facebooklikebutton.co
AHMADIYAH ISSUEARTIKEL

6 Ciri Khas Warga Gerakan Ahmadiyah

Sambutan Ketua Umum PB GAI
Pada Pertemuan Laporan Tahunan  & Sarasehan  GAI Cabang Kediri
16 Januari 2021

Bismillahirrahmanirrahim
Nahmaduhu wanushalli ‘ala rasulihil karim
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang kami hormati, para sesepuh GAI Cabang Kediri.
Yang kami hormati, ketua dan segenap pengurus GAI Cabang Kediri.
Yang kami hormati, semua anggota dan simpatisan GAI Cabang Kediri.

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah swt., atas rahmat, berkah dan ridha-Nya, Bapak, Ibu dan Saudara semuanya dapat berkumpul, bertatap muka di tempat ini untuk mengikuti pertemuan Laporan Tahunan & Sarasehan GAI Cabang Kediri,  dengan tanpa ada aral yang melintang.

Hadirin, yang kami hormati.
Mohon maaf, kami tidak bisa datang secara fisik dalam pertemuan ini, karena menaati kebijakan pemerintah tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali, 11-25 Januari 2021, untuk mengendalikan Covid-19.

Kami merasa senang dan bangga dengan pengurus, anggota dan simpatisan GAI Cabang Kediri, yang telah berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan roda keorganisasian dan melaksanakan berbagai kegiatan seperti Tadabur Al-Quran, pengajian rutin dsb., meskipun ada sedikit kendala pandemi Covid-19. Semoga GAI Cabang Kediri bisa menjadi rujukan GAI Cabang yang lain.

Kami berharap, semoga dalam pertemuan Laporan Tahunan dan Sarasehan ini dapat menghasilkan beberapa pemikiran dan program yang efektif untuk peningkatan kualitas dan kuantitas warga GAI Cabang Kediri. Semoga dengan ditopang sumber daya manusia yang memadai GAI Cabang Kediri semakin maju dan jaya. Aamiin.

Selanjutnya, dalam kesempatan yang sangat berharga ini, perkenankan kami menyampaikan ceramah singkat dengan topik “Ciri Khas Warga Gerakan Ahmadiyah”.

Kandungan isi ceramah ini, kami sarikan dari salah satu bab, dari buku “Hidayat Bara-e Jema’at Ahmadiyyah” (dalam bahasa Urdu), karya Maulana Muhammad Ali, MA.LLB., Amir dan Presiden pertama Ahmadiyya Anjuman Isha’at Islam Lahore (AAIIL).

Ciri khas Warga Gerakan Ahmadiyah secara global adalah sebagai berikut:

  1. Tujuan khusus hidup Warga Gerakan Ahmadiyah adalah dakwah Islam.

Dakwah Islam sebagai tujuan khusus dalam kehidupan, merupakan Ciri khas Warga Gerakan Ahmadiyah yang nyata dan paling menonjol. Mungkin ada banyak orang lain di dunia yang tujuan hidupnya menyiarkan Islam. Tetapi kekhasan Warga Gerakan Ahmadiyah karena organisasi Ahmadiyah berdiri untuk menyiarkan Islam, menyebarkan nama Allah dan Rasul-Nya di dunia. Sebenarnya, Ahmadiyah didirikan untuk meneruskan dan tetap menghidupkan tugas yang diamanatkan Allah kepada Imam Zaman, Mujaddid abad ke-14 Hijriah, yakni untuk mematahkan doktrin Salib dan menyiarkan Islam ke dunia, hingga menang di atas semua agama. “Mematahkan Salib” disebutkan secara khusus karena, hambatan paling besar dalam penyiaran Islam berasal dari agama Salib atau agama Kristen.

