facebooklikebutton.co
ARTIKELKLIPING

Dakwahnya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

Sudahlah datang saatnya, bahwa nubuwat-nubuwat tentang timbulnya Masih dan Mahdi itu akan mendapat kenyataannya. Pada ketika itu adalah satu masa yang terpenuh dengan bahaya dalam riwayatnya Islam, dan apabila ada diharapkan datangnya seorang Masih atau seorang Mahdi guna membela keperluannya Islam yang lagi tengahnya jatuh, maka tiadalah penuntutan yang lebih besar lagi yang bisa menyebabkan datangnya Masih atau Mahdi itu.

Kesusahan-kesusahan yang besar dan luas datanglah membanjiri Islam. Kalau kiranya bakal ada datang pertolongan dari Allah, maka pertolongan itu mestilah datang sekarang atau bakal terakhir datangnya, dan kebenarannya nubuwat-nubuwat yang tersebut itu akan menjadikan syak hati orang.

Satu perselisihan yang lebih berbahaya bakal terjadilah adanya. Hadits pun bakal kehilangan segala kesahihannya, sebab nubuwat-nubuwat ini ada beralasan hadits-hadits yang sangat kuat kesahihannya.

Oleh karena itu maka Allah memandang saat yang tersebut itu adalah saat yang sudah sepatutnya akan memenuhi nubuwat-nubuwat yang sudah lama menunggu kenyataannya itu. Maka dengan memakai lantaran Mujaddid yang tersebut itu, Dia menghilangkan keduanya rintangan yang besarr di dalam jalannya Islam, yaitu cita-cita tentang hidupnya Nabi Isa a.s. dan cita-cita tentang pedang yang dikatakan orang hendak dipergunakan untuk menyiarkan Islam, dan sekarang Dia telah berkenan lagi memilih Mujaddid buat memberi penerangan kepada kaum Muslimin tentang arti yang sebenarnya daripada nubuwat-nubuwat ini.

Sudah tetaplah dengan nyata sebagai nyata terangnya sinar pada waktu siang hari, bahwa yang dimaksudkan oleh nubuwat-nubuwat ini tiada ada lain melainkan Mujaddid yang ada pada dewasa ini adanya. Nabi Isa a.s. telah wafatlah. Ia pun tidak bisa datang kembali dengan badannya sebagai sediakala.

Adalah seorang orang lain yang mesti akan datang dengan dia punya nama, yang mesti datang daripada antara kaum Muslimin. Siapakah yang bisa lebih cakap melakukan jabatan yang tinggi ini melainkan Mujaddid sendiri, yang telah mendapat penerangan dari Allah tentang perkara-perkara ajai yang besar ini?

Dakwah asali yang telah dilahirkan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad ialah tidak ada lain melainkan dakwahnya Mujaddid belaka, dan tidak lebih dari itu. Ia pun diberi gelaran Masih itu tidak dengan sebab yang lain melainkan dengan sebab karena ia diserahi pekerjaan yang maha besar menolak serangan hebat yang dilakukan oleh kekristenan terhadap kepada Islam.

Dan setuju dengan Hadits, “Laa mahdiyya ilaa ‘iisaa,” yang menyatakan bahwa Mahdi dan Masih itu ada satu saja, maka ia pun diberinya pengertian bahwa ia adalah orangnya Mahdi yang tersebut itu juga adanya.

Lagipula ia ada diberi penerangan tentang arti yang sebenarnya daripada sebutan-sebutan Ya’juj Ma’juj dan Dajjal. Ya’juj Ma’juj itu bukan lain melainkan bahwa bangsa-bangsa Kristen pada masa ini telah memperoleh menang kekuasaan di atas segenap dunia.

Ayat di dalam Quran yang menyatakan, “Dan apabila Ya’juj dan Ma’juj ada dilepaskan dan mereka itu hendak keluar daripada tiap-tiap tempat yang tinggi,” artinya hendak memiliki tempat-tempat yang serupa itu di dunia, maka ayat yang tersebut itu ada menyampaikan kita kepada ketentuan fikiran dan jalan yang menyatakan maksudnya Hadits, “laa yadaani la hada biqataaluhum: tiadalah seorang yang berkekuatan akan melawan mereka itu.”

