facebooklikebutton.co

Benarkah Siti Aisyah menikah di usia dini?

Banyak orang menuduh bahwa Nabi Suci s.a.w menikahi anak usia dini (Aisyah r.a), dan hampir kebanyakan nara sumber melakukan kesalahan dalam menyatakan usia Siti Aisyah r.a ketika beliau menikah.

Oleh: Variny DS Mansyur | Ketua Badan Urusan Muslimat PB GAI

Publik Indonesia sempat dihebohkan oleh kasus pernikahan antara seorang Syekh dengan anak yang dianggap masih di bawah umur. Gadis yang dinikahinya itu ditengarai baru berusia 12 tahun. Beritanya pada saat itu hampir setiap hari muncul di media massa lokal maupun nasional, baik media elektronik maupun cetak. Kasus ini menjadi iklan gratis bagi siapa saja yang suka menjelekkan Islam, seolah mengafirmasi bahwa Muslim itu suka akan poligami dan suka untuk menikahi anak perempuan usia dini.

Pernah Syeh tersebut memamerkan buku acuan yang judulnya tentang perkawinan Siti Aisyah. Tampaknya, dengan selalu membawa dan memamerkan buku itu, ia bermaksud menunjukkan ‘pembenaran’ bagi apa yang telah dilakukannya, seperti yang diyakininya dilakukan oleh Nabi Suci Muhammad s.a.w terhadap Aisyah.

Persoalannya apakah benar Siti Aisyah menikah pada usia dini? Saya mendapatkan jawabannya pada Buletin Ahmadiyah Fiji (Ahmadiyya Anjuman Ishaat-i Islam Lahore Fiji) terbitan tahun 2000 yang membahas tentang perkawinan Siti Aisyah yang berjudul “Hazrat Aishah Siddiqah’s Age at Her Marriage” by Ghulam Nabi Muslim Sahib MA, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Masud Aktar. Berikut ini adalah saduran saya atas tulisan itu.

Usia Siti Aisyah dalam Pernikahannya
Banyak non muslim menuduh bahwa Nabi Suci s.a.w menikahi anak usia dini (Aisyah r.a) dan hampir kebanyakan nara sumber melakukan kesalahan dalam menyatakan usia Siti Aisyah r.a ketika beliau menikah.

Mereka mengatakan bahwa pernikahannya dengan Rasulullah adalah pada tahun ke 10 kenabian (bi’tsah) waktu Aisyah berusia 6 tahun. Tetapi dalam penelitian yang lain, peryataan di atas itu keliru karena ternyata Siti Aisyah r.a berusia 19 atau 20 tahun ketika ia tiba/berada di kediaman Rasulullah pada tahun ke2 setelah Hijrah.

Untuk tepatnya marilah kita pertama-tama merujuk sejarah bahwa total periode kenabian adalah 23 tahun, 13 tahun pertama di Mekah dan 10 tahun selanjutnya di Madinah. Selanjutnya saya mengutip dua pendapat pakar Muslim terkenal abad ini yang menyatakan bahwa Siti Aisyah berusia 6 tahun ketika dipinang dan berusia 9 tahun ketika pernikahan ini diresmikan.

Pandangan Syeh Nadvi
Maulana Syed Sulaeman Nadvi dalam bukunya “Seerat-l-Aisha” halaman 21 tertulis:

“Buku-buku sejarah dan biografi umumnya tak menyebutkan tanggal kelahiran Siti Aisyah r.a. Ahli sejarah Ibnu Sa’d yang pernyataannya banyak diikuti oleh yang lainnya menyatakan bahwa Siti Aisyah lahir pada tahun ke 4 kenabian Rasulullah, dan menikah pada usia 6 tahun pada tahun ke 10 kenabian. Jelas ini keliru karena bila tahun kelahirannya dinyatakan pada tahun ke 4 kenabian berarti pernikahannya pada tahun ke 10 kenabian ia berusia  7 tahun bukan 6 tahun. Ada pengakuan pakar sejarah menyatakan Aisyah dipinang 3 tahun sebelum Hijrah ketika ia berusia 6 tahun, pernikahan dilaksanakan pada 1 Syawal tahun 1 Hijriah ketika ia berusia 9 tahun dan ia menjadi janda pada Rabiul Awal tahun 11 Hijriah pada usia 18 tahun. Berarti ia dilahirkan pada akhir tahun ke 5 kenabian atau tahun 614 M. Jadi kenabian telah berlangsung empat tahun sebelum kelahirannya dan tahun kelima sedang berjalan.”