Ada gairah dan semangat yang kuat dalam hati Mujaddid abad ke-14 Hijriah atau Masih Mau’ud untuk menyiarkan Islam atau menjunjung tinggi firman Allah. Semangat itu berkobar bukan hanya dalam ratusan, melainkan dalam ribuan jiwa, dan akhirnya menghasilkan revolusi di dunia. Orang-orang Islam yang semula sama sekali tidak peduli dengan pekerjaan dakwah Islam, karena menganggapnya tidak penting, sekarang mereka berseru dari segala arah dan menyatakan tetang pentingnya penyiaran Islam. Setiap saat, Masih Mau’ud berpikir bagaimana Islam dan nama Allah bisa menjangkau negara-negara yang jauh. Itulah tujuan beliau, yang untuk itu beliau berdoa di tengah malam, menangis di hadapan Allah Ta’ala, dan mengurbankan hal-hal lainnya.

Keadaan yang sama dengan itu, seperti semangat yang sama, cucuran air mata yang sama di hadapan Allah, dan pengurbanan yang sama, seharusnya bisa diciptakan dalam hati Warga Gerakan Ahmadiyah sekarang.

  1. Warga Gerakan Ahmadiyah ikhlas berkurban untuk dakwah Islam

Tidak ada tujuan yang bisa dicapai, dan tidak ada langkah yang bisa diambil untuk mencapai tujuan, selama pengurbanan besar untuk tujuan itu tidak dilakukan. Oleh karena itu, jika Warga Gerakan Ahmadiyah telah benar-benar menjadikan dakwah Islam sebagai tujuan khusus hidupnya, maka Warga Gerakan Ahmadiyah seharusnya melakukan pengurbanan yang tak ada bandingannya untuk mencapai tujuan itu. Pengubanan itu bisa berupa jiwa raga maupun harta benda. Allah berfiraman:

“Mereka berjuang di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka.”  (Al-Anfal, 8:72).

Biasanya seseorang tidak mudah atau merasa berat untuk berkurban, kecuali dia menganggap jiwanya dan hartanya yang telah Allah berikan kepadanya, sebagai amanah dari Allah, yang harus dia kembalikan dengan suka cita di jalan Allah ketika diminta oleh-Nya. Kenyataan itu diisyaratkan dalam ayat:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari kaum mukmin, jiwa-raga mereka dan harta mereka, bagi mereka Surga (sebagai gantinya).” (At-Taubah, 9:111).

Jika harus menanggung kesulitan jasmaniah, hendaklah Warga Gerakan Ahmadiyah menanggungnya dengan ikhlas. Jika harus mengeluarkan uang, hendaklah Warga Gerakan Ahmadiyah mengeluarkannya di jalan Allah dengan senang hati. Ketika Warga Gerakan Ahmadiyah tidak memiliki apa-apa untuk dibelanjakan di jalan Allah, hendaklah merasa sedih karenanya, dan punya keinginan yang kuat dalam hati agar Allah berkenan memberikan sesuatu yang bisa dibelanjakan di jalan-Nya.

  1. Warga Gerakan Ahmadiyah selalu berusaha untuk mempunyai pengetahuan agama yang memadai

Warga Gerakan Ahmadiyah selalu berusaha untuk memperoleh pengetahuan tentang Islam dan agama-agama lain. Karena pekerjaan dakwah Islam memang menuntut Warga Gerakan Ahmadiyah untuk memiliki pengetahuan tentang Islam yang memadai di satu sisi, dan pengetahuan tentang agama lain di lain sisi. Hal itu bukanlah tugas yang sulit. Setiap orang, meskipun sibuk mencari nafkah, bisa meluangkan waktu untuk menambah ilmu dan pengetahuannya. Orang yang terpelajar bisa membaca dengan teliti buku-buku yang relevan sebagai hobi.

Dalam pencapaian ilmu agama Islam, studi Al-Quran paling diutamakan. Kemudian hadis, kehidupan Nabi Suci Muhammad saw., dan sejarah Islam.

Setiap Warga Gerakan Ahmadiyah sesuai dengan kapasitasnya masing-masing perlu punya kesiapan untuk bisa menghadapi agama Kristen, karena doktrin agama ini penghambat terbesar dalam jalan pengembangan Islam.

