facebooklikebutton.co

Ahmadiyah Lahore & Revivalisme Islam di Indonesia

Berikut ini adalah transkrip presentasi Dr. Ahmad Najib Burhani, Ph.D, yang disampaikan dalam semi-seminar Jalsah Salanah GAI, 24 Desember 2013. Lihat videonya di sini.

najib burhaniBakda Salam. Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada panitia, PB Gerakan Ahmadiyah Indonesia, dan juga Yayasan PIRI, atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk hadir dan bersilaturahmi di tempat ini. Ini merupakan kesempatan yang sangat luar biasa bagi saya, bukan karena sekedar saya akan menyampaikan sesuatu, tetapi lebih karena saya akan belajar banyak dari Bapak-bapak dan Ibu-ibu.

Mungkin kita akan berbagi pengetahuan, tetapi yang saya peroleh akan lebih banyak ketika berjumpa dengan Bapak dan Ibu, terutama informasi tentang GAI, daripada yang akan saya berikan. Karena itu, ibaratnya saya akan, istilahnya, menggarami air laut. Tetapi paling tidak apa yang saya sampaikan barangkali adalah gambaran sedikit dari orang di luar Ahmadiyah. Bagaimana orang di luar Gerakan Ahmadiyah itu melihat apa yang terjadi di dalam Gerakan Ahmadiyah. Ibaratnya, kalau kita tidak keluar dari rumah, maka kita tidak bisa melihat rumah kita. Dan untuk melihat, membangun rumah kita, mungkin kita perlu keluar dulu dari rumah.

Tadi disampaikan oleh Pak Mulyono, bahwa kalau umpamanya kita melihat kejadian yang terjadi setelah reformasi tahun 1998, banyak kejadian yang mengakibatkan hal-hal negatif pada Ahmadiyah, baik GAI maupun JAI. Tetapi kalau seperti apa yang dikata Pak Mulyono sebagai berkah, mungkin saya kurang sepakat. Itu bukan berkah bagi Ahmadiyah. Ya, namanya mungkin terkenal, tetapi beberapa orang yang mengalami, jadi tidak bisa bergerak dan mati langkah. Tiap mau melakukan aktivitas, seperti untuk penerbitan, dll. ada ancaman dari luar. (sebelumnya Pak Mulyono dalam Sambutannya menyatakan dengan nada satire bahwa kasus-kasus yang menimpa Ahmadiyah sebagai ‘berkah’ –red).

Bagi kalangan akademisi, mungkin itu ada benarnya. Jadi, fenomena yang terjadi belakangan ini membuka mata bagi para akademisi untuk melihat seperti apa sih Ahmadiyah itu. Misalnya seperti yang terjadi bukan di Indonesia, tapi di Amerika, orang tidak tahu apa itu Ahmadiyah. Bukan hanya soal beda antara JAI dan GAI, tapi “Ahmadiyah itu sendiri apa” mereka tidak tahu. Mereka melihat Islam sebagai sesuatu yang monolitik, sesuatu yang tunggal, tidak ada perbedaan di dalamnya.

Peristiwa seperti penyerangan terhadap Ahmadiyah itu membuka mata mereka, “oh, ternyata Islam itu ada beragam ya? Ada yang disesatkan juga ya?” Bukan hanya dua kelompok besar Sunni dan Syiah, tetapi juga di dalam Sunni ada banyak perpecahan. Ada Ahmadiyah, ada kelompok-kelompok yang lain seperti Watu Telu, Wahabi, dsb. Di dalam Syi’ah juga ada banyak perpecahan, ada Ismaili, Zuhud, Yazidi, Alawi, dsb.

Nah, ketika saya membuka atau mengkaji tentang Ahmadiyah, itu apresiasinya luar biasa. Itu yang terjadi di dunia akademisi di Amerika. Misalnya di kampus saya, di University of California, sekarang ini dibuka mata kuliah tentang Other Islam (Islam yang lain). Maksudnya adalah Islam di luar dari apa yang dipahami oleh banyak orang selama ini. Jadi kontennya antara lain adalah kajian tentang Ahmadiyah, Ismaili, Buruzi, Yazidi, Alawi, dan yang seperti itu.

