facebooklikebutton.co
ARTIKELKLIPING

Catatan Sepintas Kilas Pengalaman dalam GAI Cabang Purwokerto

Tahun 1931 telah lama silam. Pada waktu itu GAI cabang Purwokerto mulai berkembang. Di sana-sini dan di luar kota Purwokerto, keluarga Ahmadi kelihatan berkerumun untuk belajar (ngaji) agama Islam. Di rumah ibu Sudiyah/Sumarni, di rumah Bapak Asmuni, Bapak Moh. Singgih, Bapak H. Abdurrahim, Bapak Martoyuwono, Bapak Soleman, dan di lain tempat lagi.

Yang ngaji tidak hanya bapak-bapak/ibu-ibu/pemuda-pemuda dari dalam kota saja, tetapi banyak juga yang datang dari luar kota. Dari daerah Cilongok, Baturaden, Pliken, Sumbang, Sokaraja, dan yang lebih jauh lagi dari daerah Purbalingga dan Ajibarang.

Salat Jum’ah di kota Purwokerto dipusatkan di rumah/langgar Bapak H. Abdurrahim di Tipar, Purwokerto.

Semangat ngaji pada waktu itu, tidak hanya terdapat pada pemuda-pemuda saja, bahkan kasepuhan-kasepuhan pun sangat mengagumkan kegiatannya. The Holy Quran selalu berada di kempitan mereka.

Hampir semua pengajian di kota, pada waktu itu, saya ikuti dengan seksama, siang maupun malam bersama-sama dengan kasepuhan-kasepuhan lainnya.

Pada waktu itu, kami dapati kasepuhan-kasepuhan: Bapak-bapak/ibu-ibu Hasannudji, Hasannasngad, Kastadja, Hadisoemarto, Hardjosoewito, Rawan, Atmomihardjo, Moh. Kosim, Mohammad, Tarekat, Hardjosoebroto, Kiram, Songko Arsodipoero, H. Abdurrohim, Martoyoewono, Moh. Singgih Soemardi, Ranamedja, Maddarsan, Madkasan, dan masih banyak lagi.

Kasepuhan yang dari luar kota pun tidak mau ketinggalan. Bapak-bapak bersama ibu-ibu: Wangsawikarta, Ranawikarta (Bau Sumampir), Barmawi, Warnadi, Bapak-bapak beserta Ibu-ibu dari Pliken, Sumbang, Purbalingga dan masih banyak lagi.

Saudara-saudara dari sepantaran saya, saudara-saudara beserta ibu-ibu: Syamsoedin, Taram, Moh. Bachroen, Moh. Irsyad, Brahim, Soedji, Hardjowirono, Soleman b., Mahwari, Seodarsin, Sadiman, Moehardji, Ma’sum Sucipto, dan masih banyak lagi.

Dari luar kota: Saudara-saudara Mulyohardjono, Lomadi, Sadirman, Hadisoetrisno, Moh. Ali, Siswadi, Pudjisoemarto, dan lain-lainnya. Ibu-ibu: Soediyah, Soemarni, Seodilah, Soenarti, Salamah, Soehari, Kadjati, dan masih banyak juga.

Semangat keahmadiyah semakin hari semakin meningkat. Lebih-lebih setelah Mubaligh Lahore: Tuan Mirza Wali Ahmad Baig menetap di Purwokerto, semangatnya semakin menggila.

Pada waktu itu, kepengurusan GAI cabang Purwokerto dipegang oleh saudara-saudara/Bapak-bapak: Moh. Singgih, Martoyoewono, Mahwari, Hadisoemarto, Ibu Martoyoewono, dan beberapa orang lainnya.

Cabang Purwokerto meliputi daerah Kabupaten Banyumas dan Purbalingga. Ranting-rantingnya satu demi satu dapat terbentuk: Purwokerto, Sumampir (Baturaden), Sokaraja, Pliken (Kembaran), Sumbang dan Purbolinggo. Sedang penerimaan bai’at diwakili khusus oleh Bapak Djojoseogito.

Bertepatan dengan keluarnya Qur’an bahasa Belanda dan Sabdakawasa kurang lebih tahun 1934/1935, bahan-bahan pendidikan keahmadiyahan lebih banyak lagi. Lingkungan pengajaran pun lebih jauh lagi. Juga buku-buku kecil yang datang dari Pedoman Besar mulai mengalir. Pada waktu itu Majalah yang ada ialah: Muslim, Correspondentie Blad bahasa Belanda, Risalah Ahmadiyah untuk anggota, dan berkala yang dikeluarkan dengan bahasa Jawa: Wasita Adi. Semua majalah ini dapat kita gunakan bagi pendorong dan penggugah bagi kami sekalian.

