facebooklikebutton.co

Damai Dalam Perbedaan: Toleransi dalam kacamata Islam

Oleh: Fathurrahman Irshad | Adanya berbagai macam pemahaman terhadap ajaran agama, acapkali menjadikan ketegangan di kalangan para pemikir Islam. Bahkan, hal itu kerap kali menciptakan perselisihan antar penganut agama atau perselisihan di kalangan umat Islam sendiri. Bagaimana cara kita menyikapi fenomena seperti itu? Allah Ta’ala berfirman:

“Tidak ada paksaan dalam agama. Jalan yang benar sungguh jelas berbeda dengan yang salah.” (QS 2:256)

Tuhan memberi kebebasan seluas-luasnya kepada manusia untuk menerima atau menolak agama sebagai sistem hidupnya. Kendati sistem hidup yang dianugerahkan Tuhan itu merupakan jalan yang paling benar, dan jelas sekali berbeda dengan jalan yang sesat.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama, fitrah buatan Allah yang Ia menciptakan manusia atas (fitrah) itu. Tak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah agama yang benar. Tetapi manusia tak tahu.” (QS 30:30)

Allah meminta agar manusia menggunakan agama sebagai sistem hidup. Islam menyuguhkan sistem hidup yang benar. Sistem itu diuraikan secara panjang lebar dalam Al-Qur’anul-Karim, dengan petunjuk pelaksanaan seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-harinya. Semua itu menjadi petunjuk agar manusia sesuai fitrahnya dapat mencerna dengan akal dan hatinya. Hal tersebut menjadikan Islam dijuluki sebagai agama yang membawa bicara akal dan hati.

Berbeda dengan Kitab-Kitab yang lain. Sejak diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW hingga kini, tidak sekalipun Al-Qur’an mengalami perubahan, karena dijaga sendiri oleh Allah SWT, sehingga Al Qur’an merupakan panduan sistem hidup yang paling benar.

“Dan jika Tuhan dikau menghendaki, niscaya Ia membuat umat manusia satu umat. Dan mereka tak henti-hentinya berselisih. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhan dikau, dan untuk itulah Ia menciptakan mereka. Dan terpenuhilah firman Tuhan dikau. Aku akan memenuhi Neraka dengan jin dan manusia, semuanya.” (QS 11:118-119)

Tuhan menciptakan manusia dalam berbagai suku bangsa, warna kulit, dan jenis kelamin serta memiliki sudut pandang atau pola pikir yang tidak sama atau paham yang berbeda. Dan masing-masing tentu akan menganggap paham yang dibawanya merupakan paham yang paling benar dan yang lain tidak benar. Hal ini memicu perselisihan antar mereka yang berbeda pemahaman itu. Namun tidak bagi orang-orang yang mau mendekatkan diri kepada Allah SWT, mereka akan mendapatkan rahmat berupa cara berfikir yang cerdas secara moral dan peka secara estetika serta memiliki naluri untuk menghindari perselisihan. Kehadirannya di bumi ini semata-mata hanya diniatkan untuk mengabdi dan mengharapkan cinta kasih-Nya saja.

“Dan bertakwalah kepada Allah. Dan Allah mengajar kamu. Dan Allah Yang Maha-tahu akan segala sesuatu.” (QS 2:282)

“Lalu mereka berjumpa dengan seorang hamba Kami yang Kami beri rahmat dari Kami, dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari Kami sendiri.” (QS 18:65)

Di banyak tempat, ayat-ayat Qur’an mengandung makna ganda (mutasyabihat). Dan banyak orang memahami kebenaran ayat-ayat suci Al-Qur’an melalui pendekatan rasional, tapi juga tidak sedikit yang mencoba mencari kebenarannya melalui pendekatan esoteris-spiritual atau melalui pengalaman intuisi. Meski demikian, akan ditemukan satu kesimpulan yang sifatnya final, mutlak dan tidak dapat disanggah lagi. Sebab masing-masing ayat akan saling mendukung, membenarkan dan memberi terang terhadap ayat yang lain.

Sejurus dengan hal itu, manusia diwajibkan untuk bertaqwa dengan menerapkan tuntunan moral spiritual yang ada dalam Al-Qur’an, yang di dalam terminologi Islam disebut Akhlakul Karimah, ke dalam dirinya. Maka Allah SWT akan mengajarkan cara mencerna Al-Qur’an dengan baik dan benar. Adanya penafsiran atau pemahaman yang keliru, tidak urung karena manusianya itu sendiri yang tidak menjaga ketaqwaannya dan/atau tidak menerapkan akhlakul karimah dengan baik pada dirinya.

Jarang kita menemukan penghormatan yang baik terhadap perbedaan pemahaman secara memuaskan. Padahal menentukan pilihan hati termasuk memberikan pemahaman adalah hak manusia yang diberikan Tuhan (QS 2:256) sehingga perlu sama-sama kita hormati.

Menghormati orang lain termasuk pemahamannya atas penolakan paham dan pilihan hati kita serta penghormatan orang lain kepada kita termasuk pemahaman kita atas penolakan terhadap paham dan pilihan hatinya, lazim disebut toleransi. Namun pengertian toleransi seringkali diartikulasikan sedemikian rupa sehingga maknanya menjadi demikian kabur dan tidak jelas, seperti “tidak ada masalah” atau “sama saja” atau “biarkan saja”. Pengertian seperti itu memang terdengar sederhana, namun sangat penting untuk kita koreksi. Kita wajib meluruskan pengertian toleransi dengan pengertian yang benar agar tidak lari dari pengertian yang sesungguhnya.

Toleransi bukan berarti bersikap masa bodoh akan adanya perbedaan paham dan juga bukan menyamaratakan paham yang benar dengan paham yang salah. Bila begitu, makna kebenaran yang terkandung dalam Al-Qur’anul-Karim bisa jadi akan dikesampingkan.

Sebenarnya dengan memberikan toleransi kita memiliki kesempatan untuk mengetengahkan kebenaran ajaran Islam yang harus kita junjung tinggi, yang harus kita jaga, yang harus kita tegakkan dan yang harus kita bela. Dalam kesempatan itu kita perlu mengetengahkan ajaran Islam yang benar dengan cara berfikir secara jelas, rasional, netral, obyektif dan kritis dan dilakukan dengan hati-hati dan secara arif, tanpa memaksakan kehendak agar orang lain mau menerimanya. Sebab memaksakan kehendak berlawanan dengan keinginan Tuhan. Dan mengenyampingkan kebenaran Islam sama halnya mengkhianati Islam itu sendiri.    

“Dan tidak Kami mengutus engkau kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam.” (QS 21:107)

Nabi Suci Muhammad SAW diutus Tuhan untuk menyampaikan rahmat bagi segenap bangsa. Rahmat Tuhan itu diwujudkan oleh Nabi Suci dengan cara memberikan cinta kasih kepada seluruh umat manusia di muka bumi ini. Tidak saja kepada pengikut beliau, melainkan juga beliau berikan kepada orang-orang yang berbeda pendapat atau berseberangan pemikiran, bahkan kepada musuh-musuh beliau. Beliau menghormati mereka sebagai umat Tuhan.

Inilah pokok ajaran Islam atau ajaran kebenaran. Islam tidak hanya sekedar mengajarkan cinta kasih, namun mewujudkan cinta kasih itu. Islam bukan saja agama yang mengajarkan kedamaian, tapi agama yang mendamaikan dan penuh toleransi. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*