Saya termasuk orang yang beruntung sekali. Maksud saya, kadang ketika orang membuat disertasi, hingga selesai mereka masih diliputi pertanyaan, “kenapa saya menulis tentang ini?”. Tetapi saya orang yang beruntung. Diuntungkan oleh Ahmadiyah, maksud saya. Dengan disertasi itu, misalnya, saya diundang ke berbagai negara bagian di Amerika, kemudian mendapatkan penghargaan yang di sana termasuk tinggi, namanya The Professor Charles Wendell Memorial Award. Karena, saya dianggap orang yang membuka jalan baru, istilahnya opening path, membuka jalan baru untuk kajian baru. Inilah yang saya sebutkan “berkat” dalam dunia akademis. (Najib Burhani mendapat nobel The Professor Charles Wendell Memorial Award 2012-2013 dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB) pada 5 Juni 2013 atas disertasinya yang mengangkat kasus Ahmadiyah di Indonesia –red).

semi-seminar jalsah

Sebelum saya masuk dalam apa yang akan saya sampaikan saat ini, pertama-tama saya ingin jelaskan satu hal. Ada banyak pertanyaan ketika saya datang ke Ahmadiyah, baik ke JAI atau GAI. Saya datang pertama kali memperkenalkan diri sebagai peneliti LIPI. Orang lalu berkata, LIPI itu yang dipimpin Amin Jamaludin itu ya, yang menulis buku Ahmadiyah Ajaran Sesat itu ya? Saya jelaskan, LIPI itu berbeda dengan LPPI (Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam). Namanya memang hampir sama. Berbeda juga dengan LIPIA (Lembaga Pengkajian Bahasa Arab). Sementara LIPI adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Tapi beberapa orang ketika ketemu saya, dan saya katakan “saya dari LIPI”, yang ada dipikiran mereka adalah LPPI, sehingga ada orang yang mundur dsb., walaupun sudah saya jelaskan.

Kemudian, yang ingin saya bahas sebenarnya ada dua. Pertama tentang kontribusi Ahmadiyah terhadap revivalisme atau kebangkitan Islam di Indonesia, terutama pada abad ke-20, dan bagaimana kemudian kontribusi itu berkompetisi atau bersaing dengan reformasi atau revivalisme yang dikembangkan oleh mereka yang belajar dari Timur Tengah.

Pada awal abad ke-20, ada tiga epicentre (pusat gempa) revivalisme atau kebangkitan Islam. Yang pertama di Mesir, melalui Universitas Al-Azhar-nya. Yang kedua di Saudi Arabia, dengan Mekah dan Madinah-nya. Dan yang ketiga adalah di India. Di Mesir tokohnya antara lain Rashid Ridla, Muhammad Abduh, dan Al-Afghani. Di Mekah dan Madinah, terutama sejak tahun 1924, adalah Gerakan Wahabi. Nah, orang banyak tidak tahu bahwa ada episenter lain dari India, yang menggagas tentang reformasi Islam. Ini nanti yang akan saya sampaikan.

Kehadiran pertama Gerakan Ahmadiyah, yang tertulis dalam buku-buku itu, kan tahun 1925. Tapi, Khawaja Kamaludin sebetulnya sudah datang, tadi juga sudah disampaikan oleh Bapak Ali Yasir, pada tahun 1920. Beliau datang ke Surabaya dari Singapura, lalu ke Batavaia. Di Surabaya dia bertemu dengan tokoh-tokoh NU, Muhammadiyah dalam Taswirul Afkar yang dihadiri oleh sekitar 4.000 peserta. Bukunya kita lihat di sini. Ini adalah buku Khawaja Kamaludin berbahasa Urdu yang berjudul Raaz-e-Hayaat atau Injil ‘Amaal. Ini ditandatangani pada tanggal 20 September 1920 di Surabaya. Sementara, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah dari versi Inggris, The Secret of Existence atau The Gospel of Action yang ditandatangani tahun 1921. Buku itu adalah kumpulan pidato-pidatonya ketika ada di Indonesia dan di Singapura.

