facebooklikebutton.co

Batu Ajaib

Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain; kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya.

Oleh: Mulyono | Sekretaris PB GAI

Di dunia ini tidak ada batu yang keajaibannya melebihi Ka’bah dan Hajar Aswad-nya. Beratus-ratus juta umat Islam yang tinggal di segala sudut dunia menghadapkan wajahnya ke Kakbah, minimal lima kali sehari, pada waktu shalat. Bahkan mereka wajib mengunjunginya minimal sekali dalam seumur hidup, jika keadaan memungkinkan. Dalam waktu-waktu tertentu, setiap tahun, lebih dari dua juta kaum Muslimin berkumpul di sana untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka mengenakan pakaian yang sama, memiliki tujuan yang sama, bahkan dengan mengucapkan kalimat yang sama: “Labbaik Allahumma Labbaik ….” (Aku di sini wahai Allah, aku di sini di hadapan Dikau). Ini merupakan manifestasi nama tempat itu sebagai Baitu-l Makmur, yang artinya Rumah yang ramai dikunjungi.

Di tempat itu orang dilarang mengucapkan kata-kata kotor, mencaci maki dan mengumpat. Kendati kedatangan mereka ditemani oleh istri atau suami, dilarang melakukan pembicaraan yang dapat membangkitkan nafsu birahi, apalagi melakukan hubungan seks. Meskipun di sana harus bertemu dengan musuh, mereka dilarang bertengkar, apalagi berkelahi. Kesucian Ka’bah dan sekitarnya tidak boleh dilanggar. Dan karena alasan inilah tempat itu disebut Baitul Haram atau Masjidil Haram. Perbedaan warna kulit, bahasa, kebangsaan, dan bahkan perbedaan paham keagamaan, tidak menghalangi mereka untuk hidup berdampingan secara damai dan bekerja sama saling membantu. Pertemuan akbar itu membangkitkan kesadaran mereka akan kesamaan derajat bagi seluruh umat manusia di hadapan Allah. Mereka benar-benar merasakan getaran batin yang sama akan kehadiran Allah di tengah-tengah mereka, dan mereka pun merasa benar-benar berada di hadapan Allah, sehingga tabir yang selama ini menghalangi mereka dengan Allah seakan-akan tersingkap sama sekali. Memang benar bahwa Allah tidak bertempat tinggal di dalam Kakbah, tetapi perasaan sangat dekat dengan Allah merasuk ke dalam sanubari sedemikian rupa, hingga mereka lupa akan diri mereka sendiri, selain hanya Allah yang memenuhi angan-angan mereka.

Profetik Nabi Ibrahim a.s.

Tidak ada literatur yang dapat memberikan informasi tentang kapan dan oleh siapa Kakbah dibangun. Qur’an sendiri hanya menyebutnya sebagai Baitul ‘Atiq, yang artinya rumah yang sudah kuno sekali (Q.s. 22: 29), dan rumah pertama yang diperuntukkan bagi manusia (untuk beribadah kepada Allah) (Q.s. 3: 96). Ketika Nabi Ibrahim a.s. berkunjung ke sana dan meninggalkan putra dan istri beliau (Ismail dan Siti Hajar), sekitar 2.000 tahun sebelum tarih Masehi, Ka’bah sudah ada (Q.s. 14: 37). Pada kunjungan berikutnya, yakni ketika Ismail sudah cukup dewasa, agaknya Kakbah dalam kondisi rusak, dan keduanya memperbaiki (Q.s. 2: 127). Sebagai prasasti, diletakkan sebuah batu berwarna hitam kemerah-merahan bergaris tengah sekitar delapan inci pada dinding sudut sebelah timur, yang disebut Hajar Aswad (batu hitam).

Peletakan Hajar Aswad di tempat itu tentu bukan tanpa makna. Bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s. memiliki makna profetik, dijelaskan sekitar seribu tahun kemudian oleh Nabi Daud a.s.: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” (Kitab Mazmur 118: 22). Dalam perspektif Bibel — kitab suci umat Yahudi dan Kristen — Siti Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim a.s., menganggap Siti Hajar sebagai gundik atau istri tidak sah bagi Nabi Ibrahim a.s. karena hanya seorang budak, sehingga anak yang dilahirkannya tidak berhak atas warisan beliau. Oleh karena itu Sarah meminta Ibrahim mengusir ibu-anak itu (Kitab Kejadian 21: 10). Tetapi Qur’an membantah anggapan itu. Bahwa kepergian Nabi Ibrahim a.s. bersama Ismail dan ibunya ke tempat itu semata-mata mengikuti perintah Allah, tersirat dalam doa beliau: “Tuhan kami, aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tak menghasilkan buah-buahan, di dekat Rumah Engkau yang Suci.” (Q.s. 14: 37). Hadits Rasulullah saw. lebih terang lagi menjelaskan masalah ini. Ketika Siti Hajar menanyakan kepada Ibrahim: “Apakah Anda melakukan ini atas perintah Allah?” Ibrahim menjawab “Ya”. Jawaban itulah yang menumbuhkan keyakinan Siti Hajar dengan mengatakan: “Allah pasti tidak membiarkan kami binasa.” (Sahih Buhari).

