facebooklikebutton.co
Sentuhan Rohani

Bermakrifat Dengan Allah Melalui Doa

Yuk Bagikan Artikel Ini!

Surat Al-Fatihah adalah inti seluruh ajaran yang terdapat dalam Quran Syarif. Sebagaimana aku nyatakan berulang kali, hendaknya umat Islam senantiasa berdoa dengan surat ini. Bahkan karena itulah, surat yang terkandung di dalamnya doa “ihdinaash shiraathal mustaqiim” (pimpinlah kami pada jalan yang benar) ini, diwajibkan untuk dibaca oleh setiap muslim di dalam shalat lima waktu.

Betapa kelirunya seseorang bila ia mengingkari kekuatan ruhaniah doa. Quran Syarif telah menetapkan bahwa dalam doa terkandung kekuatan ruhaniah, yang melaluinya Allah berkenan menurunkan rahmat yang membuahkan berbagai macam kesuksesan.

Setiap orang yang bijak pasti mengerti bahwa menurut sunnatullah, terlepas dari adanya penerimaan atau pengakuan mengenai takdir, akan ada hasil yang diperoleh dari setiap usaha keras manusia. Demikian halnya pula, bilamana suatu doa dipanjatkan dengan sungguh-sungguh, ia tidak akan berakhir dengan sia-sia.

Pada satu ayat dalam Quran Syarif, Allah Ta’ala telah menetapkan tanda untuk mengenal-Nya, Tuhan kita adalah Tuhan yang mendengar doa orang-orang yang resah. Allah berfirman, “Atau siapakah yang mengijabahi (doa) orang yang susah tatkala dia berdoa kepada Nya?” (An-Naml, 27:62).

Jika Allah menjadikan terkabulnya doa sebagai tanda keberadaan-Nya, maka tidaklah mungkin orang yang bijak dan rendah hatinya akan beranggapan bahwa jika tak ada tanda yang jelas baginya suatu doa diijabah, doa itu hanya dianggap formalitas yang tak berkekuatan ruhaniah?

Sikap tak santun semacam itu tentu tidak akan dilakukan oleh orang mukmin yang sejati.

Jika dengan merenungkan sifat-sifat bumi dan langit, sebagaimana difirmankan Allah, manusia dapat mengenal Tuhannya yang sejati. Maka dengan menyaksikan terkabulnya doa, tentu seseorang dapat menjadi lebih yakin lagi akan adanya Allah Ta’ala.

Maka, seandainya di dalam doa itu tidak ada kekuatan ruhaniah atau tidak terkandung berkah, bagaimana mungkin ia bisa menjadi sarana, seperti halnya benda-benda bumi dan langit, untuk mengenal Allah Ta’ala?

Dari Quran Syarif kita mengetahui bahwa sarana tertinggi untuk mengenal Allah adalah doa. Pengetahuan yang benar-benar lengkap tentang keberadaan Allah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna, hanya dapat dicapai melalui doa, bukan dengan cara lainnya.

Doa adalah ibarat cahaya halilintar, yang sekali tempo dapat menarik manusia keluar dari kegelapan, membawanya ke tempat yang dipenuhi cahaya, dan menghadapkannya ke hadirat Allah Ta’ala. Melalui doa, ribuan orang jahat bisa menjadi baik.

Kendala utama tidak terkabulnya doa seseorang, yang membuat keagungan doa itu menjadi tersembunyi dari hatinya, adalah tidak terpenuhinya syarat ketakwaan, ketulusan dan keimanan.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah akan menerima dari orang yang bertakwa.” (Al-Maidah, 5:27).

Lagi Allah berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku ini dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa tatkala dia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka dapat menemukan jalan yang benar.” (Al-Baqarah, 2:186).

Ketika hamba-hamba Allah bertanya tentang kehadiran-Nya, tentang keberadaan-Nya, maka jawabnya Allah itu sangat dekat. Kehadirannya dapat dimengerti dengan jalan yang sangat dekat.

Argumen tentang keberadaan Allah dapat diperoleh dengan sangat mudah, yaitu ketika seorang pemohon memanggil Allah, Allah mendengarnya. Dengan ilham-Nya, Dia akan menyampaikan kabar baik tentang keberhasilannya. Dan karena itu, dia tidak hanya akan yakin pada keberadaan-Nya, tapi juga akan kuat keyakinannya pada kekuasaan-Nya.

Akan tetapi, agar bisa mendengarkan suara Tuhan, setiap orang harus mewujudkan ketaqwaannya sedemikian rupa. Sebelum mencapai pengetahuan dan pengenalan penuh tentang Allah, mereka seharusnya beriman kepada-Nya, berdiri saksi akan keberadaan-Nya, dan mengakui kekuatan dan kekuasaan-Nya.

 

Sentuhan Rohani oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad | Disarikan oleh Yatimin AS dari Kitab Ayyamus Sulh, hlm. 31-32.

Yuk Bagikan Artikel Ini!

Comment here