facebooklikebutton.co

Ahmadiyah di mata NU

Apakah mayoritas umat Islam di Indonesia memusuhi Ahmadiyah? Tidak benar, kalau benar mereka takkan hidup di sini sejak tahun 1920- an. Benar kalau mayoritas umat Islam di Indonesia berbeda dalam beberapa poin ajaran dengan Ahmadiyah tapi berbeda bukan berarti memusuhi. Namun hal yang berkaitan dengan ibadah-ibadah mahdlah, hal yang “al-ma’lum min al-din bi al-dlarurah”, Ahmadiyah sama dengan mayoritas umat Islam Indonesia.

Oleh: Guntur Romli | sumber: https://www.academia.edu

Saudara-saudara, saya ingin membagi informasi tentang ajaran Ahmadiyah yang saya baca langsung dari kitab karangan pendirinya: Mirza Ghulam Ahmad (MGA). Kitab yang menjadi rujukan saya adalah “Al-Khazain Ruhaniyyah, “Al-Mawahib AlRahman”, yang merupakan terjemahan dari bahasa Urdu. Saya akan membagi pembahasan jadi dua, yaitu ajaran-ajaran apa dari mereka yang sama dan ajaran-ajaran apa dari mereka yang berbeda.

1. Ajaran Ahmadiyah sama dengan mayoritas umat Islam dalam:

Pertama, Agama mereka adalah Islam, syahadat mereka adalah Laa ilaaha illalahu Wa muhammad rasulullah. Penegasan agama Islam dan syahadat ini ditulis oleh Mirza Ghulam Ahmad di Juz 19 Al-Khazain Al-Ruhaniyyah-Kitab Mawahib Al-Rahman.

“Tidak masuk dalam Jemaat kami, kecuali yang memeluk Islam, mengikuti Kitab Allah, sunnah manusia terbaik (Muhammad saw). dst (MGA).

Maka tidak benar kalau menganggap Ahmadiyah adalah agama baru seperti Bahai, Sikh, dst. Ahmadiyah adalah nama ormas keagamaan bukan agama. Ahmadiyah seperti Muhammadiyah, atau NU, atau Persis, dll (nama ormas keagamaan bukan agama, bukan madzhab fiqh atau firqah). Penegasan ini berasal dari pendirinya Mirza Ghulam Ahmad bahwa tidak seorang pun yang boleh masuk jemaat kami (Ahmadiyah) kecuali dia Muslim.

Penghakiman terhadap Ahmadiyah bersumber dari sas-sus, fitnah untuk tujuan di luar dakwah Islam, tapi soal kekuasaan.

Saya telah mengunjungi dua masjid Ahmadiyah di London, yang pertama London Mosque (Al-Fadl) mesjid tertua di Inggris (dibangun tahun 1920-an) dan Bitul Futuh. Tidak benar kalau pengikut Ahmadiyah hajinya ke Qadian-India atau ke London, ini fitnah besar. Pengikut Ahmadiyah yang ke London atau ke Qadian untuk mengikuti “Jalsah Salanah” atau “annual meeting” (pertemuan tahunan), di Indonesia pun ada.

Kedua, Ahmadiyah percaya Muhammad SAW sebagai “Khatam al-Nabiyyin” (penutup nabi-nabi) seperti ditegaskan oleh MGA dalam “Mir’ah Kamalat Islam”.

Ketiga, Ahmadiyah percaya tidak ada kitab suci selain al-Quran yang di dalamnya Kalam Ilahi, syariat sempurna dan terakhir. Oleh karena itu, yang menuduh Ahmadiyah punya kitab suci selain Al-Quran yang disebut-sebut Tadzkirah adalah fitnah dan dusta besar.

Tadzkirah, yaitu berasal dari ucapan, catatan, dan ilhamat Mirza Ghulam Ahmad dibukukan 27 tahun setelah MGA wafat, jadi bukan kitab suci Ahmadiyah.

Keempat, Rukun Islam Ahmadiyah ada lima (5): syahadat, shalat, puasa, zakat dan Haji ke Baitullah di Mekkah.

Dalam ibadat Ahmadiyah ikut madzhab Hanafi. Apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya pengikut Ahmadiyah juga haramkan ini ditegaskan dalam kitab Nur al-Haqq. Kesimpulan, rukun Iman (6) dan rukun Islam (5) pengikui Ahmadiyah sama dengan mayoritas umat Islam sedunia.

Ahmadiyah shalat 5 waktu (bukan 3 waktu seperti Syiah) jumlah rakaat sama, bunyi adzan sama (kalau Syiah beda), dalam Subuh tak ada qunut. Dalam shalat Ahmadiyah seperti Muhammadiyah tidak ada zikir setelah shalat, doanya tidak nyaring, tidak ada qunut, tidak ada shalawat di antara 2 khutbah. (Koreksi dari Rachmat Setiawan: Syiah shalat 5 waktu juga, tapi dibagi menjadi Subuh, Zuhun dan Ashar, Magrib dan Isya).