Bantahan Qur’an dan Hadits tersebut lebih mengisyaratkan adanya skenario Ilahi bagi masa depan ajaran pokok Nabi Ibrahim, yakni Ke-Esaan Ilahi (tauhid). Sejarah menjadi saksi bahwa lewat keturunan Nabi Ismail-lah, yakni Nabi Muhammad saw., warisan Nabi Ibrahim yang paling berharga itu memancar ke seluruh penjuru dunia, dan Kakbah beserta Hajar Aswad benar-benar menjadi batu penjuru bagi pengikut ajaran tauhid. Kenyataan ini merupakan sesuatu yang ajaib, dan dapat dipastikan bukan karya manusia. Pasalnya, ajaran tauhid itu mula-mula diundangkan di tengah-tengah bangsa penyembah berhala dan praktik kemusyrikan lainnya sudah berurat berakar. Namun hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad, penyembahan berhala terkikis habis sampai ke akar-akarnya, dan berganti dengan penyembahan kepada satu-satunya Tuhan, yakni Allah Swt.

Impian Raja Nebukadnezar

Dijadikannya Kakbah sebagai kiblat umat Islam sejagat, belum mengungkap seluruh makna profetik Nabi Ibrahim tentang batu ajaib tersebut. Selain sebagai simbol ketauhidan — dan agaknya oleh sebab inilah Kakbah disebut juga sebagai Baitullah, yang artinya Rumah Allah, dan bisa juga berari Rumah untuk menyembah Allah — batu dalam profetik Nabi Ibrahim tersebut juga sebagai simbolisasi sebuah kerajaan, atau pemerintahan, yang dibangun berdasarkan ketauhidan. Hal ini dijelaskan oleh Nabi Daniel sekitar tahun 550 sebelum Masehi, ketika menakwilkan mimpi Raja Nebukadnezar (Babilonia). Dalam mimpinya, Nebukadnezar melihat sebuah patung yang berdiri tegak dihadapannya, tinggi berkilau-kilauan dan tampak mendahsyatkan. Patung itu kepalanya terbuat dari emas tua, dada dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga, sedang pahanya dari besi, dan sebagian kakinya terbuat dari besi, sebagian yang lain dari tanah liat. Lalu tiba-tiba sebuah batu terungkit lepas menimpa patung di bagian kakinya yang dari besi dan tanah liat itu hingga remuk, dan batu itu sekaligus meremukkan pula seluruh patung itu hingga musnah sama sekali. Batu itu bahkan semakin besar dan terus membesar, akhirnya menjelma menjadi gunung yang memenuhi bumi (Kitab Nabi Daniel 2: 31-35).

Kepala yang terbuat dari emas tua, ditakwilkan Daniel sebagai kerajaan Babilonia yang mencapai puncak kejayaanya di bawah kekuasaan Nebukadnezar. Meninggalnya Nebukadnezar diikuti dengan kemunduran Babilonia, dan akhirnya ditaklukkan oleh Cyrus (Persi) pada tahun 539 sebelum Masehi, yang sebelumnya telah menguasai Media. Kerajaan yang oleh Daniel dilambangkan sebagai perak ini mencapai masa keemasannya ketika dipimpin oleh Raja Dzul-Qarnain (Q.s. 18: 83, dst.). Kemunduran Media-Persi membuka jalan bagi Alexandre the Great untuk memperluas wilayah kerajaan Macedonia-Yunani dengan sekaligus menguasai Media-Persi pada tahun 331 sebelum Masehi, yang dilambangkan sebagai tembaga. Tahun 168 sebelum Masehi Romawi, yang dilambangkan sebagai besi, berjaya sebagai pemegang hegemoni setelah mengalahkan Persi. Tetapi kerajaan ini terbagi menjadi dua pada tahun 395 Masehi: Romawi Barat dan Timur, dengan ibukota masing-masing Roma dan Konstantinopel. Romawi Timur inilah yang disimbolkan dalam takwil Nabi Daniel sebagai kaki patung dalam impian Nebukadnezar yang sebagian terbuat dari besi dan sebagian lagi terbuat dari tanah liat. Wilayah Romawi Timur memang berada di dua benua, yakni sebagian di Eropa dan sebagian lagi di Asia. Wilayah di Eropa lebih kuat (besi) karena adanya ikatan kebangsaan, sedangkan di Asia rapuh (tanah liat) karena kurang mendapat dukungan rakyat dan sering terjadi pemberontakan.