Ada suatu hal yang perlu kami sampaikan. Pada waktu itu Indonesia masih dijajah Belanda. Bertepatan dengan kemajuan GAI sepesat itu, maka berdirilah di Purwokerto Ahmadiyah aliran Qadian, yang dipimpin oleh Suadara Ahmad Sarido. Meskipun begitu GAI cabang Purwokerto maju terus.

Langgar Bapak H. Abdurrohim Tipar lama-kelamaan sudah tidak cukup lagi digunakan untuk salat Jumat. Dari sebab itu, mulailah para keluarga GAI memikirkan kebutuhannya tentang tempat pesolatan yang lebih luas lagi.

Alhamdulillah. Tuhan selalu beserta kami. Para keluarga Ahmadi berlomba-lomba menyerahkan hartanya untuk mendirikan masjid. Ada yang memborong membeli tanahnya. Ada yang memborong membeli kayu-kayunya, ada pula yang memborong atapnya (sengnya), tegelnya, dan sebagian bekerja setiap hari dengan tekunnya, dan lain-lainnya. Sehingga dalam waktu yang tidak lama, masjid Pejagalan itu dapat berdiri. Mula-mula kita gunakan masjid itu tanpa serambi. Lama-kelamaan menyusul serambinya kita dirikan.

Saya sendiri selalu terkenang. Tepat digunakan masjid itu tanpa serambi, angkat bai’atlah kami berempat di hadapan sesepuh kita Bapak Djojosoegito. Saya sendiri, Bapak Ranawikarta (Carik Karangrau), Saudara Syamsudin, dan Saudara Hardjomartono, pada tahun 1934. Sejak masjid mulai dapat digunakan, pengajian dipusatkan di masjid baru itu. Pengajian mulai diatur sebagai berikut: Pengajian Quran oleh Sdr. Moh. Irsyad, Sabdokawasa oleh Bapak Moh. Singgih, Perjuangan Kalifah-kalifah oleh Bapak Martoyoewono, Huruf dan Bahasa Arab oleh Kyai Sya’roni, Sejarah Nabi oleh Ibu Kustirin, dan Khutbah di Masjid oleh Bapak Soemardi.

Waktu pengajian ditetapkan sesuah shalat maghrib sampai dengan isya. Tetapi sayang, pengajian sebaik ini, hanya dapat berjalan beberapa tahun saja. Malapetaka tidak dapat dihindarkan lagi. Tahun 1942 penjajahan Jepang datang, mengganti penjajahan Belanda. Mengakibatkan banyak keluarga yang pindah. Ada pula yang meninggal dunia.

Semangat kita menurun. Pengajian-pengajian terhenti. Lebih-lebih setelah tahun 1945, setelah Indonesia merdeka, yang segera disusul clash Belanda terhadap RI (tahun 1947-1949), Ahmadiyah cabang Purwokerto, boleh dikatakan berantakan. Banyak anggota Ahmadi yang meninggal dunia atau pindah dari Purwokerto.

Tuan Mirza Wali Ahmad Baig pulang ke Lahore sebelum penjajah Jepang datang di Indonesia. Ibu Kustirin pindah ke Malang juga sebelum penjajahan Jepang. Bapak Moh. Singgih, Bapak Moh. Irsyad, pindah ke Jogjakarta. Bapak-bapak Moch. Bachroen, Taram, S. Poedjisoemarto, dan banyak lainnya lagi, pada tahun 1942 meninggalkan Purwokerto. Bapak-bapak Hassanoedji, Hasnasngad, Kastadja, Asmoeni, Ronowikarto, Wongsowikarto, dan beberapa Bapak/Ibu kasepuhan lainnya telah meninggal dunia. Masji Pejagalan kelihatan surem.

Tetapi, alhamdulillah. Islam agama yang sempurna itu akan selalu dijaga oleh Tuhan sendiri. Baru sesudah kemerdekaan Indonesia pulang kembali, pada permulaan tahun 1950, Ahmadiyah cabang Purwokerto sedikit demi sedikit dapat tersusun kembali. Anggota-anggota kita himpun kembali. Ranting-ranting kita bentuk kembali. Pengajian kita adalah lagi di beberapa tempat.

Kepengurusan Cabang dipegang oleh Bapak Martoyoewono, Bapak Soemardi, saya sendiri, Bapak Kiram, Bapak Machwari dan beberapa bapak/ibu lainnya lagi.

