facebooklikebutton.co
ARTIKELTOKOH

Djojosoegito: Ulama Intelektual dan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Raden Ngabehi Haji Minhadjurrahman Djojoseogito adalah seorang intelek ulama dan pahlawan tanpa tanda jasa, yang sebagian besar hidupnya digunakan untuk mengabdi kepada Allah melalui bidang pendidikan dan dakwah. Beliau hidup antara tahun 1889-1966, dan lebih dikenal dengan nama Djojosoegito saja.

Alkisah, sekitar Abad ke 19 akhir, hiduplah keluarga seorang alim bernama Kyai Mangunharso, Penghulu Naib di Sawit, Boyolali. Di akhir abad ke 19, keluarga Mangunharso dikaruniai Allah seorang anak laki-laki, yang kelak diberi nama Minhadj.

Minhadj lahir pada tanggal 16 April 1889 di Desa Sawit, Boyolali, Jawa Tengah. Anak pertama dari empat bersaudara: Minhadj, Muhammad Sopari, Kusno dan Siti Musripah. Setelah naik haji pada tahun 1956, namanya menjadi Minhadjurrahman. Kemudian setelah hidup berkeluarga namanya menjadi R. Ng. H. Minhadjoerrahman Djojosugito.

Minhadj dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang taat beragama. Dari garis ibu beliau masih keturunan darah bangsawan kraton. Hal mana tidak mengherankan apabila pengaruh keluarga dan lingkungannya ikut membentuk pribadinya, serta menghantarkannya menjadi seorang muslim yang baik. Terbukti di kemudian hari dia menjadi seorang pejuang Islam dengan membawa faham baru untuk membela Islam.

Sejak kecil Minhadj diasuh dan dibimbing oleh orang tuanya dan pamannya, seperti Kyai Imam Barmawi, Kyai Zainal Muchtaram, Kyai Jumali, Kyai Thahir dan Kyai Nain. Di samping itu beliau cukup lama hidup di pondok pesantren dan pengaruhnya sangat besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan spiritualnya.

Di samping pendidikan pendidikan non formal, beliau pernah juga mengenyam pendidikan formal, yakni sekolah di Kweekschool (Sekolah Guru), sehingga bisa menjadi seorang guru yang baik.

Berkat kemurahan Ilahi, beliau mendapat bimbingan seorang ulama dari Surakarta, K.H. A. Hisyamzaini selama empat tahun, sehingga kenallah kebangkitan Islam yang dipelopori oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh dari Mesir. Sejak tahun 1920 beliau mendapat bimbingan dari K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah selama kurang lebih tiga tahun.

Sekitar tahun 1924, beliau mulai mempelajari buku-buku terbitan Ahmadiyah, seperti Woking Muslim Mission, Literary Trust dan Ashraf Publication. Lebih dari itu, ia belajar langsung kepada mubaligh Ahmadiyah Lahore, Maulana Ahmad dan Mirza Wali Ahmad Baig

Kehidupan Keluarga

Sebagaimana diketahui R. Ng. H. M. Djojosoegito adalah seorang terpelajar dan pahlawan tanpa tanda jasa yang sebagian besar hidupnya digunakan untuk mengabdi kepada Allah melalui bidang pendidikan dan dakwah Islam. Meskipun demikian dia tidak sampai melupakan perlunya hidup berumah tangga.

Beliau menikah dengan Raded Roro Sumaryati, putri dari R. Sastrodiwiryo, seorang Asisten Collecteur Solo. Dari perkawinannya ini beliau dikaruniai sebelas orang anak, yakni Susatyo, Daryatmo, Suyatno, Susanto, Wiryawan, Iswari, Siti Rohmani, Syayidati Fatimah, Susmoyo, Ahmad Muhammad, dan Fathurrahman Ahmadi.

Sayangnya, Sumaryati dipanggil lebih dulu oleh Allah Ta’ala pada 23 Oktober 1936. Almarhumah dimakamkan di Malang, Jawa Timur. Betapa sedih Bapak Djojosoegito ditinggal istri tercinta, di mana waktu itu beliau sedang mengerjakan terjemah Qur’an Suci ke dalam bahasa jawa. Setelah istrinya meninggal pekerjaannya dirasa semakin berat, di samping harus mendidik anak-ankanya.

Untuk itu beliau mengirim surat kepada Ibu Kustirin di Purwokerto supaya membantu pekerjaannya. Maka tanggal 23 Desember 1936, jadilah ibu Kustirin pergi ke Malang untuk membantu beliau selama-lamanya dan melangsungkan perkawinan, setelah sebelumnya mendapat persetujuan dari kedua orangtuanya.