Pada zaman kerajaan Romawi Timur inilah “terungkit lepas sebuah batu tanpa perbuatan tangan manusia, lalu menimpa patung itu, tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu sehingga remuk. Maka dengan sekaligus diremukkannyalah juga besi, tanah liat, tembaga, perak dan emas itu, dan semuanya menjadi sekam di tempat pengirikan pada musim panas, lalu angin menghembuskannya, sehingga tidak ada bekas-bekasnya yang ditemukan. Tetapi batu yang menimpa patung itu menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi.” (Kitab Nabi Daniel 2: 34-35). Ini ditakwilkan oleh Daniel bahwa pada zaman raja-raja (Romawi Timur — pen.), Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain; kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya.” (Kitab Nabi Daniel 2: 44).

Profetik Nabi Isa a.s.

Batu sebagai simbol ketauhidan seperti dalam profetik Nabi Daud, dan sekaligus sebagai simbol kerajaan yang dibangun berdasarkan ajaran ketauhidan, dibenarkan oleh Nabi Isa a.s. dalam profetik beliau sebagai berikut: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci? Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru; hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu Aku berkata kepadamu, bahwa kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. [Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk]” (Injil Matius 21: 42-44). Profetik Nabi Isa ini membuat persoalan menjadi semakin jelas. Setelah batu (Kakbah) diakui sebagai kiblat, Kerajaan Allah akan segera berpindah dari Bani Israil, dan tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menghambat kemajuan dan perkembangan kerajaan itu.

Benarnya profetik Nabi Isa ini disaksikan oleh sejarah. Setibanya Rasulullah saw. di Madinah, segera membentuk pemerintahan berdasarkan ajaran tauhid. Sejauh itu beliau masih menghadapkan wajah ke Baitul Maqdis di Yerusalem setiap kali shalat, meskipun beliau menyadari betul bahwa kesucian kota Makkah telah dinyatakan oleh Allah sejak beliau masih berada di Makkah. Baru setelah sekitar enam belas bulan tinggal di Madinah, beliau mendapatkan perintah dari Allah untuk mengubah arah kiblat ke Kakbah di Makkah. Peralihan arah kiblat ini sekaligus sebagai isyarat beralihnya Kerajaan Allah dari Bani Israil ke Bani Ismail. Ajaibnya, perintah untuk mengubah arah kiblat ini tidak berselang jauh dengan izin berperang untuk membela diri karena diperangi (Q.s. 2: 190) yang diberikan oleh Allah. Jika perubahan arah kiblat merupakan realisasi kehendak Ilahi untuk menjadikan Kakbah sebagai batu penjuru yang berarti sebagai pusat keruhanian, maka izin perang itu sebagai sarana bagi berkembangnya Kerajaan Allah (ketauhidan). Hal ini terbukti untuk pertama kalinya pada perang Badar yang terjadi sekitar tiga bulan setelah turunnya ayat itu. Perang Badar disebut sebagai Yaum-ul Furqan, yang artinya Hari Pemisah, yakni yang memisahkan antara ketauhidan dan kemusyrikan. Perang itu disebut juga sebagai Hari yang Menentukan bagi menangnya ketauhidan melawan kemusyrikan.

Sukses dalam perang Badar diikuti sukses-sukses di setiap peperangan, bahkan Rasulullah saw. sendiri menyaksikan takluknya negara adidaya Romawi pada perang Tabuk yang terjadi pada tahun 630 Masehi. Lewat perlawanan demi perlawanan terhadap negara yang ditegakkan berdasarkan kemusyrikan ini merupakan realisasi profetik Nabi Isa seperti tersebut di atas: “Barangsiapa jatuh ke atas batu itu akan hancur, dan barangsiapa tertimpa batu itu akan remuk.” Wafatnya Rasulullah saw. sekitar dua tahun setelah penaklukan Romawi, tidak berarti Kerajaan Allah menjadi surut, melainkan justru sebaliknya. Kurang dari empat tahun wafat beliau, Sayidina Umar menaklukkan Yerusalem dan kota-kota di pesisir Syiria dan Palestina, lalu diikuti dengan takluknya seluruh wilayah Persi dan sekitarnya. Sampai di situ wilayah-wilayah yang dulu merupakan wilayah Babilonia, seluruhnya telah berada dalam penguasaan Islam. Hal ini berlangsung sampai hari ini dan untuk selama-lamanya.

Memang benar, wilayah-wilayah yang dulu merupakan wilayah Babilonia itu kini terbagi menjadi banyak negara, di antaranya Iraq, Iran, Yordania, Libanon, Syiria, dan sebagian Turki, dan sebagainya, tetapi semuanya tetap merupakan wilayah Islam yang mengakui Kakbah sebagai kiblat shalatnya. Fakta membuktikan, ketika Syah Reza Pahlevi (Iran) mencoba untuk membangun kembali kekaisaran Persia Raya, meskipun mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat, harus tumbang oleh kekuatan kecil Ayatullah Khomaini. Kemenangan Khomaini bukan disebabkan karena pasukan perang yang kuat atau persenjataan yang hebat, melainkan karena motif perjuangannya adalah Islam, terlepas dari paham keagamaan yang dianutnya. Wallahu a’lam bi-sh shawab.[]

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*