Begitu pun pula ia menunjukkan bahwa Dajjal itu ialah orang-orang yang menyiarkan pengajaran-pengajaran yang sama sekali bersalahan dengan pengajaran Nabi Isa a.s., meksipun dengan memakai namanya Nabi Isa a.s.

Dengan sebab yang demikian itu maka Dajjal itu disebutnya Masihid-Dajjal ialah satu nama yang menunjukkan bahwa aqidah-aqidah palsu akan disiarkan dengan namanya Nabi Isa a.s. sebagai yang sekarang ini dilakukan oleh paderi-paderi dari Barat.

Quran yang Suci telah menyebutkan nubuwat yang tersebut itu dengan perkataan-perkataan yang lebih terang lagi. Quran yang Suci tidak memakai perkataan Dajjal, tetapi memberi aqaid yang teristimewa tentang orang-orang yang disebutnya dengan nama Dajjal di dalam Hadits.

Satu Hadits menyebutkan bahwa untuk melindungi diri daripada pengaruh-pengaruh jahat yang dilakukan oleh Dajjal, haruslah orang membaca sepuluh ayat pembuka dan sepuluh ayat penutupnya surat al-Kahfi di dalam Quran. Sekarang apabila kamu menyelidiki ayat-ayat ini, maka kamu dapatlah satu ular-ular yang nyata tentang sifatnya bangsa-bangsa Dajjal.

Surat yang tersebut itu pada bahagiannya yang pertama-tama ada berisi perkataan-perkataan yang penting artinya, “Alladziina qaalut-takhadallaahu walada: Dan mereka yang berkata bahwa Allah telah menimbulkan seorang anak laki-laki.” Dan pada penutupnya menyebutkan juga orang-orang yang serupa itu, “afahasiballadziina kafaruu in yattakhaduu ‘ibaadii min duunii awliyaa’: Apa! Adakah mereka yang tidak percaya itu berfikir bahwa mereka bisa mengambil hamba-hambaKu menjadi perlindung-perlindungnya yang ada di luarKu?”

Sekarang aqidah-aqidah tentang keanakan Tuhan dan tang manusia Allah itu hanyalah ada teristimewa pada orang-orang Kristen belaka. Mereka itu menganggap Nabi Isa sebagai anak Allah dan mempunyai sifat Tuhan. Maka nyatalah mereka itu ada orang-orang yang disebutnya Dajjal di dalam sabdanya Nabi kita yang Suci.

Begitulah maka segala nubuwat-nubuwat yang tersebut dengan macam-macam bunyinya itu telah dijelaskan keterangannya oleh Hazrat Mirza. Persangkaan-persangkaan palsu yang berarti sebagai noda-noda yang kotor pada mukanya Islam yang indah itu, sekarang telah menyebabkan cemerlangnya tanda-tanda kebenarannya Islam.

Sesungguh pun begitu masih juga banyak pengertian yang salah tentang dakwahnya Hazrat Mirza, yang sesungguhnya tidak lain melainkan ialah dakwahnya Mujaddid belaka. Adapun keduanya dakwah yang lainnya itu terutama sekali menggambarkan dia punya rupa yang menampak sebagai seorang Mujaddid, yang sama sekali tidak ada pengaruhnya di atas dakwah yang asali itu.

 

_________________

Dinukil dari Da’watoel-‘Amal (Pengajakan Bekerja) oleh Maulana Muhammad Ali, Presiden Ahmadiyah Anjuman Isha’ati Islam, Lahore (Hindustan). Disalin oleh Oemar Said Tjokroaminoto, Presiden Central Sarikat Islam Yogyakarta (Jawa). Diterbitkan oleh Mirza Wali Ahmad Baig, Muballighul-Islam, Utusan Pergerakan Ahmadiyah, Yogyakarta (Jawa). Tanpa Tahun Terbit. Hal. 33-37.

 

 

Comment here