Pandangan Maududi
Maulana Abdul Ala Maududi dalam artikelnya : “Pernikahan Aisyah” dalam buku “Tarjuman al-Quran” pada September 1976:

“Sangat jelas laporan mendetil yang diberikan Ahmad Tibrani, Ibnu Jareer dan Baihaqi yang menyatakan bahwa Siti Aisyah dipinang sebelum pernikahan Siti Saudah. Ketika itu Aisyah berusia 6 tahun bulan Syawal tahun ke sepuluh kenabian, tiga tahun sebelum Hijrah. Pertanyaan timbul: jika Siti Aisyah berusia 6 tahun pada Syawal tahun ke sepuluh kenabian, berarti ia berusia 9 tahun ketika hijrah dilakukan, jadi ia berusia 11 tahun pada tahun kedua setelah hijrah ketika pernikahan. Sementara semua nara sumber sepakat bahwa ia dipinang ketika berusia 6 tahun dan menikah di usia 9 tahun. Para ulama berusaha untuk mendekatkan selisih perhitungan ini dengan mengatakan  bahwa pernikahan itu dilaksanakan pada tujuh bulan sesudah hijrah.

Hafiz Ibn Hajar setuju pendapat ini. Di lain pihak Imam Nauvi dalam “Tahzeeb al-Asma’a al-Lughat’, Ibnu Katheer dalam “Al-Badaya’ dan Allama Qustalani dalam Umadat al-Qari menyatakan bagwa Siti Aisyah r.a menikah pada Syawal tahun 2 Hijriah setelah Rasulullah pulang dari perang Badar. Jadi pendapat bahwa pernikahan itu terjadi tujuh bulan setelah hijrah adalah tidak dapat dipertanggungjawabkan. Jadi pertanyaan yang ada adalah bila pernikahan itu terjadi ketika Siti Aisyah berusia 9 tahun, kenapa ada pernyataan bahwa Siti Aisyah dipinang pada usia 6 tahun? Jawabannya ada pada Sahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Urwah ibn Zubair, “Siti Khadijah meninggal tiga tahun sebelum Hijrah, sementara Aisyah dinikahi 2 tahun setelah itu. Jadi usianya 9 tahun”. Dengan demikian berarti peminangan itu terjadi setahun sebelum Hijrah ketika ia berusia 6 tahun dan pernikahan terjadi pada tahun 2 Hijriah ketika ia berusia 9 tahun.”

Kedua kutipan di atas, baik itu pendapat Syed Nadvi maupun pendapat Syed Maududi memperkuat pendapat bahwa Siti Aisyah dipinang pada usia 6 tahun dan menikah di usia 9 tahun. Kedua pendapat ini meragukan atau disangsikan karena ada kemungkinan kesalahan dalam perhitungan mengenai tahun kenabian/bi’tsah dengan tahun Hijrah Nabi. Keduanya berangkat dari pendapat bahwa usia 6 tahun dipinang dan menikah di usia 9 tahun adalah benar, karena cocok dengan perhitungan Hijrah dan Bi’tsah.  Cara perhitungan seperti ini sulit untuk dikatakan sebagai perhitungan ilmiah untuk menemukan usianya yang benar. Ini hanya bisa dikatakan sebagai suatu usaha untuk mencari tanggal yang benar berdasarkan usia yang telah ditentukan.

Pandangan Maulana Muhammad Ali
Dalam karyanya ‘Muhammad the Prophet’, Maulana Muhammad Ali menulis:

Kesalahan konsepsi mengenai usia Siti Aisyah yang terkenal dapat diperbaiki di sini. Bahwa ia belum mencapai usia dewasa adalah jelas sudah, namun bahwa ia bukan bocah enam tahun juga benar. Pertama jelas bahwa ia telah mencapai usia yang umum untuk melangsungkan pertunangan dan karena itu ia dianggap sudah mencapai usia dewasa. Isabah ketika berkata mengenai anak perempuan Nabi Suci Fatimah, mengatakan ia berusia 5 tahun lebih tua dari Aisyah.

Fatimah lahir ketika Ka’bah diperbaiki yaitu 5 tahun sebelum kenabian atau sedikit sebelumnya, maka ia tentunya berumur tidak kurang dari 10 tahun pada pernikahan dengan Rasulullah. Pernyataan Aisyah sendiri memperkuat pendapat ini yang mengatakan bahwa ia masih anak-anak ketika surat Al-Qomar (Surat 54) diwahyukan pada tahun ke lima kenabian dan ketika itu ia hafal ayat-ayatnya. Dengan kata lain pernyataan bahwa ia berumur 6 tahun pada tahun kesepuluh kenabian (bi’tsah) dimana dikatakan ia ditunangkan adalah tidak benar, karena itu artinya dia dilahirkan sekitar surat ini diturunkan.