Satu hal yang sering dilupakan oleh para peneliti ketika melihat Ahmadiyah itu adalah Islamic Review. Itu adalah buku jurnal yang resmi diterbitkan oleh Lahore Ahmadiyah dan terbit setahun sejak berpisah dengan Qadiyan. Di situ banyak sekali informasi yang berkaitan dengan kedatangan Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad, dan dana yang dikirimkan ke Indonesia berikut alasan dan tujuan pengiriman mereka. Di sana dijelaskan bahwa datangnya itu tahun 1920. Lalu bahwa destinasi atau tujuan akhir dari Mirza Wali Ahmad Baig itu bukanlah negara lain. Itu bisa dilihat di buku The Islamic Review. Jadi tujuannya adalah Indonesia, atau Jawa.

Lalu kenapa? Banyak sekali artikel berisi perdebatan antara The Islamic Review dengan The Moslem World. Meskipun namanya The Moslem World (Dunia Islam), tapi jurnal itu bukan dibuat oleh komunitas muslim. Itu dibuat oleh Samuel Zwemer,  seorang pastur, yang isinya adalah kegiatan-kegiatan missionaris di beragai negara, termasuk Indonesia. Beberapa artikel di dalam jurnal itu menyebutkan bahwa perubahan atau perpindahan agama daripada umat muslim kepada kristiani di Indonesia itu puluhan ribu dalam setiap tahun. Jadi karena itulah, Lahore Ahmadiyah merasa perlu untuk menyetop penetrasi masuknya Kristen di Indonesia ini. Maka dikirimlah Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad. Jadi kalau selama ini ada kontroversi tentang ke mana tujuannya Mirza Wali Ahmad Beig, kalau kita lihat dari The Islamic Review, salah satunya saya cantumkan di sini adalah The Annual Report atau Laporan Tahunan 1928, itu ditujukan memang di Jawa, bukan di negara yang lain.

Lalu yang kedua adalah bahwa ada daya tarik dari Lahore Ahmadiyah ketika datang ke Indonesia, terutama adalah corak rationality, modernity, dab yang ketiga adalah kemampuannya untuk membendung penetrasi Kristen. Ini yang kemudian menarik Muhammadiyah, dan juga Syarikat Islam, untuk menerima dengan tangan terbuka kehadiran Ahmadiyah di Indonesia. –Tapi tadi malam ketika saya melihat acara di sini, sepertinya Ahmadiyah itu sekarang lebih dekat ke NU daripada ke Muhammadiyah. Tradisinya sudah berbeda. Ada tradisi shalawatan, tadi juga kita dengar. Terus yang berbeda dengan Muhammadiyyah juga soal tradisi tepat waktu. Jadi ada tradisi yang bergeser, dari dekat ke Muhammadiyyah kepada dekat dengan NU – (Malam sebelum Najib Burhani berbicara, diselenggarakan ceramah umum oleh K.H. Abdul Muhaimin, pimpinan PP Nurul Ummahat, yang diawali dengan pementasan Hadrah oleh para santri dari PP Al-Mahalli, Wonokromo –red).

