ikraha fiddîn</em>, tak ada paksaan dalam agama (2:256). Oleh karena itu cara merayakan kemenangan pun berbeda dengan cara merayakan kemenangan duniawi. Jika kemenangan itu datang, cara merayakannya ialah dengan <em>fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirh</em>, maka mahasucikanlah (<em>tasbîh</em>) dengan memuji Tuhan dikau (<em>tahmîd</em>) dan mohonlah per-lindungan-Nya (<em>istighfâr</em>).</p>
<p align="left">Arti membaca <em> tasbih</em> <em>“subkhanallâh” </em>ialah menyan-jung kemahasucian Tuhan yang tanpa cacat dan kekurangan sedikitpun; sedang arti membaca <em>tahmid “alhamdulillâh” </em>ialah menyanjung dan memuji Tuhan, segala kekurangan, kemuliaan dan keindahan adalah milik Tuhan semata; segala sesuatu yang agung, mulia dan indah di dunia ini hanyalah refleksi belaka dari keagungan, kemuliaan dan keindahan Tuhan, sebab Dialah Yang mempunyai keagungan, kemuliaan dan keindahan itu, <em> walillâhil-asmâ’ul-husnâ</em>, milik Allahlah nama-nama yang baik itu (7:180), <em> walillâhil-matsalul a’lâ</em>, dan Allah mempunyai sifat-sifat yang luhur (16:60). Arti <em>istighfar “astaghfirullah”</em> ialah mohon ampunan-Nya atas segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat dan juga berarti memohon perlindungan-Nya dari kekhilafan, kesalahan dan dosa di masa-masa yang akan datang. Inilah rahasianya mengapa Rasulullah saw. senantiasa membaca istighfar, dalam arti kedua. Beliau dan juga para Nabi lainnya adalah <em>ma’shûm</em>, suci dari dosa, karena maghfirah Ilahi dalam arti perlindungan dari dosa dan kesalahan, maka dalam surat Al-Anbiya ditegaskan bahwa para Nabi adalah <em> ibâdun mukramûn, lâyasbiqûnahû bil-qauli wahum bi amrihi ya’malûn</em>, mereka adalah hamba-hamba yang terhormat, mereka tak mendahului Dia dalam pembicaraan dan mereka berbuat sesuai dengan perintah-Nya” (ayat 26-27).</p>
<p align="left"><strong><em> Kemenangan</em></strong><em> <strong>Rohani</strong></em></p>
<p align="left">Dari sejarah uswatun hasanah kita, yakni <em>Muhammadur-rasûlullâh</em> dan pengikut setianya (<em>walladzîna ma’ahû</em>) yang karakteristiknya: (1) <em>asyiddâ’u ‘alal kuffâri ruhamâ’u bainahum</em>, berhati teguh melawan kaum kafir bercinta kasih antara mereka. (2) <em>rukka’an sujjadan yabtaghûna fadhlan minallâhi waridhwânâ</em>, mereka berukuk, bersujud, memohon anugerah dan perkenan Allah, sehingga <em>simâhum fî wujûhihim min atsaris sujûd</em>, tanda-tanda mereka nampak pada wajah mereka karena bekas-bekas sujud, sebagaimana <em>tarâhum</em> (engkau lihat mereka) pada masa <em>khairul-qurûn</em> (sebaik-baik abad) yang keadaan ini telah dilukiskan pula dalam Taurat Musa dan Injil Isa Almasih, <em>dzâlika matsaluhum fittaurâti wamatsaluhum fil-injîl.</em> Terang sekali bahwa kemenangan hakiki itu bukan karena dapat menaklukkan kaum kafir Quraisy dan sekutu-sekutunya, dan bukan pula karena dapat mele-nyapkan dua super power saat itu (Romawi dan Persi) dari panggung sejarah dunia, sehingga sampai sekarang hanya bisa ditemui dalam buku-buku sejarah saja, tetapi dapat menaklukkan hawa nafsu dalam diri mereka sendiri.</p>
<p align="left">Kemenangan hakiki itu bukan berupa kemenangan duniawi, meski terdapat pula unsur duniawinya, melain-kan bersifat rohani atau lebih menitikberatkan aspek rohani, mengingat fenomenanya berupa:</p>
<p align="left">1.    Kemenangan agama (<em>liyuzhhirahû ‘alad-dîni kullih</em>)</p>
<p align="left">2.    Kemenangan akhlak seperti tercermin dalam ayat <em>kuntum khaira ummatin ukhrijat linnâs</em>, kamu adalah sebaik-baik umat yang ditampilkan sebagai cermin bagi seluruh umat manusia, karena engkau <em>ta’murûna bil-ma’rûfi watanhauna ‘anil-munkar watu’minûna billâh</em>, amar makruf nahi munkar dan beriman kepada Allah SWT.</p>
<p align="left">3.    Kemenangan perjuangan atau jihad, baik jihad asghar maupun jihad akbar atau jihad kabir dengan bersenjatakan Al-Qur’an (25:52).</p>
<p align="left">Jihad terbesar (jihad akbar atau kabir) menurut Al-Qur’an dan Hadits dinilai sukses atau menang bukanlah karena berhasil memenggal kepala musuh di medan perang, melainkan karena berhasil menguasai diri sendiri atau menguasai hawa nafsunya sendiri yang sifatnya rohani; jihad akbar atau kabir ini wajib dilaksanakan meski di tengah medan perang atau jihad asghar. Dengan demikian nikmat yang diperoleh juga nikmat rohani yang nilainya di hadirat Tuhan dan manusia yang utuh (seutuhnya) jauh lebih agung daripada kemenangan duniawi. Oleh karena itu kita dibimbing agar senantiasa memanjatkan doa ke hadirat Ilahi Rabbi: <em>Ihdinash-shirâthal mustaqîm, shirâtalladzîna an’amta ‘alaihim, ghairil-maghdhûbi ‘alaihim waladhdhâllîn</em>, Ya Allah pimpinlah kami ke jalan yang benar, yaitu jalannya orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang mendapat murka Engkau ya Allah, dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat dari jalan yang benar. Siapakah para <em>mun’im</em>, orang-orang yang mendapat nikmat itu? Mereka itu bukanlah penguasa dunia seperti Heraklius, sang kaisar Romawi atau Kisra sang raja kekaisaran Persi, tetapi mereka itu ialah <em> alladzîna an’amallâhu ‘alaihim minan-nabiyyîna wasysyuhadâ’a washshâlihîn, wahasuna ulâika rafîqâ</em>, orang-orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah ialah para Nabi, para sidikin, para syuhada dan para salihin, dan mereka itulah sebaik-baik teman (4:69).</p>
<p align="left">Dengan demikian teranglah bahwa kemenangan hakiki adalah kemenangan rohani. Untuk lebih mem-perjelas keterangan di atas, mari kita perhatikan sekali lagi teladan dari uswatun hasanah kita, sehubungan dengan turunnya ayat:</p>
<p align="left"><em> “Sesungguhnya Allah telah memenuhi impian Rasul-Nya dengan benar. Sesungguhnya kamu akan memasuki Masjidilharam, insyaallah, dengan aman, sambil mencukur kepala kamu dan memotong pendek (rambut kamu) tanpa merasa takut. Tetapi ia me-ngetahui apa yang kamu tak tahu, maka Ia mengatur kemenangan yang dekat sebelum itu.”</em> (QS Al-Fath 48:27)</p>
<p align="left">Karena impian itu, Rasulullah saw. berangkat ke Mekah dengan diiringi 1500 sahabat dengan tujuan untuk menunaikan ibadah haji. Setibanya di Hudaibiyah, Rasulullah dan para sahabat berhenti mendirikan tenda. Di sini Rasulullah menerima informasi bahwa kaum Quraisy siap untuk memberikan perlawanan – yang disampaikan oleh Budail, kepala suku Khuza’ah, seorang non Muslim tetapi bersikap baik terhadap Islam. Budail diminta oleh Rasulullah agar menyampaikan kepada kaum Quraisy, bahwa kedatangan Rasulullah dan para sahabatnya untuk menunaikan ibadah haji, bukan untuk berperang. Lalu Rasulullah mengutus Sayidina Utsman bin Affan untuk berunding dengan kaum Quraisy. Rupa-rupanya perundingan cukup alot, sehingga memakan waktu yang cukup lama. Dalam masa jeda ini tersiarlah isu bahwa Sayyidina Utsman telah dibunuh. Karena isu itu, kaum Muslimin mengubah niat, niat ibadah haji berubah berjuang sampai titik darah yang penghabisan, meski tanpa senjata – kecuali pedang yang saat itu merupakan asesoris pakaian adat lengkap. Untuk meneguhkan tekad, mereka melakukan beat yang dikenal <em> Bai’atusy-syajarah</em> artinya Sumpah di bawah pohon atau <em>Bai’atur-ridwan</em> artinya Sumpah yang menyenangkan, karena mereka lakukan dengan penuh kegembiraan. Peristiwa ini diabadikan dalam ayat:</p>
<p align="left"><em> “Sesungguhnya orang-orang yang berbeat kepada engkau, mereka hanyalah berbeat kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. maka barang siapa ingkar (pada janjinya), ia hanyalah ingkar atas kerugian jiwanya sendiri. Dan barangsiapa memenuhi janjinya di sisi Allah, Ia akan menganugerahkan kepadanya ganjaran yang besar.” </em>(QS Al-Fath 48:10)</p>