Tulisan-tulisan Masih Mau’ud, tidak hanya memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang muncul di zaman ini, tetapi juga memberikan ilmu yang dengan ilmu itu kepalsuan tidak bisa bertahan. Oleh karena itu, Warga Gerakan Ahmadiyah perlu mengenal buku-buku beliau dan membaca mereka berulang kali. Tidak hanya kita  sendiri, bahkan generasi penerus kita hendaklah mempelajari buku-buku beliau paling awal. Dengan mengenal buku-buku beliau bisa memunculkan dorongan besar dalam diri seseorang untuk menyampaikan perkara kebenaran, dan memberi kekuatan terdahsyat untuk melawan kepercayaan yang salah. Hal ini paling dibutuhkan pada zaman ini.

  1. Warga Gerakan Ahmadiyah taat pada ajaran Islam dan hormat pada adat kebiasaan yang Islami

Kelompok orang atau seseorang tidak mungkin berhasil dalam menyampaikan kebenaran kepada orang lain, selama tindakan mereka sendiri tidak berdasarkan pada kebenaran itu. Kata-kata yang dapat memengaruhi hati orang lain, hanyalah kata-kata yang keluar dari lubuk hati seseorang. Apapun yang ada di dalam hati, memberikan pengaruh pada anggota badan dan kemudian diwujudkan dalam perbuatan seseorang. Banyak orang berpikir bahwa terlepas dari bagaimana perbuatan mereka, mereka berhak menyampaikan kepada orang lain apa yang mereka yakini dalam hati. Hal ini mungkin benar sampai batas tertentu. Tetapi jika keyakinan seseorang terlalu lemah untuk memengaruhi tindakan anggota badannya sendiri, bagaimana mungkin kata-katanya akan dapat memengaruhi orang lain? Siapa pun yang ingin kata-katanya berpengaruh pada orang lain, dia pertama-tama harus menciptakan pengaruh pada perbuatannya sendiri. Kemudian baru dapat memengaruhi orang lain.

  1. Warga Gerakan Ahmadiyah bertoleransi dan berwawasan luas dalam dakwah Islam

Quran Suci telah mengajarkan bahwa nabi atau rasul datang di tengah setiap bangsa. Oleh karena itu, tidak boleh terlintas dalam benak kita pikiran untuk menistakan kitab suci dan pendiri agama (nabi) umat lain. Kita harus memiliki rasa hormat dalam hati untuk para pendiri agama dan kitab suci setiap agama.

Setiap agama menjadikan manusia punya hubungan dengan Tuhan sampai batas tertentu. Tetapi hubungan yang sempurna dengan Tuhan hanya bisa dicapai dengan mengikuti agama Islam. Karena:

Pertama, semua agama lain dimaksudkan hanya untuk zaman tertentu dan bangsa tertentu, terbatas dalam hal waktu dan tempat.

Kedua, catatan kehidupan para pendiri agama (sebelum Nabi Muhammad saw.) yang tidak terjaga secara akurat, dan banyak cerita yang salah bercampur dengan yang benar menjadi terkenal. Demikian juga, semua kitab suci (sebelum Al-Quran) telah mengalami perubahan.

Akibatnya, manusia membutuhkan agama yang bebas dari batasan bangsa dan waktu, yang kehidupan pendirinya dikenal dalam sejarah, dan yang kitab sucinya bebas dari perubahan. Hanya agama seperti itu yang bisa menciptakan hubungan sempurna antara manusia dengan Tuhan, dan agama itu adalah Islam.

Dengan memeluk Islam, seseorang tidak kehilangan apa yang dimiliki sebelumnya. Tidak kurang rasa hormatnya kepada pendiri agama yang dia hormati sebelumnya. Sebaliknya, dengan menerima Islam hatinya juga terbuka untuk menghormati semua pendiri agama-agama besar di dunia, dan hatinya menjadi lapang untuk menerima setiap kebenaran. Oleh karena itu, seseorang yang memanggil atau mengajak orang lain untuk masuk Islam, hendaklah  mempunyai kelapangan hati terlebih dahulu. Dengan demikian, dia mampu menyajikan kebenaran tanpa menyakitkan siapa pun.