Salah satu kemampuan daripada buku-buku Ahmadiyah Lahore  adalah kemampuannya meyakinkan orang-orang yang hampir lepas keislamannya, semisal Ruslan Abdul Ghani, Soekarno, Cokroaminoto, Agus Salim, yang katakanlah tergiur, bukan tergiur, tapi mendapatkan serangan bertubi-tubi dari materialisme, atheisme, komunisme, atau Kristen, untuk keluar dari Islam. Dan itu diselamatkan oleh Lahore Ahmadiyah. Saya kira, bapak/ibu mungkin sudah baca, tentang pengakuan Ruslan Abdul Ghani. Ketika semua barang di rumahnya disita oleh Pemerintah Belanda, eh, Jepang waktu itu, dia berpesan satu hal, “satu buku yang tolong berikan ke saya, semuanya boleh kalian sita, tetapi Qur’an dari Muhammad Ali, The Holy Quran, ini tetap saya pegang”. Itu adalah pengakuannya. Juga banyak pengakuan dari Soekarno, dan juga pengakuan dari yang lain, bagaimana buku-buku dari Ahmadiyah Lahore itu menyelamatkan mereka dari terjatuh kepada materialisme, atheisme, dan christianity.

Karena daya tarik dan kemampuan Lahore Ahmadiyah untuk mencegah christianity, dan juga memperkenalkan agama yang modern dan rasional itulah, maka Muhammadiyah mengirim beberapa putranya ke Lahore. Beberapa kadernya di antaranya adalah Erfan Dahlan. Saya komunikasi banyak dengan cucu K.H. Ahmad Dahlan, yakni Winai Dahlan, tentang apakah bapaknya Lahore Ahmadiyah atau bukan. Saya berada pada keyakinan bahwa dia sebetulnya tetap missionaris Lahore Ahmadiyah. Saya berbicara seperti ini bukan karena saya di hadapan orang-orang Ahmadiyah. Saya sempat berbicara berbeda, maksud saya tentang W.R. Supratman di hadapan orang-orang Ahmadiyah (mungkin yang dimaksud JAI –red).

Bagi saya, W.R. Supratman itu bukan, atau saya belum yakin bahwa dia itu, seorang Ahmadiyah. Kenapa? Salah satu buku yang digunakan sebagai landasan bahwa dia itu Ahmadiyyah adalah buku “Peringatan Ulangtahun Kesepuluh Kota Madiun”, dan itu jarang yang punya. Saya termasuk yang punya. Dijelaskan di situ bahwa W.R. Supratman ketika sakit datang ke Ahmadiyah. Tetapi di situ tidak dijelaskan bahwa dia Ahmadiyah. Nah, kalau umpamanya ada bukti lain, misalnya ada pernyataan dari keluarga, atau baiat, dan sebagainya, mungkin saya menjadi yakin bahwa dia Jemaat Ahmadiyah. Tetapi kalau buktinya hanya buku itu, maka saya belum yakin.

Ini berbeda dengan Erfan Dahlan. Memang ada beberapa kasus misalnya seperti Romo Almeida, seorang pastur dari Timor Leste, yang belajar di UIN Jogjakarta. Dia datang ke situ bukan kemudian berpindah menjadi muslim, tetapi ingin mempelajari Islam dari tempat islam. Ketika keluar, dia semakin kuat menjadi pastur. Ini berbeda saya kira dengan kasus Erfan Dahlan. Erfan Dahlan ketika berangkat ke Lahore masih muda, dan dia adalah satu-satunya yang lulus dari sekolah Isha’at Islam College di Lahore. Lalu kemudian dia tidak pulang ke Indonesia. Keluarga memang melarang dia pulang, karena itu bisa menimbulkan konflik di dalam keluarganya. Kalau umpamanya tidak ada masalah, saya kira dia akan pulang, meskipun sekali. Dan dia memang hanya pulang sekali, menurut Winai Dahlan, ketika K.H. Ahmad Dahlan mendapat gelar pahlawan dari Soekarno. Selebihnya, dia tidak pernah datang ke Indonesia. Kalau umpama alasan yang diungkapkan keluarga adalah laut, atau soal transportasi, saya kira itu akan bisa diatasi. Tetapi kalau alasannya materi, bisa jadi dia tidak pulang karena memilih untuk pada keyakinan tertentu.