<p align="left"><em>  </em></p>
<p align="left">Peristiwa itu membuat kaum kafir Quraisy sadar, maka mereka mengirim utusan, Suhail bin Amr Amiri, untuk mengadakan perjanjian damai, yang dikenal sebagai Perjanjian Damai Hudaibiyah. Setelah melalui banyak kendala, akhirnya disepakati perjanjian damai antara kedua belah pihak selama sepuluh tahun, dengan pasal-pasal utamanya:</p>
<p align="left">(1)     Kaum Muslimin tahun ini belum diizinkan ziarah ke Mekah.</p>
<p align="left">(2)    Tahun berikutnya kaum Muslimin boleh ziarah dengan syarat di Mekah tak boleh lebih dari tiga hari.</p>
<p align="left">(3)    Kaum Muslimin wajib mengembalikan orang Mekah yang hijrah ke Madinah bagi yang masuk Islam sesudah perjanjian ini.</p>
<p align="left">(4)    Kaum Quraisy tak wajib mengembalikan orang Islam yang kembali ke Mekah.</p>
<p align="left">(5)    Kabilah-kabilah lain bebas membuat perjanjian dengan pihak manapun yang mereka sukai.</p>
<p align="left">Pasal-pasal perjanjian tersebut sangat menggem-birakan kaum kafir, dan mereka merasa memperoleh kemenangan besar, tetapi di pihak lain sangat tidak menyenangkan kaum Muslimin. Hanya karena ketaatan mereka yang sempurna kepada Rasulullah saw. sajalah yang menenangkan hati mereka. setibanya di Madinah, Rasulullah saw. menerima wahyu yang berbunyi:</p>
<p align="left"><em> “Sesungguhnya Kami telah memberi kemenangan kepada engkau dengan kemenangan yang terang, agar Allah melindungi engkau yang (konon) sudah terjadi dan yang akan terjadi, dan (agar) Ia menyem-purnakan nikmat-Nya kepada engkau, dan (agar) Ia memimpin engkau pada jalan yang benar, dan (agar) Ia menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa.” </em> (QS Al-Fath 48:1-3)</p>
<p align="left">Pasal-pasal yang secara lahiriah duniawiah merupa-kan penghinaan terhadap kaum Muslimin, menurut ayat suci tersebut justru merupakan pasal-pasal kemenangan yang terang, kemenangan hakiki, <em>fathan mubînâ</em>. Dengan tercapainya kemenangan rohani, yang bersifat duniawi diperoleh pula. Demikian cara Islam berjuang memper-oleh sesuatu, bukan sebaliknya. Duniawi penting tetapi hanyalah alat, bukan tujuan. Maka jangan dibalik, alat dijadikan tujuan.</p>
<p align="left"><strong><em> Musuh Islam bukan orang</em></strong></p>
<p align="left">Kemenangan hakiki yang bersifat rohani ini menjadi lebih jelas lagi jika kita mengetahui siapakah musuh sejati Islam yang harus dikalahkan itu. Islam itu bukan orang, dan bukan pula golongan. Oleh karena itu musuhnya pun bukan orang dan bukan pula golongan. Boleh jadi musuh Islam itu bersemayam dalam dada orang Islam sendiri, dan boleh jadi pula bersemayam dalam dada orang-orang non-Islam, faktanya:</p>
<p align="left">(1)     Kemusyrikan, termasuk <em>musyrik khafiy</em>, misalnya dalam rangka mencari ilham (baca wisik) dan terkabulnya doa dengan cara semedi dengan segala rangkaiannya yang berupa maksiat (zina) di Gunung Kemukus, Sragen, Jawa tengah, peziarah-peziarah itu bukan hanya orang-orang non-Islam, sebagian besar justru mereka yang dalam KTP-nya tertulis sebagian orang Islam.</p>
<p align="left">(2)    Kekafiran, termasuk <em>kufrun-ni’mah</em>, pelaku-pelakunya juga bukan hanya orang-orang non-Islam, tetapi sebagian besar di negeri ini pelaku-pelakunya adalah orang-orang Islam, maka wajar jika di negeri yang kaya raya ini rakyatnya miskin.</p>
<p align="left">(3)    Kemaksiatan, pengunjung tempat-tempat maksiat kebanyakan juga mereka yang mengaku sebagai orang-orang Islam, maka wajar jika Allah senantiasa memberikan tadzkirah berupa bencana alam dan berbagai musibah. Ini pertanda kita mengalami krisis iman dan moral.</p>
<p align="left">(4)    Kedurhakaan, para pendurhaka di negeri ini bukan hanya mereka yang non-Islam, tetapi juga mereka yang mendakwahkan diri sebagai Muslim kuantitas-nya lebih besar.</p>
<p align="left">(5)    Tidak amanah, terutama para pemimpinnya banyak yang melakukan KKN, sehingga bangsa dan negara terpuruk dalam berbagai krisis, terutama ekonomi dan politik.</p>
<p align="left">Musuh-musuh Islam yang berupa kemusyrikan, kekafiran, kemaksiatan, kedurhakaan dan sesamanya itu harus kita lawan, harus kita perangi dengan senjata dengan mempertaruhkan jiwa. Senjatanya bukanlah pedang atau bedil, melainkan dengan dakwah bersenjata-kan Al-Qur’an dan Hadits – yang dalam Al-Qur’an dinyatakan sebagai <em>jihad kabir</em> atau perjuangan yang besar dengan metode:</p>
<p align="left">1.    dengan cara arif bijaksana, <em>bilhikmah</em></p>
<p align="left">2.    dengan nasihat dan pelajaran yang baik, <em>mau’izhatil hasanah</em></p>
<p align="left">3.    melalui debat dengan cara sebaik-baiknya, <em>wajadilhum billatî hiya ahsan</em> (16:125)</p>
<p align="left">Cara ketiga terutama ditujukan kepada kaum non-Muslim yang dalam Al-Qur’an disebut Ahlikitab: <em>Walâ tujâdilû ahlal kitâbi illâ billatî hiya ahsan, illalladzîna zhalamû minhum</em>, dan janganlah kamu berdebat dengan kaum Ahlikitab kecuali dengan cara yang sebaik-baiknya, ter-kecuali orang-orang yang lalim di antara mereka (29:46). Termasuk Ahlikitab ialah mereka yang mendakwahkan diri sebagai orang Kristen, <em> waminalladzîna qâlû innâ nashâra</em> (5:14). Mereka inilah yang pada zaman akhir ini berusaha keras memusnahkan Islam sebagaimana diisyaratkan dalam ayat <em> yurîdûna an yathfi’û nûrallâhi biafwâhihim</em>, mereka hendak memadamkan Cahaya Allah (Islam) dengan mulut mereka (9:32; 61:8), atau berusaha keras mengkristenkan umat Islam, sebagaimana dinyata-kan dalam ayat <em>walan tardhâ ‘ankal-yahûdu walan-nashârâ hattâ tattabi’a millatahum</em>, orang-orang Yahudi tak akan rela kepada kamu dan demikian pula orang-orang Kristen, sehingga kamu (orang Islam) mengikuti agama mereka (2:120). Padahal mereka itu yang seharusnya diseru kepada Islam, <em>wahuwa yud’â ilal-Islâm</em>. Gerakan Kristenisasi umat Islam di dunia ini yang gencar adalah di Indonesia, terbukti seperti dikatakan oleh Dr. Pendeta Victor I. Tanja, “PGI (Persekutuan Gereja Indonesia) umpamanya masih berbicara tentang Indonesia sebagai satu daerah pekabaran Injil. Artinya, bahwa Injil harus diberitakan ke seluruh pelosok dunia (Mat 28).” (<em>Republika</em>, 13 Agustus 1993). Tak ada bedanya dengan penjajahan Belanda dan Portugis, Victor katakan: “&#8230; Agama Kristen, baik Roma Katolik ataupun Protestanisme, keduanya tiba di Nusantara sebagai bagian dari kekuatan kolonialisme Barat. Ini tak berarti tidak ada perbedaan kepentingan antara pekabaran Injil dengan kolonialisme. Jelasnya, kepentingan kedua kekuatan yang beraliansi ini adalah sama, yakni mau menaklukkan orang yang hendak dijajah dan yang hendak dikristenkan. Agama Kristen disebarkan di Nusantara melalui para imam dan pendeta, yang mendukung pemerintahan kolonial di Indonesia.” (<em>Ibid</em>).</p>
<p align="left">Hal ini sesuai dengan kesepakatan perdamaian antara Roma Katolik dengan Protestanisme di Augsburg tahun 1555, yang berprinsip <em>cuius regio cuis religio</em>, siapa punya wilayah dialah yang punya agama. Prinsip ini secara diametral bertentangan dengan prinsip Islam. Jika dalam suatu wilayah yang berkuasa seorang Muslim, tak akan memberi hak hidup kepada agama Islam saja, tetapi ia akan memberi hak hidup kepada agama-agama lain pula, sebab mengimani semua kitab suci dan para Nabi, dan juga menghormati semua agama sebagaimana ia harus menghormati semua umat manusia. Hal ini diisyaratkan dalam ayat:</p>