2. Yang membedakan Ahmadiyah dengan yang lainnya yaitu:

Pentama, Ahmadiyah percaya wahyu itu berlanjut, namun hanya “wahyu tabsyiri wal indzari” (wahyu dakwah) bukan “wahyu tasyrii” (wahyu syaniat).

Ahmadiyah percaya Mirza Ghulam Ahmad dapat wahyu, tapi isinya bukan syariat baru, tapi penegasan pada syariat Muhammad SAW.

Apakah wahyu bisa diturunkan pada selain Nabi? Jawabnya bisa. Ibu Musa as. dapat wahyu di surat al-Qashash ayat 8. Selain Ibu Musa, Maryam menerima kalam dari malaikat (ali-Imran ayat 46), atau al-hawariyun — pengikut setia Isa (al-Maidah ayat 112). Wa idz awhaytu ila al-hawariyyina an aminu bi wa bi rusuli — saat Kuwahyukan pada pengikut setia Isa, untuk beriman pada-Ku & Rasul-Ku” (al-Maidah 112).

Kesimpulan dan dalil-dalil tadi wahyu bisa diturunkan Allah pada selain Nabi, Ibu Musa, Maryam, pengikut Isa tapi bukan “wahyu syariat”. Benar Mirza Ghulam Ahmad mengaku menenima wahyu, tapi BUKAN WAHYU SYARIAT wahyu itu tidak membatalkan syariat Muhammad SAW.

Mohon anda baca kembali istilah wahyu ayat-ayat Qur’an yang diturunkan selain Nabi, atau bahkan pada tumbuhan dan binatang, tapi bukan Wahyu syariat.

Kedua, Ahmadiyah percaya semua nabi tubuhnya adalah manusia biasa, dan akan berakhir seperti manusia biasa (mati), demikian juga Isa as.

Yang membedakan Ahmadiyah dengan umat Islam yang lain yaitu, bagi Ahmadiyah Isa telah wafat, tidak hidup jasmani-rohaninya di langit. Ahmadiyah dengan argumentasi nalar dan teks menolak bahwa saat ini Nabi Isa masih hidup, berada di langit, tubuh dan ruhnya akan datang lagi. Ahmadiyah percaya Nabi Isa as, seperti nabi-nabi yang lain, tubuhnya manusia dan punya ajal, tubuh punya umur. Karena Ahmadiyah percaya nabi Isa telah wafat, maka Mesias dan Imam Mahdi-ratu adil yang dijanjikan-adalah orang lain, bukan Nabi Isa yang wafat.

Ahmadiyah percaya orang yang sudah wafat tidak akan kembali ke dunia ini seperti halnya Nabi Isa as. Ia tidak akan kembali lagi ke dunia. Keyakinan Ahmadiyah ini lebih rasional dibanding kebanyakan umat Islam yang percaya Isa sebagai manusia masih hidup tubuhnya dan berada di langit. Dibanding Iman Syiah 12 Imam (yang ada di Iran) mereka percaya Imam ke- 12 yang ada di abad pertengahan masih hidup dan akan kembali ke dunia.

Arti “rafa’a” dalam Quran untuk Isa as, bukan Allah “mengangkat” jasad dan ruhnya ke langit, tapi “mengangkat derajatnya” (mulia).

Ketiga, Kalau bagi mayoritas umat Islam, Mesias (al-Masih) dan Imam Mahdi belum turun, bagi Ahmadiyah sudah turun yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Dengan catatan keras: Mesias dan Imam Mahdi ini memperkuat syariat Muhammad saw. tidak boleh menambah atau mengurangi sedikit pun. Karena nubuat-nubuat ini harus diletakkan dalam doktrin bahwa Mesias itu adalah seorang nabi (tanpa syariat) yg memperkokoh syariat Muhammad saw.

Jadi meski Ahmadiyah percaya Mirza Ghulam Ahmad seorang nabi (Mesias) dan dapat wahyu, tapi TIDAK ADA SYARIAT BARU. Ibadat mereka sama dengan yang lain.

Banyak yang salah paham, dikiranya keyakinan Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan mendapat wahyu otomatis mengubah syariat Muhammad? Salah besar itu. Jangan menutup mata, bahwa keyakinan Ahmadiyah terhadap Mirza Ghulam Ahmad ada landasan teks dan rasional, mereka berhak untuk percaya.