Kesimpulan ini menunjukkan bahwa ia berusia paling tidak 10 tahun dan periode antara pertunangan dan pernikahan tidak kurang dari jarak lima tahun karena pernikahan ini adalah pada tahun ke 2 setelah hijrah. Bisa jadi ia mungkin berumur tidak kurang dari 15 tahun pada waktu itu. Jadi jelas pendapat bahwa Siti Aisyah ditunangkan pada usia 6 tahun dan dinikahkan pada usia 9 tahun itu tidak benar.

Menanggapi pendapat Muhammad Ali di atas, Sulaiman Nadvi mengatakan bahwa pendapat tersebut tidak ada gunanya karena tidak satu pun hadits dan sejarah yang mendukung pendapat ini. Adapun pernyataan Nadvi tersebut bertentangan dengan pendapat dia sendiri yang dia tulis pada halaman lain dibukunya “Seerat-l-Aishah” yaitu:

“Siti Aisyah menjanda selama 40 tahun, sementara disebutkan bahwa beliau meninggal pada usia 67 tahun, jadi bila itu dikurangkan dengan 40 tahun maka berarti Siti Aisyah berusia 27 tahun ketika Rasulullah wafat pada tahun 11 Hijriah.”

Ini bertentangan dengan pendapat Nadvi masih pada halaman yang sama di buku itu yang menyatakan bahwa Siti Aisyah berusia 18 tahun ketika Nabi Suci wafat. Sementara total lamanya Rasulullah menjalankan kenabian adalah 23 tahun. Dengan kata lain bila dihitung Siti Aisyah lahir 4 tahun sebelum kenabian bukan 4 tahun sesudah kenabian seperti yang dinyatakan Nadvi pada halaman-halaman sebelumnya. Sehingga usia Aisyah ketika pernikahan pada tahun ke sepuluh kenabian adalah sekitar 14-15 tahun dan bukan 6 tahun seperti yang ditegaskannya. Dalam kaitan ini berarti Siti Aisyah yang menikah di tahun 2 Hijriah berusia sekitar 19-20 tahun dan bukan 9 tahun seperti yang dia kemukakan di halaman-halaman awal bukunya. Jadi sangat perlu diteliti lebih lanjut pernyataan Naadvi yang mana yang dapat dipercaya.

Sejarawan Ibnu Jareer al-Tabari di halaman 50 bukunya yang berjudul “Book of History” volume 4 menulis:

Abu Bakar menikah dengan 2 wanita pada zaman jahiliyah yaitu dengan Fateelah binti Abdul Aza sebagai istri pertama yang melahirkan Abdullah dan Asma. Sedangkan istri ke 2 adalah Ummi Rooman yang melahirkan Abdul Rahman dan Aisyah. Sangat terkenal dalam sejarah bahwa Abdul Rahman berada di pihak musuh Muslim pada perang Badar. Usianya ketika itu adalah sekitar 21 atau 22 tahun. Walaupun ia lebih tua dari Aisyah tidak ada bukti bahwa usianya berbeda lebih dari 3 tahun atau 4 tahun, ini menyokong pendapat bahwa Siti Aisyah lahir sekitar 4 atau 5 tahun sebelum kenabian.

Sejarawan Alama Imaduddin Ibnu Katsir menulis dalam bukunya Al-Badayah mengenai Asma, puteri Abu Bakar. Asma meninggal pada tahun 73 H pada usia 100 tahun. Ia sepuluh tahun lebih tua dari Siti Aisyah, dan dia berusia sekitar 27-28 pada waktu hijrah. Berarti Siti Aisyah berusia sekitar 17 atau 18 tahun pada waktu hijrah. Berdasarkan ini berarti Siti Aisyah lahir 4 atau 5 tahun sebelum Bi’tsah dan ketika menikah pada tahun 2 H berarti berusia 19-20 tahun.