<p align="left"><em> “Dan sekiranya tak ada tangkisan Allah terhadap sebagian manusia oleh sebagian yang lain, niscaya akan ditumbangkan biara-biara, gereja-gereja, kani-sah-kanisah, dan masjid-masjid, yang di dalam-nya banyak diingat nama Allah. Dan sesungguhnya Allah akan menolong orang yang menolong Dia. Sesungguh-nya Allah itu Yang Maha-kuat, Yang Maha-perkasa.” </em>(QS Al-Hajj 22:40)</p>
<p align="left">Dan lengkapilah ayat:</p>
<p align="left"><em> “Dan sekiranya bukan karena tolakan Allah atas sebagian manusia oleh sebagian yang lain, niscaya dunia akan kacau balau; akan tetapi Allah bermurah hati kepada serwa sekalian alam. Ini adalah ayat-ayat Allah – Kami membacakan itu kepada engkau dengan benar; dan sesungguhnya engkau adalah golongan orang yang diutus.” </em> (QS Al-Baqarah 2:251-252)</p>
<p align="left"><strong><em> Menjunjung agama melebihi dunia</em></strong></p>
<p align="left">Akhirnya sebagai penutup perlu penulis tekankan bahwa umat Islam tak dilarang untuk mencari kenikmatan duniawi, karena Allah menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini agar didayagunakan oleh umat manusia, termasuk umat Islam. Namun harus diingat bahwa duniawi adalah alat, bukan tujuan. Pendayagunaannya haruslah sesuai dengan syariat Islam, barangkali rumusannya menjunjung agama melebihi dunia. Umat Islam wajib menjalankan syariat agama dalam segala aspek kehidupannya.</p>
<p align="left">Di samping itu, adalah suatu kenyataan bahwa nikmat duniawi sifatnya sementara dan nikmat yang rendah, <em> mata’ud-dunyâ qalîl </em>(4:77), bahkan <em>matâ’ul-ghurur</em>, kesenangan yang memperdayakan (3:185); sedang nikmat rohani itu, lebih baik dan lebih kekal, <em> khaîr wa abqâ</em> (42:36). Sebagai contoh mari kita analisa Per-damaian Hudaibiyah yang dianggap sebagai kemenangan (duniawi) oleh kaum kafir dan sebaliknya merupakan ‘kekalahan’ secara duniawi bagi kaum Muslimin, tetapi esensinya merupakan kemenangan hakiki bagi Rasulullah saw. dan para sahabatnya.</p>
<p align="left">1.    Perjanjian damai berlaku selama sepuluh tahun, berarti selama sepuluh tahun umat Islam tak diricuhi kaum kafir Mekah dan sekutunya. Sejarah mencatat, saat itu dimanfaatkan oleh Rasulullah saw. untuk berdakwah secara damai dengan mengirim surat kepada para raja dan pemimpin di sekitar tanah Arab. Dan ternyata dua tahun setelah Perjanjian damai itu jumlah umat Islam meningkat tajam sampai ratusan persen.</p>
<p align="left">2.    Dalam tahun tersebut umat Islam tak diizinkan menunaikan ibadah haji ini bukan suatu kegagalan, karena salah satu syarat naik haji adalah aman jalannya. Jika keadaan tidak aman, kewajiban tak dibebankan atas mereka. Di samping itu ibadah haji diwajibkan hanya sekali saja seumur hidup.</p>
<p align="left">3.    Tahun berikutnya umat Islam diizinkan menunaikan ibadah haji, meski hanya tiga hari di Mekah. Ini bukan kekalahan bagi umat Islam, tetapi justeru suatu kemenangan bagi mereka. Tiga hari telah cukup untuk menunaikan ibadah. Di samping itu jaminan keamanan terhadap umat Islam adalah sangat tinggi nilainya, bahkan tak dapat dinilai secara materiil.</p>
<p align="left">4.   Kaum Muslimin wajib mengembalikan orang Mekah yang hijrah ke Madinah bagi yang masuk Islam sesudah perjanjian ini, rasanya untuk sementara menguntungkan kaum kafir, tetapi hakikatnya merugikan diri mereka sendiri, sebab orang Mekah yang masuk Islam sesudah perjanjian damai itu berarti mereka sungguh-sungguh beriman dan siap menanggung akibatnya, misalnya yang dialami oleh Utbah.</p>
<p align="left">5.    Kaum Quraisy tak wajib mengembalikan orang Islam yang kembali ke Mekah. Opsi ini membuat kaum kafir merasa menang, tetapi nyatanya mereka tak mendapat keuntungan sama sekali, sebab tak ada seorang pun yang murtad lalu lari ke Mekah. Seandainya ada, umat Islam tak dirugikan, tetapi justeru beruntung, karena dalam membangun masyarakat Islam tak diperlukan orang munafik atau murtad.</p>
<p align="left">Nah, dari contoh di atas teranglah bahwa: (1) Kemenangan duniawi sifatnya sementara dan memperdayakan, sedang kemenangan rohani itu lebih baik dan sifatnya kekal. (2) Kemenangan hakiki memang perlu pengorbanan duniawi, tetapi tak berarti harus mengabaikannya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat:</p>
<p align="left"><em> “Dan carilah tempat tinggal di akhirat dengan barang yang diberikan oleh Allah kepada engkau; dan jangan-lah kau lupakan bagian kamu tentang keduniaan; dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah berbuat baik kepada engkau, dan janganlah mencari kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tak suka kepada orang yang berbuat rusak.” </em>(QS Al-Qashash 28:77).</p>
<p align="left">Senada dengan itu kita diajari agar memanjatkan doa:</p>
<p align="left"><em> “Ya Allah, Tuhan kami limpahkanlah kepada kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, serta jauhkanlah kami dari siksa api neraka.” </em> (QS Al-Baqarah 2:201)</p>
<p align="left">Mudah-mudahan kita sekalian termasuk orang-orang yang dikaruniai kebaikan di dunia dan di akhirat itu. <em> Amîn, yâ Rabbal ‘âlamîn.</em>[]</p>
<p align="left">S. Ali Yasir</p>
<p align="left">Tabligh dan Tarbiyah PB GAI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadiyah.org/2009/02/kemenangan-hakiki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ahmadiyah dan Kebangkitan Islam Kembali</title>
		<link>http://ahmadiyah.org/2009/02/ahmadiyah-dan-kebangkitan-islam-kembali/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ahmadiyah-dan-kebangkitan-islam-kembali</link>
		<comments>http://ahmadiyah.org/2009/02/ahmadiyah-dan-kebangkitan-islam-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 06:15:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadiyah.org/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[oleh S. ALI YASIR Dia ialah Yang mengutus Utusan-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar Ia memenangkan itu di atas semua agama. Dan Allah sudah cukup sebagai saksi (Q.S. 48:28) Tiga lukisan Mengomentari ayat kemenangan Islam atas semua agama di atas Ibnu Jarir menulis: “Agama yang benar yang Dia turunkan kepada Utusan-Nya itu akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh S. ALI YASIR</p>
<p align="center">Dia ialah Yang mengutus Utusan-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar Ia memenangkan itu di atas semua agama.</p>
<p align="center">Dan Allah sudah cukup sebagai saksi</p>
<p align="center">(Q.S. 48:28)</p>
<p><strong> Tiga lukisan</strong></p>
<p>Mengomentari ayat kemenangan Islam atas semua agama di atas Ibnu Jarir menulis: “Agama yang benar yang Dia turunkan kepada Utusan-Nya itu akan mendapat kemenangan dari segala agama dan kemenangan ini akan terjadi (kembali) dengan turunnya Isa bin Maryam” (<em>Tafsir Ath-Thabari</em> jilid 28, hlm. 54). Bagaimana cara memenangkannya? Ayat  berikutnya memberikan tiga lukisan, yaitu : <em>Pertama</em>, lukisan (perjuangan) umat Islam dalam Taurat sbb: “<em>Muhammad adalah utusan Allah; dan orang-orang yang menyertai  dia adalah berhati teguh melawan kaum kafir, bercintakasih antara mereka. </em><em> Engkau melihat mereka berruku’, bersujud, memohon anugerah dan perkenan Allah. Tanda-tanda mereka nampak pada wajah mereka karena  bekas-bekas sujud. Itulah gambaran mereka dalam Taurat</em>” (48:29).</p>