Yang ketiga, bagi saya bukan sekedar dia tidak pulang dan menikah, tetapi ini adalah soal tradisi dari Lahore Ahmadiyah, bahwa ketika datang ke suatu tempat, ia lebih memilih memperkenalkan Islam daripada Ahmadiyahnya. Itu juga yang terjadi dengan Khawaja Kamaluddin ketika di London, dan Wali Ahmad Baig ketika di Yogyakarta. Ada resisten atau penolakan untuk mendirikan organisasi, karena yang mereka pentingkan adalah Islam. Saya kira itu juga yang terjadi dengan Erfan Dahlan ketika di Thailand. Dia tidak pernah bercerita tentang ke-Ahmadiyahan-nya. Dan itulah saya kira yang membedakan antara Gerakan Ahmadiyah dengan Jemaat Ahmadiyah.

Ini ada sedikit perbedaan yang dapat kita lihat tentang perbedaan strategi dakwah (antara GAI dan JAI –red), yang saya kira Bapak/Ibu sudah tahu, tapi saya hanya ingin memberikan sedikit garis bawah. Yang pertama, Jemaat itu menekankan uniqueness, atau keunikan daripada Ahmadiyah. Misalnya soal kenabian Ghulam Ahmad, soal Ghulam Ahmad sebagai Masih-Mau’ud, dll. Sedangkan Lahore Ahmadiyah menekankan pada Islam. Kedua, aktivitasnya berbeda antara Lahore dan Qadiani. Gerakan, yang saya lihat lebih menekankan pada reformasi Islam, menerjemahkan buku-buku dan Al-Qur’an. Sedangkan Qadiani  lebih pada perekrutan anggota. Kalau sudah memiliki tiga anggota, maka didirikan cabang. Tapi ini juga kelemahan dari Gerakan, karena sampai sekarang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh ribu. Karena tidak peduli dengan jumlah. Ini kalah dengan Jemaat yang anggotanya semakin berkembang. Karena berpusat pada keilmuan, penerjemahan buku dan Al Qur’an, maka jumlah anggota menjadi terabaikan. Lalu, soal independensi. Kalau di Gerakan itu kan hanya ada satu mubaligh yang ke Indonesia, maka kalau di Qadian itu sampai sekarang masih terus dikirimi mubaligh dari India.

Yang terakhir, yang saya kira paling membedakan, adalah penafsiran Al-Qur’annya. Kalau di Lahore sering disebut metaphorical interpretation (penerjemahan metaforis). Ini biasanya yang ditolak oleh beberapa ulama di dalam Sunni. Dengan penafsiran seperti itu, maka Gerakan Ahmadiah dikenal sebagai penolak mukjizat. Ya, misalnya, Nabi Musa menyebrang laut itu tidak mungkin dengan memukulkan tongkat saja. Tapi bagi kelompok Sunni yang lain itu adalah mungkin. Kata Quran begitu, ya begitu. Sedangkan di Jemaat, karakter tafsirnya itu adalah mystical interpretation (penafsiran mistis). Salah satunya adalah soal Nuzulul-Masih, yang turun di dekat Masjid Aqsha, dst. Konsep-konsep tafsir mereka adalah mistik. Ya, mungkin dekat dengan NU. –Tapi, sekarang Ahmadiyah Lahore dekat juga kepada NU tampaknya.