Sekh Wahiduddin pengumpul Hadits “Miskat al Masabih” dalam bukunya yang terkenal “Ahmal fi Asma’al Rijjal” menuslis:

“Ketika pernikahan usia Siti Aisyah tidak kurang dari 18-19 tahun”

Semua kutipan di atas menunjukkan bukti-bukti kesalahan atas pendapat bahwa Aisyah berusia 6 tahun ketika ditunangkan dan menikah pada usia 9 tahun. Masih diharapkan penelitian lebih objektif dari pakar Islam mutakhir untuk mendapatkan kebenaran usia Siti Aisyah yang pada akhirnya adalah untuk kepentingan Islam.[]

 

 

Komentar

komentar

2 comments

  1. Sudah sangat jelas bahwa Aisyah sendiri mengatakan bahwa dia dinikahi pada umur 6 tahun dan ditiduri oleh Baginda Rosul yang mulia saat umur 9 tahun tahun. Muslim mengatakan itu itu hadits yg tidak sahih, memang apa itu sahih tidak sahih, halal tidak halal semuanya itu itu nisbi dalam Islam tergantung kepentingan dan keinginan kita semuanya itu kabur tidak jelas sama seperti bahasa Qur’an yang kabur tidak jelas loncat sana loncat sini. Bukaknkah Awlooh muslim sangat tidak sistematis bahkan kacau balau, Qur’an adalah bukti semua itu hanyalah karangan Muhammad dan kroni-kroninya. Memang Allah adalah tuhan yg pilih kasih Muhammad boleh punya lebih 4 istri sedang umatnya cukup 4 maksimal. tuhan muslim adalah budak Muhammad. tak lebih dari itu. Saya bersaksi Muhammad adalah nabi palsu.

  2. Assalamu’alaikum wrwb.
    Mari saya ajak anda melihat budaya primitif di tahun 1400 lalu.
    Sayangnya saya tidak bisa mengpostkan photo2 di sini.Kalau
    sekiranya bisa pembaca dapat mengetahui lebih dalam tentang
    corak masarakat di zaman Rasul.
    Silakan anda buka web site ini.

    MORAL MASYARAKAT ARAB DI TAHUN 1400.

    http://muslimbertaqwa.blogspot.com/p/moral-islam-di-tahun-1400.html

    Zaman Nabi Muhammad saw di jelaskan dlm al Quran’

    1. Rumah2 orang Arab itu adalah terbuat dari tenda2 kulit binatang/
    kambing/domba/unta dll. Mereka tinggal berpindah2 tempat mencari makanan
    untuk ternak yg dipiliharanya.

    2. Waktu itu masarakat tidak suka menerima bayi wanita,karena anak2 perem
    puan tidak bisa bekerja membantu orang tuanya,malah memberikan masalah.
    Pada waktu itu,membunuh anak2 perempuan biasa2 saja,Bukan saja di tanah
    Arab,begitu juga di Japan,China dan di negara2 Eropah.

    3. Waktu itu laki2 yang kuat dan berani boleh2 saja mempunnyai puluhan perempuan
    sebagai gundik2nya.

    4. Wanita2 umumnya dijadikan budak2 yang diperjual belikan.

    5. Karena anak2 perempuan kurang dihargai dlm masarakat, dan anak2
    permpuan tidak bisa banyak membantu orang tuanya bekerja, maka
    anak2 perempuan dibawah umur sudah di nikahi dgn laki…

    6. Sampai sekarang dinegara mana saja yang MISKIN, anak2 perempuan
    di bawah umur sudah di nikahi.

    jadi kalau Nabi waktu itu menikahi anak perempuan di bawah umur
    adalah biasa saja…Dalam hal ini Nabi menikahi anak perempuan
    di bawah umur dgn maksud baik,agar kehidupan Siti Aishay tidak
    terlepas kepada laki2 jahat. Nabi melindungi Siti Aishay.

    Kalau di bawakan ke zaman modren sekarang ini, menikahi anak2 dibawah umur
    yaaa kelihatan janggal atau aneh sekali.

    Oleh karena itu Pakar tafsir Indonesia, mantan menteri RI,Prof.DR, M.Quraish Shihab
    berpendapat bahwa;

    —ayat2 atau peraturan2 ALLAH itu itu diturunkan kepada Nabi2
    nya sesuai dengan kebutuhan masarakat waktu itu.

    —Ulama2 menafsirkan ayat2 ALLAH sesuai dengan kadar ilmunya dan
    kondisi masarakat waktu itu.

    Jadi tidak semua ayat2 atau peraturan2 ALLAH itu dapat diaplikasikan
    untuk sepanjang zaman,sampai hari akirat.

    Peraturan2 duniawi harus disesuaikan dengan kemajuan pradapan manusia
    dan ilmu.Misalnya; hukum krimnal, hukum warisan, sistem pemerintahan,tentara dll

    Peraturan2 yang berkenaan dgn hablul minallah atau hukum2 ritual berlaku
    untuk sepanjang zaman.misalnya; Hukum shalat, puasa, naik hajji, dll.

    Demikian sedikit respond saya.semoga bermanfaat

    With Love
    wassalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*