<p><em> Kedua</em>, lukisan (perjuangan) umat Islam dalam Injil sbb: “<em>dan gambaran mereka dalam Injil, bagaikan benih yang mengeluarkan  tunasnya, lalu menguatkan itu, maka jadilah  itu kuat dan berdiri dengan teguh di atas batangnya, yang menyenangkan bagi para petani, agar Ia membuat marahnya kaum kafir karena itu, Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan diantara mereka, pengampunan dan ganjaran yang besar</em>” (48:29).</p>
<p><em> Ketiga</em>, lukisan (perjuangan) umat Islam dalam Taurat dan Injil sbb: “<em>Muhammad adalah Utusan Allah, dan orang-orang yang menyertai  dia adalah  berhati teguh melawan kaum kafir, bercinta – kasih antara mereka. Engkau melihat mereka berruku’, bersujud, memohon  anugerah dan perkenan Allah. Tanda-tanda  mereka nampak pada wajah mereka  bekas-bekas  sujud. Itulah  gambaran  mereka dalam Taurat dan gambaran dalam Injil </em>” (48:29).</p>
<p>Dalam ayat 48:29 tersebut terdapat waqaf Mu’anaqah pada kalimat ”<em>dan gambaran  mereka dalam Injil</em>” berupa titik tiga sebelum dan sesudahnya. Cara membacanya ”boleh berhenti pada salah satu titik tiga”. Jika berhenti pada titik tiga pertama, ayat ini menyajikan dua lukisan, yakni lukisan pertama (dalam Taurat) dan lukisan kedua (dalam Injil); tetapi jika berhenti pada titik tiga kedua menyajikan lukisan ketiga, dalam Taurat dan Injil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> Zaman permulaan</strong></p>
<p>Lukisan pertama diperagakan oleh Nabi Suci dan para sahabatnya dalam periode Madinah sebagai penjabaran nama Muhammad dengan sifat jalalinya. Nama <em>Muhammad </em>artinya <em> orang yang terpuji</em>, nama ini mengandung sifat <em>jalali,</em> yakni sifat kebesaran, kemenangan dan kemuliaan. Sejarah mencatat dalam periode Madinah beliau dan para sahabatnya menampilkan sifat keberanian menghadapi musuh, kemenangan dalam pertempuran, kesabaran menghadapi bahaya besar yang mengancam, pengampunan terhadap musuh yang telah  takluk, kesuksesan  dalam berdiplomasi, penegakan hukum, dsb. Maka dari itu dalam suatu hal yang sering digunakan untuk memburuk-burukkan beliau sejatinya dalam hal itu tersimpan kebesaran dan kemuliaan. Oleh karena itu beliau menjadi uswatun hasanah bagi para panglima dan prajurit, hakim dan jaksa, pedagang dan pengusaha, karena beliau telah memperagakannya, sebagaimana dilukiskan dalam Taurat Musa, misalnya dalam UI 18:18-22; 20:10-20; 33:1-3; 34:10-12; dll.</p>
<p>Lukisan kedua diperagakan oleh Nabi Suci dan para  sahabatnya dengan sifat jamalinya. Nama <em> Ahmad</em> – yang dinyatakan dalam Injil (61: 6) – artinya <em>orang yang memuji</em>, mengandung sifat jamali, yakni sifat keindahan, keelokan dan kehalusan budi, karena memuji pihak lain tentu menggunakan  tutur kata  yang lemah lembut, sikap yang sopan dan halus. Sejarah  mencatat pada zaman Mekah beliau dan para sahabat menyebarluaskan ajaran Islam dengan keindahan, keelokan dan kehalusan budi. Empat hal yang dijunjung tinggi, yaitu: (1) kekuatan ilmu, (2) kekuatan  bayyinah (tanda bukti, burhan atau argument), (3) kekuatan taqwa (berbakti dan keteguhan iman, dan (4) kekuatan rohani (percaya akan pertolongan Allah SWT).</p>
<p>Dalam Injil, misalnya Matius 13:1-23, Nabi Suci dan para sahabat dilukiskan sebagai seorang penabur benih, sebagian benih  jatuh dipinggir jalan lalu dimakan burung sampai habis; sebagian lagi jatuh ke tanah berbatu-batu, benih segera tumbuh tetapi juga segera mati karena  tanahnya sedikit; sebagian lagi jatuh ke semak duri, semak itu semakin besar  dan mematikan benih yang telah tumbuh; dan sebagian lagi jatuh ke tanah subur, sehingga berbuah: seratus kali lipat, enam puluh kali lipat dan ada yang tiga puluh kali lipat.</p>
<p>Yang dimaksud  ”benih” adalah ”firman tentang kerajaan Sorga” yakni ”risalah Islam”. Golongan pertama adalah mereka yang tak mengerti dakwah <em>Islam</em>; golongan kedua mereka yang mengerti dan segera menerima, tetapi tidak berakar karena itu segera mati; golongan  ketiga, mereka  yang mendengar dan mengerti dakwah Islam, tetapi karena kekuatiran dan tipu daya  dunia mematikan imannya. Golongan keempat  benih yang ditabur di tanah yang subur adalah orang yang mengerti dan menerima firman dengan sepenuh hati, maka dapat berbuah  seratus kali lipat, enam puluh kali lipat dan tiga puluh kali lipat. Golongan keempat yang dimaksud  oleh lukisan dalam Injil yang diabadikan  dalam Quran Suci 48: 29 yang menyenangkan  para petani, tetapi membuat marah dan jengkelnya  kaum kafir Mekah. Puncak  kemarahan mereka pada tahun 622 Masehi, tatkala mereka bersepakat untuk menghabisi Nabi Suci dan gerakannya (8:30) yang karena itu Nabi Suci hijrah ke Madinah. Setibanya  di Madinah, beliau dan gerakannya tetap dikejar dan dimusnahkan dengan pedang, tetapi kemenangan demi kemenangan yang beliau peroleh sebagaimana dilukiskan dalam Taurat Musa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> Zaman akhir</strong></p>
<p>Lukisan ketiga gambaran pengikut Nabi Suci menurut gambaran Taurat dan Injil diperagakan pada zaman akhir sebagai penjabaran nama <em>Ahmad</em>, yang secara linguistik mengandung dua arti, yakni sebagai kata sifat berarti  <em>yang terpuji</em> identik dengan nama Muhammad,  yang diilhamkan kepada kakeknya Abdul Muthalib, sedang  sebagai kata kerja artinya <em>aku memuji</em>, suatu kata yang digunakan sebagai nama diri Nabi Suci yang diilhamkan Ilahi kepada Siti Aminah, ibunda beliau, dan juga sebagai penggenap nubuat Isa Almasih dalam Injilnya (61:6). Jadi dalam nama Ahmad  berarti  ganda  yang mengandung dua sifat yang berbeda, yaitu sifat jalali dan sifat jamali yang penerapannya telah digambarkan dalam Injil.</p>
<p>Lukisan  dalam nubuat tersebut terpenuhi dengan hadirnya gerakan Ahmadiyah yang didirikan oleh H.M. Ghulam Ahmad (1835-1908) berdasarkan ilham ”<em>fasna’il – fulka bi a’yunina wawahyina</em> (bangunlah ’kapal’ dihadapan Kami dengan ilham  Kami)” pada tgl. 1 Desember 1888, yang kemudian pada tgl 23 Maret 1889 di kota Ludhiana menerima anggota, sebanyak 40 orang mengucapkan baiat kepada beliau, dan akhirnya pada tgl. 4 November 1900 dideklarasikanlah nama ”Ahmadiyah” yang diambil dari kata ”Ahmad” nama Nabi Suci Muhammad saw. yang termaktub dalam Qur’an Suci dan Hadits Nabi.</p>
<p>Sifat jalali berkenaan dengan akidah  dan ibadah atau <em>hablum minallah</em> yang sifatnya individual  tak dapat dicampuri oleh siapa pun, implementasinya <em>asydda’u ’alal-kuffar</em>, berhati teguh terhadap kaum kafir, maka tak ada toleransi dan kompromi <em>lakum dinukum waliyadin</em>, bagi kamu agama kamu dan bagiku  agamaku (109:6). Sedang sifat  jamali berkenaan dengan akhlak dan mu’amalah atau <em>hablum minannas </em>yang  implementasinya adalah <em>ruhama’u bainahum</em>, berkasih sayang  terhadap sesama mereka, maka sifat kasih sayang, lemah lembut dan tulus ikhlas ditampilkan terhadap sesama umat manusia, sebagaimana diperagakan oleh  H.M. Ghulam Ahmad yang telah menulis sbb: ”Aku menyatakan  kepada semua orang  Islam, Kristen, Hindu dan Arya, bahwa aku tidak punya seorang musuh pun di dunia ini. <strong>Aku mencintai seluruh umat manusia</strong> laksana seorang ibu pengasih terhadap anak-anaknya, bahkan lebih daripada itu. <strong>Aku hanya jadi musuh bagi kepercayaan-kepercayaan bathil</strong> yang merusak dan melemahkan kebenaran. Cinta terhadap  sesama manusia adalah kewajibanku. Dan berlepas  diri dari bohong, syirk, aniaya dan <strong>berlepas diri dari </strong>segala perbuatan yang jelek dan akhlak yang buruk  adalah pendirianku” (Kitab Arba’in). Jati diri ini yang dilestarikan oleh pengikut beliau, kaum Muslim Ahmadi.</p>