Kemudian, satu hal yang tadi ingin saya tekankan adalah soal di mana peran dari Lahore Ahmadiyah di dalam reformasi Islam? Nah, ini adalah beberapa contoh orang. Saya membedakan antara mereka yang mendapatkan pendidikan dari Belanda (Dutch Educated Muslim Scholars) dan yang mendapatkan pendidikan dari Arab (Arab Educated Muslim Scholars),. Orang-orang seperti Cokroaminoto, Agus Salim, Soekarno, itu kan tidak bisa berbahasa Arab. Berbeda dengan K.H. Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, dan sebagainya. Karena itu, referensi Soekarno itu ya buku-buku Ahmadiyah. Referensi yang dipakai Cokroaminoto itu ya juga buku-buku Ahmadiyah. Karena itu pula mereka menggagaskan satu reformasi Islam yang sumbernya berbeda dengan mereka yang berangkat dari pendidikan Timur Tengah. Para peserta JIB (Jong Islamieten Bond) adalah mereka yang mendapatkan pendidikan Barat, lemah dengan pengetahuan Islam, lemah dengan Bahasa Arab, dan mereka hanya bisa memanfaatkan buku-buku Ahmadiyah. Karena itu cara berpikir mereka adalah modernis-rasional dan dekat dengan Lahore Ahmadiyah. Misalnya tema-tema kajiannya adalah perceraian dalam Islam, perbudakan, Islam sebagai agama yang menekankan kemanusian, dsb. Jadi intinya adalah mereka mencoba menyatukan antara religion dan sains, antara agama dan ilmu pengetahuan (wetenschaap). Itu yang menjadi penekanan kenapa kemudian Ahmadiyah Lahore menarik pada zaman awal-awal. Salah satu jurnal yang diterbitkan JIB, adalah Het Licht. Namanya persis sama dengan The Light yang diterbitkan oleh Lahore Ahmadiyah. Banyak perdebatan di situ yang berpihak kepada Lahore Ahmadiyah daripada Qadiani Ahmadiyah.

Nah, sekarang masuk ke analisis. Sebetulnya karakter buku-buku Ahmadiyah itu seperti apa sih? Pertama, berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan dunia modern. Kedua, berkaitan dengan christianity. Kalau berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan dunia modern, banyak orang menyebutkan bahwa buku Ahmadiyah ini cenderung bersifat defensif, membela diri, dan mengatakan Islam itu yang benar, dunia modern itu sebenarnya mengikuti Islam. Kemudian berkaitan dengan Kristen adalah bersifat offensive, menyerang keyakinan-keyakinan dasar (fundamental belief) dari christianity. Contohnya dalam bidang comparative religion, seperti pakarnya yang ada di sini, Pak Ali Yasir. Sebenarnya orang-orang Kristen sangat marah dengan ilmu ini. Orang seperti Karl Steenbrink (peneliti –red) saja sama sekali tidak mau melihat buku-buku Ahmadiyah. Tetapi, pengaruhnya pada studi banding di Indonesia, atau ilmu perbandingan agama di IAIN atau UIN itu sangat kuat.

Tetapi, beberapa akademisi, tidak mau melihat itu, karena menganggap hanya berisi soal-soal apologetik, polemik, dan kontroversial.  Dan karena itu, kalau kita lihat dalam sejarah Indonesia, mungkin bisa dikoreksi kalau salah, pengaruh dari buku-buku Ahmadiyah itu banyak berperan terutama pada dua masa yang tidak stabil di Indonesia. Yakni sebelum dan sesudah kemerdekaan. Setelah itu, sejak zaman Mukti Ali, yang namanya ilmu perbandingan agama itu tidak lagi memakai buku-buku dari Ahmadiyah. Tapi sebelum itu, seperti Ahmad Sjalaby dan beberapa penulis tentang perbandingan agama, memakai buku-buku dari Ahmadiyah. Termasuk buku-buku yang dipakai Muhammadiyah, Jarnawi Hadikusumo, dan sebagainya, juga memakai buku dari Ahmadiyah. Tetapi oleh Mukti Ali semua itu dihilangkan. Kenapa? Karena bagi Mukti Ali, ilmu perbandingannya masih bersifat apologetik, dan yang kedua baginya yang terpenting adalah bagaimana menciptakan harmoni. Karena, era itu di bawah Soeharto yang menekankan pada harmoni, dan harapannya dengan adanya ilmu perbandingan agama adalah terjadi kerukunan antar umat beragama.

