facebooklikebutton.co

Egois

Di dalam kamus bahasa Inggris – Indonesia, John M. Echols dan Hassan Shadily, egoisme diartikan sebagai “keakuan”. Sedang kata egoist diartikan sebagai sifat yang hanya mengejar kepentingan dirinya sendiri.

Di dalam percakapan sehari-hari, kata “aku” adalah kata yang paling sering kita ucapkan. Mungkin karena singkat, mudah dan enak diucapkan. Akan tetapi, bisa jadi, kata-kata seperti “aku” akan tidak enak didengar oleh lawan bicara kita. Karena meninggalkan kesan seolah-olah ingin mengalihkan seluruh perhatian orang lain hanya kepada dirinya saja.

Secara konseptual, di dalam ajaran Islam “aku” atau “keakuan” bagi seorang muslim itu harus melebur bersama “aku-aku” yang lain sehingga terjadi satu “kebersamaan”. Sebagaimana tubuh terdiri organ-organ. Apabila salah satu organ tubuh merasakan sakit, maka organ tubuh yang lain akan ikut merasakan. Sekalipun keluhan itu ditimbulkan oleh organ yang terkecil.

Jadi, unsur kebersamaan itu harus mewarnai setiap muslim dalam segala aktivitas dan obsesi kehidupannya. Dalam keadaan sangat situasional sajalah seorang muslim akan mengucapkan keakuannya, untuk menunjuk dirinya. Seperti dicontohkan dalam Surat An Naml (27:40), “Ini adalah sebagian dari anugerah Tuhanku, dalam rangka menguji aku, apakah aku bersyukur atau mengikangkari (nikmat-Nya)”. Atau seperti dalam Surat Yusuf  (12:86), “Dia berkata, sesungguhnya aku hanya mengadu kesedihanku dan kesusahanku kepada Allah, dan dari Allah aku tahu apa yang kamu tak tahu.”

Kata-kata “aku” dalam dua ayat di atas diucapkan untuk mewakili dirinya sendiri. Jadi, bukan untuk orang lain.

Sedangkan di dalam Surat Alfatihah (1:5), “Hanya kepada-Mu kami mengabdi, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan”. Kata-kata “kami” diucapkan untuk mewakili aku-aku yang lain. Jadi, bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk semuanya.

Ini jelas mengisyaratkan bahwa dalam hal mendapatkan kenikmatan atau hal-hal yang bersifat menguntungkan, justru seorang muslim tidak selayaknya memiliki sifat-sifat keakuan atau ego, melainkan harus memiliki “unsur kebersamaan”.

Nabi Suci menggambarkan kata “aku” dalam Surat Al-An’am (6:50), “Katakanlah, Aku tak berkata kepada kamu, bahwa aku mempunyai perbendaharaan Allah, dan aku (tak berkata) bahwa aku tahu barang gaib, dan aku tak berkata kepada kamu bahwa aku malaikat”.

Kata “aku di ayat ini menunjukkan sikap rendah hati dan kesederhanaan. Di sini, kata “aku” dipergunakan Rasulullah untuk tidak membuat distingsi antara dirinya dengan manusia lain, melainkan sebaliknya untuk menunjukkan bahwa beliau itu sama saja dengan orang-orang lain yang lebih rendah darinya. Meski pada kenyataannya beliau adalah manusia pilihan Tuhan.

Dari sini, dapat kita maknai, bahwa Nabi selalu menunjukkan kesederhanaannya. Nabi Suci bahkan selalu berkata dalam bahasa yang santun, halus dan sopan.

Egoistis adalah sifat manusia yang mendorong dia mengejar kepentingan diri sendiri, yang mungkin di dalam terminologi agama dapat dikategorikan sebagai golongan orang yang masih memiliki sifat “nafsu ammarah”, yaitu sifat jiwa yang menginginkan segala sesuatu harus berpusat kepada dirinya.

Pada umumnya sifat egoist adalah sifat profanistis-materialis, sifat yang tidak mengutamakan kehidupan rohaniah spiritual. Karakteristik seorang yang memiliki sifat egois antara lain tergambar seperti, “ingin dan senang disanjung, cemburu, iri hati, berhati dengki, bermuka dua, munafik, senang menggunting dalam lipatan, senang mengadu domba, pemarah, tidak berlapang dada, senang menjilat” ataupun sifat-sifat lain yang serupa.

Rasa keakuan atau egoisme ini sangat berbahaya, karena akan mengarah pada pemusatan pada dirinya sendiri saja, yang akhirnya akan menuhankan dirinya sendiri. Sehingga sifat-sifat seperti ini harus cepat-cepat dihilangkan.

Semoga, adanya pengetahuan, pengalaman dan kesadaran terhadap sifat-sifat seperti di atas akan  menjadikan stimulan atau perangsang untuk menciptakan corak kehidupan yang mengarah pada nilai-nilai spiritual, bukan material, yaitu suasana batin yang terjadi karena adanya keinsyafan diri atau refleksi diri, sebagai akibat dari adanya sistem kehidupan berfikir yang cerdas dan sadar secara moral serta cenderung ke arah rohani, dan menumbuhkan rasa kebertuhanan yang tinggi. Wallaahu a’lam bish-shawab. [Fathurrahman Irshad]

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*