<p>Dengan demikian HM. Ghulam Ahmad dapat disebut  sebagai Muhammad II, karena  adanya persamaan antara keduanya. Persamaannya ialah sama-sama mendapat amanat memenangkan Islam dengan pola yang sama pula yakni menjabarkan  sifat jalali ”<em>asyidda’u ’alah-kuffar</em>” berkenaan dengan akidah-<em>ibadah </em> dan sifat jamali ”<em>ruha-ma’u bainahum</em> berkenaan dengan akhlak-mu’amalah. Disamping itu  keduanya datang pada waktu keadaan  yang sama, yakni kerusakan merajalela di daratan <em>dan </em> di lautan,  hanya bedanya pada zaman yang awal  karena kemusyrikan (30: 40-41) pada zaman  akhir karena doktrin  Tuhan  Yang Maha-pemurah memungut putera (19: 90-93). Bedanya lagi, Nabi Suci seorang <strong>Utusan dari bangsa Ummi</strong> atau <strong> Arab</strong> (62;2), sedang  mazharnya seorang  <strong>utusan dari bangsa lain</strong> (62:3), yakni Persi seperti  halnya sahabat Salman. Perbedaan etnis yang seharusnya diarifi ini (49:13) sering mengganggu pikiran dunia sepanjang zaman yang dalam kejahiliakan. Ini pula yang menjadi salah satu faktor penting penolakan umat Islam terhadap diri dan ajaran beliau.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> Penggenapan nubuat Qur’an Suci</strong></p>
<p>Kaum Ahmadi sebagai  pengejawantahan umat Islam yang dilukiskan dalam Taurat dan Injil perannya adalah penebar rahmatan lil’alamin pada zaman akhir sebagaimana dilakukan oleh Nabi Suci dan para sahabat pada zaman awal Islam, sebagai pemenuhan doa di tempat lain Isa bin Maryam sbb: ”<em>Wahai Allah Tuhan kami, turunkanlah  kepada kami hidangan dari langit, yang ini akan menjadi hari raya (’Id) bagi kami, baik bagi<strong> yang pertama dari kami maupun yang terakhir dari kami</strong>, dan (pula) menjadi tanda bukti dari Engkau”</em> (5:114).</p>
<p>Yang dimaksud ”<em>hidangan dari langit</em>” adalah  Qur’an Suci, sedang yang dimaksud ”<em>hari raya (’Id</em>)” atau ”<em>kegembuiraan yang berulang</em>” adalah  kejayaan  umat Kristen di dunia. Jadi ayat suci  tersebut menubuatkan dua kali kejayaan Kristen  yang diikuti  dengan kesadaran  mereka menjadi  seorang Islam. Sejarah  mencatat, kejayaan mereka yang pertama adalah pada abad ke &#8211; 4 s/d ke -7 Masehi yang ditengarai ”Kristen sebagai Agama Negara” oleh Kaisar Theodosius yang Agung (380) yang karena itu Kristen berkembang pesat menjadi agama dunia. Perkembangannya ke Timur terhenti karena lahirnya agama Islam. Kristen berkembang ke Barat. Seiring dengan itu mulai abad ke -7 negara-negara Timur yang semula beragama Kristen menjadi pemeluk agama Islam. Berkat Qur’an  Suci mereka menikmati ”hidangan dari langit” (5:114) ”yang  menentramkan  hati” (5:113). Inilah  hari raya (Id) yang pertama, yang oleh  Isa Almasih  (Yesus Kristus) dilukiskan sebagai ”tegaknya Kerajaan Seribu Tahun” dimana iblis dan setan dihukum (Wahyu 20: 1-6).</p>
<p>Setelah  seribu  tahun iblis dilepas menyesatkan  Gog dan Magog (Wahyu 20:7-10). Berarti  pada  abad ke -17 terlepasnya  iblis dan merajalelanya  Gog dan Magog, yakni bangsa-bangsa Barat, Eropa dan Amerika. Sejarah  dunia  mencatat setelah ditemukannya Benua Amerika oleh Christoffer Columbus pada akhir abad ke -15, memasuki abad ke-16, imperialisme  dan kolonialisme  Barat dengan Kristenisasinya merajalela di benua Asia  dan Afrika yang mayoritas  penduduknya beragama Islam. Pada abad ke -17 mereka mulai menguasai dunia. Sejarah  Gereja  menetapkan tahun  1815-1914 adalah Abad Agung Penginjilan Dunia (<em>The Great Century of World Evangelization</em>). Ini adalah hari raya (‘Id) yang akhir bagi  umat Kristen, yang berarti  akan segera  diikuti dengan kesadaran  umat  Kristen menjadi pemeluk agama Islam setelah mereka menikmati hidangan dari langit berupa Qur’an Suci, sebagai pemenuhan profetik-eskatologik Nabi Suci bahwa di akhir zaman Masih Mau’ud datang untuk “mematahkan Salib,” yang karena itu diikuti dengan “terbitnya matahari dari Barat”.</p>
<p>Untuk memenuhi kebutuhan mereka itu H.M. Ghulam Ahmad sebagai Masih Mau’ud  pada tahun 1901 mencanangkan penyiaran Islam di Barat dan menetapkan Maulana Muhammad Ali sebagai “panglimanya” karena beliaulah yang dipilih menjadi pemimpin Redaksi <em>The Review of Religion</em>, yang diikuti dengan penerbitan buku-buku dan tafsir Qur’an  Suci dalam berbagai bahasa dunia  yang menurut  para ulama anti Ahmadiyah saat itu masih mengharamkannya.</p>
<p>Jika Qur’an Suci haram untuk diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia, seperti yang dilakukan oleh Gerakan Ahmadiyah, bagaimana bangsa-bangsa non Arab  dapat memahami ajaran Islam dari sumber aslinya? Apakah ini bukan berarti bahwa Ahmadiyah adalah kebangkitan Islam kembali?</p>
<p><strong><em>  </em></strong></p>
<p><strong>S. Ali Yasir </strong></p>
<p><em> Ketua Tabligh &amp; Tarbiyah PB GAI</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadiyah.org/2009/02/ahmadiyah-dan-kebangkitan-islam-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ahmadiyah: Tasawuf Modern</title>
		<link>http://ahmadiyah.org/2009/02/ahmadiyah-tasawuf-modern/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ahmadiyah-tasawuf-modern</link>
		<comments>http://ahmadiyah.org/2009/02/ahmadiyah-tasawuf-modern/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 06:13:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadiyah.org/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[ oleh S. Ali Yasir Bacalah dengan nama Tuhan dikau Yang menciptakan, Yang menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhan dikau adalah Yang paling Murah-hati, Yang mengajar (manusia) dengan pena, Yang mengajarkan kepada manusia apa yang ia tak tahu (QS 96:1-5) &#160; Islam itu Sufistik Dalam wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Suci Muhammad saw itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>  oleh S. Ali Yasir</em></p>
<p align="center">Bacalah dengan nama Tuhan dikau Yang menciptakan, Yang menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhan dikau adalah Yang paling Murah-hati, Yang mengajar (manusia) dengan pena, Yang mengajarkan kepada manusia apa yang ia tak tahu</p>
<p align="center">(QS 96:1-5)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> Islam itu Sufistik</strong></p>
<p>Dalam wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Suci Muhammad saw itu semua ayatnya mengandung nilai sufistik. Perintah membaca dengan nama Tuhan dikau (<em>Rabbika</em>) yang implementasinya adalah  “<em>Bismillahir-rahmanir-rahim</em>”, artinya “Aku mohon pertolongan Allah Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih”. Hanya dengan  pertolongan Tuhan sajalah  manusia dapat mencapai  kesempurnaan sebagaimana yang dituju oleh sufisme. Dalam ayat  pertama ini, Allah SWT menyatakan  diri-Nya sebagai <em>Rabb</em>, yaitu Yang memelihara hingga sempurna, berarti wahyu yang diterima oleh Nabi Suci, baik Quran Suci maupun Sunnah  dan Hadits  sarana untuk menyempurnakan diri beliau sebagai uswatun hasanah. Oleh karena itu  beliau  bersabda, bahwa siapa pun tak akan tersesat untuk selama-lamanya jika berpegang kepada dua perkara yang beliau tinggalkan yakni Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.</p>
