facebooklikebutton.co
ArtikelKhutbah

Buat Apa Memperingati Maulid Nabi?

Ikhtisar Khutbah Jumat Oleh Asgor Ali | Masjid Margi Utami, Pare, Kediri | 15 Oktober 2021

 

Bulan Rabbiul Awal adalah bulan mulia, bulan di mana Nabi kita tercinta, Muhammad saw. lahir. Nabi Muhammad saw. lahir pada 12 Rabiul Awal, yang tahun ini dalam kalender kita bertepatan dengan hari Selasa, 19 Oktober 2021.

Meskipun libur nasional peringatan hari maulid itu digeser oleh pemerintah menjadi tanggal 20 Oktober, tetapi tentu hal ini tidak mengurangi makna esensial dari peringatan itu sendiri. Terlebih, pemerintah melakukan hal itu dengan niat baik untuk kemaslahatan banyak orang, di dalam rangkaian penanganan pandemi covid 19

Mungkin ada di antara kita yang mempersoalkan boleh tidaknya memperingati hari kelahiran atau maulid nabi kita tercinta, muhammad saw.

Dalam hal ini, kita bisa merujuk para ulama, yang antara lain diwakili oleh lembaga fatwa dari dua ormas besar di negeri ini, yakni Nahdlatul Ulama melalui Bahtsul Matsail-nya, dan Persyarikatan Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih-nya.

Dua lembaga yang otoritatif atau sahih ini, secara ringkasnya, menyatakan bahwa memang tidak atau belum pernah ditemukan dalil tentang perintah menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Tetapi tidak atau belum pernah pula ditemukan dalil yang melarang penyelenggaraannya.

Oleh sebab itu, perkara ini dimasukkan dalam perkara ijtihadiyah, sehingga tidak ada kewajiban sekaligus juga tidak ada larangan untuk melaksanakannya.

Tetapi para ulama dari dua lembaga itu menyampaikan amanat yang perlu untuk diperhatikan, bahwa apabila suatu kelompok masyarakat Muslim memandang perlu menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., agar supaya jangan sampai melakukan perbuatan yang dilarang, serta harus atas dasar kemaslahatan.

Karena itu, peringatan Maulid Nabi saw. jika hendak diselenggarakan, baik secara seremonial maupun tidak, harus dilandasi dengan niat, dengan maksud dan tujuan untuk memperoleh hikmat kebijaksanaan dari peringatan itu sendiri, yakni keharusan kita untuk meneladani Rasulullah saw. sebagai uswatun hasanah, agar supaya kita dapat menjalani hidup di dunia ini dengan selamat dan penuh rahmat.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanah, limankaana yarjullaahi wal yawmil akhir. Wadzakarallaaahu katsira.” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS: al-Ahdzab ayat 21)

Misi utama diutusnya Nabi Muhammad saw di tengah-tengah manusia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Sebagaimana beliau saw. sendiri bersabda, Innama buistu li utammima makarimal akhlak, sesungguhnya Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak (HR Al-Baihaqi)

Praktik kehidupan Nabi, sebagaimana bisa kita baca dalam berbagai kitab sirah nabawiyah, memberi gambaran kepada kita bahwa peranan akhlak dalam kehidupan ini sangatlah penting dan utama.

Masyarakat dapat bersimpati, dan akhirnya menerima dan mengikuti kebenaran dan kebaikan, apabila para penyeru atau pendakwah kebenaran dan kebaikan itu, menampilkan akhlak atau moral yang baik dan benar pula.

Tidaklah mungkin orang akan percaya kepada kebaikan dan kebenaran yang disampaikan oleh orang yang tidak baik dan tidak benar.

Tidaklah mungkin juga orang akan bersimpati kepada orang yang selalu mengajak dan menyeru orang kepada kebenaran dan kebaikan, tetapi dia sendiri tidak baik dan tidak benar.

Kebenaran dan kebaikan hanya akan diterima dan meresap cepat ke dalam hati sanubari siapa pun, apabila disampaikan dengan cara-cara yang baik, dengan cara-cara yang santun, dan dengan diberikan contoh teladan yang baik.

Karena itu, jadilah orang baik, jadilah orang yang benar, dan jadilah orang yang selalu berdakwah, atau mengajak orang lain ke dalam kebaikan dan kebenaran, dengan menampilkan teladan moral atau akhlak yang sebaik-baiknya. Sebab, berdakwah atau mengajak orang kepada kebaikan itu adalah kewajiban setiap orang muslim.

Berdakwah itu tidak melulu dalam arti menjadi “mubaligh” yang harus tampil di atas mimbar, tidak harus menghafalkan dalil-dalil dan melontarkannya di hadapan orang banyak. Tetapi cukuplah dengan menampilkan diri sebagai pribadi yang bertutur kata, bersikap dan berperilaku yang baik.

Semoga dengan mengingat-ingat atau memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw., kita semakin mencintai Rasulullah saw. Dan karena kecintaan kepada Sang Nabi, kita pasti akan terus berusaha meneladani Rasulullah saw., dalam rangka mencapai kesuksesan dan keberhasilan hidup, sejak di dunia ini hingga akhirat nanti.

Amin ya rabbal ‘alamin.

Comment here