Dalam pada itu, pemikiran tentang pendidikan, mulai timbul di hati sanubari saudara-saudara kita yang berada di Purwokerto. Dengan ucapan bismillaahir-rahmaanir-rahiim, pada bulan Agustus 1952 kami dirikan PIRI bagian SGB cabang Purwokerto, yang pengurusnya terdiri atas Ketua: saya sendiri, saudara Moh. Ali sebagai sekretaris, Bapak Hardjosoewito sebagai bendahara, Saudara Syamsudin dan Hadisoetrisno sebagai pembantu. Sedangkan Bapak Dibyosoemarto sebagai Kepala Sekolahnya. Guru-guru lainnya, sebagian terdiri atas guru-guru SGB Negeri (Ibu-ibu anggota GAI Purwokerto). Guru pertama-tama kiriman dari Jogjakarta, ialah Saudara Sohib dan Saudara Mayaryanto.

Baru saja PIRI berjalan antara 3 bulan lamanya, terpancang dengan adanya peraturan ikatan dinas, maka terpaksa murid-murid 4 kelas itu digabungkan dengan PIRI di Jogjakarta. Tetapi dengan semangat guru-guru dan pengurusnya, mereka bertekad bulan untuk menghimpun murid baru lagi, meskipun tanpa ikatan dinas dari Pemerintah. Maka alhamdulillah, dengan 3 kelas murid baru, PIRI cabang Purwokerto terus berjalan.

Beberapa tahun kemudian, sesudah PIRI berjalan, karena kepindahan saya sebagai Pegawai Japen-Kab. Ke Cilacap, maka kepengurusan PIRI kami serahkan kepada Cabang, dan dipegang oleh Bapak-bapak: Tarekat, Martoyoewono dan Soemardi. Sejak itu terpaksa saya sendiri tidak dapt aktif di GAI cabang Purwokerto dan di PIRI Purwokerto itu, sampai dengan tahun 1967.

Hanya saya teringat dahulu tentang suka dukanya mendirikan sekolah tersebut, pada permulaan tahun ajaran, karena masuknya uang sekolah belum lancar, maka tiap-tiap tanggal 1, Bapak Hardjosoewito tentu berkeliling mencari dana/donateur untuk memberi honorarium guru-guru.

Kemudian setelah tahun 1968, saya pulang kembali ke Purwokerto. Saya terima penyerahan lagi kepengurusan GAI cabang Purwokerto (saya sendiri, saudara Taram, Sohib, Muhardji dan lain-lain). Sedang kepengurusan PIRI, oleh Bapak Soemardi cs. Diserahkan kepada kami berenam: saya sendiri, Mardiyono, Soekardjo, Sohib dan ibu Hardjosoebroto dan ibu Soewarni, untuk beberapa tahun lamanya.

Kemudian selanjutnya, setelah saudara Taram meninggal dunia, Ketua GAI dipegang oleh saudara Yudjono, S.H. cs, dan kemudian kepengurusan Yayasan PIRI dipegang oleh saudara Suyatno cs. sampai sekarang.

Adapun pengajian-pengajian yang sekarang ada, yang dibina oleh saudara-saudara: Ibu Hardjosoebroto, Saudara Seoyatno, Moh. Ali, Hadiwiratmo, Hadiseotrisno, Rakun dan saya sendiri, bertempat di masjid-masjid GAI Purwokerto, Kalibagor, Brobahan Wetan, Tipar, Kauman Lama, Berkoh, Sokaraja, PIRI, Pliken, Sumampir, Banteran, Gandatapa, Karangjambe, Babakan dan Kalikabong (Purbalingga).

Kemudian bagaimanakah keuntungan saya masuk golongan Mujaddid abad ke-14 itu? Saya sendiri menyadari bahwa setelah saya terjun kepada Gerakan Mujaddid selama ini, merasa sangat besar keuntungannya. Saya sendiri dapat merasakan bahwa setiap saat, setiap detik, Tuhan selalu melindungi kami dan selalu menjunjukkan jalan yang benar. Bahkan tidak hanya menunjukkan saja, bahkan dipimpinNya ke arah yang benar.

Quran Suci, yang tadinya hanya saya jadikan buku pelajaran huruf Arab, sekarang kami rasakan, meskipun masih jauh sekali dari kesempurnaan saya, saya rasakan bahwa itu adalah petunjuk hidup saya. Salat, yang tadinya tidak ada rasanya apa-apa, bahkan kadang-kadang saya beranggapan itu menjadi beban sehari-hari, tetapi nyatanya sekarang kami rasakan bahwa salatku itu adalah merupakan tangga usaha takwaku kepada Tuhan SWT.

Sekian saja, renungan sepintas kilas pengalaman saya selama dalam GAI.

 

Purwokerto, 6 Juni 1979 | Koesen Wiryodihardjo

Sumber: “Buku Kenang-kenangan GAI Usia 50 Tahun (Golden Jubilee)”, 1979, hlm. 51-56.

Comment here