<p>Ayat kedua menginformasikan, bahwa manusia diciptakan dari ‘<em>alaq.</em> Kata ‘<em>alaq </em> artinya <em>segumpal</em> <em>darah</em>, yang di tempat lain disebutkan proses terjadinya manusia melalui suatu tahap yang disebut <em>‘alaqah</em> (23:14). Akan tetapi kata <em>‘alaq</em> menurut Tajul-Arus dan Lane Lexicon dapat juga diartikan  <em>kelekatan </em>dan <em>kecintaan.</em> Maka dari itu Dr. Mourice Bucaille, seorang dokter bedah Perancis dalam bukunya <em>La Bible le Coran et la Science</em> (1976) menerjemahkan  ayat ini sbb: “Yang menciptakan manusia dari sesuatu yang melekat.”  Arti ini menurut Maulana Muhammad  Ali dalam tafsirnya <em>The Holy Qur’an</em> ayat ini dapat diartikan “menciptakan manusia dari kecintaan”, karena menurut beliau “diriwayatkan dalam sebuah Hadits bahwa Allah  berfirman<strong>: ‘</strong>Aku suka agar Aku dikenal, maka dari itu Aku menciptakan  manusia” (tafsir no. 2770). Arti ini amat sufistik.</p>
<p>Ayat ketiga berisi perintah membaca diikuti informasi bahwa Tuhan adalah yang paling Murah-hati. Ini berarti berkat membaca dengan memohon  pertolongan Tuhan derajat manusia terangkat, dari <em>alaq</em> atau segumpal darah yang mengandung arti bahwa betapa tak berartinya asal-mula manusia dapat mencapai derajat mulia yang kemuliaannya melebihi malaikat. Al-Junaid yang dikenal sebagai salah seorang tokoh sufi terkenal mengemukakan bahwasannya sufi adalah perpindahan manusia dari budi pekerti tercela menuju budi pekerti terpuji.</p>
<p>Ayat keempat “Yang mengajar (manusia) dengan pena”  ini berarti, bahwa pena  dan tulisan bukan saja  alat ampuh untuk mempropagandakan ilmu tentang keesaan Ilahi saja, melainkan pula pena dan tulisan digunakan untuk menyebarluaskan ajaran Islam dan menjaga keaslian Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Suci Muhammad saw. Betapa pentingnya pena (<em>qalam</em>) dalam wahyu kedua digunakan Ilahi untuk bersumpah (68:1), agar manusia memperhatikannya. Berkat  pena ilmu dan pengalaman suatu generasi dapat ditransfer kepada generasi berikutnya atau dari seseorang  yang memiliki  atau dikaruniai ilmu kepada orang lain yang belum mengetahuinya.</p>
<p>Ayat kelima “Yang mengajarkan kepada manusia apa yang ia tak tahu”. Ayat ini melengkapi ayat sebelumnya. Ada dua cara yang digunakan  Ilahi dalam mengajar manusia, yaitu: <em> pertama</em>, melalui  pena (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia guna mengetahui hal – hal yang telah terjadi, dan  yang <em>kedua</em>,  pengajaran secara langsung tanpa  pena (tulisan)  yang banyak  dialami oleh para Nabi Utusan Allah dan orang-orang suci, yakni  para wali dan  mujaddid dari abad ke abad,  yang berupa  ilham, kasyaf (<em>visium</em>) dan ru’ya atau ru’yash-shalihah, dengan cara ini  seseorang tidak  hanya  mengetahui hal-hal yang telah terjadi  saja, melainkan pula dapat  mengetahui hal-hal yang sedang dan akan terjadi.</p>
<p>Dari wahyu pertama  yang diterima  oleh Nabi Suci itu saja  dapat digaris-bawahi pernyataan  Titus Burckhardt dalam bukunya <em>An Introduction to Sufi Doctrine</em> (1976) bahwa “peranan sufisme dalam dunia Islam benar-benar seperti hati dalam diri manusia.” Hal ini nampak nyata dalam kehidupan Nabi Suci dan para sahabatnya yang mulia, terutama Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin ‘Affan dan Ali bin  Abi Thalib. Meski sebagai kepala negara yang telah menaklukkan Romawi dan Persi, kehidupan mereka  sufistik seperti penghulunya, mereka hidup dalam kesederhanaan  dan wafat tanpa meninggalkan istana dan harta yang diwariskan kepada ahli warisnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> Tasawuf modern</strong></p>
<p>Memang sejarah mencatat pula bahwa pasca abad ke-4 Hijriah dunia Islam mengalami kemunduran yang sufisme menjadi salah satu sebabnya sebagaimana  telah dinubuatkan oleh Quran Suci dan Hadits Nabi, misalnya surat At-Takwir dan Hadits riwayat Baihaqi dari Ali bin Abi Thalib, bahwa pada akhir zaman Islam tinggal namanya dan Quran Suci tinggal tulisannya, karena umat Islam terpecah dalam dua pola kehidupannya, satu pihak terbuai oleh kenikmatan duniawi yang serba glamour dan dipihak lain terjerumus kedalam kehidupan mistik yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani, Kristiani, Persia dan Vedanta.</p>
<p>Dalam era globalisasi yang kompetitif ini kemajuan sain dan teknologi yang serba materialistic, rasionalistik, verbalistik dan sekularistik digugat, karena tak mampu  menjangkau  realitas-immaterial yang  sifatnya subyektif, intuitif dan eksperimentalistik. Tuntutan  ini hanya bisa dicapai  lewat jalur sufisme atau tasawuf modern  yang sifatnya Qur’anik sebagaimana dipraktekkan oleh Nabi Suci Muhammad saw. dan para sahabatnya. Untuk mencukupi kebutuhan ini Allah Yang Rahman dan Rahim membangkitkan H.M. Ghulam Ahmad sebagai Mujaddid dalam bidang syariat dan tarekat. Tarekat beliau adalah tarekat Nabi Suci Muhammad saw. yang menjadi sumber kemajuan, baik di bidang duniawi maupun ukhrawi.</p>
<p>Gerakan tajdid (pembaharuan) beliau kemudian dinamakan Ahmadiah. Untuk menunaikan kewajiban agama bergabung dengan beliau caranya sebagai berikut. Pertama mengucapkan bai’at sbb:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em> Bismillahir-rahmanir-rahim. </em></p>
<p><em> Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar-rasulullah</em>.</p>
<p>Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah; dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu Utusan Allah.</p>
<p>Pada hari ini di bawah tangan ………… saya menyatakan diri sebagai pengikut Gerakan Mujaddid Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih yang dijanjikan dan Mahdi. Dengan segala keikhlasan  hati saya bertobat atas dosa saya  sampai hari ini, dan saya berjanji akan menjauhkan diri dengan sekuat-kuatnya  dari segala perbuatan dosa. Saya berjanji dengan sekuat-kuatnya hendak menjunjung agama melebihi dunia. Dengan sekuat-kuatnya saya hendak menetapi  shalat, zakat, puasa dan naik haji ke Mekkah. Dengan sekuat-kuatnya saya hendak tabligh agama Islam dan meluaskan Gerakan  Ahmadiyah seperti yang diperintahkan oleh Gerakan   Ahmadiyah Indonesia. Ya Allah, ya Rabbi! Saya mohon ampun atas kesalahan saya, dan mohon perlindungan dari dosa.  Ya Tuhan, saya mengakui kesalahan saya, maka ampunilah kesalahan saya, karena tidak ada yang dapat mengampuni kesalahan selain Engkau.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu mengucapkan ”Janji Sepuluh” sbb:</p>
<p>1.       Selama hidup tak akan berbuat dosa syirik (yaitu menyembah Tuhan selain Allah).</p>
<p>2.      Akan mengingkari segala macam kejahatan, seperti misalnya: berdusta, berzina, memandang orang lain dengan nafsu birahi, khianat, sewenang-wenang, mengacau dan berbuat bencana, lagi pula tak akan tunduk kepada meluapnya hawa nafsu.</p>
<p>3.      Akan tekun menjalankan  shalat lima waktu sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasul-Nya; dan dengan sekuat-kuatnya akan menjalankan shalat tahajjud, dan memohonkan rahmat atas  Nabi Suci  (sholawat), memohon perlindungan daripada dosa (istighfar),  mengucapkan syukur atas nikmat Ilahi (tasyakur), memuji dan memahasucikan Allah (tahmid dan tasbih).</p>
<p>4.      Tak akan menyakiti sesama manusia, teristimewa kaum Muslimin, baik dengan tangan, lisan ataupun  dengan cara-cara lain.</p>
<p>5.      Akan tetap  setia  kepada Allah,  baik di waktu  senang maupun susah, di waktu  kecukupan maupun kesempitan, di waktu sehat maupun sakit; dan akan  menghadapi  segala kesukaran  dan kehinaan  di jalan  Allah  dengan gembira; di saat – saat  derita  tak akan mundur selangkah  pun  bahkan semakin menguatkan  tali pengikat dengan Allah.</p>
<p>6.      Akan menjauhkan diri dari  kelakuan buruk atau menurut ajakan nafsu  daging; dan akan mentaati sepenuhnya segala perintah  Qur’an Suci; dan akan menjunjung tinggi sabda Allah dan Rasul-Nya sebagai pedoman hidup.</p>