Keyakinan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi tidak mengubab syahadat, hanya diucapkan dalam baiat untuk masuk Jemaat Ahmadiyah. Nama Mirza Ghulam Ahmad dan wahyunya tidak disebut dalam bacaan shalat, tidak pula di masjid-masjid Ahmadiyah. Foto Mirza Ghulam Ahmad dan penggantinya (khulafa’) memang dipasang di kantor-kantor Ahmadiyah tapi tidak di masjid.

Di masjid-masjid Ahmadiyah hanya ada syahadat dan ayat-ayat Al-Quran, tidak ada foto Mirza Ghulam atau ucapan-ucapannya.

Anda yang mau mengetahui ajaran Ahmadiyah bacalah dari buku-buku aslinya bukan kutipan-kutipan dari musuh-musuh mereka.

Kesimpulan saya: Rukun Iman dan Islam Ahmadiyah sama dengan mayoritas Islam, bedanya Mesias dan Imam Mahdi bagi mereka sudah datang, sedangkan bagi yang lain belum.

Ibadat Ahmadiyah sama dengan umat Islam yang lain, secara madzhab fiqh mereka ikut Imam Hanafi (Imam fiqh pertama dalam 4 Madzhab). Ada kaidah fiqh yang sering dikutip Gus Dur “qawl almujtahidi ‘an khashmihi laa yu’khadz” (pendapat mujtahid tentang lawannya tidak bisa diambil). Oleh karena itu, pendapat MUI, FPI, FUI, HTI atau siapapun yg memusuhi Ahmadiyah tidak bisa diandalkan, karena mereka punya bias permusuhan.

Ada kaidah fiqh yang lain juga untuk tidak mudah menghakimi, “idra’uu alsyubhaat” (hindari perkara-perkara yang belum jelas).

Semoga saya dijauhkan dari keangkuhan menganggap diri bisa menghakimi orang lain dalam soal iman.

Saya telah melihat tatacara ibadah Ahmadiyah sampai pemimpin tertinggi mereka yg dipanggil “Hudhur”, masjid-masjid mereka, tidak ada perbedaan. Isi dan ‘Jalsah Salanah’ adalah ceramah-ceramah dan shalat tahajud, tidak ada ritual dan ibadat baru yang tidak dikenàl Islam.

Saya menyimpan foto-foto masjid-masjid Ahmadiyah di Inggris dari luar hingga bagian dalam. Di luarnya ada kalimat syahadat dan di dalamnya ada ayat-ayat Al-Quran. Tidak ada foto Mirza Ghulam Ahmad dan kutipan kata-katanya di masjidmasjid Ahmadiyah, tidak ada kultus luar biasa padanya di Jemaat Ahmadiyah.

Setiap masjid Ahmadiyah ada kalimat syahadat “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah”, tidak benar ada tambahan Mirza Ghulam Ahmad nabi Allah. Kalau ada yang bilang: syahadat Ahmadiyah itu beda, shalatnya beda; puasanya beda, zakatnya beda, hajinya beda: ini fitnah besar! Orang Ahmadiyah dari Pakistan memang tidak bisa naik haji ke Mekkah. karena di paspor mereka dipaksa ditulis agama mereka Ahmadi bukan Islam. Orang-orang Ahmadiyah Pakistan kalau mau naik haji pakai paspor Inggris atau India yang tidak cantumkan agama di paspor mereka.

Apakah mayoritas umat Islam di Indonesia memusuhi Ahmadiyah? Tidak benar, kalau benar mereka takkan hidup di sini sejak tahun 1920- an. Benar kalau mayoritas umat Islam di Indonesia berbeda dalam beberapa poin ajaran dengan Ahmadiyah tapi berbeda bukan berarti memusuhi. Namun hal yang berkaitan dengan ibadah-ibadah mahdlah, hal yang “al-ma’lum min al-din bi al-dlarurah”, Ahmadiyah sama dengan mayoritas umat Islam Indonesia.

Perdebatan kelompok Islam yang lain dengan Ahmadiyah sudah terjadi sejak lama, tapi tindakan kekerasan, ini penomena baru. Saya sering ditanya kenapa Ahmadiyah sangat dibenci? Lalu saya baIik tanya, kenapa baru sekarang mereka dibenci? Mereka di Indonesia sejak tahun 20-an lhoo!

Saat ini, seolah-olah sudah jadi parameter-tapi tolol-yang mau dianggap Islamnya bener maka harus membenci dan membubarkan Ahmadiyah. Kalau itu dipakai, maka KH Hasyim Asy’ari pendiri NU bisa dituding Islamnya nggak bener, karena tidak pernah ada fatwa membubarkan Ahmadiyah.

Yang belum pernah shalat, masuk masjid Ahmadiyah atau baca kitab-kitabnya tolong jangan sok tahu dan koar-koar tentang Ahmadiyah, anda cuma nelan fitnah. Siapa yang bilang ini: kebohongan kalau diulang-ulang suatu saat akan jadi kebenaran. Inilah yang terjadi pada Ahmadiyah.