Dari perkawinannya yang kedua beliau dikaruniai oleh Allah lima orang anak, yakni Siti Nuraniyah, Hidayatullah, Mujtahid Ahmad, Syarifah Parwati dan Rahmah Wijayanti. Sedangkan putri bawaannya ada tiga, yakni Sri Kushartini, Sri Kushartati dan Sri Kusdiyati.

Dengan demikian kehidupan R. Ng. H. M. Djojoseogito dalam membina keluarganya sangat baik. Terbukti putra-putrinya banyak yang berpendidikan tinggi dan berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Ulama, Pemimpin dan Pendidik

Sebagai seorang ulama, hampir seluruh hidup Djojosoegito digunakan untuk mengabdi kepada Allah lewat bidang pendidikan dan dakwah. Di samping itu beliau cukup fanatik terhadap agamanya.

Pada masa pendudukan Jepang, setiap pagi pukul tujuh, semu anak-anak sekolah diwajibkan melakukan Taisyo (gerak badan), kemudian menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, Kimi Gayo. Kegiatan itu diakhiri dengan melakukan Sai Kirei, yakni penghikmatan kepada Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan ke arah matahari terbit.

Melihat perbuatan seperti itu, sebagai seorang muslim yang baik beliau tidak mau melakukannya. Sebagai akibatnya beliau ditangkap oleh polisi Jepang. Akan tetapi beliau dilepas kembali, setelah polisi Jepang itu mau menerima penjelasan beliau, bahwa Islam melarang menghormati sesama manusia secara berlebihan, sebab perbuatan itu bertentangan dengan tauhid.

Sebagai pemimpin sifatnya keras, tetapi halus tutur katanya, tidak sombong dan selalu membina, kharismatikanya besar, mampu menawan dan mendorong orang lain untuk mengikuti jejaknya. Misalnya, sejumlah alumni Kweekschool sekitar tahun 1924 mengikuti jejak beliau, tidak mau diangkat sebagai guru pemerintah, tetapi lebih senang menjadi guru partikelir Muhammadiyah, meskipun honorariumnya kurang dari cukup.

Sebagai pendidik sikapnya terhadap murid-muridnya sangat baik, tidak membeda-bedakan antara yang kaya dan miskin, petani dan buruh, keluarga yang berpangkat dan tidak, semua dianggap sama dalam satu keluarga.

Adapun terhadap keluarga, perhatiannya sangat besar, beliau selalu mendidik dan memberi contoh kepada putra-putrinya agar tekun beribadah, bisa membaca al-Qur’an dan paham akan arti dan maksud isinya. Setiap sehabis shalat maghrib berjamaah keluarga, beliau selalu memberikan ceramah tentang riwayat hidup Nabi Muhammad saw. Hal ini dimaksudkan agar putra-putrinya dapat mencontoh kehidupan Rasulullah saw.

Akhir Hayat

Ada kehidupan ada kematian, ada kemajuan ada kemunduran. Demikianlah hukum alam. Tak terkecuali dengan diri seorang tokoh GAI, R. Ng. H. Minhadjoerrahman Djojosoegito. Dia pernah jaya dalam perjuangannya, dan akhirnya surut, sampai akhirnya tutup usia. Kemudian generasi mudalah yang akan meneruskan perjuangannya.

Sebelum meninggal beliau mempunyai cita-cita, jika masjid Baciro telah jadi dan Qur’an Suci Djarwa Djawi telah terbit, beliau akan mengajarkan agama Islam dengan Qur’an Suci tersebut. Akan tetapi cita-citanya itu rupanya belum terlaksana, karena bersamaan dengan berdirinya masjid Baciro dan terbitnya Qur’an Suci Djarwa Djawi, beliau sudah tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Akhirnya beliau dipanggil pulang ke rahmatullah pada tanggal 21 Juni 1966 di tempat kediamannya. Jenazah dimakamkan di Makam Blunyah Gede Yogyakarta.

Karya-karya

Di dalam usahanya memperluas syiar Islam, Djojosoegito menerjemahkan beberapa buku terbitan Ahmadiyah Lahore, antara lain sebagai berikut:

  1. Qur’an Suci Djarwa-Djawi dalah Tafsiripun, terjemahan dari The Holy Qur’an karya Maulana Muhammad Ali
  2. Wedharing Sabda Kawasa, terjemahan dari The Teachings of Islam, karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad
  3. Pengertian yang Betul tentang Ahmadiyah, terjemahan dari True Conception of the Ahmadiyya Movement karya Maulana Muhammad Ali
  4. Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, terjemah dari Mirza Ghulam Ahmad of Qadian karya Maulana Muhammad Ali

____

Ditulis ulang dari Skripsi “Raden Ngabehi Haji Minhadjurrahman Djojosugito: Studi Tentang Pemikiran dan Perjuangannya” Oleh Arif Sarjito, Fakutlas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, 1994.

Comment here