<p>7.      Akan menjauhkan diri dari kesombongan, dan sebaliknya akan hidup dengan andap asor, rendah hati dan lemah lembut.</p>
<p>8.      Akan menjunjung tinggi kehormatan agama Islam melebihi apa saja, bahkan melebihi jiwa, harta, tahta , anak dan saudara.</p>
<p>9.      Akan mencintai sesama manusia demi cinta saya kepada Allah; dan dengan sekuat-kuatnya hendak menggunakan nikmat pemberian Allah untuk kebahagiaan umat manusia.</p>
<p>10.  Akan mentaati  perjanjian ini sampai mati, dan dengan segala  keikhlasan akan meneguhkan tali persaudaraan ini lebih daripada ikatan keluarga dan ikatan-ikatan lainnya.</p>
<p align="right"><strong><em>  </em></strong></p>
<p align="right"><strong> S. Ali Yasir </strong></p>
<p align="right"><em> Ketua Tabligh &amp; Tarbiyah PB GAI</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadiyah.org/2009/02/ahmadiyah-tasawuf-modern/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Integrasi Religi</title>
		<link>http://ahmadiyah.org/2009/02/integrasi-religi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=integrasi-religi</link>
		<comments>http://ahmadiyah.org/2009/02/integrasi-religi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 06:11:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadiyah.org/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[oleh S. Ali Yasir Mengapa salib dipecah? Kata salib (berasal dari bahasa Arab shalb adalah cara membunuh  yang sudah terkenal) menurut KBBI artinya:  1. dua batang kayu yang bersilang tempat Yesus dihukum orang Yahudi; 2. tanda silang; menyalib menghukum mati pada kayu salib (tangan dan kaki orang yang dihukum direntangkan dengan dipakukan pada kayu salib). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh S. Ali Yasir</p>
<p><strong> Mengapa salib dipecah?</strong></p>
<p>Kata <em>salib</em> (berasal dari bahasa Arab <em>shalb</em> adalah <em>cara membunuh  yang sudah terkenal</em>) menurut KBBI artinya:  1. dua batang kayu yang bersilang tempat Yesus dihukum orang Yahudi; 2. tanda silang; <em>menyalib</em> menghukum mati pada kayu salib (tangan dan kaki orang yang dihukum direntangkan dengan dipakukan pada kayu salib). Jadi kalau hanya  direntangkan dengan  dipakukan pada kayu salib  tidak sampai mati lalu diturunkan namanya bukan menyalib dan tak ada atau tak terjadi penyaliban.</p>
<p>Isa Almasih  sangat takut  menghadapi salib,  maka beliau mohon ke hadirat Allah sampai peluhnya seperti titik-titik darah bertetesan ke tanah (Luk 22:41-44), dan  di tiang  salib berseru ” <em>Eli, Eli lama sabakhtani</em> (tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau tinggalkan aku?” (Mat 27:46). Dalam  keadaan demikian penyelamatan Tuhan datang ”<em>syubbiha lahum</em> (dia diserupakan telah mati menurut pandangan mereka)” (4:157), yang menurut kaumnya, yakni kaum Yahudi dan Kristen beliau dianggap telah mati ditiang salib sebagai akibat dari penyaliban, bahkan harus diimani telah mati disalib. (4:159). Jadi kaum Yahudi dan Kristen mengimani Isa Almasih mati disalib. Keimanan itu bagi kaum Yahudi untuk membenarkan tuduhan mereka terhadap Almasih sebagai orang terkutuk, <em>na’udzu billah min dzalik.</em> Sedang keimanan kaum Kristen untuk membenarkan  dogma mereka tentang dogma penebusan dosa, suatu dogma yang tak dikenal oleh Isa Almasih.</p>
<p>Jadi tentang penyaliban Isa Almasih ada perbedaan tajam antara beliau dengan umat Kristen. Perbedaannya ialah: (1) beliau takut dan tidak rela disalib, tetapi  menurut umat Kristen  beliau  ”tak takut untuk disalib, karena penyaliban merupakan  konsekwensi dari tugas  yang beliau emban, seperti tersirat dalam Mar 8:34. (2) Beliau yakin  tak akan  mati di tiang salib  karena Allah telah menjanjikan keselamatan diri beliau (3:55), tetapi  umat Kristen  justru  menetapkan  kematian Yesus di tiang  salib (4:159) sebagai rahmat untuk memperbaharuhi dunia (3) Kematian  disalib menurut beliau suatu bukti  kehinaan sebagaimana dijelaskan  dalam Taurat Musa (Ul 21:22-23), tetapi menurut  umat Kristen  diyakini sebagai tanda kemenangan  dan  keselamatan (1Kor 2:2). (4) Permohonan beliau dikabulkan Ilahi, maka penyaliban gagal – meski kaum Yahudi berhasil menangkap, mengadili, mengejek dan menganiaya beliau  –  sebagaimana telah dinubuatkan oleh para Nabi terdahulu, tetapi menurut umat Kristen  penyaliban sukses, sesuai dengan rencana kaum Yahudi (jika yang ditangkap lalu diadili kemudain direntangkan dengan dipakukan kedua tangan dan kaki pada tiang salib bukan Isa Almasih,  tetapi Yudas, maka  yang gagal bukan penyaliban Isa Almasih saja, melainkan pula penangkapan, pengadilan dan penganiayaan terhadap diri beliau).</p>
<p>Sebagai orang yang beriman kepada para Nabi Utusan Allah, termasuk Nabi Isa Almasih  bin Maryam, maka ia harus mencintai beliau, menghormati beliau dan membela beliau jika dilecehkan, dengan cara menyingkirkan apa yang beliau takuti dan benci, yakni penyaliban dan melestarikan apa yang beliau  sukai dan ajarkan. Inilah sebab utama, mengapa salib harus dipecah dan dipatahkan dengan dalil-dalil dari Kitab Suci dan buti-bukti sejarah, bukan dengan palu dan kampak ala preman. Untuk ini Nabi Suci menubuatkan bahwa diakhir zaman akan datang seorang Imam dari umat Islam bergelar sebagai Almasih Isa bin Maryam yang salah satu tugasnya adalah memecahkan salib.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> Sumber kemunduran dan kerusakan</strong></p>
<p>Salib adalah suatu lambang universal dan dasariah, yang dalam  aneka bentuk terdapat dalam beberapa lingkungan kebudayaan (<em>Ensiklopedia Gereja, terbitan CLC, Jakarta</em>,  hlm. 151). Salib  ”untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi (kafir) suatu kebodohan” (1 Kor 1 : 23), sedang salib untuk orang Kristen dianggap sebagai tanda keselamatannya, sebagaimana dinyatakan oleh Paulus kepada jemaatnya di Korintus: ”Sebab aku telah memutuskan <strong><em>untuk tidak mengetahui apa-apa</em></strong> diantara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1 Kor 2:2).</p>
<p>Oleh karena itu Allah ungkapkan kedahsyatan  dampak pemahaman  salah  kaum Yahudi dan Kristen  terhadap penyaliban Isa Almasih. Kedua umat sejatinya berada dalam keraguan  tentang kematian  Almasih di tiang salib, mereka  tak punya pengetahuan tentang kematian  beliau, hanya mengikuti dugaan saja dan tak yakin  telah  membunuh beliau dengan yakin (4:157), maka dari itu keduanya saling menyalahkan: <em>Kaum Yahudi berkata, kaum Kristen tak menganut sesuatu (yang baik); dan kaum Kristen berkata, kaum Yahudi tak menganut sesuatu (yang baik); padahal mereka membaca kitab (yang  sama). Demikian pula orang-orang yang tak mempunyai pengetahuan, berkata, seperti apa yang mereka katakan</em>” (2:113).</p>
<p>Sikap tidak mau tahu apa-apa selain apa yang ada pada dirinya seperti diajarkan Paulus itulah  penjabaran  simbol Salib yang  visualisasinya dan tiga macam termasyhur, yaitu tanda plus (+), tanda (T) dan tanda silang (X). Sebagai lambang mengandung arti  penyerahan diri secara  mutlak kepada Kristus, bahkan  bersedia  mati baginya (Luk 9:23). Pada zaman  Yesus memang  bagus dan tanda kebaktian yang tulus sebagaimana diperagakan oleh  kaum Hawariyin (3:52), tetapi  dikemudian hari menjadi buruk setelah munculnya Dajjal, karena  syariat yang dijunjung  tinggi oleh  Yesus Kristus ditiadakan dan dianggapnya sebagai kutuk Tuhan. Dalam praktek penyerahan diri umat secara mutlak  diberikan kepada para ulama dan pendeta, maka dari itu umat Kristen terjebak dalam pendewaan ulama dan pendeta sebagaimana dinyatakan Ilahi dalam firman-Nya: ”Mereka mengambil para ulama dan pendeta mereka sebagai tuhan disamping Allah dan Almasih bin Maryam” (9:31), sehingga karena itu umat  terpecah belah menjadi berbagai golongan yang saling bermusuhan dan membenci karena mempertuhan ulama dan pendetanya masing-masing. Disamping itu bahaya sikap itu adalah  sebagai penghalang kemajuan ilmu, akhlak dan rohani.</p>