Banyak bukti: saksi, rekaman video, foto FPI lakukan aksi-aksi kekerasan, divonis pun sudah. Tapi Ahmadiyah tidak pernah lakukan kekerasan. Kata siapa orang Ahmadiyah tidak bisa shalat dengan muslim yang lain? Atau muslim yang lain dilarang shalat di masjid Ahmadiyah? Buktikan dulu. ‘ala kulli hal Ahmadiyah sudah ada zaman Hadlratu Syekh Hasyim Asy’ari, tidak ada fatwa bubarkan Ahmadiyah, saya manut beliau. Kalau memang Ahmadiyah boleh dibubarkan, sudah bisa sejak zaman KH Hasyim Asy’ari atau KH Wahid Hasyim yang jadi Menteri Agama yang pertama.

Kalau ada orang NU yang mau bubarkan Ahmadiyah, berarti ia anggap dirinya lebih dari Hadlratu Syaikh Hasyim Asyari. Seharusnya Surya Darma Ali Menteri Agama sekarang mengikuti KH Wahid Hasyim Menteri Agama pertama yang melindungi Ahmadiyah. Kiai-kiai NU yang ikut-ikutan mau bubarin Ahmadiyah, itu kiai-kiai baru yang amalannya “kursi fulitik” bukan “ayat kursi”.

Pertanyaan yang harus dijawab, mengapa baru sekarang Ahmadiyah dimusuhi padahal mereka sudah ada di negeri ini sejak tahun 1920-an? Kenapa baru Menteri Agama sekarang Surya Dharma Ali yang mau bubarkan Ahmadiyah sementara Menteri Agama pertama KH Wahid Hasyim lindungi mereka?

Gus Dur tegas membela Ahmadiyah sebagai hak konstitusional, sebagai warganegara bukan sebagi ajaran. Jadi, sikapi Ahmadiyah sebagai warga-negara. Bagi anda yang tak setuju ajaran Ahmadiyah, tanamkan tasamuh (toleransi) sikapi mereka seperti Gus Dur menyikapinya sebagai warga-negara. Anda kalau mau belajar NU, mau tahu NU ya ke Gus Dur, sanad beliau nyambung, masih bertemu KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, KH Wahab, KH Bisyri.

Ajaran, tafsir dan tradisi NU yang otoritatif menurut saya melalui Gus Dur, yang punya darah, ideologi dan karamah tokoh-tokoh NU, tolong jangan sebut yang lain selama KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, KH Wahab, KH Bisyri, dan KH Abdurrabman Wahid tidak herfatwa bubarkan Ahmadiyah saya pun tidak!

Gus Dur pernah ditanya, Gus Ahmadiyah sesat karena ngaku terima wahyu. Respon GusDur “gitu aja kok sesat, gimana Wahyu Sihombing”

Kesimpulan saya dari bacaan, pengamatan dan pengalaman langsung, rukun Islam Ahmadiyah sama persis! Nama Mirza Ghulam Ahmad tidak disebut dalam syahadat atau shalat hanya dalam baiat (ikrar masuk Jemaat) Ahmadiyah. Orang mau yang masuk tarekat saja ada baiat untuk taat pada Allah, Rasululullah, Syaikh Pendiri Tarekat dan Syaikh yang baiat dia. Begitu pula Ahmadiyah. Ahmadiyah tidak bisa dikafirkan karena mereka syahadat, shalat, puasa, berhaji, zakat, ikuti Qur’an dan Sunnah Nabi. Mereka Muslim. Sekali lagi anda yang tidak bisa terima ajaran Ahmadiyah (meskipun mayoritas sama) tasamuhlah (toleran) sikapi mereka sebagai warga-negara. Tak sedikit yang benci Ahmadiyah karena tidak tahu, seperti pepatah: al-Nasu a’da’u ma jahilu (manusia cenderung memusuhi yang tak diketahuinya).

Informasi tentang Ahmadiyah yang dianggap kebenaran sebenamya tak lebih kebohongan yang diulang-ulang. Sekian sekedar berbagi informasi tentang Ahmadiyah yang berasal dari bacaan, amatan dan pengalaman pribadi saya langsung berinteraksi dengan mereka.

Kalau ada yang sibuk ngurusin keyakinan Ahmadiyah, emang siapa yang punya surga dan neraka? Kuu anfusakum wa ahlikum nara (jaga dirimu dan keluargamu dari neraka).[]

Komentar

komentar

2 comments

  1. MARI KITA BERSAMA MEMPERKUAT NKRI semoga kita semua dalam.lindungan Allah

  2. Salam toleransi dari warga ormas Muhammadiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*