Berikutnya adalah pengakuan dari beberapa tokoh seperti Johan Effendi dan Ruslan Abdul Ghani. Kalau Johan Efendi adalah orang yang sering di luar Ahmadiyah tetapi dituduh sebagai orang Ahmadiyah. Dan orang Ahmadiyah mengklaim dia juga sebagai Ahmadiyah. Tetapi dia mengatakan, “Saya itu dekat dengan Ahmadiyah, baik Lahore atau Qadiani. Saya mendapatkan keselamatan keagamaan itu dari Ahmadiyah.” Di dalam buku biografinya, dia menceritakan ketika dia hampir saja kehilangan iman, buku-buku Ahmadiyah-lah yang menyelamatkannya. Tetapi kemudian dia lebih memilih untuk tidak bergabung. Karena dia berpikir, harus berpindah dari yang sifatnya apologetik kepada comparative religion, seperti yang terjadi, cooperative religion (kerjasama antar agama). Dia adalah salah satu yang berguru pada salah satu tokoh Ahmadiyah di Jogja, Muhammad Irsyad, dan yang membawa buku-buku yang didapat darinya kepada Hasbullah Bakry.

Lalu, saya akan membaca Ahmadiyah dari perspektif Fazlur Rahman. Fazlur Rahman membagi revivalisme Islam atau kebangkitan Islam menjadi empat kategori. Yang pertama revivalisme gaya Muhammad bin Abdul Wahab, yang mengajak kita untuk going back kepada Qur’an dan Sunnah, denan menghilangkan superstisi, tahayul, bidah dan khurafat. Yang kedua modernisme, revivalisme yang mengambil semua inspirasi dari Barat. Ini seperti yang dilakukan oleh Turki, Muhammad Abduh, dan sebagainya. Yang ketiga neo-revivalisme, yang menolak Islam disamakan seperti Barat, karena Islam itu lebih unggul. Ahmadiyah Lahore masuk dalam kategori ini.

Kalau kita melihat kategori di atas lebih lanjut, maka ada satu yang masih kurang disini yang menurut Fazlur Rahman adalah neo-modernisme, yang bersifat sistematis dan komprehensif dalam strategi/metodologi mereformasi Islam. Ini yang kurang dilakukan oleh Ahmadiyah. Maksud saya, setelah Muhammad Ali, atau setelah Khawaja Kamaluddin, hampir tidak ada buku yang sifatnya sekaliber atau sebagus mereka, yang diterbitkan oleh Ahmadiyah. Terjadi stagnasi, berhenti sampai 1962, ketika Muhamad Ali meninggal, dan tidak ada upaya reformasi lagi. Makanya mungkin karena itu Fazlurrahman dalam hal ini memasukkan Ahmadiyah dalam neo-revivalisme, belum masuk pada neo-modernisme.

Terakhir, saya ingin memperlihatkan empat pengaruh Lahore Ahmadiyah di Indonesia. Pertama adalah menciptakan confidence yang tinggi tentang superioritas Islam, bahwa agama ini adalah benar, terhadap para intelegensia abad 20, juga kemampuannya untuk berdebat dengan Kristen. Kedua adalah kemampuan untuk memodernisasi pemahaman tentang Islam. Ketiga adalah penyebaran pemahaman tentang Qur’an dengan bahasa lokal, yang diantaranya melalui upaya penerjemahan. Keempat adalah jihad dengan media cetak, buku dan sebagainya. Saya kira itu adalah empat kontribusi terpenting dari Ahmadiyah dalam revivalisme Islam di Indonesia. Saya kira begitu saja. Akhirus-Salam.[]

Komentar

komentar

4 comments

  1. QS:Al-Ahzab | Ayat: 40
    Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

  2. nice post…thanks.

    • Apabila kesimpulan tulisan Bp. Dr. Ahmad Najib Burhani adalah sbb

      1. Timbulnya confidence tinggi kepada kaum muslim
      2. Bertambahnya kemampuan berdebat
      3. Masyarakat makin menghayati keindahan al Quran
      4. Meningkatnya semangat jihad tanpa kekerasan phisik, namun dengan hikmah kebijaksanaan

      Bukankah ini adalah salah satu amal kegiatan yang terpuji ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*