<p>Sejarah  menjadi saksi, masa kejayaan  Krsiten yang pertama (abad ke &#8211; 4 s/d ke-7M) ditengarai kerusakan akhlak dan kemunduran ilmu pengetahuan (30: 41-42), demikian pula pada masa kejayaan Kristen yang kedua (abad ke -17 s/d ke- 20M) juga ditengarai kemunduran  akhlak dan rohani (19: 90-92). Ilmu pengetahuan dan tehnologi mereka memang maju, tetapi kemajuan itu bukan karena agama mereka, melainkan karena mereka meninggalkan agama mereka, alias mereka mematahkan ”salib”nya sendiri atas dasar kemauan diri mereka sendiri. Maka dari itu  di negara-negara maju agama  Kristen  mengalami kemunduran.</p>
<p>Sikap tidak mau tahu apa-apa  selain dari apa yang ada pada dirinya dilestarikan oleh para ulama  dan pendeta  disebut kerahiban (57:27), umatnya tinggal mengikuti dengan membabi buta, sikap ini disebut <em>taqlidul-a’ima</em>, yang oleh Qur’an Suci dilukiskan sebagai mempertuhan ulama, pendeta dan Almasih bin Maryam (9:31).</p>
<p>Qur’an Suci dan Hadits Nabi menubuatkan bahwa dengan berlalunya waktu yang lama,  hati kaum Muslimin menjadi keras dan kebanyakan mereka mendurhaka seperti halnya  orang-orang yang diberi Kitab Suci dahulu, yakni kaum Yahudi dan Kristen (57: 16), mereka berpecah belah menjadi berbagai golongan, karena ”mempertuhan para ulamanya.”Nubuat tersebut tepenuhi pasca Nabi Suci  dan para  sahabat sampai generasi tabi’in. Sejak itu secara berangsur-angsur mereka meninggalkan <em> Qur’an Suci</em> (25: 30) dan Hadits Nabi (4:65), karena jika terjadi tanazu’  (pertentangan) tak ”<em>dikembalikan kepada Allah dan Rasul</em> (4:59), tetapi dikembalikan kepada fatwa ulamanya. Inilah sumber kemunduran dan kerusakan umat Islam yang mencapai kesempurnaan seribu tahun setelah khairul-qurun yakni tiga abad permulaan (32:5). Saat itu para ulama yang menjadi panutan umat dilukiskan oleh Nabi Suci sebagai ”mahkluk yang paling buruk di bawah kolong langit, karena dari mulut mereka  keluar fitnah, padahal kepada mereka sendiri fitnah itu kembali.” (H.r. Baihaqi).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> Eksklusivisme dan pluralisme keagamaan</strong></p>
<p>Qur’an Suci memberi kabar baik, bahwa setelah kaum Muslimin terpuruk sampai titik nadir perkembangannya, tibalah saat kebangkitannya kembali (57:17), dengan cara yang sama dengan masa awalnya. Jika pada ”golongan yang awal” (56:39) Allah berkenan membangkitkan seorang <em>Utusan</em> dari  bangsa Ummi (62:2) yakni Nabi Suci Muhammad saw., sebagai Khatamun-Nabiyyin (33:40) dan rahmatan lil-’alamin (21:107);  pada ”golongan yang akhir” (56: 40) Allah berkenan juga  membangkitkan  seorang <em>utusan </em>dari bangsa lain (62:3), yakni dari keturunan Salman Al-Farisi (H.r. Bukhari). Beliau yang mendakwahkan diri sebagai utusan Ilahi keturunan Salman Al-Farisi adalah H.M. Ghulam Ahmad (1835-1908). Kedua beliau  kehadirannya adalah sebagai ”<em>fadhlullah</em> (karunia Allah)” dari ”<em>Allahu dzul-fadhlil-’azhim</em> (Allah Tuhannya karunia yang besar) ” (62:4).</p>
<p>Oleh karena itu beliaulah yang menghidupkan kembali  doktrin Islam yang rahmatan lil’alamin  di akhir zaman ini, yang sebelumnya telah dilupakan oleh kaum Muslimin, misalnya tentang eksklusivisme dan pluralisme keagamaan. Eksklusivisme  menurut Qur’an Suci sebagaimana dijabarkan  oleh Nabi Suci sifatnya moderat, karena meski berpendapat bahwa hanya dalam Islam terdapat dan terpelihara kebenaran (98:2-3) secara  sempurna seperti diwahyukan Tuhan (15:9), tetapi Islam mengakui bahwa agama -  agama lain terdapat unsur-unsur yang sebenarnya tidak apat diragukan kebenarannya (3:64), bahkan dijunjung tinggi yang diimani (2:4, 285) dengan demikian memungkinkan dialog dan kerja sama antar umat beragama (29: 46). Tetapi umat Islam di akhir zaman  berpandangan ekstrim, karena pendapatnya hanya  agama Islam saja yag memiliki kebenaran  keagamaan, sedang  agama lain dianggap  seluruhnya salah, yang karena  itu umatnya harus ditobatkan, jika perlu  dengan pedang. Pandangan ini didasarkan  penafsiran harfiah ayat Qur’an Suci 3:18, 85 kitab fiqih bab ”jihad”. Mereka lupa bahwa Nabi Suci pernah bersabda, ”Jangan kamu benarkan Ahlikitab dan jangan pula kamu dustakan mereka” (H.r. Bukhari). Maksudnya jangan kamu benarkan semua ajaran Ahlikitab, karena banyak kesalahan dan jangan pula kamu salahkan ajaran Kaum Ahlikitab karena masih banyak kebenarannya. Untuk mengetahui mana yang benar dan salah batu ujinya adalah Quran Suci. Itulah salah satu sebab mengapa Quran Suci berfungsi sebagai Al-Furqan (25:1).</p>
<p>Pluralisme keagamaan menurut Qur’an Suci sebagaimana dipraktekkan oleh Nabi Suci sifatnya juga moderat, karena memanndag bahwa semua agama, meskipun  dengan  jalan masing-masing yang berbeda, tetapi menuju satu tujuan terakhir yang sama, yakni Allah, Tuhan Yang Maha Esa (5: 48), sebab semua agama asli murninya dari Allah SWT (18:47; 16:36) yang diwahyukan secara evolusif sejak  Adam  a.s. Nabi yang pertama sampai Nabi Suci Muhammad saw. Nabi  yang terakhir (33:40). Tetapi umat Islam di akhir zaman memahami pluralsime agaama seperti  dikemukakan oleh  Komisi  Fatwa Majelis Ulama Indonesai (MUI) ”bahwa semua agama itu sama, agama  itu  sama benarnya dan baiknya sehingga  semua pemeluk agama berdampingan di Sorga.” (<em>Media Indonesia</em>, Jum’at 5 Agutus 2005). Suatu definisi yang didasarkan  atas buku-buku teologi dan fiqih Islam. Suatu  rumusan  tak sejalan dengan firman Allah dalam Quran Suci 2:62, 5:48; 13: 7; 16:36; 22: 17; 34:28.</p>
<p>Kepada  para pengikutnya beliau menyatakan : ”Wahai saudaraku yang telah mengambil baiat dan telah menjadi warga Gerakan semoga Allah mengaruniaimu kekuatan untuk menjalankan perkara-perkara yang diridloi-Nya. Hari ini kalian kecil alam jumlah, dan dipandang dengan penuh  kebencian dan penghinaan”. Lebih lanjut beliau berkata, ”Ingatlah dengan yakin, bahwa kutukan dari umat manusia, jika ini tidak timbul dari kutukan Ilahi, jelas sekali tidak ada konsekwensinya. Jika Tuhan tidak berkehendak untuk menghancurkan kita, maka tak seorang pun bisa menghancurkan kita; tetapi jika Dia menjadi musuh kita, maka tak seorangpun  yang bisa melindungi kita. Allah bermaksud seluruh jiwa  yang tulus baik yang  hidup di Eropa, Asia ataupun di belahan dunia yang lain, hendaknya ditarik ke dalam Keesaan-Nya dan direngkuh bersama, dalam barisan Satu Agama &#8230;. Maka berusahalah untuk meraih tujuan ini berlandaskan kerendahan – hatimu dan doa” (<em>Izalah  Auham</em>, hlm. 446).</p>
<p>Alam dan zaman memberi kesaksian, bahwa kini dunia dalam barisan menuju Satu Agama&#8230;. Agama alam semesta, Agama fitrah  manusia, yakni Islam (damai). Tibalah saatnya ”salib” dalam hati yang menghalangi perkembangan fitrah manusia dipecah dan dipatahkan guna menyongsong langit baru dan bumi baru. Integrasi religi lewat eksklusivisme moderat dan pluralisme keagamaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="right"><strong> S. Ali Yasir </strong></p>
<p align="right"><em> Ketua Tabligh &amp; Tarbiyah PB GAI</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadiyah.org/2009/02/integrasi-religi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