Tidak diragukan lagi, ada cahaya dalam agama-agama yang dibawa para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Tetapi cahaya itu lemah dan redup. Para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. berperan sebagai lampu-lampu di malam yang gelap. Tetapi ketika matahari kenabian Muhammad saw.  telah terbit, maka orang-orang harus membuka pintu hati mereka untuk menerima cahaya matahari (pencerahan dari Nabi Muhammad saw.).

Sehubungan dengan toleransi antar sesama muslim, Warga Gerakan Ahmadiyah harus menghormati tokoh atau pemimpin semua mazhab dalam Islam. Tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan. Tetapi kita harus tetap memperhatikan kebaikan para pemimpin mazhab yang terhormat, dan mengakui karya serta jasa mereka. Kita tidak boleh mencaci dan mencela mazhab apa pun dalam Islam. Yang terpenting, ketika ada seseorang menyatakan: “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad saw. adalah Utusan Allah,”  kita harus menganggap pengkafiran kepadanya sebagai dosa terbesar.

Jika ada toleransi dalam hati kita untuk orang-orang beragama lain, dan ini merupakan ajaran Quran Karim, namun kita tidak bertoleransi terhadap saudara kita muslim dan menyebutnya kafir, hal itu bertentangan dengan kelapangan jiwa.

Kita harus menghormati dengan tulus hati  setiap imam, wali, muhaddats, dan mujaddid. Tidak ada kebencian atau kedengkian dalam hati terhadap mazhab apa pun. Tentu saja, kita harus mengajak semua muslim menuju kebenaran yang disampaikan oleh Mujaddid di zaman ini. Ketika dalam suatu mazhab ada kesalahan, kita seharusnya membuat kenyataan ini jelas, dan berbuat sesuai pesan Al-Quran, “Tidak takut akan celaan dari orang yang suka mencela.” (5:54).

 

  1. Warga Gerakan Ahmadiyah sangat menghormati pekerjaan dakwah Islam

Jika dipikirkan dengan saksama, melayani Islam, menyebarkan nama Allah di dunia, menyeru kepada kebenaran, dan menjunjung tinggi firman Allah adalah pekerjaan yang paling terhormat. Karena itu pekerjaan bagi para nabi, dan mereka orang-orang yang paling terkemuka di antara umat manusia. Kemuliaan yang bisa dicapai dengan pekerjaan itu, tidak bisa dicapai dengan pekerjaan lain. Tetapi dalam prakteknya, kebanyakan orang menganggapnya sebagai pekerjaan yang rendah. Ketika orang-orang ingin melihat apakah saudara dan teman mereka telah mencapai posisi yang tinggi, maka yang terlintas di benak mereka adalah kedudukan duniawi, kesuksesan dalam bisnis atau kepemilikan properti. Mereka tidak menganggap bahwa posisi yang tinggi bisa dicapai dengan ketulusan dalam melakukan dakwah Islam. Oleh karena itu, hendaklah ada rasa hormat yang sejati dalam hati Warga Gerakan Ahmadiyah untuk pekerjaan pelayanan dan penyiaran Islam. Hendaklah Kita juga menghormati dengan penghormatan setinggi-tingginya kepada orang-orang dari antara kita yang pergi, meninggalkan rumah untuk menunaikan pekerjaan di jalan Allah, menjunjung tinggi dan mewartakan firman Allah.

Semoga dengan taufik, hidayah dan inayah Allah, kita bisa mewujudkan beberapa ciri khas warga Ahmadiyah ini dalam praktek dan kenyataan hidup kita. Semoga Allah meridhai kita. Amin ya Rabbal ‘alamin.

 

Billahit taufiq wal hidayah

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Drs. H. Yatimin AS